Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
30. Kenyataan yang Pahit



SEBUAH kesadaran yang telah hilang, pada akhirnya kembali dan dapat membuka mata hingga hasilnya memandangi nuansa putih dari ruang inap rumah sakit.


Secara otomatis aku melirik ke arah jam digital pada meja nakas sebelah ranjang yang kutiduri. Sesuai perkiraanku, tanggal 23 dan bulan juli pada dini hari. Secara tidak langsung aku hanyalah tertidur jalur tenggelam lalu bangun kesiangan. Konyol, tapi setidaknya aku berhasil hidup.


"Syukurlah lo sudah bangun."


Aku terduduk saat suara yang tak ingin kudengar setelah pintu terbuka dan menampilkan seseorang yang masuk. Setelah kejadian semalam, dia masih berani menampilkan wajahnya di hadapanku. Siapa lagi juga bukan DJ.


Aku memalingkan wajahku darinya dan menatap ke arah jendela.


"Kenapa bersikap acuh seperti itu?" Suara DJ semakin dekat dan dia menarik sebuah kursi untuk duduk di sebelah ranjangku. "Dengan menjatuhkan diri seperti semalam, lalu diselamatkan oleh Zack, apa tetap dapat meyakinkan kami bahwa dia adalah orang tak pantas disingkirkan?"


Dia tahu tujuanku dalam melakukan aksi bunuh diri sementara. Sesuai harapanku, Zack sungguh-sungguh menolongku.


"Jika kalian kurang yakin, apa gue harus mengulang hal yang sama?" Aku menoleh dan menatap DJ dengan pasi. "Pilihlah. Gue nggak takut mati jika kalian bersikeras untuk menangkap Zack."


DJ meletakkan kantung plastik bawaannya dan mengeluarkan sebuah mangkuk, lalu menuangkan sup yang berwarna jingga. Kutebak bahwa itu adalah sup labu yang ada pada menu caffe.


"Tidak, kami sudah yakin jika dia benar-benar orang baik," ujar DJ dengan tersenyum dan membuatku sedikit lega. Dia menyuapkan sup tersebut padaku dan aku melahapnya hingga merasa betul jika tebakanku benar bahwa itu adalah sup labu. "Benar-benar baik hanya ke lo saja, Ley."


Ekspresiku berubah.


"Benarkah? Lantas, sikapnya yang ramah saat menjadi langganan caffe, bagaimana?" tanyaku dengan tenang.


"Semua orang juga bisa bersikap baik untuk menutupi kebusukannya," timpal DJ.


Aku pun menatapnya sinis dan teringat bahwa tak salah jika Zack memiliki sisi jahat yang dilindungi oleh dirinya yang asli.


"Kalau begitu, jelaskan padaku seperti apa kebusukannya hingga membuat kalian uring-uringan untuk menangkapnya," pintaku setelah menelan satu suapan sup.


"Sikap lo seperti orang yang mendadak terkena alzhaimer," gerutu DJ sebelum menghembuskan nafas berat. "Zack adalah anggota divisi asashin dari perusahaan gelap Near Crew. Kau tahu asashin, bukan? Maknanya adalah pembunuh bayaran."


"Apa motifnya untuk bekerja di perusahaan itu?" sanggahku buru-buru.


"Gue juga nggak tahu." DJ menggedik bahunya. "Tujuan kita adalah menghentikan perusahaan tersebut dalam beroperasi melalui mengurangi pekerja-pekerja rahasianya. Semakin berkurang anggotanya, semakin sulit mereka dalam memenuhi permintaan konsumen."


Aku tertegun sejenak. "Jadi, perusahaan itu melayani konsumen yang meminta untuk ...,"


"Untuk membunuh targetnya," sela DJ, "Dan Yurika mendapatkan info bahwa Zack salah satu dari mereka."


Dari mana info itu didapat dengan jelas?


