![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
MALAM yang begitu ramai di dalam kampus dengan anak-anak kuliahan sift malam.
Entah itu dari piket menunggu perpustakaan, belajar, mengerjakan tugas di kelas ataupun sekedar nongkrong tanpa alasan yang jelas.
River membawaku ke kampus dan menjelaskan bahwa dirinya adalah personel band pada club music sebagai gitaris yang lumayan terkenal di kampus. Aku begitu takjub pada identitasnya tersebut dan tak menyangka bahwa manusia super jutek ini memiliki gelar populer di kampus.
"Dulu lo hobi banget ngehina permainan gitar gue. Entah itu sumbang-lah, cetek-lah, pekik-lah." Ups, ternyata diriku tukang menghina kelas kakap. "Ujung-ujungnya gue berhasil juga bermain gitar dengan hebat."
Aku mengangguk tanda merespon.
Tanganku begitu gatal dalam mengotak-atik peralatan musik pada club music milik River. Kuhidupkan mic hingga membunyikan sebuah pekikkan, memukul-mukul dram dengan stick dan memutar-mutar suling. Benar-benar mengasyikan.
Akan tetapi keasyikan tersebut hanya sampai di situ saja. Ketika aku menghidupkan keyboard piano pada sudut panggung, mendadak tubuhku diputarkan oleh kedua tangan asing hingga tak menyangka bahwa River lah yang menjadi tersangka. Wajahnya menunduk ke arahku dan bibirnya sedikit lagi akan menyerangkanku seperti sepulang kerja lalu. Tanpa sengaja tanganku menekan keyboard piano untuk menopang tubuhku yang reflek memundurkan diri hingga menghasilkan bunyi sumbang tak enak didengar dan membuat River terkejut sekaligus membeku sejenak. Kurasa dia sadar akan ketakutanku yang menolak akan keinginan vulgarnya hingga terdiam dan menatapku dengan dalam-dalam.
"Gue kira, dengan nge-kiss lo bakal menarik ingatan lo kembali." Lirih River bernada kecewa sekaligus berpaling. "Gue paham kalau elo ngerasa asing dan nggak nyaman."
Aku pun membenamkan wajahku. "Maaf ya."
River menghela nafas berat. "Asing, ya? Jadi kalau begini, seharusnya kita memang ulang dari awal saja."
Rasanya diriku begitu bersalah saat perubahan ekspresi River begitu muram dan tampak sedih. Tapi, aku tidak bisa memaksakan diriku dalam ketidaknyamanan ini. Bukannya tidak adil jika memperlakukan diri sendiri secara buruk? Yah, aku tau bahwa River bukanlah buruk, maksudku buruk adalah sebuah keasingan dan ketidaknyamanan saja.
"Oke." River meninju tangannya seraya menoleh kepadaku dengan senyuman pongah. "Kita ulang dari awal. Ashley, lo mau nggak jadi pacar gue?"
Seperti deja vu. Kai juga pernah mengatakan hal tersebut sebelumnya. Namun kali ini River lah yang mengucapkannya hingga membuatku bingung dalam menjawab. " Emm, kita kan belum benar-benar saling mengenal. Apa kita tunda dulu lalu ..."
Kalimatku terpotong oleh decakkan kecil River. "Udah beribu-ribu kali lo ucapain itu dari kita Tk kecil. Bahkan sekarang pun elo ulangi lagi. Lebih parahnya, saat diterima dan menjalani tiga bulan, mendadak lo amnesia dan gue ditolak lagi."
Betapa malangnya kisah cinta milik River. Dia menembakku dari TK? Yang benar saja.
"Jadi seperti itu, ya."
"Mau bagaimana pun elo juga tetap pacar gue. Siapa yang berani deketin lo, bakal gue jotos sampai nggak berbentuk." Gila, sadis! "Lupakan omongan gue tadi, ayo ke rumah gue."
Seketika wajahku memerah. "M-mau ngapain?"
"Ketemu nyokap gue, kali aja lo ingat dengan beliau," ucap River seraya menarik tanganku dengan keras. "Udah deh, nggak usah banyak bacot lagi, buru."
