Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
35. The Last Death



API sudah menari-nari di segala mata memandang, hingga menerangi tempat yang awalnya begitu gelap.


Sekarang sudah terlintas di ingatanku tentang api yang melahapku hidup-hidup dalam. Seperti yang aku lihat di mimpi buruk tentang bagaimana caraku mati secara berurutan. Di kampus yang terbakar ini dan tepat pada tanggal 26 juli, kematianku sudah ditakdirkan hingga ditunjukkan lebih awal. Akan tetapi, bukan berarti aku akan menyerah dan pasrah begitu saja.


Jalur menuju ke luar area kampus telah diblokir dengan kursi-kursi terbakar yang bertebaran sembarangan. Tanpa bisa memilih, akhirnya aku mengambil jalan lain yang di mana akan memasuki lingkungan kampus lebih dalam. Lari dan berlari, meskipun diiringi suara tawa yang mengejarku, aku tetap berusaha semaksimal mungkin.


Kemudian, sampailah diriku di menara jam kampus yang diisi dengan tangga melingkar hingga ke atas. Tidak ada pilihan lain, aku tidak bisa kembali untuk mencari tempat yang lebih baik dalam bersembunyi. Walaupun lelah, kupaksakan kaki ini menaiki tangga dengan cepat sebelum terlahap oleh api. Sedikit lagi ... sedikit lagi aku akan sampai ke puncak.


Pada saat yang sama, muncul suara dentingan besi di tangga yang sudah kulewati. Kepalaku mencoba untuk menoleh ke bawah dan langsung melihat keberadaan Zack yang sedang memukul-mukul pelan pegangan tangga dengan gunting di tangannya.


"Mau ke mana, Ashley? Menyerah saja," bentak Zack dengan diiringi suara gejolak api.


Tidak kupedulikan teriakan-teriakan itu. Sesampainya aku di atas, secepatnya kudobrak berkali-kali pintu yang akan menjadi pelarian terakhir. Tidak bergeming sama sekali, meskipun sudah aku coba menarik handle-nya dan menendang-nendang dengan paksa. Di saat tak beruntung ini, Zack sudah sampai untuk menghampiriku.


"Tidak ada jalan lagi, Ashley." Zack bersiap-siap mengacungkan gunting ke arahku. "Kemarilah."


Spontan aku merapat ke dinding dengan gemetar sembari berjalan sebagai usaha terakhirku. Zack juga berjalan mendekat hingga aku menempel di pagar pembatas lantai ini yang dapat melihat ke area bawah.


"Zack, sadarlah! Aku tahu itu bukan dirimu!" teriakku frustrasi dan bukannya mendapat jawaban yang kuinginkan, melainkan sebuah tawa sumbang.


Dia terus mendekat ke arahku seraya berkata, "Pilih mati di tanganku, atau mati ditelan api secara hidup-hidup?"


Api sudah menutupi sekitaran hingga menunggu waktu hancur dan menjadi abu. Termasuk pagar yang telah kujadikan sandaran.


TRAK!


Pagar di belakangku hancur dan aku langsung menjerit keras karena kaget saat akan terjatuh. Kini, aku tinggal menunggu kematianku untuk kesekian kalinya. Kejadian ini, tak berbeda dari yang kulihat sebelumnya. Sangat cocok kusebut 'Deja Vu' untuk kehidupanku yang sangat aneh ini.


Mendasak tubuhku tertahan. Aku tidak jadi terjatuh akibat sebelah tanganku telah ditahan oleh Zack. Awalnya aku mengira bahwa kesadarannya yang asli telah pulih. Namun, rupanya salah. Sebelah tangannya yang menangkapku, dan tangannya yang lain mengacungkan gunting kepadaku.


"Matilah, Ashley!"


Sontak, aku memejamkan mata dan berharap bahwa rasa sakit yang kudapatkan akan terasa sebentar saja. Sesaat ... dan sejenak tidak ada terjadi apa pun. Dalam beberapa detik, tiada yang kurasakan sebuah benda yang tertancap di tubuhku. Perlahan aku membuka mata dan napasku tercekat di kala melihat pemandangan yang sulit untuk dipercaya.


Zack menusuk dadanya menggunakan gunting yang dibawanya tersebut. Matanya memicing dalam melirik ke arah tusukan tersebut dan giginya menggertak geram.


"Si Bodoh ini benar-benar melakukan hal bodoh," gerutunya yang masih memiliki kesadaran si Keji.


Seketika tubuhnya tumbang dan terbaring di lantai hingga menarikku kuat sampai ikut terjatuh di atas tubuhnya. Darah mulai menggenang, kemeja putihku pun luput terbasahi oleh darah dan membuatku mual.


"A-aku berhasil," gumam Zack dengan terbata-bata yang membuatku langsung terbangun dan tahu bahwa kesadarannya yang asli telah hadir. "A-ku, aku berhasil me-menyelamatkanmu."


Wajahnya yang pucat, kini bertambah pucat. Spontan kedua tanganku memegangi wajah Zack. Air mataku yang berawal mengartikan ketakutan akan terbunuh, kini menjadi kesedihan dalam menolak kenyataan di depan mataku. Sialnya, aku tidak membawa ponsel untuk menghubungi penyelamat. Tidak henti-hentinya aku mencaci diri sendiri dalam batin hanya karena kecerobohan kecil, justru menjadi fatal. Zack pasti bisa diselamatkan, pasti!


