![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
MATAHARI telah terbenam, acara barbeque sebentar lagi dimulai. Sekaligus adanya keributan dalam memperebutkan makanan.
Dengan keahlian memasak yang bagus, Kurt mendapat bagian dalam membuat steak dan mengolah kentang sebagai karbo. Vin pembuat minuman bersama River. Sedangkan Kai bersama Megan menjahili Kurt dalam mencuil daging-daging yang sudah matang.
"Ada yang mau marshmellow?" teriak Sherly yang mengacungkan sebungkus besar marshmellow.
"Gue-gue!" Kai menyahuti dengan cepat mungkin. Teringat olehku bahwa Kai menyukai marshmellow hingga merebut milikku saat dulu.
Berbeda dari sebelumnya, acara ini juga dihiasi dengan tembakan kembang api yang dibawakan oleh DJ untuk memeriahkan. Suasana tenang dan menyenangkan seperti inilah yang aku tunggu-tunggu. Beginilah fungsi tour agar para pegawai merasa tak suntuk dengan bekerja melulu dan bisa menganggap bahwa pekerjaan mereka akan ada libur khusus seperti ini untuk menyegarkan pikiran.
"Wagyu, Sirloin bahkan ada caviar," ucap Kai sembari menunjuk-nunjuk makanan di atas meja. "Makanan mahal semua, ternyata caffe kita sekaya ini."
Kurt yang datang meletakkan beberapa steak menjawab ucapan Kai. "Nona Manager yang menyuruhku untuk membelikan bahan seperti ini."
Meskipun aku tidak tahu kapan memerintahkan hal tersebut dan pastinya dilakukan sebelum aku sadar di dunia ini. Ashley pada dunia sekarang berkesan royal pada semua orang.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, kami mulai berangkat mendaki ke puncak untuk menonton jatuhnya meteor leonid.
"Jangan bawa apapun yang berat. Kita akan mudah lelah," perintah Kurt hingga berhasil membuat Vin meletakkan tas besarnya.
Kami semua berangkat menuju puncak dengan melewati pemandangan hutan-hutan dan membuatku teringat bagaimana naasnya kematianku di sini. DJ menjadi pemandu perjalanan karena ia mengatakan pernah ke tempat ini beberapa kali. Beberapa dari kami mengambil ranting kayu besar sebagai tongkat untuk membantu perjalanan. Licin, dingin, gelap dan sedikit suasana horor menemani pendakian. Semoga saja tak ada hal-hal mistis yang hadir.
Pada akhirnya kami sampai di tempat yang dimana terpagari khusus dan sedikit terang oleh beberapa lentera. Tak hanya ada kami, beberapa orang juga sudah sampai lebih dulu untuk bersama-sama menonton meteor lebih dekat.
"Kita akan tidur sini?" Sherly bertanya dengan sedikit khawatir.
"Iya, aku sudah membawa tenda tipis yang ringan. Bahkan sampai bisa dua buah," ujar Kurt yang menyodorkan satu tas berisi tenda. "Dua lagi dibawa Vin."
"Nggak berat?" River memandangi Kurt dengan bingung.
"Dia nggak loyo kayak elo," ejek Kai yang mendapatkan pelototan dari River.
DJ pun ikut menyahuti. "Semua lo katain loyo. Memang bawaannya pengin dihajar nih anak."
Untuk malam ini saja kami semua tidur di sini dan esok hari akan kembali ke vila.
Tepat pukul 00:00, sebuah cahaya dengan gradasi warna ungu dan biru telah meluncur di langit hingga keindahannya menghipnotis mata yang memandangnya. Semua mata terpaku pada hujan meteor bak debu bersinar yang jatuh dari langit.
Kulirik Sherly yang berdiri di sebelahku sembari menyatukan tangannya dan memejamkan mata.
"Aku berharap keberuntungan selalu menyertaiku," ungkap Sherly yang sedang memanjatkan doa. Apakah meteor bisa mengabulkan permintaan seseorang? Mungkin bisa kucoba.
Aku mengikutinya dan mulai menyatukan tanganku sekaligus memajamkan mata dengan perasaan yang serius.
"Kuharap ingatanku kembali dan bersama Zack, nyawa kami selamat tanpa mengalami perpindahan dunia paralel lagi," doaku dengan sungguh-sungguh.
Harapan yang kutunggu untuk terkabulkan. Semoga saja begitu.
Banyak kamera yang memotret keindahan langit untuk mengabadikan momen langka ini. Setengah pengunjung sedang berbaring di atas tanah untuk lebih menikmati dalam menonton. Aku lebih memilih untuk berdiri di dekat pagar pembatas setinggi leher agar bisa melihat pemandangan dataran rendah yang tak kalah indah dengan langit.
Angin sepoi-sepoi yang sejuk telah menerpa rambutku. Seperti inilah hawa damai yang menenangkan jiwa hingga dapat membersihkan seluruh pikiran negatif di otakku.
