Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
37. Day-2



PAGI hari yang dimulai dengan mandi dan yoga dalam waktu singkat. Lalu, mencoba membuka isi buku diary yang banyak bertuliskan curahan keseharianku seperti kesenangan dalam diasuh bersama Kai dan River, bernasib malang di sekolah dan hal-hal lainnya yang tidak ingin kuberi tahu karena cukup memalukan. Sebenarnya, semenjak lulus SMA, aku sudah tidak pernah melakukan hal konyol ini. Tapi, kucoba kembali kegiatan tersebut dengan mengisi hal yang dimana menuliskan perihal dunia paralel menegangkan. Menarasikan bagaimana kengerian dalam dijemput sebuah ajal, pertemuanku bersama Zack dan terutama amnesia yang menambah keteganganku saat itu. Benar-benar pengalaman luar biasa dan mustahil untuk dilupakan.


Setelah membereskan ritual menulis, aku pergi sarapan dengan sajian kacang merah dan roti panggang berisi irisan daging sekaligus telur mata sapi. Sekedar info, aku melupakan untuk minum hingga berangkat menuju kampus. Hanya sebuah keseharian yang normal dan sering kulakukan.


Jadwal awal pagi hari akan didakan kelas utama bersama dosen yang lumayan gahar, tapi seharusnya aku tak membahas ini. Berbeda dari sebelumnya, aku tidak sejurusan apalagi sekelas bersama River dan Kai. Mereka berbeda semester denganku, meskipun umur kami tergolong sama. Maksudku hanya Kai dan aku, sedangkan River lebih tua daripada kami.


Entah kenapa aku teringat semasa SMA kami. Kai yang bersekolah di sekolahan internasional, Aku dan River pada sekolah negri yang terbilang begitu banyak anak-anak badung. Meskipun dua sekolah tersebut berbeda level, tapi masing-masing memiliki kesamaan dalam tertimpa banyak kasus. Sudahlah, pembahasan yang tidak berguna.


Selanjutnya, di pertengahan masa istirahat untuk menunggu pergantian kelas, aku melihat seorang satpam penjaga gerbang sedang berjalan-jalan di koridor gedung pertama kampus. Aku tidak fokus dalam membicarakan satpam tersebut, melainkan orang di sebelahnya yang sedang melihat-lihat sekitaran. Zack, itu benar-benar dia.


Sontak aku berjalan cepat ke arah mereka seraya melambaikan tangan. "Zack, aku di sini!"


Zack membalas lambaianku disertai sebelah tangan yang memegang kamera dan memotretku tanpa izin. Sesudah itu, dia mempersilahkan satpam di sebelahnya untuk bisa kembali ke pos.


"Ruang club melukis ada di lantai atas, ayo." Setelah memberi tahu lokasi tujuan kami, aku menarik tangan Zack untuk bergegas dalam berjalan karena sebentar lagi aku akan masuk kelas lagi.


Kami memasuki ruangan yang luas sekaligus berisikan berbagai pajangan lukisan dari segala jenis. Kemudian, beberapa penghuni yang sedang melakukan berbagai aktifitas mulai menyapaku dengan ramah. Tempat ini lumayan berantakan, tidak perlu aku deskripsikan karena cukup memalukan bagiku selaku anggota di sini.


"Lihat, lukisan realistism yang berada di sana." Aku menunjuk ke arah lukisan manusia dengan hiasan noda coklat yang besar. "Itu buatanku."


Zack mendekati lukisan tersebut dan memandanginya beberapa detik sebelum berkomentar, "Ini noda kopi?"


Reflek aku menampilkan sederet gigi putih dan terkekeh kecil. Apa yang dikatakannya adalah benar. Pada saat aku melukis gambar itu sampai selesai, tak sengaja kakiku menyenggol easel atau papan penjepit kanvas hingga karyaku terjatuh. Malangnya, terdapat kopi di meja nakas yang menjadi korban timpa. Setidaknya palet yang kotor masih kupegang agar tidak menambah kerusakan warna pada lukisanku.


