![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
PADA akhirnya, setelah berhasil menembus gelapnya malam di sela-sela keramaian orang-orang, aku pun sampai pada apartemen.
Sebuah kasur kujadikan tempat membenamkan wajahku lalu terbasahi dengan air mataku. Tak henti-hentinya aku mengutuk mimpi buruk yang selalu menghantuiku mulai dari sebelum sadar ataupun setelah sadar di dunia fana ini.
Tidak kupedulikan kedua mata yang telah lebam seperti telah tersengat lebah dan begitu terlihat jelek. Kupejamkan mataku dan berharap esok hari adalah hari yang dihindari oleh segala kesialan. Kuharap begitu, semoga saja.
Tepat pada tanggal 24 juli, aku terbangun.
Dengan sigap, aku bangkit dan langsung bersiap-siap menuju runah sakit untuk menemani River. Kubelikan beberapa buah dan bubur, walaupun aku tahu jika rumah sakit menyediakan dua hal tersebut. Tapi pembelian ini adalah bentuk rasa peduli dan adab dalam membezuk orang sakit.
Harapanku saat sampai di rumah sakit nanti adalah disambut dengan mata terbuka oleh River. Namun hal itu tidak terjadi. River masih memejamkan matanya saat aku sampai padanya. Mungkin obat biusnya masih bekerja, atau bisa jadi cowok ini masih tertidur. Sudahlah, lebih baik aku pergi ke kampus walau jam pertama telah terhitung telat total dan berharap membuat aktifitas lain menjadi pengalihan kekhawatiranku.
Sepanjang mengisi waktu di kampus, otakku hanya terisi dengan pertanyan mengenai keadaan River. Sayangnya, aku harus bekerja. Tak apa, sepulang dari kafe, aku harus kembali ke rumah sakit menggunakan kendaraan umum.
Tidak ada lagi kegiatan penting yang harus kulakukan selain menemani penyelamatku.
"Ley," panggil Kai saat diriku melangkah keluar ketika waktu untuk pulang dan pergi menuju caffe. "Pulang kerja, lo mau jenguk River?"
"Iya," balasku singkat sembari menganguk pelan.
"Gue ikut, ya." Kai memandang ke atas dalam menghembuskan nafas. "Sekalian gue bawa nyokap."
Sepertinya, nyokap kai dan River akan menjadi lebih khawatir saat melihat kondisi River.
Aku pun bekerja dengan berusaha untuk fokus agar tidak memperburuk keadaanku sendiri. Namun tak bisa. Menyembuhkan rasa khawatir ternyata begitu sulit.
Waktu terasa begitu lama hingga akhirnya aku bisa menghembuskan napas lega saat jam menunjukan waktu pulang.
"Ashley, kami juga mau jenguk River," ucap Megan dengan disertai anggukan teman-teman lainnya.
"Gua ikut! Tapi pakai taksi!" sahut Vin lalu diiringi oleh jitakan Kurt. "Ouch, capek tau kalau jalan kaki! Kita nih habis kerja."
Kurt menatap tajam ke arah Vin. "Siapa yang akan bayar?"
"Gua, deh." Vin mengangguk kepalanya dengan sebal.
Ternyata, mereka semua begitu peduli terhadap satu sama lain. Senangnya.
Kami berangkat bersama menuju rumah sakit dengan menggunakan taksi. Sesampainya kami di rumah sakit dengan membawa berbagai buah tangan, sambutan hangat dari nyokap River pun menghadiri kami. Ada satu hal yang membuatku tersenyum lebar tanda kelegaan menyelimuti diriku. River sudah siuman! Syukurlah-syukurlah. Kusyukuri perkiraanku telah salah.
"Pasti elo lari dengan ugal-ugalan di jalan sampai begini, ya?" ucap Vin dengan nada bercanda kepada River.
"Iya, bener. Demi cewek gue sendiri," balas River ketus yang berhasil membuat wajahku memerah.
"Ciee, Ashley salting," sahut Megan dengan menyengolku dan tertawa kecil.
Serta merta kami tertawa dan nyaris menghilangkan rasa khawatir pada River. Begitu ramai dan damai. Aku menyukai susana ini.
Mendadak Sherly muncul dengan membawa sekotak bubur ayam dan kami semua hanya bisa terdiam akibat begitu banyak bubur ayam yang menumpuk di meja sebelah River karena tak mungkin dia makan segitu banyaknya dalam sekejap.
