![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
RASANYA pagi ini begitu aneh karena sekarang diriku akan berangkat menuju caffe lebih awal dengan tujuan menghandle para karyawanku. Iya, kali ini mereka adalah bawahanku, bukan sebayaku. Rasanya sulit dipercaya.
Bukan hanya pagi hari yang terasa aneh, melainkan ponselku juga. Bukan karena bentuknya, warnanya atau merknya. Melainkan karena sebuah pesan. Tidak ada pesan dari si misterius dalam menanyakan kondisiku saat ini.
Ke mana dia? Apakah sudah melupakanku?
Aku tahu bahwa dialah yang memegang seluruh jawaban atas pertanyaan yang teriang-iang di benakku. Entah itu tentang paradox yang menimpaku atau mungkin sebenarnya siapa aku. Lalu, di mana duniaku yang sebenarnya.
"Permisi."
Segala renunganku buyar ketika aku seseorang menghentikanku dalam berjalan dengan ucapannya. Baru kusadari bahwa belum sampai setengah jalan diriku untuk sampai menuju caffe.
Kuangkat kepalaku dan justru mendapatkan kejutan untuk sekian kalinya. Lagi-lagi Zack. Mengapa dia sering berada di dekatku, namun tak memperkenalkan dirinya sama sekali?
"Jangan lewat jalan setapak di sana. Lewat saja jalan memutar. Meskipun terlambat, setidaknya untuk berhati-hati saja," ucap Zack padaku. Lalu, dia langsung melangkah mundur dan memutar badan.
Jalan setapak yang akan kulewati adalah jalur cepat menuju caffe dan biasa kulewati.
Serta merta aku menjawab, "Tunggu dulu, memangnya ada apa?"
Tak mendapatkan respon apapun dan Zack pergi berlalu. Padahal, cowok itu kulihat dari jauh sedang melewati jalan setapak tersebut. Ada apa dengannya?
Aku pun menurut karena teringat akan kecelakaan di lampu merah yang sempat ditegur oleh cowok tersebut agar tak melewatinya. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan taksi online, lalu berangkat menuju caffe dengan tenang.
Ketika sampai, rasanya sedikit tegang untuk membuka pintu belakang pertama kalinya dan mengganti papan tanda berawal dari 'close' menjadi 'open'.
"Pagi Manager," sapa cowok berkacamata yang awalnya adalah manager caffe ini. Dia datang lebih awal atau mungkin sift pagi adalah jadwalnya. Tunggu dulu, tak mungkin ada pembagian karena kemarin aku melihat dia masih di caffe hingga malam.
Betapa kejamnya diriku dalam mengatur pegawai tanpa jadwal pembagian sift.
Aku pun melirik pada nametag cowo tersebut dan bertuliskan nama 'DJ' yang membuatku bingung untuk memanggilnya.
"Iya, pagi ...," Aku pun menimpal-nimpal dalam memanggil namanya. "DJ."
DJ yang sedang berdiri di depan kasir pun menoleh ke segala arah. Lehernya menjulur ke arah dapur seperti memeriksa sesuatu. Akhirnya dia bernafas lega sembari menatapku lekat-lekat.
"Ashley, lo ngapain ngebatalin acara tour karyawan ini?" tanya DJ yang membuatku sedikit terkejut akibat perubahan sikapnya terhadapku. Berawal gaya bicaranya yang formal, kini menjadi informal.
Aku pun berinisiatif untuk mengikuti gaya bicaranya. "Emm, ada hal penting yang harus gue lakukan di saat yang sama pada tour karyawan. Kalau gue tetapkan, justru nggak akan ada yang handle."
Alih-alih terlepas dari DJ, justru dia menatapku dengan kebingungan. "Hah? Maksud lo?"
Aku menjadi uring-uringan saat ditodong pertanyaan tersebut.
"Lo tahu 'kan kenapa kita ngadain tour karyawan?" DJ menatapku lekat-lekat.
Bukankah untuk menaikan kinerja pegawai? Aku pun menjawab, "enggak."
"Jangan bilang lo lupa," sambung DJ seraya menatap langit-langit. "Mending lo bilang ke para karyawan kalau tour ini jadi."
Seketika teringat olehku tentang tour yang pernah kulaksanakan di hutan kecil. Bukan tour, melainkan camping. Megan menberitahuku bahwa hari itu adalah ulang tahun manager kami, atau lebih tepatnya DJ.
"Kenapa? Lo mau ngerayain ulang tahun?" ucapku dengan tampang polos.
DJ pun melongo dalam menatapku. "Ulang tahun? Ulang tahun gue udah lewat kali. Kita ngadain tour untuk..."
"Hallo!" Sherly muncul dari dapur dan menyapa kami dengan riang yang membuat DJ menghentikan ucapannya. "Kirain saya akan datang lebih awal, ternyata Nona manager duluan."
"Ngagetin aja." DJ menggeleng pelan. "Ayo Sher, keburu Nona Manager yang koordinasi. Mending kita langsung siapkan beberapa menu sebelum pelanggan datang."
Omong-omong, aku tidak tahu bagaimana caranya dahulu Pak Manager garis miring DJ dalam mengurus caffe ini. Saat dulu, dia sering sekali memarahi semua orang karena masalah kecil. Atau mungkin versi cueknya adalah tak pernah menghandle apapun. Mungkin aku harus mengambil jalan tengah, yaitu ramah dan menghandle dengan baik.
