Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
44. Cemburu



PAGI hari disambut dengan terjangan dua notifikasi ponsel yang dimana terkirim oleh Zack sebesar dua juta rupiah. Ah, dua juta, nominal uang yang setara dengan pembayaran bulanan kuliahku. Mata ini belum bisa melotot kaget karena nyawa saja belum terkumpul setelah bangun tidur.


Inbox || Zack: Aku mendapatkan tip setelah bekerja dan mungkin lebih baik kuberikan saja padamu.


Uang tip sebanyak itu, sedangkan tip pekerjaanku tidak lebih dari empat nol rupiah. Mungkin, semakin sulit pekerjaannya, semakin banyak penghasilan yang didapatkan.


Kukibaskan rambut sebelum beranjak dari ranjang dan mulai mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus. Sesempat mungkin, aku menata perlengkapan pokok kemarin malam dan akibatnya tidak ada waktu untuk sarapan. Semoga saja Mama River mengirimkanku bento selayaknya anak sendiri. Bila diingat-ingat, ketika amnesia dahulu, kehidupanku menjadi anak adopsi sangat mirip dengan yang sekarang. Sampai kapan pun, nasib naas tetap akan menempel di dunia mana saja yang dipijaki.


Di kala semua telah usai, aku pun membuka pintu keluar. Secara mengejutkan, Zack menyambutku wajah angkuhnya. Seharusnya, tamu menunggu di lobi utama dan satpam tidak boleh mengizinkannya ke sini tanpa menghubungiku lebih dulu. Aku belum mencantumkan Zack sebagai daftar tamu khusus.


"Ini." Sekotak pizza tersodorkan padaku. "Kai menitipkan untukmu."


Sudah kuduga, sebuah sarapan akan mendatangiku. Dengan ragu kuterima tanpa sepatah kata. Kai selalu memberikan apa pun secara langsung padaku, bukan titip menitip seperti ini. Lagi pula, penjaga lobi sudah kuberi izin khusus Kai dan River apabila ingin berkunjung tanpa harus menunggu peninjauanku.


"Kamu sudah sarapan?" tanyaku dan mendapatkan anggukan darinya. "Kalau begitu, aku simpan ini di kulkas. Mungkin nanti malam bisa kita makan bersama."


Setelah melakukan apa yang kukatakan, kami berdua berangkat menuju kampus dengan berjalan kaki.


"Zack," panggilku dan dia berdeham pelan untuk merespons. "Setiap kali menyelesaikan pekerjaanmu, berapa banyak uang yang kamu dapatkan?"


Tibanya kami di kedai kecil teh lemon, Zack membeli satu untuknya. "Entahlah. Aku tidak pernah meminta uang setelah usai menjalani tugas."


Tangan kanan terlambai kecil saat dia menawarkan teh untukku. Menurutku, meminum asam-asam dengan perut kosong sangat tidak sehat bagi lambung.


"Lantas, uang kemarin?" Setelah bertanya dalam keadaan mulut masih terbuka, Zack memasukkan sepotong kecil kue kering dari keranjang si empu kedai.


"Aku tahu, kamu belum sarapan." Rupanya, dia memahami kondisiku dari menolak teh tadi. "Jangan terlalu sensitif masalah uang. Jika kamu mau, aku bisa membuatmu pensiun dengan semua uang yang kuberikan."


Di sela-sela sikap salah tingkah dalam mendengar ucapan tersebut, aku sampai lupa mengunyah kue kering bertabur choco chip ini. Zack memegang daguku dan mengatup mulut yang mulai memamah kue ini.


Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di tempat tujuan. Alih-alih pamit, cowok itu justru ikut masuk ke dalam kampus dan memotret banyaknya fasilitas menggunakan kamera yang disembunyikan dalam saku hoodie.


"Kenapa memotret tempat ini?" Aku berdiri tepat di depan kamera mengarah ke jam besar kampus.


CEKREK!