"Kasar banget," cetusku.
River tertawa keras untuk pertamanya kali kudengar. "Memang, dan lo selalu mukulin gue kalau ucapan sampah begini terucap tanpa sengaja."
Aku benar-benar sulit dipahami ketika sebelum kehilangan ingatan. Saat kami keluar dari kampus, River memesan taksi online dan dengan cepat kami pergi menuju kediaman River tanpa adanya halangan sedikit pun. Ketika kami sampai, terlihat sebuah rumah yang cukup sederhana dengan lantai dua dan bagasi yang berisikan mobil tak asing. Itu adalah mobil Kai yang digunakan untuk menjemputku saat di rumah sakit dahulu. Ternyata tak semuanya berubah dari kehidupan ini.
"Ya ampun Ashley, sudah lama banget kamu tidak kesini sejak pindah ke apartemen." Sambut Nyokap River saat kami berdua memasuki pintu rumah ini. Apa yang dimaksud dengan pindah apartemen? "Ayo masuk, kita makan malam bersama."
"Elo dulu tinggal di sini dan pindah sejak punya pekerjaan," bisik River saat nyokapnya berbalik badan untuk menuntun kami menuju meja makan.
"Gue tinggal bareng? Memangnya ..."
"Kai di mana, ya, Tante?" tanyaku tanpa sengaja dan mulai tegang. Apakah panggilanku pada nyokap River sudah benar?
"Oh, dia masih di luaran. Mungkin nongkrong bareng teman-temanya." Baguslah nyokap River tidak mengkomplain panggilanku terhadapnya.
Jujur saja, aku mulai rindu pada sikap lucu dan hiperaktif Kai. Cowok yang sangat menghibur dan begitu mengerti diriku. Dunia seperti menjadi terbalik saja dan tentu saja temasuk ada keterbalikan pada diriku juga.
"Ma, dua hari lagi Manager kami bakal ngadain camping. Jadi, aku mau izin pergi," ucap River seraya mengunyah kentang gorengnya.
Hah? Camping? Ini seperti dahulu saat manager mengadakan tour karyawan pada tanggal 22 juli, namun di tempat yang berbeda.
"Kamu mau ke mana saja kalau bareng Ashley juga bakal Mama izinin," balas nyokap River dengan mengibaskan tangannya.
"Kok begitu?" tanyaku dengan kebingungan.
"Karena lo pawang gue," celetuk River dengan bibir berkedut-kedut. Kurasa dirinya nyaris tersenyum namun malu di hadapan nyokapnya sendiri.
Setelah selesai makan malam yang begitu mengasyikan, aku pun melihat-lihat sekitar atas perintah River untuk mengingat-ingat masa lampau. Di saat mataku tertuju pada rak buku, aku pun tertarik pada buku berwana pink yang ukurannya paling besar diantara yang lain. Usul punya usul, itu adalah album. Isinya adalah foto-foto masa kecil kami—aku, River dan Kai—sedang bermain-main, menangis, makan dipesta ulang tahun dan masih banyak lagi. Aku lebih tertarik pada foto yang dimana diriku menangis di atas pasir pantai yang sepertinya sedang meratapi kehancuran istana pasirku. River yang sedang tertawa dalam menginjak istana pasir tersebut, sedangkan Kai memegangi bahuku dengan raut wajah prihatin. Benar-benar lucu. Ternyata dari dulu River adalah cowok nakal dan kasar untuk menutupi rasa sukanya padaku, sedangkan Kai terang-terangan menampakkan keramahannya yang belum kuketahui apakah ia menyukaiku sama seperti sebelumnya.
"Jangan dendam sama gue, ya," sahut River yang mendadak muncul di sebelahku. Kepalanya menunduk hingga sejajar dengan kepalaku dalam melihat-lihat album tua ini.
"Kayaknya dari dulu elo benar-benar hobi nyiksa gue," ucapku seraya menggeleng pelan. "Tapi, herannya si tukang nyiksa itu rajin nembak."
