Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
12. Satu Hal Lagi Menjadi Kenyataan



"LO ikut camping dua hari lagi, 'kan?"


Aku mengerjap-ngerjapkn mataku dan baru menyadari bahwa diriku telah berada di kampus semenjak otakku mulai memikirkan tentang cowok semalam yang begitu menyeramkan. Dari semalam aku selalu memikirkan hal tersebut dan mulai paranoid akan sekitaran. Apakah cowok bermuka psikopat itu akan meneror kehidupanku kali ini? Dia yang awalnya selalu memasang wajah welas asih, lalu mengapa kini menjadi keji dan super menyeramkan?


"Ashley."


"Eh, iya!" Aku tersentak, lalu berteriak saat ada bisikan yang telah memanggil namaku.


Baru kusadari bahwa sedari tadi River memanggil-manggilku dengan nada kesal karena tidak mendapatkan respons. Seketika seisi kelas terdiam sekaligus dosen berhenti dalam penjelasannya.


"Ada masalah apa, Ashley?" tegur sang dosen yang menurunkan kacamatanya sekaligus memicingkan mata dalam menatapku.


"Tidak apa-apa, Pak. Maaf, silahkan lanjutkan lagi," jawabku dengan tidak enak hati.


Rasanya waktu begitu singkat dan tahu-tahu saja jam kuliah telah berakhir. Di saat seperti ini rasanya bukanlah waktu yang tepat untuk mengikuti kegiatan club seni. Lebih baik diriku langsung pergi bekerja saja daripada tidak fokus pada kegiatan kampus.


"Hei!"


Jantungku nyaris mencelus saat tanganku ditarik dengan keras dan baru kusadari bahwa kakiku nyaris melangkah pada jalan raya yang begitu ramai. Bisa-bisa diriku akan kecelakaan lagi seperti waktu itu. Kupegangi dahiku dan berusaha untuk berpikir jernih. Aku pun menoleh ke arah penyelamatku dan memberinya senyuman tipis.


"Makasih, karena telah nolongin ..." Ucapanku terhenti saat melihat bahwa penyelamatku adalah cowok bermuka keji kemarin.


Wajah cowok tersebut begitu muram dengan senyuman tipis yang berkesan menyedihkan saat menatap lurus kepadaku. Akhirnya, Ia melangkah pergi seraya memasang earphone pada telinganya lalu memasukan kedua tangannya pada saku hoodie tanpa meninggalkan sepatah kata pun untukku.


Aneh. Semalam ia bertampang sangat keji, lalu hari ini menjadi muram. Aku memiliki asumsi yang kemungkinan dia memiliki syndrom baru yang pada saat siang menjadi normal, sedangkan malam menjadi penjahat keji tanpa ia sadari. Jika ia saat mode malam akan mengincarku, maka aku tidak boleh sendirian dimana pun dan kapan pun saat malam hari. Ternyata aku yang sekarang menjadi lebih pintar, Hohoho.


"Lo kalau pulang jangan ninggalin gue."


Aku menoleh dan mendapati wajah River yang datar seakan-akan tak senang saat melihatku berdiri di depan gerbang kampus. "Sialan."


"Hei!" Mataku memelototinya karena berani mengumpat. "Jaga bicaranya."


"Nggak peduli. Ayo ke kafe," ucap River seraya menarik tanganku pergi menuju tempat kerja.


Sekarang aku bisa berpikir jernih setelah menemukan solusi untuk menyelamatkan diri dari peneror malam tersebut. Tapi, jika dipikir-pikir wajah cowok itu seperti pernah aku lihat di masa lampau saat pertama kali melihatnya. Mungkin ingatanku saat itu begitu lemah lalu mulai membaik saat merasa ingin mengingat memori akan cowok tersebut. Pasti dia adalah penjahat yang mengincarku dan hobi menampakkan belangnya sampai-sampai saat aku amnesia. Rasa trauma itu masih membekas dan merasa familiar padanya. Seperti itulah yang selalu kupikirkan selama menjalani keseharian ini sampai pada hari camping.