"Cantik sekali fasilitas tempat ini," pujinya sembari memandangi hasil jepretan wajahku. "Rektor di sini memintaku untuk mendokumentasikan kampusnya, karena portofolioku cukup bagus baginya."


"Portofolio? Dan sejak kapan kamu bertemu rektorku?"


"Sejak pertama kali aku ke sini." Zack menatapku dengan mata sayunya. "Lihat saja di media sosial milikku, akan kuberikan alamatnya padamu."


Anggukan kuberikan dan ucapan pamit terlontar. Aku pergi ke kelas dan langsung menghampiri Kai di bangku terdepan yang sedang mengotak-atik ponsel bersamaan dengan melahap roti panggang.


"Tadi, kamu ngasih aku pizza melalui Zack?" tanyaku dan menunggu jawaban yang lama akibat mulut penuhnya.


"Gue kagak nitip," balas Kai setelah sedikit tersedak. "Gue datang ke apartemen lo, bawain pizza, biar kita dan River makan bareng."


Itu adalah kebiasaan kami, yakni makan bersama.


Kai mengeluarkan minuman bersoda dari tasnya, lalu melanjutkan, "Tapi, gue dicegat sama Zack di lobi. Katanya, biar dia aja yang ngasih. Gue nggak mau cek-cok, hawanya sudah nggak enak untuk dilanjuti. Dan akhirnya gue hubungi si River agar jangan ke apartemen lo."


"Oh." Aku mengangguk dan pergi ke bangku belakang.


Kelas dimulai, dan di pertengahan penjelasan dosen, muncul sambaran kilat yang menyilaukan pandanganku. Rupanya, di jendela paling ujung terdapat Zack yang tengah melambai kecil setelah memotret kelasku.


Ketika waktu istirahat, aku tidak melihat keberadaan cowok tadi di sekitaran. Jadi, aku pergi ke kafetaria hanya bersama teman-teman cewekku.


"Hai, Kak," sapa seorang cowok berbaju motif kotak-kotak yang mungkin saja adalah mahasiswa semester baru. "Maaf, tadi saya sempat duduk di sini dan HP saya hilang."


Setelah mendengar hal itu, aku langsung bangkit. Namun, cowok ini melarangku dan berkata, "Kalau dicari seperti ini, akan sulit. Jadi, bisa tolong telpon nomor saya saja?"


Teman-temanku menjadi melirik akibat julid dan paham bahwasannya ada bau modus yang mereka endus dari cowok ini. Karena aku tidak ingin dipandang jahat atau kakak tingkat yang tidak baik, kuputuskan untuk menerima permintaannya.


"Berapa nomornya?"


Sebuah tangan berkulit putih terletak di atas meja kafetariaku untuk menopang badan si empu dengan diiringi suara gebrakan kecil. Tangan satu lagi sedang menyodorkan ponsel pada cowok tadi untuk menawarkan bantuan. Rupanya, Zack kembali hadir di sisiku.


"Nggak jadi," tukas cowok tadi dan langsung pergi meninggalkan kafetaria.


Aku kembali duduk dan menarik Zack perlahan untuk ikut duduk bersamaku. Pada akhirnya, kami makan siang bersama dan aku harus memperkenalkan dia pada teman-temanku. Kami semua mengobrol dan rupanya, Zack berada di kantor rektor untuk mengurus dokumentasinya.


Selanjutnya, kelas umum dan masa memasuki klub seni kembali. Aku lumayan aktif mengikuti klub, entah apa tujuanku sebenarnya. Saat hendak mengerjakan progres karya terbaruku, mendadak mentor kesenian datang dengan membawa seorang tamu. Ya, lagi-lagi Zack. Entah bagaimana caranya dia dapat berdiri di sekitarku tanpa disangka-sangka.


Smeua anggota klub menjadi duduk berbaris dan Zack diperkenalkan sebagai pelukis hebat dan fotografer keliling. Heran, hanya seorang tamu, namun disambut seperti ini. Tapi, baguslah, aku lumayan bangga.