KRING!
Spontan kuambil ponsel dari saku ketika mendengar deringan yang menandakan panggilan telepon telah berbunyi. Kemudian, aku menekan fitur 'accept' saat melihat nama yang menghubungiku. Siapa lagi kalau bukan Zack.
"Kukira kamu sudah tidur. Baguslah jika belum," ucap Zack yang memulai percakapan.
Suara Zack yang begitu ramah telah membuat mulutku mengundang senyuman. "Mengapa menghubungiku di tengah malam seperti ini?"
"Tentu saja untuk menonton jatuhnya meteor leonid secara bersama-sama!" Nada kegembiraan menyelimuti suara Zack dan menular kepadaku. "Ayo, lihatlah."
"Omong-omong, kamu berada dimana?" tanyaku buru-buru.
Apabila Zack menonton meteor di pantai, maka dia pasti menunggu kebadiranku di balkon apartemen. Aku harus menjawab dengan sesuai agar dia tak tahu aku berada di sini.
"Ada di puncak taman. Tempat yang pernah kita datangi." Aku menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Zack tersebut. "Indah sekali pemandangan meteor di langit. Rugi bagimu jika tidak melihatnya."
"Aku juga sedang melihatnya, Zack," selaku. "Jika tidak, bagaimana mungkin aku masih terbangun di malam hari begini."
Entah bagaimana bisa, aku seperti mendengar suara nafas Zack yang sedang menyunggingkan senyum. "Apakah di balkon apartemen?"
"Iya," dustaku. Jika bukan di balkon, lantas dimana lagi aku harus menjawab?
"Baiklah, sekarang mari doakan keselamatan kita masing-masing!" sambung Zack dengan semangat.
Aku pun tertawa kecil. "Kukira dirimu akan mengatakan untuk saling mendoakan."
"Aku selalu mendoakanmu setiap saat, Ashley." Ucapan tersebut terdengar lirih dan membuatku terharu. "Dan sekarang aku akan berdoa agar bisa selalu di sisimu."
Apakah di otaknya selalu teriang-iang namaku? Aku tidak paham cinta yang dirasakan Zack, dia seperti tak dapat melepaskanku sama sekali.
"Lusa kemarin, aku ingin mengajakmu mengobrol sembari menunggu meteor leonid yang jatuh di hari pertama," ujar Zack yang membuatku teringat oleh kejadian aku menceburkan diri ke laut. Baru kupahami tujuan Zack dalam memintaku berdiri di balkon. "Meskipun gagal, sekarang kita bisa seperti dulu."
"Dulu?" Reflek alisku terangkat. "Berarti, sebelum ini kita pernah menonton meteor bersama, ya?"
"Tidak, kita hanya menonton bintang jatuh dan saat itu adalah pertama kalinya aku mendoakan kebersamaan kita untuk selamanya," jawab Zack dengan nada senang, namun terbekesan sedih di telingaku. "Pada akhirnya, doaku terkabul sampai sekarang."
Dia sungguh berharap untuk selalu bersamaku, dalam arti hidup bahagia seperti orang-orang normalnya. Tapi, takdir berkata lain, yaitu kami harus bersama dengan cara yang di luar nalar.
"Meskipun kita bersama, namun dirimu tak mengenalku. Tak apa, aku tetap bersyukur." Zack yang membuatku tertegun. "Melihat senyummu dari kejauhan. Walaupun bukan untukku, melainkan kekasih asli dunia paralel yang kita pijaki. Aku tetap bersyukur. Sangat bersyukur."
Dia bersyukur atas bernafas pada udara yang sama denganku dan masih bisa melihatku walaupun tak mengenalnya sama sekali. Zack pasti melihat semua yang aku lakukan bersama Kai, River dan Kurt. Terlebih lagi DJ. Aku tidak bisa membayangkan rasa cemburunya ditutupi dengan kelegaan atas bersyukurnya nyawaku telah kembali.
"Meskipun dunia menolak kita untuk bersama seperti sekarang. Percayalah, aku akan tetap memaksakan diri hanya untuk bersamamu," kata Zack dengan bersungguh-sungguh. "Meskipun harus melewati kematian yang menyakitkan."
Seandainya dia merelakan kematianku, mungkinkah aku tidak akan memiliki kehidupan lain seperti sekarang?
"Terima kasih Zack," balasku. "Ashley yang dulu, yang tidak kehilangan ingatannya, pasti sangat bahagia setelah mengetahui bahwa dia mencintai laki-laki yang tepat."
"Aku harap begitu."
Seketika terbesit olehku mengenai topik yang penting. "Zack, kamu belum menjawab pertanyaanku yang kemarin."
Dia membisu sejenak dan dia pasti tahu apa yang kumaksudkan. "Jika dirimu tahu tentangku, akankah kamu menolak untuk kita berbincang bersama seperti ini?"
