![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
PERLAHAN aku membuka mata dan berusaha menerima cahaya yang harus kubiasakan untuk memfokuskan pandangan.
Pemandangan sekitar yang tampak bernuansa putih, selimut dan kasur putih, satu meja nakas dan buah-buahan. Aku berada di rumah sakit. Sial, aku berada di rumah sakit lagi, akankah aku harus keluar dari sini? Kukira kecelakaan kemarin yang telah menimpa diriku akan membunuhku dengan cara terbaru dari mimpi-mimpi burukku yang sebelumnya. Tak aku sangka sebuah keselamatan menghampiriku.
CEKLEK!
Terdengar suara handle pintu yang ditarik dan menghasilkan deritan engsel-engsel yang menandakan bahwa pintu tersebut sedang terbuka oleh seseorang. Kai, dia adalah Kai. Apakah sekarang diriku boleh takut dan panik?
Kai menggeleng kepalanya pelan dan berjalan ke arahku dengan santai.
Mataku membulat saat tak bisa menebak tindakan Kai yang mendadak mencium bibirku tanpa izin maupun aba-aba. Ia menyapukan bibirnya pada bibirku dengan lembut lalu melepaskan seraya menatap mataku begitu lekat. Sialnya, aku tidak bisa berkutik di saat seperti ini.
"Jangan gila seperti kemarin, ya? Lo bikin gue khawatir," ucap Kai dengan tersenyum tipis yang sama sekali tidak membuatku tenang. "Untuk apa berlari sampai tertabrak?"
Astaga, Kai telah menciumku! Aku bisa menggila! Mungkin, dahulu diriku sering melakukan hal tersebut, tepat sebelum kehilangan ingatan. Namun kini terasa mengejutkan dan sama sekali belum terbiasa jika dimulai dengan seperti ini.
Tak lama dokter menghadiri kami dan menyatakan bahwa diriku sudah boleh dipulangkan tanpa melakukan perawatan secara lebih lanjut. Berkali-kali Kai meyakinkanku untuk dirawat di rumah sakit lebih lama akan tetapi, tentu saja diriku menolaknya dengan memaksa. Aku hanya mendapati cidera ringan dan pingsan saat mobil yang menabrakku telah menderap dalam kecepatan normal. Syukurlah, jika saja pemilik mobil tersebut adalah pengendara ugal-ugalan, bisa saja diriku akan terpental dan mayatku sudah berbeda bentuk dari asalnya. Amit-amit, deh.
Kulirik jam dinding yang memperlihatkan pukul sembilan pagi. Lebih tepatnya diriku disebut menginap di rumah sakit daripada dirawat inap untuk sementara. Aku dan Kai pulang menggunakan mobil yang sama persis seperti sebelumnya hingga bagaikan deja vu.
Kini yang kupikirkan hanyalah tentang si pembunuh. Rasa takut benar-benar membuatku tegang dalm situasi ini. Aku tidak mungkin kabur setelah pelarian konyol yang hampir saja merenggut nyawaku. Lagi pula, potongan memori itu bukanlah hal yang benar-benar terjadi dan walaupun tampak begitu jelas di mataku sendiri. Akan tetapi, Kurt menolak kenyataan tersebut dan diriku haruslah menghapus bayangan aneh tersebut dari benakku. Tidak mungkin jika Kai yang begitu ramah pernah mencekik orang tuaku hingga menbunuh mereka tanpa dipenjara sama sekali. Jika saja benar, lalu mengapa aku rela berpacaran dengannya, 'kan? Masuk akal juga asumsiku.
"Ley." Aku menoleh pada Kai yang memanggilku saat sibuk menyetir. "Lo kenapa lari saat di lampu merah kemarin?"
Gawat, dia mempertanyakan hal tersebut. Tidak mungkin jika diriku menjawab yang sejujurnya.
"Gue....gue juga nggak tau," dustaku yang berhasil membuat Kai menyatukan kedua alisnya.
"Oh gitu, tapi lo inget nggak kalau hari ini, hari apa?" timpal Kai yang membuatku bingung.
Jika kemarin hari senin, maka sekarang adalah, "Selasa."