"Tuan Zack ini, dia hanya pengguna pisau palet dan tidak pernah memegang kuas dalam melukiskan karya-karyanya. Nanti kalian bisa lihat di forum kampus, bagaimana pameran lukisan beliau yang sangat mengagumkan," ujar sang mentor dengan bangga.


Banyak artist yang hanya menggambar dengan media khusus. Menurutku, terlalu berlebihan sang mentor dalam menyambut tamu tersebut. Ya ampun, pikiranku terlalu negatif dalam memikirkan kekasih sendiri.


"Hei, Ashley." Suara desisan berkode memanggil berasal dari cowok di belakangku. "Aku lihat, kau membawa pengechasan di tote bag-mu. Bisa aku pinjam sebentar? Aku ingin melihat forum sekarang."


Aku mengiyakan dan mengambilkan charger dari tas. Baru saja tubuhku berputar, teman klubku tadi tersenyum kaku dalam memperlihatkan charger yang ada di tangannya.


"Jika butuh apa pun, katakan saja."


Kepalaku mendongak dan baru menyadari bahwa Zack berdiri di sebelah temanku tadi. Kemudian, dia melangkah pergi sebelum tersenyum dan menyentuh pelan rambutku. Perasaanku menjadi tegang, seperti ada hawa horor di sekitaran. Seluruh jam kuliah  Zack menemaniku tanpa henti. Sedikit merasa senang, karena aku tau jika dia sedang menunjukkan itikad baiknya sebagai kekasih. Mungkin, di siang hari dia tidak ada pekerjaan sehingga mengisi waktu untukku.


Begitu pun ketika pulang dan ingin pergi bekerja. Zack seperti magnet bagiku.


"Semalaman, kamu kerja dan tidak tidur?" Aku bertanya ketika kami di perjalanan ke kafe.


"Tidak juga," balas Zack. "Aku tidur di kursi taman beberapa menit sebelum menjemputmu tadi pagi."


Kepalaku menjadi miring sejenak. "Beberapa menit? Sungguh?"


"Mungkin satu jam lebih, tidak perlu kamu pikirkan. Aku baik-baik saja."


"Pantas saja kantung matamu sangat gelap," kataku sehingga dia tersenyum tipis. "Mungkin, kamu bisa libur sehari untuk tidur."


"Tidur di luaran sangat tidak nyaman, Ashley. Maka karena itu aku lebih memilih menyibukkan diri," jawab Zack sesudah membantu dalam membersihkan pucuk kepalaku dari dedaunan kering yang jatuh. Belum saja aku membuka mulut untuk bertanya, dia berkata, "Aku tidak tertarik untuk mencari tempat tinggal di sini. Tidak ada alasan tertentu lain."


Bingung, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku tidak bisa memahami jalan pikiran cowok ini.


"Sepertinya kamu nggak paham maksudku." Kepalaku terelus pelan olehnya di kala kami sudah sampai di kafe.


Tidak, aku harus memahami hal apa selain keanehannya dalam memutuskan menjadi tunawisma? Itu yang kupikirkan terus menerus sampai mengenakan seragam dan memposisikan diri di belakang pintu depan. Mataku tidak menemukan keberadaan Zack yang tadi sudah memasuki kafe lebih dulu dariku.


Tubuhku berputar dan mendapati OJ atau manajerku telah menyapa dengan ditemani Zack di sisinya. Aku tahu mereka saling kenal dan terlihat akrab, tapi bukankah OJ sekomplotan dengan organisasi cate? Hal yang lebih aneh, Zack mengenakan seragam karyawan dan aku mulai teringat bagaimana pertama kalinya mengetahui namanya di dunia paralel lain.


"Halo, Manager," sapaku balik.


"Maaf ya, Ashley. Posisimu sebagai penyambut pelanggan akan saya pindahkan menjadi barista sementara," ujar OJ.


