Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
13. Si Misterius



"HAHA, jangan panik gitu. Gue bukan peramal kok."


Entah untuk keberapa detiknya diriku masih terbungkam serapat mungkin dikarenakan terkejut yang rasanya seperti sedang diciduki. Yeah, di satu sisi aku juga sedang berusaha menyembunyikan penyakit amnesia ini. Eh, amnesia adalah penyakit, bukan?


''Si River yang ngasih tau gue tadi," lanjut Kai dengan menyengir ala kuda. Ternyata dirinya diberi bocoran, kukira dia lebih pintar dalam memerhatikanku.


"Oh ...." Aku mengangguk tanda merespon san merasa sedikit tenang.


Seketika aku baru menyadari sesuatu yang membuatku tidak bisa fokus dalam mencerna ucapan Kai. Sekarang tanggal 22 juli yang dimana diriku telah mengalami kecelakaan hingga bangun dalam keadaan dunia yang berbeda. Jadi, hari ini diriku harus melindungi diri sendiri bagaimana pun caranya. Terutama dari cewek-cewek gila penggemar Vin.


Sialnya, ini adalah tempat terbuka dan mudah sekali untuk mengincar makhluk lembek sepertiku jika semua orang sedang berpaling. Terlebih lagi malam hari, aku benar-benar tidak mau disatroni cowok berkulit pucat berwajah bengis itu. Mengerikan sekali.


Aku tidak ingin di sini sampai esok hari. Maka karena itu lebih baik diriku berpamitan pulang pada manager. Kuputuskan untuk bangkit dan mendekati manajer.


"Mau ke mana, Ley?" tanya Kai.


"Gue ngerasa nggak enak badan." Aku memegangi belakang leherku agar kebohonganku tidak terlihat. Tidak mungkin jika aku memberitahu bahwa nyawaku dalam berbahaya. Kai pasti mengatakan bahwa alasanku tidak masuk akal.


"Tidur aja. Pakai jaket gue, nih." Kai mulai melepas jaketnya.


"Enggak perlu, gue pulang aja bareng River." 


Pada akhirnya aku berhasil pergi dan meminta izin pada manajer dengan alasan yang sama.


Kuajak River untuk menemaniku pulang dan dia langsung setuju. Bahkan cowok ini tidak memprotes atau menanyakan alasanku untuk pergi dari sini. Seperti biasa River memanggil taksi online.


Ketika kami masih setengah jalan untuk sampai, tahu-tahu saja di tengah perjalanan taksi ini telah mengalami kesialan, yaitu ban bocor. Kurasa itu adalah ulah anak-anak nakal karena saat sang sopir taksi memeriksa keadaan telah terdapat beberapa paku bertebaran di jalan. Bahkan lebih parahnya, baterai ponsel River telah habis, sedangkan diriku senasib dengannya.


"Mau jalan kaki?" tanyanya yang sedang memastikan keputusanku. "Udah deket sih sebenarnya."


"Iya, jalan kaki saja," balasku dengan tersenyum.


Baru saja kakiku melangkah pergi, mendadak diriku tergelincir hingga nyaris terjerembab ke belakang. Secara sigap River melingkarkan lengannya pada pinggangku dan mataku melirik ke arah penyebab kesialan ini.


Ternyata genangan air.


Ini adalah trotoar dan tidak ada perumahan atau resto yang mendukung penyebab pembuangan air ini. Seharian juga tidak ada hujan. Bahkan tidak hanya itu. Kami melanjutkan perjalanan dan justru dihiasi dengan penemuan bangkai tikus di jalanan, pot bunga yang mendadak terjatuh di depan kami dari pagar dinding rumah yang telah terlewati, sekaligus ada beberapa preman jalanan yang nongkrong dan membuatku ketar-ketir.


Secara tak sengaja, perjalanan kami sempat melewati kafe clair de lune yang keadaannya terang benderang. Namun, papan pintu depan tetap bertuliskan 'close'.


"Apa kita perlu memeriksa kafe? Siapa tahu ada pencurinya," kataku karena penasaran.


"Nggak perlu. Itu tanggung jawab manajer." River menarikku untuk tetap melanjutkan perjalananan.


Malam ini benar-benar mengerikan. Seharusnya diriku mendekap di apartemen dengan aman dan nyaman.


"Akhirnya sampai juga," ucap River setelah mendesah keras karena telah berhasil lolos dari kengerian malam ini. "Gue masih agak mual keingat bangkai tikus di jalan tadi."


Aku pun tersenyum. "Makasih, ya. Tapi lo harus pulang sendirian gara-gara gue."


Yap benar. Aku jadi khawatir karena cowok ini berhasil mengantarkanku sampai di depan pintu apartemenku, sedangkan aku tentu tidak bisa menemaninya untuk pulang.


"Siapa bilang gue pulang sendirian?" Mendadak River mencodongkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar denganku seraya melengkungkan sudut bibirnya. "Gue kan bakal nginep apartemen lo."


"Lo dulu sering seludupin gue, tau?" timpal River seraya mencolek pipiku. Tak terduga-duga jika cowok ini memiliki bakat charming.


