Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
18. Ancaman Lain



"JADI, jika aku ingin menghentikan semua perputaran waktu ini, aku tidak boleh mati."


Benar-benar rumit. Aku tidak tahu kapan sebuah maut akan menghampiriku dalam keadaan cepat atau lambat. Ada banyak sekali faktor yang bisa membuat para manusia mana pun mati mendadak. Tapi seluruh kematianku telah terjadi karena sebuah kecelakaan dan bukan keracunan, pembunuhan, atau pun sakit parah. Jadi, aku harus berhati-hati dalam situasi apapun. Terutama pada lalu lintas.


Oh ya, aku lupa untuk mengatakan bahwa setiap kali diriku terbangun, keadaan dunia sekitarku telah menjadi sedikit berubah. Tapi kupikir tidak perlu memberi tahu hal tersebut pada Kurt karena aku telah mendapatkan jawaban sekaligus solusi dari permasalahan ini. Iyap, sekarang yang harus kulakukan adalah mempertahankan diri dan tidak boleh mati.


"Jadi, kamu tetap saja Ashley namun melupakan semua hal tentang kehidupan ini," ucap Kurt seraya kembali mengetik keyboard dengan jari-jarinya di depan komputer. "Paradox hanya waktu yang berjalan berputar dengan pengulangan terus menerus tanpa henti oleh suatu faktor tertentu. Tidak seperti reinkarnasi yang hidup di waktu berbeda namun waktu tersebut tetap wajq berjalan normal."


Oh, begitu.


"Baiklah, aku paham."


TRANG!


Mendadak sebuah batu terlempar dari luar ruangan dan memecahkan kaca jendela yang nyaris saja mengenai Kurt. Kami berdua terkejut hingga reflek berdiri dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Aku pun mencoba tenang dan memberanikan diri untuk memungut batu tersebut.


"Sepertinya ada anak-anak nakal yang bermain di sekitaran sini," kataku seraya menatap batu yang berada di genggamanku.


Sambil bermisuh-misuh, Kurt langsung melesat menuju jendela dan memandangi area luar dengan air muka berang akibat rasa kesal pada pelempar batu tersebut.


"Siapa itu?" Aku pun ikut mengintip ke jendela dan mendapati seorang cewek dengan memakai seragam sekolah SMA telah melangkah pergi menjauh. "Bukan dia, 'kan?"


"Bukan," tegas Kurt. "Orang lain."


Iyap, tidak mungkin seorang gadis SMA akan berani malakukan hal yang tidak elegant seperti ini. Hanya preman jalanan yang mau melemparkan sebuah batu ke rumah orang lain. Dasar orang-orang tidak tahu adat.


Dahi Kurt berkerut, "Kita pergi saja."


"Ke mana?" tanyaku yang kebingungan karena mendadak diajak untuk pergi. Tanganku pun langsung ditarik olehnya ke arah pintu dengan langkah yang lumayan cepat.


Kurt hanya terdiam dan tidak menggubris pertanyaanku sama sekali hingga kami keluar dari area kampus.


Ia mengatakan bahwa sebaiknya diriku pulang lebih awal daripada mendekap di luaran sepanjang hari. Aku juga tidak tahu harus apa jika berlama-lama ada di luaran jika tidak kuliah atau bekerja, kedua hal itu adalah kebiasaanku dari awal membuka mata di dunia asing ini.


"Sampai sini, jika butuh apa-apa, jangan lupa untuk kabarin," kata kurt seraya mengelus-elus kepalaku dengan keras dan terasa sedikit sakit hingga rambutku menjadi kusut.


"Emm, Kurt," panggilku yang sudah tidak nyaman akan elusannya. "Agak sakit."


Dia menghentikan elusannya dengan salah tingkah. "Oh, maaf." Kurt memalingkan wajahnya, "aku kira, dengan cara seperti ini akan membuat seorang gadis senang."


"Tahu dari mana?"


"Aku hanya mempelajarinya di internet." Ternyata cowok ini menginginkan perhatian dari Ashley yang normal (maksudku, bukan Ashley yang hilang ingatan garis miring diriku sendiri) dengan mencari tahu dari Internet. Kurasa dia hidup dengan berdasarkan logika, dan bukan perasaan hingga perlu mempelajari hal tersebut dengan teori.


Spontan aku tertawa kecil dan tersenyum.


