Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
31. Tour Untuk Kesekian Kalinya



AKU mentegarkan diri dengan menarik nafas perlahan, lalu menghembuskannya secara perlahan.


Sekarang aku sudah belajar untuk tidak menilai sesuatu apabila mendapatkannya secara sekilas. Zack pasti memiliki penjelasan lebih lanjut dalam perkataannya. Tak mungkin dia sengaja membunuh atau membuatku amnesia apabila memiliki rasa cinta padaku.


"Jelaskanlah secara rinci," desakku pada Zack.


Hening sejenak, tak ada respon namun panggilan pada ponsel tetap masih terhubung. Pada akhirnya, muncul suara tawa lepas yang dimiliki oleh sisi lain dari Zack. Lagi-lagi dia muncul.


"Hallo?"


Tak ada suara dalam seperkian detik.


"Kau akan tahu nanti, Ashley. Sampai ketemu nanti."


Panggilan terputus akibat Zack yang mematikan telepon lebih dahulu. Aku merasa bahwa Zack benar-benar terbebani oleh kepribadian gandanya yang muncul dadakan dalam jangka waktu singkat. Sifat yang sangat bertolak belakang dan tidak ada satupun yang rela mengalah karena memiliki masing-masing alasan penting.


Waktu ini aku harus mempersiapkan diri untuk tour esok. Aku pun mengeluarkan koper dan memasukan beberapa baju. Sesempat mungkin, aku memakan roti tawar yang kuambil dari dapur untuk menambah stamina. Selanjutnya membersihkan diri dengan mandi lalu bersiap-siap untuk berangkat ke caffe clair de lune. Sebaiknya aku mengumumkan tour di hari ini agar persoalan yang kuhadapi akan selesai secepat mungkin.


Perjalanan yang singkat dengan menggunakan taksi yang sudah kupesan melalui online agar berjaga-jaga dari beberapa malapetaka, termasuk tindakan Zack yang bisa membahayakanku. Kini selama perjalanan, aku menghubungi pihak travel untuk memesan bus mini yang esok akan digunakan tour. Setelah sampai, aku langsung mengintip pada bagian utama caffe, dan aku disambut oleh Vin dan Kai.


"Katanya Manager sakit, kok datang?" ucap Vin dengan perasaan khawatir.


Seketika Sherly dan Megan mendatangiku.


"Wah, Manager kalau sakit jangan paksakan diri untuk menghandle caffe. Kami bisa atur sendiri kok." Megan menyahuti.


Aku hargai kekhawatiran mereka meskipun terlihat seperti modus agar mendapatkan kesan bagus sebagai pegawai. Seperti selayaknya atasan, aku memerintahkan mereka kembali untuk di posisi masing-masing dan tak perlu memikirkan kondisiku yang sehat-sehat saja.


"DJ, ke marilah." Aku memanggil DJ dengan formal, kemudian mendatangiku dengan sopan. "Apa kau tahu tour yang akan kita adakan ke mana?"


"Ke dataran tinggi, pegunungan pinggir kota untuk menonton meteor leonid. Sebenarnya malam ini sudah akan turun, namun sepertinya akan beberapa hari turunnya meteor tersebut." DJ menjawabku dengan merendahkan volume suaranya.


Kepalaku mengangguk mendefinisikan memahami ucapan DJ dan mempersilahkannya untuk kembali bekerja.


Keseharian yang normal dengan mengkoordinasi semuanya, tak luput pula aku melihat kehadiran Zack sebagai pelanggan yang sangat akrab dengan semua orang. Kemudian, akhir untuk menutup caffe dan mengumumkan tour sebagai rencana awal misi.


"Woi-woi, disuruh ngumpul sama Nona Manager!" teriak River yang mewakiliku untuk mengumpulkan semua pegawai yang sudah bersiap untuk pulang.


Semuanya berbaris dengan sejajar dan memasang telinga untuk menunggu mendengarkan pengumuman.


"Baiklah, maaf membuat menunda kepergian kalian untuk pulang dan beristirahat. Akan tetapi, sekarang saya akan mengumumkan bahwa tour karyawan diadakan dan esok kita berangkat jam 06:00 pagi." Setelah aku memberi pengumuman, tak ada yang memprotes ataupun memberi komentar.