Aku baru tahu bahwa ada ruangan khusus manager di dekat dapur. Saat aku memasukinya, hanya terdapat ruangan minimalis dengan meja dan kursi. Hiasannya hanyalah tumpukan dokumen dan komputer yang isinya data keuntungan sekaligus kerugian.
Daripada diriku berdiam diri dalam tak memahami apa yang harus kulakukan di ruangan ini, lebih baik melihat-lihat para pegawai yang bekerja tanpa kesalahan, itu menurutku. Bahkan sesekali, DJ curi-curi pandang ke arahku. Entah apa yang dia kode, aku hanya bisa memiringkan kepala sedikit untuk bertanya apa maksud dari pandangannya.
Untuk kesekian kalinya, bell pintu masuk berbunyi tanda sang pelanggan datang. Namun, kepalaku terpancing untuk menoleh saat memerhatikan Megan yang sedang mengelap meja.
Mata kami saling bertatapan. Aku dan Zack. Lagi-lagi dia muncul di hadapanku.
Alih-alih memasang tampang lelah, datar, kejam dan menyeramkan saat menerorku, dia justru tersenyum lebar saat Sherly menyambut kehadirannya.
Apa kali ini dia bersifat berbeda dari sebelum-sebelumnya? Mungkin karena faktor kematian dan berpindahnya diriku di keadaan lain, maka sifatnya juga ikut berbeda dari sebelumnya.
"Hei, bro! Udah dua hari lo nggak ke sini." DJ menyapa Zack dengan akrab.
Vin ikut menghampiri Zack dengan membawa coffe latte. Mereka terlihat akrab, apakah sebelum-sebelumnya juga seperti ini?
"Nggak bisa disebut pelanggan tetap kalau udah dua hari nggak datang," ucap Vin sembari meletakan pesanan yang dia bawa.
Ternyata Zack adalah langganan kami. Pantas saja mereka begitu akrab. Tak sengaja kulihat dirinya memegangi camera kecil dan memasangkan earphone yang bertengger di lehernya pada telinganya. Pembicaraannya bersama pegawai-pegawai caffe terdengar akrab dalam membahas topik kamera. Sebaiknya aku tidak perlu mencuri dengar.
Aku yang sedang berdiri di bagian pojok meja barista menjadi tak sengaja saling berpandangan dengan Zack. Buru-buru kutundukan pandanganku dan pergi ke dapur.
Hari yang begitu berbeda dan aku cukup terbiasa untuk menjalaninya hingga akhir.
Aku membiarkan semua pegawai pulang lebih dahulu agar aku bisa mengunci caffe karena merasa tak enak jika Kurt yang melakukannya. Kurt yang baru, bukan Kurt yang dahulu menjadi pacarku. Ah, sudalah.
Caffe telah sepi dan semua lampu telah mati terkecuali lampu di ruang tunggu pegawai. Aku keluar melalui pintu belakang dan menguncinya. Saat diriku berbalik untuk berjalan keluar dari gang kecil, terlihat DJ sedang bersandar di dinding gang dengan menatap ke langit.
"DJ, kamu belum pulang?" tanyaku.
DJ langsung menoleh ke padaku. "Lama banget, ngapain aja di dalem?"
"Tadi saya ngurusin..."
"Sudahlah, nggak ada siapa-siapa. Ngapain bicara pakai bahasa formal? Ayo jalan." DJ menyela ucapanku dan kami mulai berjalan bersandingan.
Kami pasti teman dekat hingga dia mengajakku pulang bersama. Aku menjadi terbawa pikiran tentang jalan yang tak boleh dilewati, dan apa mungkin sekarang seharusnya tidak aku lewati meski bersama DJ?
Tunggu dulu, Aku merasa ingin tahu arti pada panggilan DJ. "DJ, saya... eh, gue lupa nama asli lo yang sebenarnya."
DJ menoleh ke arahku dan sedikit memasang ekspresi terkejut. "Kok lo mendadak pikun? Dirga, Dirga Jeercate. Ini 'kan panggilan umum gue. Masa gara-gara insomnia, ingatan di otak lo jadi error juga?"
Aku tak percaya dengan apa yang kudengar dari mulut DJ. Dahulu dia memang galak sebagai manager dan ada kalanya baik saat aku hidup di dunia sebelumnya. Sebenarnya aku tak perlu heran dengan gaya bicaranya yang sedikit menyakitkan dan tak kalah kasar dengan River. Bahkan dia tak segan-segan mengatakan jika otakku error, meskipun kenyataannya benar seperti itu, tapi lumayan menyakitkan untuk didengar.
"Lo kok nggak berangkat kuliah setelah buka caffe tadi pagi?" tanya DJ yang membuatku tersentak dari pikiran-pikiran acakku.
Kehidupanku tidak akan luput dari perkuliahan. Sudah pasti takkan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Mulai esok aku akan pergi ke caffe, lalu pergi ke kampus dan kembali lagi ke caffe. Jadwalku begitu padat untuk saat ini.
Satu lagi, aku harus mengingat ucapan Kurt bahwa diriku tak boleh mati dalam mengalami paradox ini.
"Dan jangan bilang lo lupa juga kalau gue pacar lo?"
- ♧ -