"Tapi menurutku bagus, mungkin bisa seperti efek pancaran cahaya yang gelap," kataku seraya melirik ke kiri. "Anggap saja noda itu bagian dari seninya."


Zack seperti memasang wajah sedikit terkejut dalam bereaksi mendengar ucapanku. Sepertinya tidak ada yang salah dengan apa yang kukatakan.


"Ada apa? Bagimu jelek, ya?" Aku bertanya karena tak paham dengan ekspresi yang ia berikan.


"Aku tidak berpikir begitu," ujar Zack sembari memalingkan wajahnya. "Hanya merasa aneh."


Gambaranku terasa aneh baginya. Tidak heran, karena pelukis mana yang memajang karya gagal sepertiku?


"Kamu berusaha menganggap sesuatu yang kotor sebagai keindahan." Zack kembali menatap lukisanku dan mulai berbicara dengan lirih. "Dan tetap berani membanggakannya."


Seketika aku terdiam karena tidak memahami kalimat puitis tersebut. Kalimatnya seperti menyiratkan makna tertentu, tapi aku tidak bisa mengerti ataupun menjabarkannya.


"Sudahlah, jangan fokus pada lukisan yang hancur konsep itu. Masih ada yang lain!" Aku pun menunjuk ke semua lukisan yang kubuat. "Itu, itu dan itu. Semua model realistism. Di club ini, hanya aku yang bisa melukis seperti itu."


"Keren." Zack memujiku dan balik menatapku. "Aku juga bisa melukis dengan model seperti itu."


Reflek aku terkesiap. "Beneran? Dimana lukisanmu? Aku ingin lihat!"


"Aku melukis hanya dalam satu waktu yang singkat dan di dinding kosong. Bukan menggunakan kanvas sepertimu," jawabnya seraya memberikan senyuman tipis dan kaku.


Apakah dia orang iseng yang suka mencorat-coret fasilitas umum? Kurasa begitu. Tapi, tak perlu kupedulikan.


"Kalau begitu, kenapa sekarang tidak mencoba di kanvas?" tanyaku seraya merebut balet dari orang terdekat dan menyodorkannya ke Zack. "Lukislah, aku ingin melihatnya."


Tanpa menolak permintaanku, Zack langsung mengambil balet dan duduk di depan kanvas kosong. Alih-alih menggunakan kuas atau pensil untuk membuat sketsa, dia justru menggunakan jari telunjuknya.


"Ini, kuasnya. Maaf, aku lupa berikan." Kuserahkan satu kotak kuas kepada Zack, namun dia menggeleng tanda menolak.


"Aku tidak bisa menggunakan kuas," katanya dengan canggung. "Berikan satu pisau palet saja padaku."


Terdiam, hanya itu yang kulakukan. Sebenarnya tidak aneh apabila melukis sekadar menggunakan pisau palet. Tapi, bagaimana caranta dia menggambar di dinding jika tidak bisa menggunakan kuas?


"Sudah. Lihatlah, Ashley."


Dalam waktu yang singkat, aku tak menyangka bahwa dia bisa menyelesaikan lukisannya. Setelah aku perhatikan, dia menggambar dengan menjadikan aku sebagai objek lukisannya dengan sederhana. Hanya sketsa berwarna hitam yang menggambarkan wajah hingga bahu.


"Tidak mau kamu warnai?" tanyaku. Meskipun tergolong bagus walau hanya sekedar sketsa, tapi aku belum puas melihat hasil akhir.


Zack menggeleng. "Akan memakan waktu yang banyak. Kamu bisa mewarnai ini jika mau."


Berkolaborasi tidaklah buruk, namun pasti sulit. Tetapi kelihatannya bisa kucoba.


Setelah beberapa lama menghabiskan waktu melihat-lihat seluruh ruangan club melukis yang lumayan besar ini, waktu untuk aku memasuki kelas telah tiba. Zack meminta izin padaku untuk meninggalkan kampus karena memiliki urusan penting dan aku langsung kembali menuju pembelajaran.