Sepertinya sudah sejak awal mereka mempersiapkan diri untuk tour dan tanpa tahu kubatalkan begitu saja dahulu.


Perintahku untuk mendatangi caffe begitu pagi karena aku tak ingin Zack mengetahui kepergianku. Terpikirkan olehku, apakah sesungguhnya kehidupanku yang sekarangnya sama seperti dunia yang pertama kali kupijaki? Saat dimana aku mengikuti tour karyawan, Zack ikut serta bersamaku secara sembunyi-sembunyi. Itu mengartikan bahwa rencana organisasi Norn telah gagal akibat Zack yang tak datang ke caffe, justru mengikuti sampai tour.


Semoga aku berhasil dan bisa mendapatkan segala jawaban dari rahasia yang hilang dari ingatanku.


"Baiklah, kalian boleh pulang. Selamat malam," pamitku dan semua orang pun bubar. "Dan tak boleh ada yang membawa teman! Ingat itu!"


Seandainya Vin membawa fans-fansnya, maka sangat berbahaya bagiku.


"You did a great job," bisik DJ kepadaku yang menjadi orang terakhir dalam meninggalkan caffe.


Cowok itu mengantarkanku pulang ke apartemen dan langsung berpamitan tanpa berdiam diri sebagai tamu. Yeah, dia sangat berbeda perlakuan dari Kai dan River yang dahulu menjadi kekasihku. Tapi sudahlah, beda orang 'kan beda sifat.


Tanpa ada halangan, aku mengistirahatkan diri hingga terbangun di pagi hari pada tanggal 24 juli. Masih enam hari lagi untuk terlepas dari marabahaya dunia. Meskipun aku berpergian tanpa Zack, aku yakin pasti bisa melindungi diriku sendiri.


Pagi-pagi buta, semua pegawai caffe sudah berkumpul di depan caffe dengan terkantuk-kantuk. Terutama para cowok seperti Kai dan River yang berdiri sejajar seraya saling menempelkan kepala mereka sebagai penopang agar tidak terjatuh saat tertidur setengah sadar.


"Bangun-bangun, Nona Manager sudah datang," perintah Kurt yang terlihat sama sekali tidak mengantuk. Wajar, dia adalah cowok yang sangat rajin dan disiplin. Bangun jam segini bukanlah hal yang sulit baginya.


Megan dan Sherly mengerjap-ngerjapkan mata. River tersentak kaget, sedangkan Kai jatuh dalam tertidur. Di sisi lain, Vin terlihat segar sembari menatap ponselnya di depan gang sebelah caffe.


"Ayo masuk ke bus mini. Kalian tidur puas-puas selama perjalanan." DJ mengoordinasi semua pegawai.


Aku memasukkan koper ke dalam bagasi bus mini seraya berkata, "kenapa kalian datang lebih awal?"


Ini masih jam 05:58 dan mereka sudah sampai di depan caffe, bukankah terlalu rajin.


"Takut ditinggal." Megan mensahuti sembari menyapu matanya.


"Kita 'kan ngantuk, bisa jadi rabun saat ngelihat jam. Nah, takutnya Nona Manager ngamuk dan langsung cabut ninggalin," timpal Kai yang sudah terbangun dari tidurnya.


River pun meninju pelan lengan Kai. "Nggak usah bohong. Sebenarnya kita tuh minta dibangunin oleh nyokap jam 05:50, tapi malah disuruh bangun jam 04:00"


Suara tawa kecil merespon ucapan River karena sangat lucu tindakan nyokap mereka yang sedikit keterlaluan dalam membangunkan anaknya begitu awal. Tak terkecuali dengan aku, karena masih terlalu pagi dan sepi, aku hanya bisa menahan tawa.


Sontak aku teringat wajah nyokap mereka berdua yang sempat aku temui saat dahulu River mengajakku ke rumahnya. Benar-benar kenangan yang abu-abu.


Kini semuanya sudah memasuki bus mini dan aku bersama Vin yang menjadi terakhir. Vin terlihat muram dalam menatap ponselnya dan aku memutuskan untuk bertanya.


