![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
KELOPAK mataku terbuka perlahan, spontan melirik jam dinding yang masih menunjukan waktu jam tujuh tepat. Sama seperti sebelumnya, tidak berubah bahkan dari segi menitnya.
Ada yang aneh. Dari celah ventilasi atas, terlihat cahaya redup. Kuintip jendela yang sedang tertutupi gorden tersebut, dan mendapati sinar rembulan disertai langit yang gelap.
Apakah aku tertidur jam tujuh pagi lalu terbangun di jam tujuh malam? Saat aku berjalan untuk kembali ke kasur, kusadari bahwa ada kehadiran Kurt di lantai yang sedang tertidur dengan posisi terduduk. Kepalanya diletakan pada meja yang biasa kami gunakan untuk makan. Terlihat begitu pulas dan pasti ia begitu lelah selama menjalani keseharian.
Aku tersenyum melihat kerelaannya padaku dalam tidur di posisi tak nyaman. Kuambil selimut yang tadi kugunakan untuk menghangatkan Kurt. Akan tetapi, mataku menjadi salah fokus ke arah sebuah ponsel yang tergeletak di dekatnya.
Itu adalah ponselku yang aku keluarkan dari dalam tas sebelumnya.
Perlahan kuambil ponsel tersebut dan mencoba menghidupkan dayanya. Ponsel ini berhasil hidup! Aku menjadi bertanya-tanya bagaimana bisa Kurt mengisi daya ponselku.
Waktu menunjukan 23:00. Tanggal 24 juli, bukan 22 juli seperti perkiraanku. Kulihat sebuah notifikasi spam yang tak pernah kulihat sebelumnya. Saat kubuka, isinya adalah berbagai cacian menusuk terhadapku.
Inbox || [Unknown Number 0] : J*lang tak tahu adat, dimana kau?!
Inbox || [Unknown Number 1] : Vin mencarimu kemana-mana, menjijikan. Bisa-bisanya membuat priaku menunggumu!
Inbox || [Unknown Number 2] : Woi wanita br*ngsek!
Inbox || [Unknown Number 3] : Kau buta akan pesan-pesan kami, ya?
Bukan dari satu orang, melainkan lebih.
Bisa kupastikan bahwa pesan-pesan ini dari fans fanatik Vin. Mereka menerorku. Sebenarnya, aku ada masalah apa dengan Vin dan fans-fansnya? Harus kuselesaikan secepatnya. Aku menjadi khawatir dengan kondisi apartemenku, bisa saja terbobol oleh mereka.
Sebelum aku berniat untuk pergi dari apartemen Kurt, mataku tak sengaja melihat sebuah pesan berbeda pada ponsel.
Inbox || Si Misterius : Lo ke manakan si Ashley, kepar*t?!
Inbox || Si Misterius: Beri tahu Ashley dimana!
Pesan yang berkesan agresif. Bukan terkirim untukku, melainkan untuk Kurt.
Perlahan dan tanpa suara, aku mengambil tasku yang tergeletak di sebelah Kurt. Lalu, aku melangkah menuju pintu keluar secara berjinjit-jinjit.
Mataku tak sengaja melihat ke arah dapur yang masih terang akan lampu, bukan tentang dapur, melainkan sebuah bungkusan obat berada di lantai. Kupungut bungkusan obat tersebut dan rasa terkejut kutahan dengan keras. Itu adalah obat penenang, efeknya adalah tertidur selama dua belas jam.
Pantas saja setiap aku terbangun, perutku begitu terasa kosong dan tubuhku sangat lemas. Itu karena selama dua belas jam aku tidak mendapatkan asupan apapun.
Secepatnya aku melangkah pergi meninggalkan apartemen Kurt dan berhasil kabur tanpa halangan sedikit pun.
Malam yang begitu sunyi, gelap dan hening. Aku tidak bisa kembali ke apartemen Kurt karena sudah setengah perjalanan kulewati dan sebentar lagi akan sampai. Kuhindari jalan melewati rel kereta api yang menurutku begitu membahayakan, bahkan jalan yang butuh menyeberang di lampu lalu lintas. Kini, aku harus berjalan memutar dengan jarak begitu jauh. Tidak apa, setidaknya aku selamat. Sesuatu terpikirkan olehku.
Sebelumnya aku mengalami kecelakaan dua kali dan bangkit dua kali pada tempat yang berbeda sekaligus keadaan sekitar yang berbeda. Itu adalah paradox seperti kata Kurt. Entah itu nyata atau tidak, aku mempercayai teorinya. Walaupun aku tak tahu tepat apa definisi dari paradox.