Waktu terasa lebih cepat sampai aku tak sadar sudah waktunya untuk pulang dan berangkat bekerja. Tak ada bedanya hari-hariku dengan urutan aktivitas bangun tidur, kuliah, bekerja, lalu kembali tidur. Kegiatan yang lumayan padat.


Sebelum menuju caffe, aku menyempatkan diri membeli taco di pinggir jalan untuk menambah energi. Lalu, keberuntungan dan kesialan mendatangiku. Saat tiba di tempat bekerja dan siap menyambut pelanggan, Pak Manager memintaku untuk menjadi penerima dan pemberi sajian pada pelanggan karena Sherly tak hadir. Beruntungnya, aku sudah menambahkan ekstra tenaga agar tidak ambruk ketika membawa pesanan berat.


"Hei, Ashley." Vin memanggilku ketika aku mendatanginya untuk meminta orderan pelanggan. "Nanti jangan pulang cepat, ya."


"Strawberry sundae satu," ucapku tanpa menjawab perkataannya.


Wajah Vin berubah masam dalam menatapku. "Gua serius."


"Buatkan pesanan itu, Vin. Jangan melantur yang tidak-tidak," pintaku.


Vin menghembuskan nafas berat. "Bukannya itu tidak ada di menu?"


Untuk pertama kalinya Vin membuatku jengkel. Padahal sebelum-sebelumnya dia tidak pernah seperti ini padaku. Seandainya tidak ada di menu, mana mungkin pelanggan ada yang memesan minuman itu.


Tanpa rasa ikhlas, aku memasuki area barista dan mengambil gelas sekaligus seluruh bahan yang diperlukan dari dalam kulkas. Sesungguhnya aku tidak pernah tahu cara membuat strawberry sundae. Akan tetapi, aku masih mengingat cara pembuatannya yang diajarkan oleh Vin saat aku masih mengalami amnesia.


Tumpukan es krim, strawberry, sedikit sirup, whipped cream, dan tanpa menaburkan gula sedikit pun agar pelanggan tak terkena serangan diabetes. Dalam waktu singkat sudah kubuatkan dan langsung aku sajikan pada pelanggan.


"Terima kasih," ucap sang pelanggan dengan riang. "Padahal saya bercanda dalam memesan yang tidak ada di menu. Tapi diberikan juga oleh caffe ini. Top banget, bintang lima untuk tempat ini."


Ekpresiku kali ini tercengang dan dapat memvalidasi ucapan Vin sebelumnya. Spontan aku pergi ke meja barista dan mengambil kertas menu untuk memeriksa isinya.


"Entar ajarin gua cara buat strawberry sundae, siapa tahu entar ada yang pesan dan lo nggak usah ribet-ribet untuk buat." Vin muncul di hadapanku dan mengatakan kalimat permintaan.


Aku menggeleng pelan. "Nggak ada di menu, ngapain juga dipelajari cara pembuatannya?"


"Sertakanlah pada menu." Mendadak Pak Manager muncul di sebelah Vin dan berbicara padaku. "Saya melihat dirimu menyenangkan pelanggan dengan menu baru. Jangan lupa tulis strawberry sundae di daftar menu."


Setelah mengucapkan hal itu, Pak Manager kembali memasuki ruangan pribadinya dan aku tak dapat percaya tentang apa yang sudah kuperbuat.


"Ciee ... pasti naik gaji," goda Vin dengan menyengir lebar. "Makanya sekarang ajarin gua."


Mataku mengerjap-ngerjap dan menatap Vin dengan tak percaya, "Cuma begini naik gaji, kamu ada-ada saja."


"Siapa tahu." Vin menimpali.


Dulu aku teringat saat dimana tak bekerja di caffe dan strawberry sundae tidaklah tersedia. Kemudian, Vin juga pernah mengatakan bahwasannya aku yang telah mengajarkannya pembuatan minuman ini. Menemukan sedikit celah fakta dari kehidupan ini seperti berputar-putar dan memusingkan.


