![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
SECARA perlahan mataku terbuka dan mendapatkan diriku sedang berdiri tegap dengan badan yang terasa sedikit pegal sekaligus kepala yang lumayan pusing. Kini aku berada di sisi seberang rel kereta api dan terdengar sebuah deringan notifikasi pesan teks dari ponsel yang kugenggam sedari tadi.
Inbox || Kurt : Hai, apa kita akan bertemu di tempat seperti biasa?
Selama ini diriku tidak pernah mendapatkan pesan teks dari Kurt. Namun untuk pertama kalinya aku tahu bahwa ponsel ini telah menyimpan kontak Kurt.
Aku baru menyadari bahwa sebelumnya sedang mengalami kecelakaan dalam tabrakan kereta. Lantas, mengapa aku berada di sini dengan keadaan berbeda? Bahkan, yang berawal dari malam hari, kini matahari menjadi terang benderang.
Mulutku mulai terperangah hebat saat memeriksa bagian history yang dimana pesan teks dari Kurt telah terkirim setiap hari. Isinya hanyalah sapaan, janjian pada tempat pertemuan dan menanyakan kabar sehari-hari. Mataku terasa panas saat melirik ke arah jam ponsel yang tertera 18.00 tanggal 20 juli. Lagi-lagi waktu terulang kembali.
Seketika sebuah nama yang begitu penting terbesit pada otakku, yaitu River. Aku ingin melihat keadaannya sekarang.
Jadi, apakah tanggal 20 juli yang terulang ini akan menampilkan dunia yang berbeda lagi seperti kualami sebelumnya?
Aku pun menyegerakan untuk pulang dan secepatnya memasuki apartemenku. Kuperiksa sekitaran yang bisa kunilai beberapa perubahan. Foto figuraku bersama River tidak ada dan tergantikan oleh lampu tidur. Kalender yang sering aku corat-coret telah bersih tanpa noda tinta sedikit pun. Sepertinya aku tidak perlu memeriksa buku diary yang pastinya kosong dan tidak berisi tulisan "tanggal 22, River bersamaku" sebelumnya. Sebenarnya bukan itu alasanku untuk tidak mau membuka buku diary tersebut, melainkan terkunci oleh gembok kecil berbentuk lingkaran. Aku tidak tahu dimana kunci tersebut dan sepertinya tidak terlalu penting untuk dicari untuk saat ini.
Aku membuka ponselku dan melihat sebuah applikasi baru yang sebelumnya tidak pernah merasa kuinstal. "FoodGrab" yaitu applikasi pemesanan makanan secara online. Spontan diriku melesat menuju dapur dan tidak ada yang bisa aku olah menjadi makanan. Di kulkas hanya ada minuman kaleng dan botol sekaligus serba-serbi snack untuk mengemil. Bisa kusimpulkan bahwa aku yang sekarang tidak bisa memasak.
TLING!
Dengan cepat aku membuka ponsel yang masih tergenggam tanganku ketika terdengar bunyi notifikasi pesan teks telah terkirim.
Inbox || [Unknown Number] : Hai, bagaimana kabarmu?
Pesan dari si Misterius lagi, namun pesan kali ini sangat berkesan jika dirinya telah mengenalku sama seperti sebelumnya. Jadi, pastinya hanya dia yang mengetahui tentangku dan mengikutiku dari awal hingga sekarang. Dia adalah kunci dalam mencari jawaban tentang semua ke-ambiguan hidupku ini.
Aku harus menemuinya dan meminta semua penjelasan sedetail-detailnya. Akan kumulai dari bertanya mengapa ia hanya mengirimiku pesan teks dan tidak mau menemui secara bertatap muka, tentang pengetahuannya akan diriku yang mengidap amnesia, perihal diriku yang menerima kecelakaan namun mendadak memulai hidup seperti tidak mengalami apapun. Semua harus aku tanyakan pada orang itu secara langsung.
Aku pun menyimpan nomor orang tersebut sebelum membalas pesannya.
Sent: Bisakah kita bertemu?
Pesanku nyaris terbalas seketika.
Inbox || Si misterius: Maaf.
Sent: Tapi, banyak hal yang harus kukatakan padamu. Kumohon.
Inbox || Si misterius: Maaf lagi.
Sial, orang ini menolak. Padahal percuma saja dirinya memantauku dari kejauhan namun tidak memberi tahu apapun perihal identitasnya sendiri. Aku juga tidak bisa membicarakan hal serius ini melalui pesan. Aku dan dia haruslah berbicara secara langsung. Sepertinya diriku percuma untuk memaksa kehendak si misterius ini dan lebih baik aku memesan makanan karena sekarang perutku sudah mulai mendemo untuk meminta asupan.
TLING!
Aku kembali memeriksa pesan teks yang kukira pengirimnya adalah si misterius. Dugaanku salah, itu adalah Kurt.
Inbox || Kurt : Kenapa pesanku tidak dibalas?
Oh iya, aku lupa.
Inbox || Kurt : Ok.