Kai berdecak kecil, namun raut wajahnya tak menampakkan rasa kesal sedikit pun. "Hari ini hari jadi kita yang setahun. Lo lupa, ya?"
Ya ampun, mengapa di kalender tidak ditandai bahwa hari ini adalah hari jadi kami? Atau aku yang dulu memang benar-benar lupa? Bisa jadi aku yang dulu sudah mengetahuinya dan tidak perlu menandai di kalender.
"Oh iya bener, maaf gue lupa," kataku seraya tersenyum keki. "Jadi, kita rayakan sekarang?"
Kai tersenyum tipis yang sama sekali tak kuketahui maknanya. Dia tidak menyahutiku bahkan tidak melirik reaksiku yang cukup kebingungan. Sepanjang perjalanan, dia terus menerus berbicara padaku yang sama sekali tidak dapat kupahami sedangkan aku hanya berusaha keras untuk menjawab dengan menyesuaikan seluruh kata-katanya.
Kami memasuki apartemenku dan aku langsung berganti baju lalu menyiapkan kopi untuk Kai yang sesuai dengan ia akui bahwa dirinya menyukai minuman tersebut.
"Masih terasa sakit?" tanya Kai yang menatap perban di kepalaku. Perban ini lebih terlihat seperti hadban daripada pembalut luka.
"Enggak kok," balasku seraya menaruh kopinya.
Kai menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. "Kita baru tiga bulan pacaran."
Jantungku nyaris mencelus saat mendengar hal tersebut. Rupanya saat di perjalanan, Kai hanya menguji ingatanku yang telah hilang. Astaga, aku tidak mau diterapi di rumah sakit hingga diriku mengalami amnesia lebih parah!
"Sedari tadi gue ajak bicara, lo selalu menyesuaikan ucapan gue. Entah itu hanya menjawab enggak atau iya. Bahkan selalu nyelipin kata maaf." Kai menghembuskan nafas berat seraya menoleh ke padaku. "Dari awal gue sudah curiga dari sikap pendiam elo. Elo tuh cerewet banget, jadi pasti ada sesuatu kalau elo mendadak pendiem begini."
Aku tidak dapat berkutik atau beralasan lagi.
"Elo yang awalnya salting setiap kali gue cium, sekarang mendadak bengong dan bikin gue nggak enak hati." Sudah kuduga bahwa hal tersebut telah sering kulakukan bersama Kai.
Kai menatapku lekat-lekat dan sialnya, aku tidak dapat menatap matanya di saat seperti ini. "Elo Amnesia, 'kan?"
Aku tak tahu harus menjawab apa selain mengangguk tanda setuju akan tebakannya yang sangat benar. Tentu saja diriku tidak dapat mengsangkalnya. Bukti dari hasil observasinya terlalu detail hingga diriku tak dapat beralasan.
"Kalau alzhaimer, sih, nggak mungkin." Kai manggut-manggut tanda berpikir.
"Gue takut masuk rumah sakit, maka karena itu gue rahasiakan," timpalku sembari menunduk. "Jangan bawa gue ke sana. Tolong."
Dari ekor mataku dapat melihat bahwa Kai sedang menggeleng kepalanya pelan lalu mengelus rambutku.
"Iya, nggak ke sana deh. Lo takut, ya? Untung tadi langsung cabut sebelum lo minta," ujar Kai dengan nada ramah. Aku menjadi merasa lega saat mendengar kata-kata tersebut. Syukurlah. "Okelah, kita mulai semuanya dari awal. Sedih juga kenangan kita menjadi hilang di otak lo."
Kai pasti sangat sedih saat mengetahui diriku melupakan semua hal dan termasuk kenangan penting saat bersamanya. Syukurlah dirinya dapat memahamiku dengan bersikap seperti itu.
"Hari ini, elo nggak perlu ngampus. Gue izinin ke dosen lo. Gue bakal bawa elo ke tempat-tempat dimana seharusnya elo ingat dan tanam di otak seumur hidup," ucap Kai seraya beranjak dari sofa dan mengesap kopinya sambil berdiri lalu menepuk tangannya sekali.
Aku mulai tersenyum lega.
"Sip, ayo kita balikin ingatan elo. My beloved Ashley."
- ♧ -