"Udah sejam lebih, gue balik dulu, bro," Pamit Kai bersama nyokapnya, lalu disusul oleh semua orang.
"Bye, River. GWS, ya!" ucap Megan lalu berjalan keluar untuk pulang.
Kini yang tersisa hanyalah diriku.
"Akhirnya mereka pergi, ganggu banget," cibir River dengan nada ketus.
Aku pun duduk di kursi sebelah ranjang River dan tersenum pasi. "Sorry, ya. Karena gue, lo jadi celaka begini."
Seketika River memasang wajah masam. "Apaan sih, Ley. Jangan buat pengorbanan gue sia-sia deh."
Tak ada yang bisa kutunjukan selain senyuman.
Beberapa lama kami mengobrol dengan suasana hati senang dan aku terus menerus bertanya keadaannya hingga cowok itu muak. Itulah yang kami lakukan hingga melupakan waktu. Malam sudah mulai terlalu larut dan aku tidak dibolehkan berdiam diri di rumah sakit sebelum terusir dengan memalukan.
"Gue takut kalau terlalu malam. Gue pergi, ya," kataku untuk pamit dan memutar tubuhku untuk melangkah pergi.
Mendadak tanganku tergenggam hingga membuatku berhenti melangkah, "Ley, hati-hati di jalan. Jangan melamun. Lo jangan bikin gue khawatir, sialan."
Aku pun tersenyum meskipun River mengucapkan kata umpatan padaku. "Oke, makasih."
River tersenyum lega lalu berkata, "Night."
Pada akhirnya, kami terpisah.
Ponselku tertinggal di apartemen karena sebelumnya otakku terlalu sibuk memikirkan River.
Kini aku harus berjalan kaki. Tentunya, aku tidak ingin lagi melewati jalan zebra cross yang telah membuatku dihampiri sebuah kesialan dua kali. Inilah akibatnya jika terus menerus merenungkan hal-hal tidak berguna hingga mencelakai diri sendiri atau pun orang lain. Aku pun memutar haluan menuju apartemen dengan melewati area taman dan belakang campus. Benar-benar jalanan yang lumayan sepi dengan dihiasi lampu jalanan remang-remanf dan cahaya bulan purnama. Sebentar lagi diriku akan sampai, tinggal melewati jalur kereta api sekaligus dua kelokan maka usai sudah perjalananku.
Di saat aku melangkah untuk melewati rel kedua kereta api, lagi-lagi kemalangan menghampiriku. Ujung sepatuku tersangkut pada rell. Bukan hanya sepatu, melainkan jari-jari kakiku juga ikut tersangkut dan rasanya sedikit menyakitkan. Jika aku berusaha menariknya dengan paksa, bisa-bisa kakiku akan terluka dan sepatuku menjadi rusak parah. Aku pun membungkuk perlahan untuk menarik perlahan kakiku agar bisa lepas secepat mungkin.
Oh gawat. Dentingan pagar penghalang penyeberangan rel telah berbunyi yang menandakan sebentar lagi sebuah kereta api akan datang. Suara deruman roda membuatku panik setengah mati hingga tak kupedulikan tas yang terjatuh sedangkan tanganku hanya menyibukkan diri untuk melepaskan kaki ini dari rel.
Bagus, aku berhasil melepaskannya!
Aku berpikir bahwa cahaya kereta api tersebut berasal dari belakangku yang akan melesat di rel pertama, maka karena itu diriku melangkah menuju rel kedua secepat mungkin untuk menghindar. Namun aku membuat kesalahan besar. Saat kedua kakiku sudah lengkap sepenuhnya menginjak rel kedua kereta api, seketika mulut kereta api menderap kearahku dengan kecepatan maximum sekaligus suara deritan rem yang menandakan bahwa sang masinis berusaha memberhentikan kereta tersebut sebelum menabrak dariku. Mataku terbelalak hebat dan suara deritan melengking tersebut telah diiringi dengan jeritan yang tak kusadari bahwa mulutku sedang berteriak histeris dalam menatap perantara mautku.
Aku tahu bahwa kali ini tidak akan bisa selamat lagi.
Untuk kesekian kalinya, duniaku menjadi gelap.
- ♧ -