Jawaban yang begitu singkat. Sepertinya cowok itu sedikit marah dengan balasanku yang menolak permintaannya. Tapi itu demi kebaikanku, aku tidak ingin berpergian malam-malam apalagi sendirian. Jika dia memaksa, dia harus menjemputku. Itu adalah peraturan yang kubuat demi keselamatan dari si peneror malam yang aku tidak ketahui apakah sekarang dirinya menerorku atau tidak. Atau mungkin orang berkulit pucat tersebut tidak lah jahat kali ini. Mungkin sih, aku juga tidak bisa memastikannya.
Setelah makanan pesan antarku sampai—hanya satu kotak nasi teriyaki dan acar jepang—dan memberi tip pada sang kurir, aku langsung melahap semuanya tanpa sisa lalu membersihkan diri dengan mandi untuk merileks-kan tubuhku. Setelah selesai ritual pembersihan diri, aku langsung membaringkan tubuh di atas kasur dan memejamkan mata hingga pagi hari tiba.
Aku kira pagi hari ini akan berjalan seperti biasanya, ternyata sangatlah berbeda. Saat mataku terbangun, tumpukkan notifkasi pesan teks telah membuatku terperangah saat mengetahui bahwa pengirimnya adalah Kurt. Sial, pagi-pagi sudah meng-spamku dengan membabi buta. Tak aku hiraukan pesan-pesan tersebut. Bahkan sebelum diriku membuka pintu kamar mandi, mendadak bel pintuku berbunyi. Ingin sekali diriku memaki-maki orang yang datang pagi-pagi sebelum berritual pembersihan. Aku berpikir bahwa itu adalah Kurt yang akan mengomel karena pesannya tak kubalas.
Saat kulihat dari lubang kaca cebung di pintu, ternyata orang asing yang memakai seragam karyawan dengan membawa sebuah bungkusan. Tunggu dulu, apakah itu kurir makanan? Aku 'kan tidak memesan apa-apa.
Saat aku membuka pintu dan bertanya apa alasan orang itu datang, dia mengatakan ingin memberiku makanan dari cathering sarapan yang telah kupesan setiap bulan. Rupanya aku yang sekarang lebih sering menghabiskan uang. Pagi ini telah dihiasi oleh sarapan roti panggang, telur mata sapi, sosis berukuran jumbo dan kacang panggang sekaligus kentang tumbuk pada cup kecil.
Lebih baik kumakan setelah mandi saja karena tidak baik makan sebelum sikat gigi.
Semua aktifitas pagi telah selesai dan diriku langsung melesat menuju kampus. Semoga saja aku dapat bertemu River lagi, walaupun mungkin sifatnya berubah dan tidak menganggapku seperti sebelumnya. Tapi setidaknya aku harus menyampaikan rasa terima kasih.
Sudah kuketahui bahwa aku tak mungkin memiliki ingatan di situasi yang berbeda ini dan aku sesungguhnya hanyalah Ashley versi lain. Versi di kehidupan lain yang merenggut kehidupan milik Ashley asli di sini. Ah, sudahlah, aku makin bingung saja jika menjelaskannya.
Mataku menangkap sebuah sosok yang sangat kukenali, yaitu Kai. Baguslah, jika Kai ada di sini maka River takkan jauh darinya. Dengan cepat aku menghampiri Kai dan menyapanya dengan riang.
"Oh, hai Ashley," balas Kai yang memasang wajah tanpa ekspresi namun masih terlihat ramah. Padahal biasanya ia selalu tersenyum lebar jika melihatku. "Tumben nyapa."
Tumben? Berarti diriku jarang berinteraksi olehnya di sini? Benar-benar aneh.
"Iya, hehe. Soalnya gue mau nyari kakak lo," ujarku seraya menyelipkan rambutku ke belakang telinga. "Dia udah nyampe belum ke kampus?"
"Kakak gue?" Seketika suasana hatiku menjadi berubah saat mendengar pertanyaan Kai yang menatapku dengan kebingungan.
"Iya, si River," timpalku seraya menatap Kai yang tersenyum keki.
"Gue nggak punya kakak, Ley. Lalu, siapa itu River?"
DEG!
Dadaku terasa terpukul dan sesak.
Kini aku benar-benar terguncang setelah mendengar jawaban Kai yang begitu sulit dipercaya. Betapa inginnya diriku berteriak dan memprotes pada siapa pun yang mengatur kehidupan dunia karena telah meniadakan River di saat ini.
Mengapa perubahan pada dunia ini begitu drastis hingga menghilangkan satu orang penting bagiku? Bahkan aku tidak bisa melupakan secuil kenangan bersama River dari tanggal dua puluh juli sampai dua puluh empat juli lalu hingga waktu berjalan mundur menjadi dua puluh juli kembali. Sialan.
"Ashley, kenapa bengong? Lo sakit, ya?" Aku tersentak saat Kai menegur sikapku yang terlihat shock akibat ucapannya.
"Oh, nggak papa kok, gue ke kelas dulu, ya," sergahku yang langsung pergi dari Kai untuk menghindari beberapa pertanyaan darinya.
Di saat itu pula air mataku jatuh tanpa bisa kukontrol dan aku membenamkan wajahku dengan kedua telapak tangan.
- ♧ -