"Jadi, saya bersama dengan Vin?" Aku bertanya dan membuat tatapan Zack menjadi tidak mengenakan bagiku.


Dari tempat barista, Vin memberi piece sign dengan keren ke arahku dan pergi ke dapur. Tidak heran para cewek mengidolakannya dengan paras seperti itu.


"Dia akan bersama Kurt di dapur," lanjut Manager.


Tanpa bicara lagi, aku menjalani perintah dan berdiri di balik meja barista sembari menonton Zack yang mengambil posisi awalku. Bagaimana bisa dia mendapatkan pekerjaan ini dalam waktu singkat?


Bukan pertama kalinya bagiku untuk menjadi barista di kafe ini. Terkadang, Vin harus membantu rekan lain dan aku menggantikannya sementara waktu. Lagi pula, tidak terlalu sulit dalam menyediakan menu kecil atau melayani pembayaran di kasir. Sepertinya, aku sedang menyemangati diri sendiri.


"Kenapa lo bisa jadi barista? Naik pangkat ceritanya?" Megan bertanya ketika aku menyerahkan espresso untuk pesanan pelanggan.


Kepalaku menggeleng. "Coba tanya manajer kita."


"Lo kalau ditanya malah begitu, dasar Ashley," ucap Megan dengan cemberut dan langsung pergi ke bagian pelanggan.


Beberapa saat, aku memerhatikan Zack yang tadinya diberi arahan dalam menyambut pendatang oleh Manajer, sekarang menjadi mandiri. Tubuhnya sedikit membungkuk dan telapak tangan kanan di tempelkan pada area jantung. Sambutannya mirip sekali seperti pangeran kepada raja. Aku jadi teringat di dunia paralel lain yang dimana dia menggantikanku sebagai penyambut tamu.


"Ashley!"


Otomatis aku menoleh dan terlihat kepala Vin yang muncul dari balik ceruk dinding di jalan menuju dapur.


"Katanya River sakit. Pelayan berkurang, jadi mending lo yang terima-antar pesanan pelanggan dan gua jaga barista. Di dapur, kagak berbenefit amat gua," ujar Vin.


Pantas saja River tidak terlihat dari tadi. Mungkin, aku bisa menjenguknya nanti.


Secara bersamaan, Vin berdiri di posisiku, sedangkan aku mengambil buku nota dan nampan lalu menghampiri pelanggan yang baru saja duduk di kursi kosong. Aku baru sadar bahwa hari ini para pengunjung sangat ramai, seperti tidak biasanya. Keramaian seperti ini hanya terjadi ketika malam hari, biasanya diisi oleh orang-orang tipsy dari kelab di dekat sini. Melayani pelanggan seperti ini, sudah pasti lebih melelahkan.


"Permisi."


Saat aku hendak ke Vin untuk meminta pesanan, seorang pelanggan yang duduk bersama temannya telah mengangkat tangan dan memanggilku. Aku mendekat dan menawarkan bantuan dengan santun.


"Apa ini benar-benar teh vanille?" tanya pelanggan tersebut.


"Lo ngapain sih, udahlah. Nggak akan berhasil," bisik cowok yang berada di hadapan pelanggan tersebut.


Setahuku, setiap minuman akan diberikan gelas yang berbeda. Teh vanille juga seperti itu. Jadi, tidak mungkin aku atau Vin yang menyediakan minuman ini dengan salah.


"Lupakan saja," sambung pelanggan tadi, sedangkan teman di hadapannya terkekeh kecil. "Saya cuma mau minta ..."


Terlihat tangannya yang merogoh-rogoh saku baju.


"Itu benar teh vanille." Secara mendadak, Zack muncul di sebelahku. "Anda meminta apa? Bisa kepada saya saja?"


Suasana menjadi canggung dan dua pelanggan tersebut mulai berbisik-bisik sekaligus melempar kode tidak jelas.


"Oh teh vanille betulan. Dan saya nggak jadi meminta sesuatu dari mbak ini," dia menunjukku dengan sopan.