Ketika cowok tersebut telah menghilang dari pandanganku, mendadak sebuah lembaran foto terjatuh dari atas dan tergeletak di dekat kakiku. Kepalaku menunduk dan memungut foto tersebut. Itu fotoku, foto yang dimana aku sedang berdiri di depan gedung apartemen seperti sekarang. Siapa yang memotretku pada saat ini?


TLING!


Suara notifikasi membuyarkan kekhawatiranku terhadap stalker yang memotret-motretku tanpa izin dan aku pun membuka pesan teks yang terkirim oleh Vin. Apa? Vin? Ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan pesan darinya. Maksudku Ashley yang sedang amnesia, bukan Ashley versi sebelum tanggal dua puluh ini.


Inbox || Vin : Gimana? Lancar nggak hari ini?


Rasa bingung mulai menyelimutiku pada saat membaca pesan teks dari Vincent. Aku menarik ulur history chat kami yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang dimaksud oleh pesan cowok ini. Kurang dari semenit setelah aku membaca pesan teks tersebut, Vincent meneleponku.


"Halo?" sapaku yang memulai pembicaraan dengan canggung.


"Astaga, Ley. Lo ke mana? Gua tungguin dari tadi, ini kan sudah jam makan siang gua di kafe," ucap Vin dengan intonasi cepat yang tidak bisa aku pahami maksudnya.


"Lalu, ada apa dengan jam makan siang kamu ... elo?" balasku yang berusaha menyesuaikan cara bicara pada cowok tersebut.


"Bukannya lo mau bicarakan rencana kita kemarin, ya?" Rencana apa yang ia maksud? Aku tidak tahu kegiatan apapun tentang Ashley yang ini.


Sebelum aku menjawab pertanyaan Vin. Tiba-tiba saja muncul sebuah tangan yang merampas lembaran foto dari tanganku hingga membuatku reflek menoleh dengan rasa terkejut.


"Wah-wah." Kepalaku tepat menoleh saat mendengar langkah kaki bersepatu yang tak jauh dariku dan suara seorang cewek telah mendekat kepadaku.


Otot-ototku mulai menegang saat melihat tiga cewek memakai setelan modis dengan riasan tebal bak model di media massa. Aku tahu mereka, Mereka adalah penggemar Vin yang dahulu merundungku.


"Tadi tuh siapa sih yang lirik-lirikkan sama Vin, katanya sih nggak mau kontak-kontakkan lagi setelah kami peringatkan," sindir cewek yang berdiri paling depan alias perenggut fotoku dengan wajah sengak.


"Itu teleponan sama siapa? Jangan bilang sama Vin," sahut cewek di sebelahnya.


Saat itu juga cewek berwajah bengis yang berdiri paling belakang hingga aku tak sadar bahwa hanya dia yang memakai seragam Sma. Dia pun menderap dengan cepat ke arahku lalu menjambak rambutku dengan keras dan tanpa belas kasihan hingga berhasil membuat mulutku merintih kesakitan. Aku melihat cewek yang memegangi fotoku sedang mengeluarkan korek api dan membakar foto tersebut, lalu ia jatuhkan ke tanah dengan wajah tanpa ekspresi.


Kini aku ketakutan.


"Udah kami bilang, lo jangan ngelunjak dalam peraturan kami. Disuruh jauhi Vin, ya, jauhi aja!" bentak si pembakar foto seraya menginjak-nginjak fotoku yang telah hangus.


"Maaf, aku nggak paham sama apa yang kalian bicarakan," kataku dan jambakkan rambutku semakin kuat hingga rintihanku semakin kencang. "Beneran ..."


Mataku melotot saat melihat cewek penjambakku sedang mengeluarkan gunting dari dalam tas hitam selempangnya. Kengerian tersebut telah mengingatkanku pada cewek berseragam SMA dan sama sepertinya yang muncul di saat kaca pada ruangan milik Kurt dipecahkan oleh seseorang. Apakah cewek ini yang melakukan hal tersebut?


Tanpa berbasa basi lagi, ia memotong sedikit rambutku di bagian helai-helai juntaian di sisi poniku. Beberapa helaian rambutku telah berjatuhan di atas tanah dan ditemani oleh abu hitam bekas foto diriku yang terbakar. Rasa shock telah menyelimutiku sampai pandangan mataku mulai pudar dalam menatap wajah cewek-cewek tersebut. Aku mengira akan mengalami mimpi-mimpi atau delusi yang lewat sekilas dalam penglihatanku seperti dulu. Namun, aku salah.


Perlahan, semua menjadi kabur dan akhirnya kegelapan memenuhi pandanganku. Ah, aku akan pingsan.


- ♧ -