"Ada apa, Vin? Mengapa terlihat sedih?" tanyaku.


Seketika Vin tersenyum panik dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. "Enggak kok, Manager. Cuma ...,"


"Katakan saja jika ada sesuatu yang tak membuatmu nyaman. Apakah tentang tour ini?" ujarku dengan menatap Vin dengan lembut.


Vin tersenyum pasi. "Saya sedikit ngerasa sedih karena Manager tidak memperbolehkan membawa teman ke tour."


Saat aku ikut tour dahulu, Vin begitu risih terhadap para fansnya yang memaksa ikut dengan alasan bisa membayar. Tapi, tak mungkin kali ini dia sangat nyaman dengan gadis-gadis pengganggu itu.


"Kamu ingin membawa fansgirl-mu itu?" sergahku hingga membuat Vin terkejut.


"Enggaklah, Manager. Ada-ada saja." Vin menggaruk-garuk tengkuknya dengan keki. "Saya hanya mau ngajak temen-temen dekat doang kok."


Reflek mulutku menampilkan senyuman. "Apa salah satu temanmu adalah Zeha?"


Tebakanku pasti tidak salah. Apalagi Crystal sudah mengatakan bahwa Vin menjalani HTS atau hubungan tanpa status bersama Zeha.


"Ko-kok Manager bisa tahu?" Vin melonjak kaget hingga terbata-bata. "Wah, Manager peramal, nih."


Tawaku menyembur dan tetap kuusahakan dengan volume kecil. "Sudahlah, ayo masuk."


Akhirnya, semua sudah lengkap dan keberangkatan kami menuju pegunungan pinggir kota akan tiba dalam beberapa jam ke depan.


Perjalanan dengan berbagai kelokan, tanjakan, hingga berhenti mendadak tidak membuat seluruh penumpang pada bus mini ini terganggu akan tidur mereka. Sesampainya di tempat lokasi, semua orang tampak segar akibat mendapat tidur yang puas walau hanya dua jam lebih. Kemudian kami bersama-sama menuju vila yang sudah kupesankan. Hanya satu bangunan, namun terdapat banyak kamar tidur, dapur yang luas sekaligus meja makan yang sangat besar. Sama seperti tour dahulu yang pertama kali aku ikuti.


Sama seperti tebakanku, Kai dan River pasti mendatangi meja billiar yang langsung bisa terlihat ketika membuka pintu masuk. Bahkan mereka tak mempedulikan koper yang langsung digeletakan begitu saja.


"Pilihlah masing-masing kamar kalian. Satu kamar maximal tiga orang, ya. Lalu, beres-bereslah karena sebentar lagi kita akan sarapan bersama," ucapku dan mendapatkan anggukan secara serentak dari mereka semua.


Keributan telah dimulai.


"Sherly, ayo bareng. Gue nggak bisa tidur sendirian." Megan menarik-narik tangan Sherly.


"Dasar manja," cemooh Sherly dengan nada bercanda.


Tak luput pula dengan para cowok.


Vin merangkul Kurt. "Gua sama Kurt. Karena kami sama-sama tidur dengan lampu dimatikan."


"Tidur dengan lampu dimatikan lebih sehat," timpal Kurt dengan aura kepintarannya.


"Ayo DJ, sama kami juga." Vin ikut mengajak DJ yang sedari tadi menduduki kopernya dalam menonton keributan semua orang.


DJ mulai tertawa kecil. "Kasur cuma ada dua. Lo mau naruh gue dimana? Lantai?"


"Ya, kalau lo mau, nggak pa-pa," timpal Vin yang lumayan terdengar menyebalkan namun lucu.


Semuanya memasuki kamar pilihan masing-masing dan DJ berdiri di sebelahku yang masih berdiri untuk memantau sekitar.


"Semuanya sudah punya kamar tidur masing-masing. Tinggal gue yang nggak punya," kata DJ. "Kalau nggak boleh sendirian, maka ...,"


Dia pasti berpikir kami akan satu kamar. Dua insan berbeda gender dalam satu ruangan sangatlah berbahaya dan harus dihindari.