Pertama kali aku mengalami kematian tanpa rasa sakit adalah di tanggal 23 juli. Lalu, yang kedua adalah tanggal 24. Berurutan dan aku berfirasat bahwa ancaman kematianku akan terjadi di tanggal selanjutnya, yaitu tanggal 25. Kulihat waktu pada ponsel masih menunjukan jam 23.25 dan tak lama lagi akan berada di tengah malam tepat. Tanggal 25 juli akan tiba.
Aku tiba pada jalan sempit dan kini melewati bangunan konstruksi yang terlihat begitu gelap dan masih 30% masa pembangunan untuk ke tahap sempurna. Telingaku menangkap suara langkah kaki dari belakangku. Secepatnya, kuhidupkan flashlight pada ponselku, lalu menerangi area belakangku dengan rasa gelisah.
"Hallo? Ada orang di sana?" kataku dengan memandangi seluruh area bak elang mencari mangsa. Tak ada orang.
"Siapapun, keluarlah," sambungku dengan gugup seraya berjalan mundur dengan perlahan.
Aku pun berputar lalu mulai berlari dengan rasa takut, karena otakku baru mengingat bahwa ada seorang cowok bernama Zack yang pernah menerorku saat malam hari sebelum ini. Tidak bisa dimungkiri jika dia ada di masa sekarang dengan sifat yang sama. Semoga saja dia tidak ada di sini.
Baru saja beberapa langkah pelarianku untuk sampai melewati area konstruksi, langkah kaki yang terdengar berlari mengikutiku pun muncul lagi. Benar-benar ada orang di belakangku.
"Tunggu! Berhenti!" pinta orang yang berada di belakangku dengan nada panik. Tak bisa kucerna perkataaan orang tersebut karena rasa takut sudah menjalar ke seluruh tubuhku.
Kakiku tetap berlari dan berharap secepatnya sampai untuk keluar dari jalan sempit ini. Tanganku tergenggam oleh tangan seseorang, kemudian tubuhku ditarik dengan kuat hingga terjerembab ke belakang.
Alih-alih terjatuh di atas tanah, justru seseorang menjadikan tubuhnya alas sebagai jatuhnya diriku.
TRANG!
Tubuhku diam membeku, mataku membelalak saat melihat sebuah besi bangunan berukuran besar telah terjatuh dari tempat aku berdiri sebelumnya.
Aku terselamatkan.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku," kataku seraya mendongak untuk menatap wajah orang tersebut.
Aku tersentak dan langsung berusaha bangkit. Buru-buru kakiku berlari secepat mungkin hingga berhasil keluar dari jalanan sempit tersebut. Orang yang menyelamatkanku adalah Zack, si cowok yang begitu ambigu identitasnya.
Penampilannya selalu teriang-iang di pikiranku. Dari kulit putih pucatnya yang terlihat di malam hari, mata pandanya yang mendukung wajah bengisnya. Ah, aku sampai tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang sebenarnya cowok itu inginkan dariku pada malam hari seperti ini.
Seketika gerimis datang dan kujadikan tas sebagai peneduh kepalaku sementara waktu. Pada akhirnya, aku sampai pada apartemenku dan mendapatkan keadaan baik-baik saja sama seperti sebelum aku meninggalkannya.
Kuambil buku diary yang berada di meja belajarku dan tergembok tak seperti sebelumnya. Ini berarti ada sesuatu yang penting berada di dalamnya.
Aku mencari-cari kunci dari gembok tersebut, namun tak mendapatkan hasil apapun. Pada akhirnya, aku mengambil satu peniti dan mulai membobol paksa gembok mungil itu hingga berhasil terbuka.
Buku yang sebelumnya kosong, kini berisi penuh akan tulisan.
"Jam 20.17 malam. Senang sekali melihat-lihat kebun binatang bersama Kurt. Pasti Vin akan terkejut akan kemajuanku!"
" Jam 21.00 malam. Gimana ya jadinya kalau aku minta antar jemput Kurt. Malu sih, tapi harus kucoba."
"Jam 18.00 malam. Vin memang terbaik! Dia adalag sahabatku yang mengerti dalam urusan percintaan. Tapi, fans-fansnya menyebalkan karena menyuruhku untuk menjauhinya! Enak saja. Aku tidak akan menurut semudah itu. Mereka kira aku siapa? Hahahaha."
" Jam 07.30 sebelum berangkat kuliah. Parah banget sih kemarin aku dilabrak fans Vin. Tapi aku biasa saja, justru mereka yang takut! Cih, mereka kira aku cupu?"
Jadi, sebelum ini aku selalu diganggu oleh fans Vin.
