Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
33. Tanggal 26



BERMALAM di puncak atau mungkin sebutan lainnya adalah camping telah membuatku sedikit pusing.


Bukan karena suasana horornya, tempat tidur yang tak empuk ataupun beberapa nyamuk sedang berdenging di telingaku. Melainkan teriakan para cowok yang masih terjaga di jam 01:22. Kuharap mereka juga tak mengganggu ketenangan orang lain di sekitar.


"Hei, kalian. Apa bisa mengecilkan suara untuk sedikit saja?" tegur Sherly dengan menjulurkan kepalanya ke luar tenda dan merasa geram setelah tak kuasa menahan kesabaran atas keributan di luar.


"Lagi asik main charles-charles!" Kai menjawab dengan volume keras.


"Charlie-charlie, woi!" sahut Vin dan River secara serentak dalam meralat ucapan Kai.


Teguran Sherly tidak mau didengarkan hingga merasa kesal, lalu kembali masuk ke tenda dengan pasrah. Yah, akhirnya aku harus turun tangan hanya demi tidur yang nyenyak.


Kumunculkan kepala ke luar sembari menatap sinis ke arah gerombolan cowok yang sedang menatap serius kepada pensil di atas kertas. "Bisakah kalian kembali tidur? Lihatlah jam."


Seketika mereka saling menyenggol satu sama lain dan hawa canggung menyelimuti. Tanpa bicara lagi, semua memasuki tenda masing-masing secara serentak. Alhasil, ketenangan pun hadir.


Akhirnya aku bisa tertidur.


Keesokan paginya, kami terbangun dan sarapan mie cup yang tersedia di warung gubuk kecil di dekat lokasi ini. Mungkin karena kami tiba pada malam hari dengan kondisi gelap hingga dari awal tak menyadari keberadaan warung tersebut yang berkamuflase di antara pepohonan.


Hawa puncak yang sejuk, ditambah menyantap mie panas-panas adalah secuil kenikmatan surgawi.


"Malam ini adalah terakhir kalinya meteor leonid hadir, mungkin kita akan bermalam sekali lagi," ujar Kurt yang sedang mengotak-atik salah satu tenda.


Vin yang masih mengunyah mie gorengnya, mulai menjawab, "Habis, nih, kita keliling-keliling."


"Nah," sambung Megan sembari manggut-manggut.


"Sebenarnya kalian mau menghindar dari evaluasi, 'kan?" celetuk Kai sebelum dirinya tertawa terbahak-bahak hingga mendapatkan pelototan dari Vin dan Megan.


Aku yang tak paham mulai bertanya, "Evaluasi apa?"


Bak waktu yang berhenti sekejap, kini semuanya menatapku dengan terkejut. Kemudian, mereka saling menatap satu sama lain seperti mengkode sesuatu yang dirahasiakan dariku.


"Evaluasi kinerja pegawai, Manager." DJ angkat bicara dan gilirannya yang menjadi pusat sorot pandang. "Pembacaan data dari hasil observasi anda dalam pengembangan atau penurunan kinerja kami."


Setelah memahami penjelasan DJ, aku diam sejenak sebelum berkata, "Batalkan saja. Tak perlu ada hal-hal serius di hari menyenangkan ini."


Nafas lega dari semua orang telah terhembuskan. Aku menjadi bertanya-tanya seberapa menakutkannya evaluasi dariku untuk mereka semua hingga ketegangan muncul tiba-tiba. Sebenarnya, kubatalkan hal tersebut karena aku tak tahu harus menjabarkan apa kepada mereka. Data evaluasi tersebut pasti berada pada ruang kerjaku di kafe.


Adapun Kai mulai tersenyum lebar. "Kirain saya akan mulai potong gaji karena perilaku terlalu minus di kafe."


Sherly menunjuk-nunjuk Kai menggunakan garpu plastik yang digunakannya untuk memakan mie. "Lo aja, Kai, yang potong gaji. Kami sih, bakal naik gaji."


Setelah selesai sarapan dan beres-beres, kami langsung berkeliling puncak. Melihat banyaknya monyet hingga membuat Sherly berlari panik, mendatangi kebun teh dan mendengarkan cerita horor tentang penghuni dataran tinggi dari penjual kedai kopi. Berkesan seperti tamasya anak sekolahan, tetapi lumayan asyik.


Rasanya sedikit aneh karena tak ada sedikit pun bahaya yang menghadiriku.


Malam hari tiba, tak ada perbedaan dari sebelumnya saat menonton hujan meteor. Kemudian, paginya kami pergi ke vila karena untuk menyelesaikan urusan pribadi masing-masing. Contohnya seperti mandi, sudah dua hari tidak mandi adalah hal yang sangat tidak wajar. Meskipun udaranya dingin hingga tidak memancing keringat bau mengalir.


KRING!


Ponselku berdering tepat ketika kakiku telah menginjak lantai villa. Tertera panggilan bernama 'Zeha' lalu langsung aku angkat tanpa menunda-nunda.


"ASHLEY!"


Gendang telingaku nyaris pecah ketika mendengar teriakan Zeha. Beruntung tidak kupasang fitur 'loud speaker' saat ini.


Sembari memasuki kamar pribadiku, mulutku menjawab, "Ada apa?"


"Kafe lo memang seramai ini, ya?" Setelah Zeha mengucapkan hal tersebut, berganti suara keramaian yang bisa kutebak bahwa itu adalah suara pelanggan kafe. "Lo nggak persiapkan makanan-makanan dari menu untuk kami sediakan ke pelanggan langsung?"