"Lalu, kenapa tidak perusahaannya saja yang kalian bekuk agar akarnya terselesaikan?" sergahku buru-buru.


DJ menatapku lekat-lekat. "Lo kira semudah itu? Mereka tidak beroperasi di satu titik. Jika ingin dilaporkan, bukti apa yang harus diberikan?"


"Dan kalian bergerak secara mandiri?" sambungku. "Berlagak menjadi pahlawan dalam memberantas kejahatan, dan menggunakan gue sebagai alat pancing?"


"Kami memiliki alasan tersendiri." DJ meletakkan mangkuk yang telah kosong di meja nakas sebelahku. "Contohnya saja Zeha. Sahabat dan orang yang dia sukai telah terjerat oleh perusahaan itu. Begitu juga dengan Aya, dan gue juga."


Suasana menjadi hening. Aku mulai mencerna apa yang sedari tadi kami bicarakan.


"Kalian menangkap Zack hanya untuk menggali informasi darinya?" tanyaku dengan unsur memastikan.


Bibir DJ menyunggingkan senyum. "Jangan pikirkan ucapan Crystal semalam. Kami takkan membunuhnya, itu perbuatan yang di luar batas."


Sekarang aku mengerti. Mereka juga tak mungkin menemui Zack secara langsung karena sebuah resiko yang menakut-nakuti mereka. Bagian terpentingnya, mereka ingin menarik kembali orang-orang yang mereka anggap penting. Aku pernah merasakan bagaimana kehilangan seseorang, pasti seluruh anggota Norn lebih malang dari yang kupikirkan. Terutama cowok yang di sebelahku ini.


Di sisi lain, aku dan Zack bukanlah dari dunia ini. Sudah pasti tak pantas bagi Zack jika mendapatkan perlakuan buruk yang pasti tidak dia ketehui sama sepertiku. Apapun hal yang dilakukan oleh Zack atau aku yang asli pada masa lampau di dunia ini, itu bukanlah pertanggung jawaban kami. Jiwa kami hanyalah terdampar pada tubuh kami yang lain di salah satu dunia paralel.


Biar kubuktikan sekali lagi jika Zack tak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Meskipun apa yang DJ dan anggota Cate bicarakan adalah benar, itu semua perbuatan Zack lain di masa lampau.


"Baiklah, gue akan adakan tour karyawan," kataku dengan tiba-tiba. "Tapi, apa gue bisa ikut kalian beroperasi di caffe?"


"Lo adalah Manager, wajib untuk ikut serta kegiatan yang lo perintahkan pada anak-anak caffe," jawab DJ.


Entah kenapa aku menjadi kepikiran tentang tour pegawai sebelum-sebelum ini. Apakah tujuan dari DJ di dunia sebelumnya adalah sama seperti ini, yaitu membekuk Zack? Jika iya, sudah pasti gagal karena Zack selalu mengikuti ke mana pun.


"Kita sepakat 'kan untuk jalani ini?" DJ memulai untuk mengakhiri percakapan.


Aku mengangguk dengan pasti.


Setelah semua itu, kami dipersilahkan oleh pihak rumah sakit untuk pulang karena tak ada rekomendasi agar diriku lebih lama menginap. Lagi pula, aku tak ingin berlama-lama di sini.


DJ mengantarkanku menggunakan taksi menuju apartemenku dan langsung pamit ketika aku menolaknya untuk menemaniku dengan alasan kondisiku yang belum tentu stabil. Aku menjadi terpikir tentang caffe dan mungkin saja DJ mengumumkan tour pegawai pada anak-anak caffe lebih dulu dariku.


Saat sudah memasuki apartemen dan menutup kembali pintu balkon yang sebelum ini terbuka karenaku semalam, seketika ponsel yang masih tergeletak lantai sedang berdering tanda seseorang meneleponku. Aku memungut ponsel itu yang menampilkan nomor tak dikenal pada layarnya. Pasti Zack. Dia tahu bahwa aku sudah di sini.