Diary ini sangat penuh akan informasi. Mataku menjadi fokus pada halaman terakhir. Tepat pada tanggal sembilan belas juli, sehari sebelum aku hadir setelah kematian terakhirku.
"Jam 20.18 malam. Besok adalah hari penentuan untuk aku menyatakan cinta pada Kurt! Rencana ini sudah kubulatkan, dan Vin menyetujui!"
Aku ingin menyatakan cinta pada Kurt dan kebenarannya adalah aku tidak pacaran padanya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Vin pada saat aku bertemu dirinya di caffe, adalah benar.
Aku sadar jika telah dibohongi. Namun, diriku menolak hal tersebut. Inilah yang dimaksud Vin sebelum ini tentang rencana yang dia bicarakan.
"ASHLEY!"
Jantungku terasa mencelus saat mendengar teriakan namaku disertai suara pintu yang terbuka dengan keras. Aku lupa untuk mengunci pintu apartemen.
"Ashley!"
Aku menoleh saat mendengar teriakan yang menyebut namaku sedang berada di dekatku.
Kurt sedang berdiri di ambang pintu kamarku dengan nafas yang terengah-engah dan wajah pucat pasi. Matanya menampakkan kelegaan saat melihatku. Dia berjalan mendekat dan langsung memelukku.
"Kenapa harus kabur?" bisik Kurt di telingaku yang menyiratkan perasaan khawatir dan takut.
Aku terdiam lama sebelum menjawab, "kenapa harus mengurungku dengan obat penenang?"
Kurt melepaskan pelukannya dan menatapku dengan ekspresi terkejut. Ia mengusap rambut bagian depannya seakan-akan sedang berpikir untuk menjawab. Baru kusadari bahwa kacamata yang biasa bertengker di wajah Kurt telah tiada.
"Kamu terlalu terburu-buru hingga lupa dengan kacamata, ya?"
Kurt tersenyum pasi. "Aku sering tertabrak benda-benda di jalan karena begitu panik."
Sekarang aku merasa bersalah.
"Maaf, aku terpaksa menahanmu di apartemenku," ujar Kurt dengan menatapku lekat-lekat. "Sudah cukup berbahaya para wanita remaja penggemar Vincent dalam mengancam keselamatanmu. Jadi ...,"
"Jadi kamu ngurung aku tanpa sepengetahuanku?" Aku membuat Kurt terdiam. Kepalaku pun menunduk dan melanjutkan ucapanku. "Dan kamu memanfaatkan hilangnya ingatanku untuk membenarkan hubungan kita?"
"Maaf," bisik Kurt sembari kembali memelukku. "Aku terpaksa."
Pelukan dadakan tersebut membuat buku yang berada di tanganku terlepas dan jatuh dalam keadaan terbuka. Serta merta Kurt terpancing untuk menoleh dan melihat sumber suara yang telah ia dengar.
"Sebenarnya, kamu nggak perlu melakukan itu, Kurt." Aku menatap buku diary yang sedang dipungut oleh Kurt. "Bacalah."
Kurt menatapku sebentar, lalu mulai membaca lembaran-lembaran terakhir pada buku diary tersebut. Entah melanggar privasiku atau tidak, aku merasa Kurt berhak mengetahui bahwa perasaannya sama sepertiku dan dia tak perlu melakukan kebohongan seperti sebelumnya.
Selama beberapa saat, Kurt selesai membaca dan memegangi keningnya dengan sebelah tangannya, seperti menunjukan rasa tak percaya akan apa yang dia baca.
"Aku nggak nyangka jika dirimu memiliki perasaan yang sama sepertiku." Kurt tersenyum lalu matanya terpejam hingga mengeluarkan air mata.
"Tak apa," hiburku sembari menenangkan Kurt dengan mengelus punggungnya.
Kulirik jam pada meja nakasku dan menunjukan jam dua belas tepat. Kini adalah tanggal 25 juli.
Seketika pandanganku menjadi pudar. Bukan rasa kantuk, melainkan pusing. Dunia menjadi berputar dan aku tidak bisa mengontrol tubuhku. Keseimbangan telah hilang, kakiku lunglai dan saat aku mulai terjatuh, Kurt menangkapku.
"Ashley? Kamu kenapa?" tanya Kurt dengan panik.
Suara teriakan dan pertanyaan Kurt menjadi samar, sama seperti sebelum aku mendapatkan kehilangan kesadaran.
Semuanya menjadi hitam, dan apakah kali ini aku akan mengalami kematian tanpa sebab akibat tanggal 25 juli hadir?
- ♧ -