Singkatnya, jam pulang hadir dan aku sama sekali tidak melihat adanya Zack mendatangi tempat ini. Mungkin dia sedang tidak punya uang, atau terlalu sibuk dengan beberapa pekerjaan.


"Ashley, jangan pulang dulu!" panggil Vin yang mencegahku melangkah lebih lanjut setelah keluar dari gang kecil caffe ini.


Otomatis aku menoleh dan melihat Vin sedang berdiri di sebelah seseorang yang kukenali wajahnya. Dia adalah Zeha. Tak kusangka akan bertemu dengan dia secepat ini. Entah merasa kesal karena pernah berurusan dengannya, atau sedih akibat teringat akan kondisinya yang sekarat pada waktu itu. Intinya, aku tidak ingin mengenalnya lagi.


"Ada apa?" Aku bertanya tanpa berjalan mendekat sedikit pun ke mereka.


Zeha melambai dengan wajah berseri dan mereka berdua melangkah ke arahku.


"Jangan pulang terlalu cepat. Ini, ada yang mau ketemu sama lo." Vin mengucapkan kalimat yang membantah prasangka burukku mengenai ajakan membersihkan caffe sebelum pulang.


Zeha menjulurkan tangannya kepadaku. "Hai, gue Zeha."


Dia pasti mau menyeretku menjadi salah-satu anggota organisasinya. Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi, karena aku tahu bagaimana akhir dari nasib kami semua.


Secara sengaja kupasangkan sikap cuek dan melangkah pergi meninggalkan mereka. Akan tetapi Zeha tak menyerah agar dapat berkenalan denganku hingga dia berani meraih tanganku dan menahanku pergi.


"Ada hal penting yang ingin gue bicarakan. Dengarlah sebentar," kata Zeha menggunakan tatapan yang mengandung kekhawatiran.


"Lepaskan," perintahku geram. "Aku nggak mau berurusan dengan orang sepertimu."


Tiba-tiba Vin berdiri di hadapanku dan menghalangi jalan dengan berlagak seperti kiper. Dia dan Zeha sama saja tingkahnya, mereka benar-benar cocok sebagai pasangan.


"Mungkin bisa lo dengerin dalu apa yang Zeha ingin katakan, Ley." Vin membujukku dengan senyuman kaku.


Sudah dipaksa begini, aku tidak ada pilihan selain menjawab, "Katakan apa yang ingin kalian katakan. Cepat."


Zeha menjadi lega dan langsung memberi kode wajah pada Vin hingga cowok itu berpamitan pergi. Tujuannya hanya satu, membiarkan kami berdua bicara empat mata.


"Ashley, dengerin gue." Zeha menatapku lekat-lekat dan melepaskan tangannya dariku. "Lo dalam bahaya dan pasti akan butuh pertolongan dari gue."


Aku mengangkat kedua alisku. "Bahaya dari apa? Katakan secara singkat. Kamu terlalu berbelit."


"Lo tuh lagi hidup di dekat seorang psikopat! Nyawa lo bisa dalam bahaya," ucapnya dengan melirihkan suara.


Seketika aku berbalik badan dan tersenyum miring. Sudah kuduga bahwa dia akan membahas Zack.


"Sebelum kamu mengetahui semua hal, aku sudah lebih dahulu mengetahuinya. Diam dan pergilah," ujarku dengan sedikit nada ketus. "Jangan pernah menampakkan wajahmu atau teman-teman satu gengmu padaku lagi."


Teman-temannya yang kumaksud tidak lain adalah Managerku sendiri, DJ. Lalu Crystal, Rua dan terutama Aya.


"Maksud lo apaan, Ashley?" Zeha mulai mendesakku, namun tidak kugubris sama sekali. "Hei."


Dengan santai aku berjalan pergi dan tak memikirkan lebih panjang tentang apa yang akan terjadi dengan keputusanku ini. Karena aku tahu segalanya dan akhir yang sudah ditentukan.


- ♧ -