"Kalau boleh tahu, anda meminta apa? Bisa saya ambilkan," pinta Zack.


Pelanggan tersebut menggeleng. "Ah tidak. Saya hanya ingin tahu media sosial si mbak ini. Maaf ...."


Aku dan Zack menunduk tanda hormat, kemudian kakiku melangkah ke meja barista untuk mengambil pesanan yang tadi kutulis. Baru saja melangkah beberapa kali, terdengar erangan kecil namun berhasil membuatku menoleh ke asal suara tersebut.


Pelanggan yang baru saja kutinggalkan telah ketumpahan teh vanille panas tadi ke bajunya. Gelas kecil tersebut terjatuh di tempat, seperti telah tersenggol. Kulihat punggung Zack yang masih berjalan di dekat pelanggan tersebut. Sepertinya, dia adalah pelakunya.


"Apa orang itu akan memprotes?" bisik Vin di belakangku.


"Kurasa tidak," jawabku seraya menyodorkan kertas pesanan padanya. Beberapa menit kemudian, Vin memberikan cheese cake dan soda gembira. "Jangan bilang-bilang ke manajer yang ada di ruangannya, ya."


Vin mengangkat kedua alisnya, dan aku berbalik pergi.


Hari yang melelahkan menjadi singkat dan usai. Berawal Zack selalu menemuiku di depan gang, kini kami bersama-sama keluar dari pintu karyawan. Apakah dia tidak pernah merasa kelelahan jika bekerja siang dan malam begini? Terlebih lagi, pekerjaan utamanya sangat berbahaya.


"Tadi, kamu yang menyenggol teh pelanggan itu, ya?" tanyaku ketika kami telah menyeberang di zebra cross.


Dia menoleh ke arahku. "Aku, aku hanya sedikit cemburu."


Mendengar perkataannya, aku menjadi ikut menoleh. Cepat juga pertumbuhan perasaannya padaku. Aku tahu bahwa dia cowok yang paling mengkhawatirkanku, seperti saat dahulu hendak menyelamatkan nyawaku. Harapanku mengenai rasa sukanya kembali seperti dahulu, kini sudah mulai terlihat dan aku sama sekali tidak menyangka.


Tapi, di tengah-tengah rasa bahagia ini, ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Entah itu apa, aku seperti sulit mengetahuinya. Aku merasa, seperti ada satu hal yang kulupakan. Amnesiaku sudah sirna, lantas apa yang kulupakan?


"Tidak apa, aku sudah minta maaf kepadanya. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Zack sembari menggandeng tanganku.


Kedua sudut bibirku terangkat akibat merasa sedikit lega. "Omong-omong, bagaimana bisa kamu begitu cepat diterima bekerja di kafe?"


Sebuah ponsel terkeluarkan dan di layarnya terdapat sebuah CV. "Aku melamar melalui internet dan langsung dikonfirmasi."


Tidak sepertiku yang melamar kerja dengan cara wawancara lebih dulu dan prosesnya memakan waktu berhari-hari.


"Apa nggak lelah kalau kamu bekerja siang dan malam?" Aku bertanya sesudah Zack memasukan ponselnya ke dalam saku.


"Tidak. Lagi pula, dark job-ku hanya dilakukan sesuai permintaan atasan yang jarang sekali diberikan," kata Zack.


"Jadi, kamu tidak asal merenggut nyawa ..."


Ucapanku terpotong saat dia berhenti melangkah dan mendekatkan wajahnya padaku hingga hidung kami nyaris bersentuhan. Bibirnya menyeringai, seolah sedang mengancam.


"Kita berada di tempat umum, Ashley," tegurnya.


"Maaf." Buru-buru aku mengganti topik pembicaraan. "Omong-omong, kita makan malam di apartemenku saja, bagaimana?"


"Pizza yang kamu janjikan tadi pagi?" Zack kembali mengambil posisi normal.


"Iya, mau?"


"Tentu."


...- ♧ -...