Kukira kami semua akan camping pada dataran tinggi seperti dahulu akan tetapi tahu-tahunya hanyalah sejauh dua kilometer dari kafe yang tepatnya berada di area hutan kecil pinggir kota yang dikhhususkan untuk camping-campingan cetek. Yeah, sebenarnya diriku tidak mengharapkan kami semua camping di hutan lebat seperti Amazon atau Daintree. Jika dipikir-pikir, manusia seumuran kami ada juga yang masih mengadakan acara lucu seperti ini.


"Tau nggak sih? Sebenarnya ini acara ulang tahun pak manager," bisik Megan padaku seraya mengunyah hot dognya. "Tapi kita harus diam-diam aja."


Aku pun mengangguk tanda merespon sembari membakar marshmellow pada api unggun. "Nggak apa-apa, asik juga kok."


Semua orang menoleh saat mendengar suara keributan dan seperti yang kutebak bahwa pemilik suara tersebut adalah River dan Kai. Dasar dua saudara yang menghebohkan.


"Lo udah kalah, bayar!" bentak River.


"Ogah, kemarin gue menang juga kagak lo bayar," balas Kai tak kalah membentak. Astaga, mereka baru saja datang dan langsung membuat keributan.


"Wah Kai, kamu juga datang," sambut pak Manager dengan wajah cerah. "Selamat menikmati campingnya."


"Yoi bro," ucap Kai seraya kabur dari River yang langsung berdecak kesal.


Kukira Kai akan menyambar hamburger milik Vin yang baru saja jadi, namun ternyata dirinya berlari ke arahku lalu menyambar marshmellow milikku. "Thanks."


Ya sudahlah, hanya sebuah marshmellow yang tidak perlu diributkan sama sekali. Aku pun mengambil marshmellow baru dan menusukkannya pada ranting yang tersedia di sebelah Megan. Kusapukan pandanganku ke area sekitar dan mendapati River sedang berbincang-bincang dengan Kurt, Manager dan Vin sedang memanggang daging lalu Megan yang sedang sibuk pada isi tasnya.


"Eh cuy, gue manggil kawan juga lho!" teriak Kai pada manager dan seketika sebuah gerombolan telah menghampiri kami.


Kurasa Kai dan Manager kami benar-benar memiliki ikatan pertemanan yang tidak kuduga-duga.


"Cuma senang-senang belaka kok, lo kalau mau pulang juga pasti di bolehin. Gue sama kawan-kawan mah bakal pulang," ujar Kai seraya mengunyah marshmellow bakarnya—atau sebenarnya marshmellowku—langsung dari tusukan ranting.


"Oh gitu."


"Asik ya, andai setiap hari kayak begini," lanjut Kai sembari memandangi teman-temannya yang begitu ribut akan menikmati makanan dan minuman tersedia. "Kok lo mulai jarang main sama kita-kita?"


Seketika kedua alisku terangkat. "Memangnya gue kenal orang-orang itu?"


"Lo gimana sih, Ley? Coba perhatikan mereka." Kai menoleh dan kujulurkan leherku untuk melihat ke arah orang-orang tersebut.


Oh, ada Megan. Namun, sisanya tak bisa aku kenali sama sekali. Dasar amnesia keparat.


"Eh iya, itu kawan kita. Gue nggak memerhatikan tadi," dustaku dengan perasaan canggung.


Kai tertawa kecil. "Biasanya yang kayak beginian elo paling heboh, ceria dan super asik."


Ternyata diriku seperti itu. "Mungkin karena faktor badmood makanya gue begini, maaf ya."


"Bad mood karena River, ya?" tanya Kai. Ternyata bukan itu. Aku hanya berusaha menyambungkan ucapannya dan tidak mungkin kuakui bahwa otakku kehilangan semua memori tentang mereka semua.


