![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
SPONTAN aku menoleh ke dalam apartemen dan semua orang mematung ketika memandangiku.
Mataku kembali menatap sebuah pemandangan pantai yang dimana terdapat seorang cowok sedang berdiri di pinggiran pantai dengan kaki yang tersentuh oleh air laut. Sebelah tangannya yang tak ikut memegangi ponsel telah melambai ke arahku. Mulutnya menyunggingkan senyum ramah dan mulai memberikan pergerakan tanda berbicara.
"Ashley, kamu dengar suaraku, bukan?"
Suara yang tak ingin kudengar. Air mataku nyaris mengalir akibat perkiraan negatifku telah terwujud. Mengapa harus Zack? Kenapa dia yang menjadi target organisasi kuikuti? Lebih parahnya lagi, aku membuat dua muka untuk berbohong hingga bisa memancing penangkapan cowok yang begitu mencintaiku! Apakah di dunia paralel sebelumnya, aku juga seperti ini?!
Dengan jantung berdebar dan air mata yang tak dapat dibendung, kutekan fitur 'mute' ponsel ini dan memutar tubuhku hingga menatap dengan sayu ke arah seluruh tamu ruangan ini.
Aku menggeleng pelan sebelum berkata, "Kalian ... kalian menargetkan Zack?!"
"Kenapa? Cowok itu bicara apa padamu?" tanya Rua yang mencoba melangkah ke arahku.
"Jangan mendekat!" perintahku seraya mengacungkan ponsel kepada mereka, seakan-akan menjadikan sebuah penangkal. "Gue ingin bertanya satu hal."
Zack rela bunuh diri hanya untuk hidup bersamaku di dunia lain. Dia mati-matian mencoba melindungiku dari kematian meskipun kepribadiannya yang lain menolak dengan keras niat baiknya tersebut. Berulang kali aku melihatnya di masa lampau dengan tak sengaja hingga sekarang aku tersadar bahwasannya cowok itu ingin memantauku dari kejauhan. Jika semua itu salah, lantas mengapa kami saling berhubungan seperti ini?! Tak mungkin bagiku setelah mengetahui fakta tersebut akan melukai seorang yang menjadi pelindungku.
"Kalian ingin apakan Zack setelah menangkapnya nanti?" pekikku.
"Apalagi, tentu membunuhnya," jawab Crystal dengan ringan hingga membuatku tercengang hebat. "Dia adalah salah satu pembunuh senior dari perusahaan Near yang masih menjalani bisnis bosnya. Lagi pula, dia tak memiliki identitas kenegaraan sama sekali. Jadi, tak masalah jika dia menghilang dari bumi."
Sangat brutal. Apabila Zack benar-benar seperti itu, maka kupastikan jika di dunia asalku yang tak kuketahui bahwa dia adalah orang baik! Dia pasti begitu hanya di dunia aneh ini!
"Kagak dibunuh juga kali." Zeha menyenggol Crystal lalu kembali menatapku. "Setidaknya kami tahan saja agar dia tidak menerima misi dari atasannya, Ley."
"Kita sudah pernah membahas ini," sahut DJ.
Meskipun Zack ditahan, maka aku tidak akan memiliki pelindung dalam menghindari mara bahaya dunia ini. Aku juga tidak bisa menjamin keselamatan dia apabila terkurung atau entah bagaimana caranya mereka menahannya! Bisa jadi Zack akan bunuh diri karena berpikiran negative sedangkan aku berhasil hidup melewati tanggal di atas 20 juli.
Sontak pikiranku menjadi kacau dan pudar saat wajah DJ saling bertatapan denganku secara dekat.
"Kenapa, Ley? Kok nangis?" DJ mengusap air mataku dengan telunjuknya. "Apa jangan-jangan, lo jatuh hati dengan Zack?"
Gawat, Zack pasti melihatku dengan DJ seperti ini. Kuharap dia memaklumi.
"Lo tuh punya gue, Ashley!" DJ menggoncangkan tubuhku hingga aku tersentak. "Nggak bisa dan nggak boleh lo sampai jatuh hati dengan target kita. Dia itu penjahat, dan kita semua tahu itu."
