![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
PERJALANAN dengan berbagai kelokan, tanjakan, hingga berhenti mendadak tidak membuat seluruh penumpang pada bus mini ini terganggu akan tidur mereka.
Sesampainya di tempat lokasi, semua orang tampak segar akibat mendapat tidur yang puas walau hanya dua jam lebih. Kemudian kami bersama-sama menuju vila yang sudah kupesankan. Hanya satu bangunan, namun terdapat banyak kamar tidur, dapur yang luas sekaligus meja makan yang sangat besar. Sama seperti tour dahulu yang pertama kali aku ikuti.
Sama seperti tebakanku, Kai dan River pasti mendatangi meja billiar yang langsung bisa terlihat ketika membuka pintu masuk. Bahkan mereka tak mempedulikan koper yang langsung digeletakan begitu saja.
"Pilihlah masing-masing kamar kalian. Satu kamar maximal tiga orang, ya. Lalu, beres-bereslah karena sebentar lagi kita akan sarapan bersama," ucapku dan mendapatkan anggukan secara serentak dari mereka semua.
Keributan telah dimulai.
"Sherly, ayo bareng. Gue nggak bisa tidur sendirian." Megan menarik-narik tangan Sherly.
"Dasar manja," cemooh Sherly dengan nada bercanda.
Tak luput pula dengan para cowok.
Vin merangkul Kurt. "Gua sama Kurt. Karena kami sama-sama tidur dengan lampu dimatikan."
Memiliki teman tidur sefrekuensi sangat penting agar tidak dapat mempeributkan perihal lampu.
"Tidur dengan lampu dimatikan lebih sehat," timpal Kurt dengan aura kepintarannya.
"Ayo DJ, sama kami juga." Vin ikut mengajak DJ yang sedari tadi menduduki kopernya dalam menonton keributan semua orang.
DJ mulai tertawa kecil. "Kasur cuma ada dua. Lo mau naruh gue dimana? Lantai?"
"Ya, kalau lo mau, nggak pa-pa," timpal Vin yang lumayan terdengar menyebalkan namun lucu.
Semuanya memasuki kamar pilihan masing-masing dan DJ berdiri di sebelahku yang masih berdiri untuk memantau sekitar.
"Semuanya sudah punya kamar tidur masing-masing. Tinggal gue yang nggak punya," kata DJ. "Kalau nggak boleh sendirian, maka ...,"
Dia pasti berpikir kami akan satu kamar. Dua insan berbeda gender dalam satu ruangan sangatlah berbahaya dan harus dihindari.
"Masih ada dua kamar, gunakanlah satu." Aku menjawab dengan serius. "Masing-masing kita bisa menggunakannya."
"Gue cuma bercanda," jawab DJ sembari mengelus-ngelus kepalaku. "Gue masuk dulu."
Sampai sekarang aku tidak yakin jika cowok itu memiliki perasaan padaku. Hanya untuk pekerjaan sementara, jika semua sudah tuntas, dia pasti menyatakan kalimat perpisahan padaku nanti.
Aku pun ikut membereskan barang-barang dan menkoordinasi untuk pergi menuju restoran kecil terdekat. Saat sampai, kami mendapati sistem prasmanan yang dapat mengambil sepuasnya hanya dengan batas waktu. Yeah, tentu saja bayaran ditanggung olehku.
Meja makan hanya berisikan empat kursi. Aku lebih dahulu mengambil makanan dengan roti panggang, sekotak kecil mentega sebagai olesan, kacang merah dan salad buah. Mengambil makanan ringan lebih baik untuk sarapan. Akan tetapi, berbeda dengan yang lainnya. Terutama Kai yang menjadi pusat perhatian para waiter. Dia mengambil nasi, ayam bakar, mie kuah dengan mangkuk, steak, dan beberapa protein lainnya yang sangat menggunung.
"Lo mau makan atau ngerampok?" tanya DJ yang heran dalam menatap bawaan Kai hingga memerlukan nampan.
"Protein untuk otot itu penting." Kai menjawab dengan enteng. "Biar gue nggak loyo kayak lo."
Mata DJ melirik sinis. "Badan gue lebih besar dari elo kali."
Tanpa melanjutkan pertikaian tak berfaedah mereka, aku menghampiri meja yang masih kosong dua kursi oleh Sherly dan Megan. Ketika melihat piring Megan yang hanya berisi salad sayur dan telur mata sapi, aku tersenyum karena teringat bahwa Megan adalah cewek yang benar-benar penggila diet.
"Hallo, saya duduk di sini, ya?" ucapku sembari duduk di hadapan mereka berdua.
"Tentu, Nona Manager. Silahkan," sambut Sherly yang mulai melihat ke arah piringku. Sedangkan piringnya terlihat normal yang berisi nasi, soto dan kue sus. "Apa Manager diet juga seperti Megan?"
Aku menggeleng pelan. "Sarapan lebih bagus memakan makanan ringan."
"Pantesan badan Manager bagus banget, goals gitu. Jadi iri." Megan menyahuti dengan nada kagum.
Aku tak pernah memikirkan tentang postur tubuh. Mungkin karena otakku hanya fokus berpikir tentang kehidupan yang kujalani penuh teka-teki ini.
"Iya, bener tuh. Manager cantik begini apa nggak punya pacar?" tanya Sherly dengan nada menggoda.
