![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
MEMIKIRKAN semua hal yang kuhadapi kemarin membuatku pusing.
Di pagi hari, diriku mulai beranjak dari singgasana dan membersihkan seisi apartemenku yang super kotor hingga bersih. Kurasa semut akan terpeleset jika berjalan di lantai yang telah kupel dengan kesat.
Aku pun membuka ponselku dan melihat ke bagian memo yang menampilkan jadwal kuliahku pada jam 08:00, yaitu sekarang. Setelah memeriksa keseluruhan, ternyata urusan perkuliahanku tidak berbeda seperti dulu yang diperkenalkan oleh Kai. Dengan sigap, aky bersiap-siap dan mengisi tas dengan barang yang diperlukan. Kulihat sebuah sapu tangan putih tergeletak di meja nakasku dan langsung kuambil karena siapa tahu aku membutuhkan benda tersebut.
Akhirnya berangkat menuju kampus yang dekat dari apartemenku tanpa menghabiskan waktu begitu banyak.
"Yo, kok sendirian aja?"
Mendadak Kai muncul dengan merangkul pundakku saat sampai di depan kelas. Tak ada perubahan dalam dirinya, sama seperti dulu. Wajah yang ceria, ramah dan begitu akrab dengan siapa pun.
Aku bertanya-tanya mengapa diriku bisa menjadi kekasih River.
"Memangnya gue biasanya sama siapa ke kampus?" tanyaku sembari duduk di bangku depan dan Kai duduk tepat di sebelahku.
"Sama siapa lagi kalau bukan River? Nah itu dia anaknya, panjang umur," timpal Kai seraya menoleh ke arah pintu masuk yang ditutupi oleh River dengan wajah masam dalam menatap kami.
"Sialan, elo ke kampus sendirian?" kata River dengan ketus. Astaga, cowok ini benar-benar kasar. Apakah aku seorang masokis hingga mencintai cowok seperti ini sebelumnya? Dan kini situasinya sangatlah rumit. Sepertinya diriku yang dulu telah terbiasa dengan sikap River.
Aku tersenyum keki dalam menatap River. "Sorry, gue lupa kalau lo mau jemput gue."
"Dasar pikun," cemooh River sesudah duduk pada bangku di belakangku.
Ternyata diriku amnesia sama seperti sebelumnya, namun kini lebih berpengalaman untuk menyesuaikan diri pada dunia baru yang tidak bisa kukenali kebiasaannya.
"Riv," panggilku seraya memutar badan ke belakang. "Lo ada di apartemen gue, ya, kemarin?"
River mengangguk kecil bertanda iya.
"Lo juga yang berantakin seisi ruangan?" tanyaku lagi.
Dahi River mengerut. "Gue cuma naruh koper lo doang. Lo kan memang pemales sampai apartemen seminggu sekali baru dibersihkan."
Astaga! Aku yang sebelumnya ternyata sejorok itu? Setahuku saat pertama kali bangun, diriku adalah cewek rajin dan begitu persiapan akan segala sesuatu. Mengapa semua menjadi aneh?
Pada saat waktu kampus selesai, River dan aku pergi secara langsung menuju kafe untuk bekerja. Sama seperti sebelumnya, kami adalah karyawan kafe clair de lune tanpa perbedaan sedikit pun. Bahkan Kai juga tidak bekerja bersama kami.
"Wah-wah, kalian sudah datang. Ayo cepat bersiap-siap untuk bekerja," ucap sang Manager yang menghampiri kami berdua saat langkah kaki memasuki pintu belakang. Sepertinya sikap Manager menjadi lebih ramah daripada sebelumnya. Ini aneh.
"Iya Manager," kataku seraya berlari kecil menuju ruang ganti.
Semua orang menjadi berubah. Manager yang galak menjadi ramah. River adalah kekasihku, dan bukan Kai. Aku yang rajin, justru menjadi pemalas. Namun, tak seutuhnya semua berubah. Diriku masih kuliah pada jurusan ekonomi dan bekerja di kafe clair de lune.