Kini aku paham. Untuk menjalani tugas dari mereka agar bisa menarik Zack dalam perangkap, aku harus mendekatinya secara alami. Fungsi dari DJ menjalani hubungan denganku hanyalah sebagai tembok penghalang agar diriku memiliki sebuah pencegah untuk mencintai Zack. Betapa kejamnya Ashley di dunia ini. Sadar atau tidaknya Ashley di masa lampau, sesungguhnya diriku hanyalah alat bagi organisasi ini. Sebenarnya, untuk apa aku mengikuti organisasi dan menjalani permusuhan antar dua kubu begini? Seandainya bisa, kuharap Ashley pada dunia yang di masa lampau ini sadar!
"Enggak!" jeritku seraya menyentakkan tangan DJ dari wajahku lalu mundur selangkah kecil. "Kalian nggak boleh menangkap Zack!"
Bahu DJ tertarik oleh sebuah tangan dan tergantikan posisinya oleh Aya yang memasang wajah sangar.
"Ini bukan Ashley yang gue kenal." Aya menatapku dengan sinis. "Lo siapa, hah? Ashley itu belagu, jutek, cuek, kuat. Nggak kayak begini. Dari awal elo memang aneh saat gue lihat di lobi."
Aku tak tahu bagaimana sifat asliku karena tak ada memori secuil pun yang menempel di otakku sedari terbangun dari kematian dahulu. Mereka tak akan paham dan pasti menyebutku manusia yang hobi berfantasi.
"Apa gara-gara si Zack yang cuci otak lo, Ley?" celetuk DJ dengan air muka serius. "Berarti, dia tahu rencana kita?"
Aku terdiam daan tak tahu harus menjawab apa.
"Kalau begini, misi kita akan gagal sebelum beraksi," sambung Yurika dengan wajah memelas dalam menatapku. "Apa yang diomong oleh DJ itu tidak benar, 'kan?"
"Jawab Ashley! Apa yang ditanyakan oleh DJ adalah salah, bukan?!" racau Aya dengan emosi yang menggebu-gebu seraya mengacungkan sebuah tinju kepadaku. "Lo jangan macem-macem dengan gue, ya, Sial*n!"
Zeha menahan tangan Aya dan menggeleng pelan untuk mencegah pertengkaran fisik.
"H*ll. Gue udah susah-susah ngebangun organisasi Norn untuk ngehancurin perusahaan gelap itu, tapi lo justru ingin jadi penghalang?" Aya menatapku semakin ganas. "Apa maksud lo?!"
Organisasi menyebalkan ini bernama Norn. Suasana semakin buruk dan aku mencoba menoleh ke arah Zack. Cowok itu masih di tempatnya dan tetap menatapku.
Aku menarik nafas sebentar dan menghembuskannya untuk menenangkan diri. "Gue tahu kalau kalian pasti merasa aneh dengan tingkah laku gue sekarang. Tidak seperti Ashley yang kalian kenal."
"Lo ngomong apaan, sih?" cerca Crystal yang tak paham dengan ucapanku.
"Biar gue jawab pertanyaan DJ. Jawabannya gue nggak tahu, bahkan gue yakin jika Zack juga nggak tahu tentang ini," ujarku dengan sangat jelas. "Tapi, gue minta ke kalian untuk stop mencoba menangkap Zack. Dia bukan orang yang kalian kenal."
"Mentang-mentang lo kenal dengan dia dekat banget, lalu seenaknya bicara jika kita nggak tahu tentang dia?" cetus Aya.
Aku bingung bagaimana menjelaskan pada mereka. Kalimat apa yang harus kulontarkan lagi kepada mereka? Kini bukan hanya mereka yang bingung, aku justru lebih bingung. Untuk kesekian kalinya aku menoleh ke arah Zack dan dia tetap masih di tempat. Jika aku mati tanpa merasakan sakit, maka Zack memiliki kesempatan hidup. Terlebih lagi sekarang adalah malam hari, pasti kepribadian keji dari cowok itu akan muncul untuk bertahan hidup.
