![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
"RAMBUTMU?"
Sebelum aku menjawab apa yang dikagetkan oleh Kurt, dia pun bangkit dan mengangkat pandangannya dengan air muka berang. Ekspresi yang tidak akan pernah kulihat sebelumnya. Kurt, si cowok bermuka datar dapat mengubah ekspresinya di saat seperti ini.
Rahangku terjatuh saat sadar bahwa Kurt telah berlari keluar gang dengan teriakan untuk menghentikan seseorang yang menjadi objek pengejarannya. Aku pun bangkit dan mengibaskan rok bagian depan sekaligus belakang dari debu-debu yang menempel dari jalanan. Kurasa jadwal mencuci harus dimajukan menjadi hari ini.
"Orang itu kabur." Kurt kembali kepadaku dengan nafas yang terengah-engah akibat berlari tanpa kuketahui seberapa jauh jarak yang ia tempuh. "Kamu nggak papa?"
"Nggak pa-pa kok."
Secara serentak kami berdua menoleh ke arah belakangku karena mendadak mendengar suara pintu yang bergerak, entah itu terbuka atau tertutup. Aku melihat cowok berkulit pucat yang kutakuti tersebut telah melangkah masuk ke dalam caffe melalui pintu belakang. Tapi, sejak kapan dirinya berada di gang ini? Bukankah ia bertugas pada pintu depan untuk menyambut pelanggan? Ini aneh.
"Ternyata kamu di sini. Aku mencari-cari di kampus dan pantas saja nggak ketemu," kata Kurt sembari memijat keningnya dengan ibu jari dan telunjuk. "Sekarang mau pulang?"
"Iya, aku mau pulang," balasku canggung.
Aku masih kepikiran tentang apa yang dikatakan Vin bahwa Kurt dan aku tidak lah memiliki hubungan apa-apa. Saat ini kami hanya berada di fase PDKT dan bukan pacaran. Namun, Kurt dengan tanpa bersalahnya, ia menyetujui pertanyaan polosku mengenai hubungan yang kusebut pada saat itu. Jadi, apa aku harus bersikap untuk berpura-pura tidak tahu kebenaran?
"Apa kamu mau mampir dulu?" tanya Kurt yang membuyarkan pikiranku.
"Ke mana?"
"Ke apartemenku. Aku membuatkan sesuatu untukmu." Sembari menjawab pertanyaanku, Kurt mulai berjalan di sebelahku.
Tanpa banyak bicara, aku mengiyakan ajakan tersebut karena merasa canggung. Kurasa, sekarang bukanlah waktunya untuk membicarakan kebenaran dalam hubungan. Sekitar tiga menit, kami sampai pada apartemen yang lebih jauh dari lokasi apartemenku, tapi lebih dekat dari kampus. Saat aku memasuki ruangan apartemen milik Kurt, mataku tidak bisa berkedip lantaran mendapati sebuah ruangan yang begitu simple namun menarik.
Lorong yang menghubungkan pintu keluar dengan ruangan. Dinding dicat bertema mamba, tiga rak yang begitu besar dan penuh akan berbagai buku, komputer yang diletakkan di atas meja kayu, satu kasur dan meja bundar di tengah-tengah ruangan. Ini lebih tepatnya disebut sebuah studio karena ukurannya yang minimalis dan mencukupi.
"Duduk saja di sana," ucap Kurt yang menunjuk ke arah meja bundar kecil di dekat kasur dan beralaskan karpet abu-abu. "Aku akan memasak. Masakanku pasti lebih lezat daripada caffe tadi."
Yeah, tidak bisa kusangkal. Sebelum ini, Kurt adalah koki dari caffe tersebut. Jadi, tidak perlu dipungkiri lagi keahlian memasaknya. Kurasa cowok ini benar-benar serba bisa di segala bidang. Kemampuan otak yang encer dan ketampanan yang diatas rata-rata. Semua itu adalah tipe ideal dari semua wanita. Pantas saja aku yang dulu menyukai cowok ini hingga merencanakan acara pernyataan cinta oleh Vin. Benar-benar konyol.
"Ini." Dalam waktu singkat, sepiring spagetti porsi sedang telah tersajikan di depanku dengan wangi yang menggugah selera. "Silahkan."
Padahal, baru saja aku makan penne pasta di caffe. Tapi tak apa. Aku tak bisa menolak makanan lezat. Paling tidak, perutku masih menyisakan beberapa ruang untuk spagetti yang dihadapanku ini. Sembari menyuap beberapa gulungan garpu dari spagetti yang super enak tersebut, aku menyimak perkataan Kurt dengan seksama dan berusaha merespon.
"Kenapa kamu potong rambut?" tanya Kurt dengan flat face.
Aku pun menelan spagetti hasil kunyahan tadi. "Kamu tahu fans-fans Vin itu?"
"Iya."
"Mereka yang memotong sedikit rambutku. Daripada terlihat jelek, lebih baik kupotong saja," lanjutku dengan tenang lalu menyuap spagetti yang ditumpahkan saus tomat dantaburan daging cincang. "Jelek, ya?"
