Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
42. Kekasih yang Sebenarnya



ZACK telah sampai mengantarkanku di depan gedung apartemenku dan selama perjalanan, dia terus menerus membisu seperti memikirkan sesuatu.


Aku pun berterima kasih, lalu mengatakan, "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Matanya yang sedari tadi melirik ke kiri, kini menatapku dengan sedikit terkejut. "Tidak ada."


"Kalau begitu, aku akan masuk. Sampai jumpa," kataku seraya memulai langkah kaki memasuki lobi.


"Tunggu ...." Tiba-tiba tanganku diraih oleh Zack yang otomatis membuatku berhenti melangkah dan menoleh kepadanya. "Sedari tadi, ada yang mengganggu pikiranku."


Aku terdiam dan menunggu ucapannya yang belum disambung.


"Sikapmu terhadapku seperti benar-benar memiliki niat kuat untuk mendekatiku. Meskipun aku paham apa yang selalu dirimu katakan mengenai aku tak mengingatmu, tapi ..."


"Tapi apa?" selaku yang mulai khawatir saat mendengar ucapan Zack tadi. "Tapi tak masuk akal?"


Matanya yang sayu sedang menatapku lekat-lekat, sama persis saat dahulu dia ingin berlari dariku sebelum ini. Tatapan yang menyiratkan kegelisahan dan bisa menularkan rasa tersebut pada siapa pun yang dijadikan objeknya.


"Aku tahu, kamu tidak mengalami amnesia hingga mustahil melupakan orang yang pernah dekat denganmu. Tapi ..."


"Tapi aku tidak pernah didekati oleh seorang pun." Zack meniruku dengan menyela pada kata yang sama. "Kamu yakin tidak salah orang?"


Senyumku terukir lebar di bibir. "Tidak, aku tidak salah orang."


Bisa kuketahui mengapa Zack tidak didekati oleh siapa pun. Bahkan dahulu, aku lah yang mendekatinya duluan hanya karena ingin mengetahui kebenaran. Sekarang tak jauh berbeda, aku mendekatinya namun bertujuan untuk menarik kembali apa yang Zack inginkan dari awal. Apalagi jika bukan kebersamaan kami.


"Kamu benar-benar ingin bersamaku?" Matanya membulat yang memberi sinyal terkejut setelah mendengar kalimatku. Pertanyaan itu sudah pasti dia ketahui akan jawabannya.


Senyumku terlalu lebar sampai-sampai mataku terpejam seraya berkata, "tentu. Itulah keinginanku." Kami tidak bisa mengobrol lebih lama di depan apartemen, karena satpam bisa saja menegur akibat kami menghalangi jalan masuk. Kulepaskan tangan Zack dariku dan melambai kecil. "Aku masuk dulu."


Baru saja kakiku melangkah, lagi-lagi dia membuatku berhenti. "Ah ... aku ..."


Dalam seperkian detik, aku menunggu hingga Zack berhasil mengatakan, "Aku sulit untuk mengatakan ini. Tapi, mungkin aku bisa mengabulkan keinginanmu."


Dia tak ingin menatapku. Sebelah tangannya sedari tadi mengusap bagian belakang leher dengan diselimuti hawa canggung.


"Benarkah?" tanyaku hingga memasang wajah berseri-seri dan mendekati Zack sampai wajah kami hanya berjarak beberapa centi. "Kamu ingin menjadi pacarku?"


Mulut Zack terbuka dan dia mulai tergagap setelah mendengar ucapanku. Aku tahu hal ini konyol, akan tetapi bukankah lebih cepat, lebih baik? Dan juga, tidak ada salahnya jika cewek menembak lebih dulu.


"Aku tidak bermaksud se-seperti itu." Zack melangkah mundur sekali untuk menjaga jarak dariku. Meskipun dia tampak salah tingkah, wajahnya tetap tergambarkan datar dan cuek. "Agak terasa aneh jika berujung seperti ini."


Terasa aneh baginya. Tapi untukku, justru salah satu moment yang begitu membahagiakan.


"Kuanggap itu jawaban iya," kataku sekaligus berunsur pemaksaan dan terlalu percaya diri. Aku langsung menyodorkan ponsel yang menampilkan nomor teleponku pada Zack.


"Memintaku untuk menyimpan nomormu?" Dia mengalihkan pandangannya ke arahku dan sontak aku mengangguk. "Baiklah."


Kukira Zack akan mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik nomorku dan menyimpannya. Akan tetapi, dia justru melihat layar ponselku sekilas, lalu berpamitan dan pergi.


"Kamu nggak mau memiliki kontakku?" Aku bertanya saat Zack baru berjalan beberapa langkah.