Aku pun berdiri di depan pintu untuk menyambut pelanggan. Namun alih-alih pelanggan, Sherly mendatangi kafe melalui pintu depan.
"Eh Sher, kok kamu lewat pintu depan? Ini untuk pelanggan, kamu harus lewat belakang," bisikku pada Sherly.
"Hah? Kok gitu? Memangnya kenapa pintu depan ini? Aku 'kan juga pelanggan, bukan karyawan," ucap Sherly dengan mengerjap-ngerjapkan matanya dan memasang tampang innocent.
Mengapa mendadak Sherly tidak bekerja di sini?
"Eh, kalau kamu nggak kerja di sini. Kenapa ikut tour karyawan kemarin?" tanyaku penuh selidik.
"Tour karyawan? Yang ke puncak untuk nonton meteor leonid, ya? Itu 'kan cuma liburan biasa bareng kawan kita, Ley. Kok malah menjadi tour karyawan, sih?" balas Sherly dengan timpal balik pertanyaan. Semua begitu sama, tapi tetap ada yang berbeda.
Aku pun tertegun sejenak. "Oh gitu ya, kayaknya aku memang pelupa efek jatuh dari jurang."
"Hadeh. Kalau gitu, pesenin gue waffle dong," kata Sherly yang memain-mainkan alisnya.
"Huft, yes ma'am." Aku pun pergi ke dapur dan memesankan waffle kepada Kurt dengan cepat.
Sepertinya aku tidak perlu menungguinya, Megan pasti akan membawakan pesanan tersebut untuk Sherly. Aneh, mengapa mendadak cewek itu tidak bekerja di sini?
Semua berjalan seperti biasa hingga jam pulang dimulai pada enam sore tepat. Ya ampun, jam kerja ini terlalu cepat. Biasanya kafe ini tutup pada waktu delapan malam. Kurasa si manager yang memakai kacamata kotak tersebut benar-benar kerasukan malaikat.
"Ashley!" panggil Megan saat diriku ingin membuka pintu keluar. Penampilan Megan benar-benar tak ada bedanya seperti dulu. Pipi yang tembam, rambut ikal dan bertubuh tinggi. "Beli dimsum di dekat mini market sebelah yuk, katanya ada varian baru."
Ternyata Megan yang satu ini tidaklah hobi diet seperti yang kuketahui.
"Oke, ayo."
"Di dalam apanya? Gue udah nungguin dari tadi, masa lo cuma ganti baju aja lama banget." Cowok ini benar-benar begitu sensitif sampai-sampai dari ekor mataku bisa melihat Megan yang berjalan mundur. "Ayo buru."
"Tapi ..."
"Pergi aja sama River, gue bisa sendiri kok untuk beli dimsum," bisik Megan padaku. Aku pun meng-iya kan Megan dan menutup pintu untuk pergi bersama River.
Baru saja kakiku melangkah maju, mendadak kedua tangan River memegangi bahuku dan mendorongku hingga menempel pada dinding gang. Kutatap matanya yang begitu berapi-api seperti memiliki dendam pribadi padaku. Ada apa dengan cowok ini? Mengapa ekspresinya terlihat seperti mengalami darah tinggi?
Mataku membelalak, jantungku serasa mencelus saat bibirnya menyapu bibirku dengan kasar. Selama sedetik aku tidak dapat berpikir normal. Jantungku berderap lebih cepat saat cowok ini melepaskan ciumannya dan menatapku dengan tajam lagi. Rasanya aku ingin pingsan di tempat.
Aku pun mendorongnya pelan dan menghirup nafas dengan rakus sebelum berkata, "Jangan diulangi lagi."
"Hah?" River mengerutkan dahinya. "Lo kenapa sih, Ley? Dari kemarin elo berubah drastis."
Sepertinya aku harus menjawab jujur daripada suasana semakin muram dan ada beberapa karyawan yang akan keluar lalu menonton pertengkaran kami.
"Jangan di sini, kita bicara di apartemen gue aja, ya?"