"Enggak kok." Kurt tersenyum tipis lalu bangkit dari duduk disebelahku dan berpindah posisi menjadi duduk di kursi depan komputer. "Aku ada urusan, sebentar."
Sejujurnya, aku begitu penasaran dengan buku-buku yang berada di rak ruangan ini. Begitu terlihat warna-warni dan memikat mata. Serta merta aku memakan spagetti dengan terburu-buru dan mengusap mulutku dengan tisu yang tersedia di atas meja.
"Nggak perlu!" Mendadak air muka Kurt menjadi panik dan merebut piring kosong dari tanganku. "Biar aku saja. Aku juga akan mengambilkanmu air."
Dengan ekspresi super polos, aku mengangguk dan membiarkan Kurt pergi menuju dapur dengan membawa piring kotorku. Dasar cowok superrajin.
Tanpa banyak berpikir, aku pun melihat-lihat buku yang berada di rak dengan air muka kagum. Beberapa ada yang kuambil dan ternyata rata-rata buku tersebut adalah berisi pembelajaran atau ensiklopedia. Ada juga buku-buku tua mengenai sejarah ataupun teori-teori sains yang kemungkinan bisa mencuci otak pembacanya. Mataku memicing saat melihat sebuah buku yang begitu berwarna terang diantara buku-buku lainnya. Tertulis pada judulnya adalah 'Our times' dan tanpa berpikir panjang lagi, kubuka buku tersebut.
Rupanya, buku yang berada di tanganku adalah sebuah album.
"Wah-wah, ada yang mengotak-atik rak bukuku."
Aku pun menoleh ke asal suara tersebut dan tersenyum lebar. "Aku lihat-lihat sedikit, boleh 'kan?"
"Iya, boleh," balas sang pemilik suara alias Kurt.
Sebuah foto keluarga, anak kecil yang berkacamata dan memakai baju model kodok jeans, foto bayi dan anak-anak asing. Pada bagian terakhir, aku melihat sebuah foto tunggal telah mengisi satu halaman yang dimana seorang gadis kecil berambut ikal pendek dengan gaun berwarna putih sedang menangis.
"Itu kamu, ingat?" kata Kurt yang mendadak mengsejajarkan kepalanya pada kepalaku dalam memandangi foto tersebut.
Ternyata gadis cengeng itu adalah aku.
"Sama seperti sekarang, seperti tidak ada bedanya," sambung Kurt yang terdengar ucapannya terhiasi sebuah senyuman dan hembusan nafas berat. "Minum dulu, tadi kamu makan belum minum 'kan?"
Aku memegangi rambutku tanpa menggubris ucapan Kurt dan menyodorkan sebuah gelas berisi teh kepadaku. Ternyata aku yang kecil dan sekarang begitu sama. Itu tak mengherankan, lagi pula anak kecil dalam foto itu adalah aku.
"Hei." Aku tersentak dan langsung tersenyum canggung saat ditegur oleh Kurt karena tidak merespon ucapannya saat tadi. Kuraih gelas yang disodorkan oleh cowok tersebut dan meneguk teh manis buatannya secara perlahan hingga habis dengan tuntas.
"Ada album lain?" tanyaku sembari menutup album di tanganku.
"Ada, duduk saja di meja. Akan kuambilkan lagi album yang kamu inginkan," balas Kurt sembari mengedarkan pandangannya pada tiga rak buku-bukunya.
Kuturuti perintahnya dan duduk di karpet abu-abu tadi sembari menopangkan kepalaku dengan tangan kanan untuk menunggu Kurt membawakan album yang kuminta. Selama beberapa saat, tiga album berdebu dan berwarna-warni telah terletak di depanku. Dengan riang, kubuka lembaran satu persatu album tersebut dalam menampilkan begitu banyak foto anak kecil yang kuketahui itu adalah Kurt. Mendadak tanganku berhenti membalik lembaran saat melihat sebuah foto anak kecil yang sedang membaca dengan lampu belajar. Aku terpaku bukan karena foto tersebut, melainkan karena rasa mengantuk yang menyelimutiku secara tiba-tiba.
Dalam sekejab, aku melipatkan kedua tanganku diatas album yang masih dalam keadaan terbuka lalu meletakkan kepalaku di atasnya. Sungguh, aku tidak tahan dalam menghadapi rasa kantuk ini. Begitu memberatkan kelopak mataku dan membuat tubuhku menjadi lemas hingga rasanya ingin berbaring pada kasur.
"Hoam." Aku pun menguap tanpa rasa malu di hadapan Kurt. "Kurasa, aku ngantuk berat."
"Tak apa." Kudengar suara yang mendefinisikan Kurt telah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauhiku. Kurasakan sebuah kain menyelimutiku dengan hangat hingga membuatku merasa super super nyaman dalam memejamkan mataku. "Tidur saja, akan kubangunkan nanti."
"Makasih," balasku tanpa sadar.
Dalam sekejap, semua menjadi gelap dan mode tidur padaku pun telah teraktifkan.
- ♧ -