"Masih ada dua kamar, gunakanlah satu." Aku menjawab dengan serius. "Masing-masing kita bisa menggunakannya."


"Gue cuma bercanda," jawab DJ sembari mengelus-ngelus kepalaku. "Gue masuk dulu."


Sampai sekarang aku tidak yakin jika cowok itu memiliki perasaan padaku. Hanya untuk pekerjaan sementara, jika semua sudah tuntas, dia pasti menyatakan kalimat perpisahan padaku nanti.


Aku pun ikut membereskan barang-barang dan mengoordinasi untuk pergi menuju restoran kecil terdekat. Saat sampai, kami mendapati sistem prasmanan yang dapat mengambil sepuasnya hanya dengan batas waktu. Yeah, tentu saja bayaran ditanggung olehku.


Meja makan hanya berisikan empat kursi. Aku lebih dahulu mengambil makanan dengan roti panggang, sekotak kecil mentega sebagai olesan, kacang merah dan salad buah. Mengambil makanan ringan lebih baik untuk sarapan. Akan tetapi, berbeda dengan yang lainnya. Terutama Kai yang menjadi pusat perhatian para waiter. Dia mengambil nasi, ayam bakar, mie kuah dengan mangkuk, steak, dan beberapa protein lainnya yang sangat menggunung.


"Lo mau makan atau ngerampok?" tanya DJ yang heran dalam menatap bawaan Kai hingga memerlukan nampan.


"Protein untuk otot itu penting." Kai menjawab dengan enteng. "Biar gue nggak loyo kayak lo."


Mata DJ melirik sinis. "Badan gue lebih besar dari elo kali."


Tanpa melanjutkan pertikaian tak berfaedah mereka, aku menghampiri meja yang masih kosong dua kursi oleh Sherly dan Megan. Ketika melihat piring Megan yang hanya berisi salad sayur dan telur mata sapi, aku tersenyum karena teringat bahwa Megan adalah cewek yang benar-benar penggila diet.


"Hallo, saya duduk di sini, ya?" ucapku sembari duduk di hadapan mereka berdua.


"Tentu, Nona Manager. Silahkan," sambut Sherly yang mulai melihat ke arah piringku. Sedangkan piringnya terlihat normal yang berisi nasi, soto dan kue sus. "Apa Manager diet juga seperti Megan?"


Aku menggeleng pelan. "Sarapan lebih bagus memakan makanan ringan."


"Pantesan badan Manager bagus banget, goals gitu. Jadi iri." Megan menyahuti dengan nada kagum.


Aku tak pernah memikirkan tentang postur tubuh. Mungkin karena otakku hanya fokus berpikir tentang kehidupan yang kujalani penuh teka-teki ini.


"Iya, bener tuh. Manager cantik begini apa nggak punya pacar?" tanya Sherly dengan nada menggoda.


Tak bisa kujawab pertanyaan tersebut dan aku bingung bagaimana menjawab dengan jujur. Pada waktu yang sama, DJ hadir dan duduk di sebelahku sekaligus meletakkan piringnya di meja.


"Pusing duduk bersama Kai dan River. Mereka terlalu ribut," keluh DJ. "Saling mencomot makanan sampai lupa piring sendiri belum disentuh sama sekali."


Mereka saudara yang lucu, namun kompak. Aku takkan bisa melupakan bagaimana persamaan mereka di kehidupanku sebelumnya. Apakah aku sama seperti sebelumnya yaitu menjadi teman masa kecil mereka?


"Hei, DJ." Megan memanggil. "Menurut lo, Nona manager secantik ini memang harus punya pacar nggak, sih?


Spontan DJ menoleh kepadaku dengan raut muka polos. "Kayaknya udah punya, deh."


Terbungkam, hanya itu yang bisa kulakukan. Atau cara lain agar tak menjawab ucapan-ucapan mereka adalah melahap roti panggang yang lupa kuoleskan mentega.


Dalam waktu singkat kami menyelesaikan sarapan. Selanjutnya, kembali menuju vila dan mulai mempersiapkan acara barbeque sebelum mendaki untuk menonton meteor leonid. Setelah siap menata alat dan bahan barbeque, kami semua berangkat menuju danau kecil yang didatangi lumayan banyak pengunjung.