"Zack, bernapaslah! Ayo kita turun dan keluar dari sini!" jeritku yang semakin menjadi-jadi.


Di saat seperti ini, dia tersenyum tipis seperti tidak mengalami apa pun. "Tidak bisa ... aku akan menjadi bebanmu untuk ke luar. Pergilah, ce-cepat."


"Nggak akan!" sergahku tak sabaran.


"Hiduplah dengan bebas, Ashley. Terima kasih karena berhasil mempertahankan nyawamu sebelum kematian menjemputku."


Zack mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum memejamkan matanya hingga tak dapat terbuka kembali. Tangisanku pecah, aku meraung sejadi-jadinya. Isakanku begitu keras hingga sesegukan. Tak henti-hentinya air mataku mengalir deras, sampai-sampai aku berpikir bahwa sebentar lagi mataku akan mengalirkan darah, bukan air lagi.


DING! DONG!


Suara bel dari menara jam ini telah berbunyi yang menandakan bahwa sekarang adalah tengah malam tepat. 00:00, tanggal 26 juli sudah terlewati. Tak ada artinya, masih ada tiga hari lagi untuk menghadapi bahayanya dunia. Semua sudah berakhir.


Apakah aku harus bunuh diri agar jiwaku terlempar ke dunia paralel lainnya bersama Zack?


Kutatap lekat-lekat tubuh Zack yang sudah tidak bernyawa. Kemudian, sekuat mungkin aku berdiri dan berputar hingga dapat melihat ke area bawah yang seperti lautan api. Baiklah, rasa sakitnya pasti akan sebentar. Aku pun menaikkan satu kaki untuk bersiap terjun ke bawah.


Akan tetapi saat kakiku telah melangkah, alih-alih terjatuh, justru aku menginjak lantai. Tidak hanya itu, semua menjadi berubah. Bukan menara jam yang terbakar ataupun sebuah lautan api. Melainkan ruang kosong yang gelap secara keseluruhan. Sama seperti mimpi yang pertama kali kulihat.


Tanpa jeda, sekelilingku berubah lagi dan sebuah angin berhembus hingga membuatku tersadar bahwa aku telah berdiri di keramaian. Matahari bersinar terik hingga membautku silau, orang-orang berlalu lalang dan akhirnya aku tahu bahwa aku sedang berdiri di depan gerbang kampus.


Ada apa ini? Apakah aku sudah mati tanpa merasakan apapun dan dapat pergi ke dunia paralel lain?


Sebuah buku kupeluk di depan dadaku, sekaligus tas selempang telah kubawa. Lalu secepatnya aku mengambil ponsel dan menghidupkannya.


'12:00 Monday, 01 Juni.'


Wajahku tercengang dan spontan sebelah tanganku membekap mulut karena tak percaya tentang apa yang telah terlihat. Bukan tanggal 27 juli ataupun 20 juli. Terlebih lagi tidak seperti kebangkitanku dari kematian dengan waktu yang berjalan mundur menjadi 18:00 tanggal 20 juli. Ini sangat berbeda dari sebelumnya!


Dalam sekejap, aku melonjak kaget. Semua ingatan asli yang kuinginkan untuk pulih telah kembali ke dalam memoriku. Seluruh kenangan, apapun tentang kehidupanku sebelumnya sudah kembali tanpa melupakan apa yang sudah kualami mengenai segala kematian, sekaligus perpindahan jiwaku ke dunia paralel lain. Terutama kematian Zack yang membuatku frustrasi.


Semua sudah kuingat. Aku berkuliah di jurusan akutansi namun mengikuti klub melukis. Benar, aku memiliki hobi melukis! Kemudian, aku bekerja sebagai waiter di kafe yang sama, kafe clair de lune. Bukan sebagai manager. Lalu, tinggal di apartemen yang sama. Adapun aku adalah teman masa kecil Kai dan River. Benar-benar tak jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya! Di antara semua itu, yang paling membuatku senang adalah aku bukanlah anggota Cate. Terlebih lagi aku tidak mengenal satupun dari mereka.


Satu hal yang membuatku ganjal. Tak ada terlintas di otakku tentang Zack. Bahkan mengenalnya ataupun melihatnya sebelum ini tidak pernah sama sekali. Aku juga tak memiliki kekasih, lumayan berbeda dari sebelumnya.


"Permisi."


Tubuhku berdesir dan mataku membeliak saat mendengar suara di sebelahku. Secara perlahan, kepala ini menoleh dan melihat apa yang sudah kuduga-duga sejak awal, sampai-sampai air mataku menetes tanpa sadar.


Zack! Dia adalah Zack!


"Apakah ada yang salah? Kenapa menangis?" tanyanya dengan sedikit kebingungan.


Aku menghapus air mataku dan tersenyum bahagia. "Tidak, tidak ada. Sungguh."


Zack memiringkan kepalanya dan mulai merasa canggung. "Maaf, sepertinya aku tersesat di sekitar sini karena baru berkunjung untuk pertama kali. Jadi, bisakah kamu menjelaskan denah daerah ini?"


Sama seperti cerita yang dikatakan Zack dahulu. Pertemuan pertama kami adalah di depan kampus, dan dia menanyakan denah sekitaran padaku. Semua sudah jelas untuk disimpulkan.


Waktu telah berputar kembali dan inilah dunia kami yang sesungguhnya.


- ♧ -