Kurasa wajahku sangatlah memerah akibat takut atau bisa jadi malu hingga River tertawa sebelum berkata, "Enggak kok, mana mungkin di saat seperti ini gue malah nginep di apartemen lo." Syukurlah, baru saja diriku ingin kabur alias pindah apartemen.


"Gue pergi ya, bye," ucap River sembari berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.


Aku tidak yakin pada diriku yang ini benar-benar mencintai cowok menyebalkan tersebut. Kurasa aku yang ini lebih sering darah tinggi dan emosi dari pada salah tingkah terhadapnya.


Kakiku pun melangkah masuk ke dalam apartemen dan menghidupkan lampu hingga seisi ruangan menjadi terang benderang. Benar-benar menyenangkan di saat stress begini melihat sebuah kebersihan pada hal yang dimiliki sendiri.


Kukeluarkan ponsel dari tas dan mengchargernya lalu entah kenapa aku ingin sekali menghidupkan dayanya secepat mungkin.


Seketika diriku terbanjiri notifikasi pesan teks.


Inbox || Si Misterius [18.00] : Jangan ikuti acara camping!


Inbox || Si Misterius [19.02] : Jangan ke mana-mana. Tetaplah di tempat.


Inbox || Si Misterius [19.03] : Jauhi gerombolan cewek yang berada di sana.


Inbox || Misterius [20.03] : Jika tidur, kunci resleting tenda dan tidurlah bersama Megan. Jangan keluar sampai pagi!


Inbox || Si Misterius [21.40] : Jangan pulang hanya dengan River! Ajak yang lain, Kai atau Kurt. Pengecualian untuk Vincent.


Inbox || Si Misterius [21.55] : Hallo? Apakah nggak bawa ponsel?


Inbox || Si Misterius [22.00] : JANGAN LEWATI JALAN SETAPAK!!!


● Missed call | × | 2


Inbox || Si Misterius [22.04] : Jalanan kali ini akan berbahaya, berhati-hatilah


Siapa sebenarnya orang ini? Pesannya menunjukkan makna kekhawatiran dan ketakutan padaku. Aku bahkan tak kalah takut saat mengetahui bahwa manusia misterius pengirim pesan tersebut telah mengetahui teman-teman kerjaku sekaligus gerak-gerikku dari awal terbangun di rumah sakit sampai sekarang. Dia pasti berada di sekitarku.


Si manusia misterius tersebut menyebut semua rekan kerjaku kecuali si manager. Jadi, apakah ia adalah managerku? Kurasa tidak, jika dia adalah sosok misterius tersebut, seharusnya ia memperingatiku secara langsung. Bahkan aku tahu bahwa manager sedang sibuk mengobrol bersama kawan-kawannya dan tidak sempat mengeluarkan ponsel sama sekali. Kemungkinan dirinya pasti antara orang-orang tersebut dan mengintaiku.


Aku pun melirik ke arah jam pada ponsel yang menunjukkan 22:31 dan berarti malam sudah mulai larut. Kuenyahkan semua pikiran negatif tadi dengan membersihkan diri dan membaringkan tubuh di atas kasur lalu berharap semua akan baik-baik saja di esok hari. Semoga manusia misterius tersebut memberiku privasi dan mengetahui batasan dalam memata-mataiku.


Apa mungkin si misterius ini bukan manusia? Ah konyol, mana ada makhluk ghaib yang bermain ponsel lalu mengetik pesan teks pada seorang gadis amnesia sepertiku.


Jika dipikir-pikir perihal Kai tadi, ada sesuatu yang menyita perhatianku. Sebuah potongan memori yang muncul pada otakku secara sekilas menjadi kenyataan di masa yang akan datang. Jadi, ada kemungkinan besar jika semua penglihatan aneh tersebut akan menjadi kenyataan. Itu bukanlah kenangan, melainkan penglihatan masa depan. Aneh, seharusnya aku mulai mengingat kenangan masa lalu, tapi mengapa menjadi masa depan? Sepertinya otakku telah salah setting. Oh iya, perihal perubahan dunia ini harus kucari tahu.


Dengan cepat diriku beranjak dari ranjang tidur, lalu mengambil buku diary dari barisan buku-buku. Tidak terisi apa pun, alias masih tersegel. Mungkin, dahulu aku tidak terlalu minat menulis kegiatan harian. Tanganku menulis kalimat "Tanggal 22, River bersamaku." di dalam halaman pertama dan menutup buku tersebut. Mata ini melirik kalender tanpa penanda seperti dahulu dan mencoretnya dengan melingkarkan tanggal 22 juli. Dulu tertulis sebagai "tour karyawan" dan kini akan kutuliskan menjadi "camping".


Omong-omong, hawa malam ini cukup dingin. Setelah kuperhatikan ke segala arah, rupanya ada celah di jendelaku yang menjadi sarana masuk sebuah angin malam. Padahal, gorden di depannya sudah geraikan.


Aku kembalikan letak buku diary tadi, kemudian kembali pada singgasana malam untuk mengistirahatkan otakku.


- ♧ -