Sebisa mungkin aku menjauhi area air dan kerumunan yang beresiko membahayakan nyawaku. Bisa jadi aku terjatuh ke dalam air seperti di telaga dahulu, atau mungkin tertikam oleh seseorang di keramaian. Meskipun aku terlalu paranoid, lebih baik jaga-jaga saja. Contohnya saja seperti River, dia menaiki perahu bebek di atas danau lalu sekarang tercebur hingga ditertawakan oleh Kai. Jika itu adalah aku, mungkin sudah tenggelam dan kehilangan nyawa.


"Manager, tour begini harus sering-sering diadakan," ucap Megan dengan mulut yang penuh dalam mengunyah gula kapas. Padahal saat sarapan, menunya begitu sehat untuk diet.


"Baiklah, tidak masalah," balasku dengan ramah.


"Omong-omong, kenapa Nona Manager sikapnya berubah akhir-akhir ini?" Kurt bertanya padaku yang tanpa kusadari kehadiranya sudah ada di sebelahku.


Cowok ini memiliki kepintaran dalam menganalisa. Aku harus berhati-hati dengannya.


"Perubahan sikap manusia memang memiliki beberapa faktor tertentu," jawabku sebijak mungkin. "Dan tak ada kewajiban bagi saya untuk menyebutkan faktor-faktor tersebut.


Kurt tersenyum. "Maaf, Nona. Saya terlalu ikut campur."


TRING!


Ponselku berbunyi dan mengartikan sebuah notifikasi pesan muncul.


Inbox || [Unknown Number] : Kenapa caffe-mu tutup?


Ini adalah pesan dari Zack dan aku juga lupa untuk menyimpan nomornya. Tahu-tahu saja aku teringat rencana peroperasian yang akan dilakukan oleh organisasi Norn. Mengapa mereka belum membuka caffe sampai sekarang? Apakah karena aku tidak memberikan kunci pada mereka?


Ah, iya. Aku melupakan hal itu.


Serta merta aku menghampiri DJ yang sedang berbincang-bincang bersama turis menggunakan bahasa asing.


"DJ." Aku menarik ujung baju DJ sampai dia menoleh kepadaku. Secepatnya DJ mengakhiri obrolannya dan langsung meresponku. "Gue lupa memberikan kunci caffe pada anggota Norn."


"Oh, gue udah kasih ke Zeha kok," jawab DJ yang membuatku lega. "Kenapa memangnya?"


"Tapi, kenapa caffenya belum dibuka kata Zack?"


Dahi DJ mengerut, kemudian dia mengeluarkan ponselnya buru-buru dan langsung menekan kontak seseorang untuk menelepon.


"Hallo, Crystal."


Suara decakan kecil terdengar. "Kenapa, DJ? Ada masalah?"


"Kenapa belum membuka caffe sampai sekarang? Si Target sudah memeriksa caffe," desak DJ dengan air muka serius.


"Oke, gue sama yang lainnya OTW. Gue kira lebih baik malam saja karena tak terlalu ramai."


Buru-buru aku menyela. "Jangan, Zack bisa curiga kenapa caffe telat dibuka. Lagi pula kepergian kita tiga hari dan masih banyak waktu. Mungkin esok lebih baik. Gue bakal kasih tahu dia jika caffe dibuka besok."


DJ mengangguk setuju dan langsung mengatakan apa yang kukatakan pada Crystal. Telingaku mendengar Crystal menyetujui usulan tersebut dan mematikan sambungan telepon.


Dengan cepat aku mengirim pesan.


Sent to Zack: Maaf, hari ini libur. Besok datanglah karena pasti kembali buka.


Pesanku nyaris terbalas seketika.


Inbox || Zack: Oke. Tapi, kamu ada dimana?


Sent to Zack: Di apartemen. Tenang saja, Zack.


Tak ada pilihan selain mengatakan bahwa diriku berada di apartemen karena tak mungkin Zack memantauku ke dalam sana. Seaindanya kujawab di tempat lain seperti kampus, dia pasti akan menghampiri tempat itu hanya untuk memantauku.


- ♧ -