Dia menoleh dan bibirnya memamerkan senyuman kecil. "Aku sudah menghafal nomormu, Ashley. Maka, aku bisa menghubungimu melalui perangkat mana saja."


Setelah itu, dia kembali melanjutkan langkahnya hingga sirna dari pandanganku. Tidak heran, dahulu Zack dapat menghubungiku terus menerus tanpa harus meminta nomorku lebih dulu. Sikap inisiatifnya patut dicontoh.


Aku melenggang masuk ke dalam apartemen dan langsung membereskan diri. Setelah itu, aku memeriksa ponsel dan langsung mendapatkan nomor tidak dikenal.


Inbox || [ Unknown Number ]: Simpanlah nomor ini. Aku Zack.


Baru saja aku mengetik untuk membalas, seketika satu pesan terkirim lagi.


Inbox || [ Unknown Number ]: Ingin makan malam bersamaku, esok hari?


Sent: Kenapa tidak malam ini saja di apartemenku?


Pesanku terbalas dalam seperkian detik.


Inbox || Zack: Tidak bisa. Aku ada pekerjaan tambahan malam ini. Jika kamu lapar, tunggulah lima menit lagi.


Apa yang dia kerjakan malam-malam begini? Terlebih lagi, aku tidak pernah melohat adanya profesi malam di kota ini. Lalu, aku pun terduduk di sofa sembari menunggu apa yang akan datang dalam lima menit ke depan.


TRING!


Baru empat menit dan bel pintuku berbunyi. Kuperiksa dari kaca cembung pintu, kemudian melihat seorang pengantar makanan sedang menungguku. Aku membuka pintu dan menerima sekotak pizza sekaligus dua gelas minuman.


Pada akhirnya, kunikmati semua yang dipesankan Zack sembari memandangi lukisan buatan kami bersama yang kupajang pada dinding dekat televisi. Aku jadi sedikit ngeri ketika melihat warna coklat bekas olesan darah kering Zack.


Tiga potongan pizza ukuran besar sudah kuhabiskan dan kulanjutkan dengan potongan keempat. Kurasa aku benar-benar lapar malam ini.


KRING!


Ponselku berbunyi dan menandakan ada telepon memanggil. Ketika kulihat, tertera nama Zack yang membuatku sigap untuk menjawab.


"Hallo, Zack. Pekerjaanmu sudah beres?" Aku menyapanya langsung disambungkan oleh pertanyaan.


"Pergilah ke balkon. Pertanyaan itu akan terjawab sendiri," jawab Zack.


Sembari membawa pizza di sebelah tangan, aku pergi ke balkon dan langsung melihat ke area pinggiran pantai hingga mendapatkan cowok yang memiliki kulit menyala akibat terlalu pucat sampai menyinari sekitarnya. Dia tersenyum ke arahku dan aku mengacungkan pizza di tanganku ini.


"Terima kasih pizzanya!" ucapku girang.


Ukiran senyumku hanya sebentar saat melihat adanya seseorang yang tak kalah memiliki kulit pucat daripada Zack. Rambut hitamnya yang panjang, dan wajah datar sedang menatap punggung Zack dengan selidik dari balik pohon.


Kuangkat ponselku ke arah cewek tersebut dan membuka camera untuk menggunakan fitur zoom. Setelah melihat jelas wajahnya, aku menghela napas berat.


Lagi-lagi Rua.


"Ada apa? Kamu memfotoku?" tanya Zack yang membuatku bingung untuk menjawab. "Sebaiknya jangan, Ashley."


"Tidak-tidak. Aku tidak memfotomu." Buru-buru kujawab dan memikirkan alasan apa yang harus aku berikan. Akhirnya, kuputuskan untuk mengubah topik pembicaraan. "Apa kamu merasa diikuti akhir-akhir ini?"


Spontan Zack menoleh ke belakang, namun keberadaan Rua sudah tak ada. Seharusnya aku tak bertanya akan hal itu. Bisa-bisa, Zack akan melukainya tanpa pikir panjang.


"Siapa yang kamu maksud?"


Pertanyaannya membuatku sedikit khawatir. Apakah aku harus berkata jujur?


"Entahlah, aku nggak tahu pasti."


"Apa warna pakaiannya?"


Mungkin aku harus berbohong dalam hal ini.


Rua memakai hoodie hitam, maka akan kujawab, "hoodie putih."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki." Akan kujawab semua pertanyaan itu dengan fakta yang terbalik.


"Baiklah, akan kuurus nanti," kata Zack. Seharusnya aku tidak perlu khawatir karena dia tidak akan menemukan Rua.


- ♧ -