Tidak terpikir olehku untuk mempersiapkan kafe untuk anggota Cate. Kukira mereka bisa mengatur semuanya karena sudah memiliki rencana yang begitu matang. Semoga saja dapur kafe tidak berantakan akibat kepanikan mereka dalam menyiapkan dan menyajikan pesanan pelanggan. Bukan merasa rugi atau malas membersihkan, melainkan kasihan pada Kurt dan Vin yang bertugas sebagai koki.


"Sajikan menu yang sekiranya bisa kalian buat. Berikan alasan kehabisan stock pada menu yang tidak kalian bisa buat," tuturku.


Zeha menghela napas sebelum menjawab, "Terus, kapan si Target biasanya datang ke kafe? Kemarin dia tidak datang!"


Mustahil Zack tidak datang ke kafe. Aku sudah memberitahunya bahwa kemarin akan kafe dibuka.


"Hei, tunggu, koordinasikan kita dulu!"


"Mengeluh dan minta koordinasilah pada DJ."


Tanpa jeda, kumatikan panggilan telepon dan langsung melesat masuk ke kamar mandi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka hanya ingin mengintrogasi Zack, bukan membunuhnya. Lagi pula, mereka hanya sekumpulan cewek, sedangkan Zack adalah cowok yang pastinya lebih kuat dari cewek. Ditambah lagi, dia begitu banyak pengalaman yang dapat membuatnya mudah untuk kabur apabila terjerat perangkap anggota Cate.


Setelah mandi dan berganti baju, aku ke luar kamar sampai akhirnya disambut oleh kehadiran DJ yang berdiri di depan kamarku.


"Mereka ribut sekali." DJ mengeluh sembari mengacungkan ponselnya ke hadapanku. "Ada solusi?"


Reflek kepalaku menggeleng perlahan. "Itu adalah rencana kalian. Tugasku hanya mekonfirmasi."


Dahinya mengerut tanda tak senang dengan ucapanku. Tugas mereka tak ada campur tanganku, karena aku bukanlah Ashley yang mereka kenal. Aku tak ingin menjadi jahat pada seseorang yang menganggapku hal terpenting daripada hidupnya.


"Lo bener-bener berlagak bos, Ley." DJ meresponku dengan unsur hinaan.


Aku mengangguk. "Iya, gue memang bos di sini. Apa ada masalah?"


Jika mereka menginginkan diriku menjadi cewek buruk yang mempermainkan perasaan seseorang, maka akan kutunjukkan bagaimana kesan buruk yang sesungguhnya.


"Lo menjadi manajer karena gue dengan tujuan menjalani tugas. Kenapa lo mendadak begini?" Matanya menatapku dengan tajam sembari mengucapkan kalimat bernada ketus.


Pacar apanya? Dia lebih cocok sebagai rival dan tak lebih dari teman.


"Ya sudah, lo saja yang jadi manajer," kataku lirih. Kemudian, aku berjalan pergi menuju meja makan utama yang sudah berisikan penuh oleh penghuni vila.


Perut mereka benar-benar seperti karet. Padahal, aku masih merasa kenyang dengan mie cup yang dimakan saat berada di puncak.


"Manager, setelah ini, kita akan melakukan apa?" Vin bertanya setelah aku menduduki salah satu kursi.


"Ada wisata apa saja di sini? Kunjungilah, saya akan bebaskan kalian," jawabku.


Keributan telah dimulai dengan beberapa rekomendasi tempat yang mereka sebutkan hingga saling nyolot menyolot. Harusnya aku yang menentukan, tapi ini adalah tour pegawai yang berfungsi meningkatkan kinerja mereka dan menghilangkan rasa suntuk. Yah, meskipun tak ada hubungannya dalam meningkatkan kinerja, tapi setidaknya ada kesan menyenangkan yang diberikan pihak kafe untuk mereka.


"Deal! Kita ke perkebunan di utara. Borong buah dan sayur!" seru Kai setelah dapat hasil mufakat dari diskusi bersama yang tidak aku ikut campuri. Entah apa yang mereka pikirkan, bukankah berkebun cukup melelahkan?


Terlebih lagi kemarin kami sudah pergi ke kebun teh. Mereka pasti pecinta perkebunan.


Vin memasang wajah bete. "Gua benci taman."


"Kita ke kebun, Vin. Bukan taman." Sherly menjawab.


"Sama aja," rajuk Vin.


Semua pun bangkit dari tempat duduk mereka setelah puas berbincang dan menghabiskan santapan di atas meja. Namun, terkecuali diriku. Tanpa kuduga, River menyadari diamnya diriku.


"Manajer, nggak pergi?" River melemparkan pertanyaan padaku dan membuatku bingung. Sejak kapan dia mulai peduli oleh sekitarnya?


Sembari menggelengkan kepala tanda menolak dan menatap layar ponsel, aku menjawab, "Tidak, saya akan di sini."


River tak puas pada jawabanku hingga bertanya lagi. "Apa ada masalah?


"Tidak ada, pergilah River. Katakan pada yang lainnya bahwa saya tak ikut." Setelah mengucapkan balasan sekaligus perintah, River terdiam sebentar lalu menyusul yang lainnya.


Bukan karena aku membenci perkebunan atau lelah. Melainkan sekarang adalah tanggal 26 juli. Kematianku sebelumnya terjadi dengan tanggal yang berurutan. Jika sama seperti di masa lampau, maka hari yang berbahaya adalah sekarang. Berbahaya apabila diriku berkeliaran di luaran tanpa ada yang melindungi. Meskipun Zack mengatakan tentang marabahaya yang tetap hadir sebelum tanggal 30 juli, tapi tetap saja perkiraanku lebih kuat. Masih empat hari lagi untuk mengamankan diri, aku harus berhati-hati.


TLING!


Notifkasi dari Zack muncul.


Inbox || Zack: Dirimu berada di kafe, bukan?


Tak ada pilihan selain berbohong.


Sent: Iya.


- ♧ -