"Terserah." Sepertinya cowok ini tipe tsundere yang lebih memilih gengsi daripada naluri hati. Dirinya lebih memilih terlihat cuek daripada perhatian, namun cintanya begitu dalam pada pasangan. Aku yakin itu, karena tidak mungkin diriku dapat menerima seorang kekasih yang begitu tidak bisa mencintainya.
Di tengah-tengah perjalanan, River mendengus keras hingga kupikir upilnya bisa saja meloncat dari hidungnya. "Ternyata kalau elo diem begini, lebih cantik ya."
Ah, sudah kubilang. Cowok ini tsundere. Jika dia mengatakan seperti itu, berarti diriku adalah cewek cerewet dan hiperaktif. Kurasa hilangnya ingatan tentang aku yang di sini sangatlah menonjol. Bahkan Kai baru menyadari perubahanku dalam dua hari.
Ketika kami sampai di apartemenku, aku langsung membuatkan teh untuk River dan duduk bersamanya di sofa ruang tengah. Aku tidak begitu tahu apa minuman kesukaannya, lagi pula tak penting. Aku pun memulai pembicaraan saat River menyesap tehnya.
"Gue, gue amnesia."
BYUR!
"Hah?!" Sial, kini aku harus mengepel untuk kedua kalinya pada hari ini. Respon terkejut cowok ini begitu berlebihan hingga menyemburkan teh dari mulutnya. "Serius lo?"
Aku mengangguk. Diriku juga bingung bagaimana untuk menjelaskan. "Kayaknya sih efek gegar otak saat jatuh di jurang deh."
"Parah, ayo ke rumah sakit!" perintah River dengan tegas seraya menarik tanganku. Aku pun menahan diri tanda menolak.
"Tunggu dulu," tukasku. "Beberapa hal ada yang bisa gue ingat kok. Jadi, tinggal jalani keseharian aja untuk mengingat hal-hal lain."
"Tapi lo lupa tentang kita, 'kan?" tanya River dengan air muka selidik.
"Iya, maaf." Jawabanku membuat River menghela nafas berat dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Mendadak pandanganku kabur. Sepertinya hal yang sama seperti dulu terjadi lagi. Kemunculan sebuah mimpi atau memori dan bisa jadi hanyalah halusinasi yang terasa begitu nyata. Seketika muncul suara deringan ponsel terdengar olehku.
Pandanganku mulai fokus dan hal pertama yang kulihat adalah sebuah tangan berinfus telah kugenggam dengan erat. Air mataku mengalir tanpa kuizinkan dan kepalaku mendongak hingga mendapati si pemilik tangan berinfus tersebut.
Aku terperangah lebar saat mengetahui bahwa River lah yang berada di atas ranjang rumah sakit sembari terpasangkan tabung oksigen pada jalur pernafasannya. Nyaris saja mulutku berteriak dan mengatakan umpatan kasar agar semua halusinasi bak mimpi buruk ini hilang secepatnya.
Aku tersentak saat mendengar suara River yang memanggilku berkali-kali hingga dunia alam sadarku kembali menyelimutiku.
"Ngapain bengong?" tanya River tak senang. "Mikirin apa?"
Aku yakin semua yang kulihat tadi dan yang sebelum-sebelumnya hanyalah halusinasi yang numpang mampir pada otakku. Lagi pula semua yang kulihat tidak pernah terjadi sampai sekarang. Jadi, diriku tak perlu memikirkannya.
"Nggak kok. Nggak papa," tukasku
River memutar bola matanya. "Lo ada kerjaan nggak habis ini? Kalau enggak, ikut gue."
"Ke mana?"
"Mengingat kembali semua kenangan kita dari awal," ujar River dengan intonasi rendah berkesan malu. Sepertinya dia berusaha menyingkirkan gengsinya dalam mengucapkan kalimat yang lumayan terdengar romantis itu.
Aku pun tersenyum. "Nggak ada kerjaan kok."
Wajah River mendadak menjadi cerah. "Yaudah ayo! Kita pergi sekarang."
- ♧ -