Tak bisa kujawab pertanyaan tersebut dan aku bingung bagaimana menjawab dengan jujur. Pada waktu yang sama, DJ hadir dan duduk di sebelahku sekaligus meletakkan piringnya di meja.
"Pusing duduk bersama Kai dan River. Mereka terlalu ribut," keluh DJ. "Saling mencomot makanan sampai lupa piring sendiri belum disentuh sama sekali."
Mereka saudara yang lucu, namun kompak. Aku takkan bisa melupakan bagaimana persamaan mereka di kehidupanku sebelumnya. Apakah aku sama seperti sebelumnya yaitu menjadi teman masa kecil mereka?
Spontan DJ menoleh kepadaku dengan raut muka polos. "Kayaknya udah punya, deh."
Terbungkam, hanya itu yang bisa kulakukan. Atau cara lain agar tak menjawab ucapan-ucapan mereka adalah melahap roti panggang yang lupa kuoleskan mentega.
Dalam waktu singkat kami menyelesaikan sarapan. Selanjutnya, kembali menuju vila dan mulai mempersiapkan acara barbeque sebelum mendaki untuk menonton meteor leonid. Setelah siap menata alat dan bahan barbeque, kami semua berangkat menuju danau kecil yang didatangi lumayan banyak pengunjung.
Sebisa mungkin aku menjauhi area air dan kerumunan yang beresiko membahayakan nyawaku. Bisa jadi aku terjatuh ke dalam air seperti di telaga dahulu, atau mungkin tertikam oleh seseorang di keramaian. Meskipun aku terlalu paranoid, lebih baik jaga-jaga saja. Contohnya saja seperti River, dia menaiki perahu bebek di atas danau lalu sekarang tercebur hingga ditertawakan oleh Kai. Jika itu adalah aku, mungkin sudah tenggelam dan kehilangan nyawa.
"Manager, tour begini harus sering-sering diadakan," ucap Megan dengan mulut yang penuh dalam mengunyah gula kapas. Padahal saat sarapan, menunya begitu sehat untuk diet.
"Baiklah, tidak masalah," balasku dengan ramah.
"Omong-omong, kenapa Nona Manager sikapnya berubah akhir-akhir ini?" Kurt bertanya padaku yang tanpa kusadari kehadiranya sudah ada di sebelahku.
Cowok ini memiliki kepintaran dalam menganalisa. Aku harus berhati-hati dengannya.
"Perubahan sikap manusia memang memiliki beberapa faktor tertentu," jawabku sebijak mungkin. "Dan tak ada kewajiban bagi saya untuk menyebutkan faktor-faktor tersebut.
Kurt tersenyum. "Maaf, Nona. Saya terlalu ikut campur."
TRING!
Ponselku berbunyi dan mengartikan sebuah notifikasi pesan muncul.
Inbox || [Unknown Number] : Kenapa caffe-mu tutup?
Ini adalah pesan dari Zack dan aku juga lupa untuk menyimpan nomornya. Tahu-tahu saja aku teringat rencana peroperasian yang akan dilakukan oleh organisasi Norn. Mengapa mereka belum membuka caffe sampai sekarang? Apakah karena aku tidak memberikan kunci pada mereka?
Ah, iya. Aku melupakan hal itu.
Serta merta aku menghampiri DJ yang sedang berbincang-bincang bersama turis menggunakan bahasa asing.
"DJ." Aku menarik ujung baju DJ sampai dia menoleh kepadaku. Secepatnya DJ mengakhiri obrolannya dan langsung meresponku. "Gue lupa memberikan kunci caffe pada anggota Norn."
"Oh, gue udah kasih ke Zeha kok," jawab DJ yang membuatku lega. "Kenapa memangnya?"
"Tapi, kenapa caffenya belum dibuka kata Zack?"
Dahi DJ mengerut, kemudian dia mengeluarkan ponselnya buru-buru dan langsung menekan kontak seseorang untuk menelepon.
"Hallo, Crystal."
Suara decakan kecil terdengar. "Kenapa, DJ? Ada masalah?"
"Kenapa belum membuka caffe sampai sekarang? Si Target sudah memeriksa caffe," desak DJ dengan air muka serius.
"Oke, gue sama yang lainnya OTW. Gue kira lebih baik malam saja karena tak terlalu ramai."
Buru-buru aku menyela. "Jangan, Zack bisa curiga kenapa caffe dibuka telat. Lagi pula kepergian kita tiga hari dan masih banyak waktu. Mungkin esok lebih baik. Gue bakal kasih tahu dia jika caffe dibuka besok."
DJ mengangguk setuju dan langsung mengatakan apa yang kukatakan pada Crystal. Telingaku mendengar Crystal menyetujui usulan tersebut dan mematikan sambungan telepon.
Dengan cepat aku mengirim pesan.
Sent to Zack: Maaf, hari ini libur. Besok datanglah karena pasti kembali buka.
Pesanku nyaris terbalas seketika.
Inbox || Zack: Oke. Tapi, kamu ada dimana?
Sent to Zack: Di apartemen. Tenang saja, Zack.
Tak ada pilihan selain mengatakan bahwa diriku berada di apartemen karena tak mungkin Zack memantauku ke dalam sana. Seaindanya kujawab di tempat lain seperti kampus, dia pasti akan menghampiri tempat itu hanya untuk memantauku.
- ♧ -