Mataku melirik ke bawah yang dimana ada derasnya ombak air laut malam. Dari lantai tiga apartemen ini hingga ke bawah sudah cukup lumayan tinggi, terlebih lagi pasti kedalaman laut sangat dalam dari titik awal vertikal keberadaanku.
"Iya, kalian benar-benar nggak tahu tentang Zack dan jangan membicarakan hal sembarangan padaku." Aku melangkah mundur hingga pinggangku menyentuh pagar pembatas balkon. "Akan kubuktikan bagaimana sosok asli yang kalian duga sebagai penjahat."
Ponsel kembali kutempelkan pada telinga dan mematikan fitur 'mute' agar bisa berbicara kembali dengan Zack. Aku menoleh padanya dan secara bersamaan dirinya mengangkat ponselnya kembali.
"Halo, Ashley? Kau berbicara dengan siapa dari tadi?" tanya Zack.
Aku pun tersenyum pasi dan kembali melihat ke semua orang yang berada di apartemenku. "Perhatikan aku baik-baik dari sana."
"Apa yang mau kamu tunjukkan?"
Tanganku melempar ponsel yang kugunakan untuk menelepon tadi ke dalam apartemen dan kuletakan kedua tanganku di pagar balkon.
"Lo mau ngebuktiin apa?" DJ yang mulai memahami akan setuasi, seketika menjadi gelisah.
Tanpa memberi balasan lagi, aku menjatuhkan diriku di antara hembusan angin semilir yang terasa amat dingin. Akhirnya tindakanku menghasilkan banyak suara teriakan yang sama sekali tak indah di telingaku.
"ASHLEY!"
"DIA LONCAT! HEI, ADA APA INI?!"
"Apa yang dia ingin buktikan dengan bunuh diri?!"
Segala macam teriakan kecemasan dengan bumbu terkejut telah terdengar oleh telingaku. Sembari menikmati perjalanan jatuhnya tubuhku ke air, mataku memantau ke atas dan menunggu DJ untuk menolongku jika dia benar-benar memiliki rasa cinta dalam menjalin hubungan bersamaku.
Kini yang kulihat hanyalah kepala DJ yang memandang ke arah pantai. Bukan pantai, justru Zack.
"KUMOHON! JANGAN LAGI!"
DEG!
Jantungku terasa diketuk ketika mendengar jeritan tersebut.
BYUR!
Mataku menyalang akibat terkejut setelah mendeteksi suara teriakan terakhir itu hingga tak sadar bahwa diriku telah tercebur ke dalam air laut dan menunggu untuk mencapai ke dasarnya.
Suara itu, kalimat itu, dan intonasi yang sama persis tatkala aku dahulu terjatuh di jurang untuk menerima kematian untuk pertama kalinya. Itu suara Zack! Benar-benar suaranya!
Zack sudah mengawasiku dari dekat sejak awal, sama seperti momen aku tak sadar bahwa kehadirannya ada saat tertabraknya diriku pada zebra cross hingga terawat di rumag sakit. Dia juga berada di hutan semasa tour pegawai dahulu. Dia yang menyaksikan kematianku, dia yang berteriak, dia yang merasa takut, dan dia yang terdengar begitu frustasi.
Aku bersalah karena membuatnya begitu ketakutan dalam kehilanganku.
Sungguh dingin air laut yang mengelilingi tubuhku. Tak ada suara apapun yang masuk ke telingaku, tetapi hanya ada kehampaan. Sementara itu, bibirku menyunggingkan senyum lega akibat mataku yang belum berakhir tertutup sampai telah melirik seseorang yang menyusulku kelewat cepat.
Tangannya menjulur ke arahku, wajahnya yang pucat terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Dirinya yang begitu menampilkan air muka ketakutan, justru diriku berekspresi lega dengan nyaman. Aku menang, aku bisa membuktikan. Mereka yang berada di atas sudah pasti melihat bagaimana Zack berinisiatif dalam mencoba menyusulku.
Lantas, apa ini yang disebut sebagai bunuh diri?
- ♧ -