"Ley?"


"Enggak kok," balasku, lalu menyumpal mulut dengan marshmellow agar Kai tidak memaksakanku untuk menjawab ucapannya lagi.


"River kasar begitu yah gara-gara traumanya sih," lanjut Kai seraya menusukkan marshmellow-nya pada ranting kayu. "Lo ingat kan saat kita SD dulu? Gue, River dan elo adalah anak-anak yang sering diberi kekerasan oleh orang tua. Jadi gue yakin elo bakal maklumi dia."


Aku tertegun sejenak dan memikirkan sebuah jawaban apa yang cocok untuk memancing lanjutan cerita dari Kai. Sepertinya kami adalah anak-anak yang sama-sama memiliki trauma berat.


"Elo dipukuli dan ditelantarkan. River dan gue yang hobi dijadikan sebagai sasaran bogem oleh Bokap. Yeah, begitulah kita, benar 'kan?


Aku terdiam sejenak. "Kayaknya gue udah lupain hal itu."


"Oh, ya?" Kai menoleh kepadaku dengan tampang tak percaya. "Kalau gitu sorry, deh, harusnya gue nggak mengungkit hal ini."


"Eh, justru gue mau dengar lebih lanjut," ucapku dengan grogi. "BTW, Nyokap lo fine-fine aja tuh. Nggak kelihatan seperti ..."


"Kan nyokap gue pahlawan kita, Ley. Nyokap gue, ya, nyokap lo juga, 'kan?" sahut Kai yang memotong kata-kataku dan mendadak saja dirinya tertawa kecil. "Padahal lo paling muda di antara kita bertiga."


Rasanya hatiku begitu nyeri dalam mendengar kenyataan tersebut. Kukira kami hanyalah sebatas teman kecil, ternyata lebih dari itu. Kami adalah salah satu korban dari penjahat kekerasan anak. Aku tak bisa membayangkan bagaimana masa kecilku yang begitu menyedihkan dan sekarang  menjadi manusia malang yang mengalami amnesia. Entah mengapa mendadak air mataku mengalir dan jatuh ke tanah.


"Dulu River adalah anak yang paling sering dijadikan sandsack tinju oleh Bokap gue saat beliau mabuk atau emosi, dasar bajingan malang," ujar Kai sembari mencorat-coret tanah menggunakan ranting kayu bekas marshmellownya. "Di kala gue benar-benar muak, gue ngecekik Bokap gue hingga beliau tiada. Untung aja ini cuma rahasia kita bertiga." Kai menatapku yang sedang terperangah dan mengalirkan air mata.


Kini diriku baru menyadari bahwa ini adalah memori yang pernah muncul sekilas pada otakku dahulu hingga mengira semua itu adalah halusinasi belaka, dan tak disangka-sangka telah menjadi kenyataan pada masa depan.


Alih-alih diriku mengira dia seorang pembunuh, dia adalah penyelamat saudaranya. Ternyata pendengaranku pada memori sekilas dahulu sangatlah buruk hingga mengira bahwa Kai mencekik bokapku. Dengan cepat kusapukan air mataku dengan punggung tangan agar Kai tidak menanyakan hal-hal aneh padaku.


"Sorry, keinget hal itu gue jadi begini." Bukan teringat, namun baru mengetahui. "Tapi ..."


"Tapi gue salah, 'kan?" tanya Kai seakan-akan pertanyaan tersebut telah sering menghantuinya. "Dulu elo dan River menjadi saksi. Sekarang gue percaya kalian berdua paham akan mental healt gue. Nyari kebebasan memang sulit ya."


"Kenapa elo ceritain ke gue dengan mengatakan kata 'dulu'?" tanyaku curiga.


"Karena gue tahu kalau elo amnesia."


Seketika tubuhku mematung dan rasa dingin mulai menyelimuti.


- ♧ -