Kuangkat panggilan tersebut dan langsung menedengar sapaan dari orang yang sudah aku duga.


"Maaf jika aku tidak bisa menjengukmu di rumah sakit. Aku melihat DJ sudah lebih dahulu mendatangimu," ucap Zack dengan nada bersalah.


Aku terduduk di atas sofa sembari mendengarkan kalimat Zack. "Tak apa, dan terima kasih untuk kemarin karena telah menolongku."


"Untuk apa menceburkan diri dari atas sana ke laut?"


Aku tersenyum keki saat mendengar pertanyaan tersebut. "Maaf, aku terpaksa."


"Terpaksa karena apa? Kamu membuatku khawatir sekali!" sergah Zack dengan nada tinggi.


"Sebelum menjawab pertanyaan itu, bisakah kamu menjawab lebih dulu pertanyaan dariku?" Aku berniat untuk memastikan apakah Zack mengetahui tentang yang dibicarakan oleh DJ.


Zack diam sejenak sebelum menjawab, "Tentu."


"Apakah benar jika kamu bekerja pada perusahaan gelap?" Cukup dengan satu pertanyaan itu untuk mengkonfirmasi seluruh pernyataan negatif yang kuketahui.


"Benar."


Tubuhku menjadi tegang, tempo detakan jantungku menjadi cepat dan rasa takut menyelimutiku. Perkiraanku telah runtuh akibat Zack yang memvalidasi apa yang kutolak untuk percayai. Bukankah kami berdua sama-sama tak berasal dari dunia ini? Seluruh dunia paralel sangat berbeda dari dunia lain dan tak mungkin dunia kami sama seperti sekarang yang sangat mengerikan ini!


"Kamu nggak salah bicara, 'kan?" tanyaku buru-buru hingga beranjak dari sofa. Reflek diriku mengibaskan rambut ke belakang dan menggigit bibir.


"Tidak, jawaban dari pertanyaanmu benar," balas Zack yang berhasil membuatku berjalan mondar-mandir.


"Jadi, dari dunia asli kita, tak ada perbedaan dari dunia ini?" Lagi-lagi aku melemparkan pertanyaan.


Zack terdiam sejenak. "Antar dunia paralel lain hanya memiliki perbedaan yang tipis. Mungkin yang berbeda di sini hanyalah posisi dalam pekerjaanmu. Tak ada lagi."


Apabila sudah begini, aku tak bisa melawan apa yang dilakukan oleh organisasi Norn. Sejak awal aku sudah salah dalam menilai. Mungkin inilah sebabnya Zack menyuruhku untuk menjauh darinya.


"Tahu dari mana?" Aku tersentak kaget saat Zack melontarkan pertanyaan itu.


Aku tidak bisa memberitahu jawaban sebenarnya. Bodohnya diriku dalam melemparkan pertanyaan yang bisa jadi mencelakai para anggota Norn. Mengalihkan topik adalah solusinya.


"Tak penting. Sedari awal yang bisa mengetahui segalanya hanya dirimu, dan pertanyaan yang harus kuketahui sejak awal, mengapa aku bisa kehilangan semua ingatan?" Dengan ini, aku juga bisa mendapatkan jawaban penting.


"Itu karena ...," suara Zack terdengar parau, lalu dia terdiam lama.


"Zack?" panggilku.


Suara isakan terdengar jelas olehku. "Maaf Ashley."


"Ada apa? Ceritakanlah," sahutku cepat-cepat akibat tak sabar dalam menunggu jawaban. Untuk apa Zack meminta maaf padaku?


"Aku, akulah penyebab hilangnya ingatanmu," ujar Zack yang membuatku lagi-lagi terkejut oleh pernyataan pahitnya.


Sebelum aku melemparkan pertanyaan lagi tentang bagaimana bisa hal itu terjadi, Zack kembali melanjutkan kalimatnya.


"Dan aku-lah penyebab kematianmu."


- ♧ -