River tertawa keras di dekat telingaku. Astaga, sepertinya setelah pulang dari rumah ini diriku akan pergi ke THT. "Yeah, itulah gue."
Setelah menghabiskan banyak waktu di rumah River atau lebih tepatnya rumah River dan Kai, Aku pun berpamitan pada nyokap River yang mencak-mencak memintaku untuk menginap. Tentu saja aku menolak dengan halus dengan alasan tak memiliki pengganti pakaian dalam.
Sialnya. Jalanan menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Lebih parahnya, komplek perumahan ini adalah gang yang tak terlalu kecil namun sepi hingga berkesan menyeramkan dan membuat diriku bergidik hingga ke bulu hidung. Syukurlah River berinisiatif untuk mengantarku pulang.
"Anjir, gue salah pakai sendal!" ketus River. Tawaku nyaris tersembur saat melihat alas kaki River yang terpakai secara tidak matching. Kaki bagian kanan menggunakan eiger, sedangkan sebelahnya hanyalah sendal karet biasa berwarna hijau. "Bentar ya, gue balik dulu, kayaknya ponsel gue juga ketinggalan."
Sejauh ini, aku dapat menilai bahwa River memiliki gengsi yang cukup tinggi. Dan astaga, aku baru sadar bahwa sebentar lagi kami akan keluar dari gang sepi ini jika saja River tidak berbalik pergi. Berdiri di tengah-tengah kegelapan sangatlah menakutkan hingga aku merasa seperti simulasi uji nyali paranormal. Aku pun berlari kearah lampu jalan yang bersinar terang dan berdiri tepat di bawah cahayanya. Sepertinya diriku sudah mirip seperti pemeran tokoh horor yang sedang diikuti setan-setan mengerikan.
Mendadak sebuah tangan menggenggam lenganku dengan erat. Reflek kepalaku menoleh kearah pemilik tangan tersebut. Mataku terbelalak hingga nyaris terlepas dari rongganya saat melihat si cowok berkulit putih pucat dan berkantung mata gelap yang pernah kulihat dari beberapa tempat bahkan telag kuingat jelas tepat berada di caffe sebagai pelanggan. Wajahnya menyeringai leban seperti topeng opera dan matanya yang sayu kini melotot sekaligus terlihat urat-urat pada pelipisnya hingga membuatku berteriak sekeras-kerasnya.
"Kali ini kamu nggak akan lolos dariku," ucap cowok menyeramkan tersebut yang mulai mencengkram lenganku lebih kuat saat aku berusaha menyentakkannya. Ketakutanku lebih melonjak tinggi saat cowok tersebut tertawa dengan mengatup rahangnya yang berkesan seperti Villain pada film-film.
"Woi! Siapa lo?! Lepasin dia!"
Sejenak rasa lega menyelimutiku saat mendengar teriakan bak auman singa mendekati kami hingga cowok menyeramkan tersebut terkejut lalu kabur dengan secepat kilat ke dalam kegelapan. Aku selamat, akhirnya aku benar-benar selamat!
"Ley, lo habis diapain? Sorry gue lama. Brengsek, bakal gue tandai tuh preman dan kalau ketemu lagi, bakal gue permak mukanya sampai dia oprasi plastik," omel River dengan geram. "Ayo pulang, udah gue udah pesenin taksi."
Aku mengangguk pelan namun rasa takut tadi masih menyelimutiku. Ucapan cowok berkulit pucat tersebut sangatlah membekas pada otakku. 'kali ini nggak akan lolos dariku' dan apa maksudnya dari kata 'kali ini'? Apakah mungkin bahwa diriku yang dulu sering diincar olehnya namun selalu lolos hingga masih bernyawa sampai sekarang? Bisa jadi. Itu adalah teori yang masuk akal. Namun, cowok itu terlihat begitu muram saat pertama kali kutemui di kafe dan di seberang jalan raya dekat lampu merah yang tentu saja sebelum diriku mengalami kecelakaan yang konyol yaitu terjatuh ke jurang.
Tapi, siapa cowok itu sebenarnya?
- ♧ -