Lagi-lagi dia terdiam sebentar. "Semoga saja begitu, karena dirimu dahulu tidak menjauh dariku. Meskipun sudah mengetahui segala hal."
Meskipun aku tidak bisa memahami bagaimana caranya aku berhati tegar saat mengetahui bahwa kekasihku adalah pembunuh. Namun, aku tidak akan gelap mata terhadap bukti-bukti rasa cinta Zack padaku.
"Sebelum ini, aku memanglah seorang pembunuh bayaran. Tapi, sekarang aku sudah tak berurusan dengan pekerjaan itu," sergah Zack dengan nada bicara yang tak serendah sebelumnya. "Aku tak tahu apa kegiatan asliku saat tiba di dunia paralel lain. Apakah aku masih pembunuh bayaran sama seperti sebelumnya atau tidak, aku tak peduli. Semua itu sudah digantikan dengan kesibukan dalam memantaumu dari bahaya dengan jarak yang jauh."
"Jadi, kamu nggak bekerja dengan pekerjaan seperti itu lagi, 'kan?" tanyaku untuk memastikan.
"Aku bekerja seperti itu, karena belum memiliki tujuan hidup." Ucapan Zack menyiratkan sesungguhnya dia sudah berhenti melakukan hal keji tersebut setelah bertemu dengan cintanya, yaitu diriku.
Bisa jadi bahwa bukan Zack yang melakukan pekerjaan itu, melainkan sisi lain dirinya. Akan tetapi, bukankah kepribadian ganda memiliki pemicum besar yaitu akibat rasa traumatis? Seperti yang dikatakan sisi keji dari Zack, dia muncul akibat merasakan sakit yang berulang kali hanya karena dirinya bunuh diri untuk mati bersamaku. Aku tidak bisa memvalidasi, kemungkinan sisi keji Zack sudah dia miliki lebih awal dari yang kuketahui. Jika itu benar, maka Zack yang kuketahui berhati baik adalah pembunuh sejatinya.
"Kamu ..., takut padaku?"
Lamunanku pecah dalam mencerna segala asumsi buatanku setelah Zack mengeluarkan suaranya.
"Sedikit," jawabku.
"Apakah ingatanmu sudah mulai membaik hingga kembali mengetahui hal ini?"
Aku tidak bisa memberi tahu bahwa informasi yang kudapatkan dari anggota Norn. Mau tidak mau mulutku harus menjawab, "iya, atau mungkin."
"Sesuai dugaanku. Ashley tetaplah Ashley, takkan pernah berubah."
Semua sudah jelas. Meskipun masih ada kikisan fakta yang belum kutemukan, setidaknya aku bisa menyimpulkan jawaban dari segala pertanyaanku ini.
Satu hal yang masih terasa abu-abu, yaitu diriku sendiri. Seluruh dunia paralel hanya memberikan perbedaan yang begitu tipis. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku adalah anggota Norn di dunia asalku. Jika benar begitu, bisa jadi aku tak memiliki perasaan pada Zack dan tetap fokus pada misi meskipun tanpa memiliki hubungan bersama DJ sekalipun. Asumsi ini menjadi kuat karena aku sama sekali terkesan tidak takut saat Zack mengatakan bahwa aku tidak menjauh setelah mengetahui fakta tentang dirinya. Sekaligus, faktor utamanya adalah aku tahu bahwa dia seorang penjahat dan orang waras mana yang mau mendekati penjahat brutal yang dinaungi oleh perusahaan?
Andaikata benar aku seperti itu, maka akulah penjahat yang sebenarnya di kehidupan ini. Penyebab perpindahan jiwa kami adalah ulahku yang begitu tega memainkan perasaan seseorang hingga berhasil mengubah tabiatnya. Zack telah dibutakan oleh cinta hingga tak mempedulikan susahnya dalam menjalani lompatan hidup.
Aku harap, asumsi buruk itu bisa kupatahkan. Satu-satunya cara adalah mendapatkan ingatanku kembali.
Akhirnya kuputuskan untuk bertanya, "Zack, bagaimana caranya untuk mengembalikkan ingatanku?"
"Aku ..., aku tidak tahu, Ashley," jawab Zack dengan nada penyesalan. "Maafkan aku."
Seketika keributan dari belakangku telah muncul. Siapa lagi jika bukan para pegawaiku. Kai dan River yang hobi berteriak-teriak, bahkan Vin tak luput pula ikut. Mereka benar-benar kekanakan.
"Masa masang tenda aja nggak tahu!" sergah River kepada Vin sembari memegangi tenda yang sudah berdiri tegap.
"Belagu amat." Megan menyahuti.
Vin bersungut-sungut, sedangkan Kai membuat api unggun dengan bergumam tidak jelas. Dari keseluruhan, yang tenang hanyalah Kurt. Dia menatap langit bersamaan dengan tangan yang menulis di atas buku. Orang pintar memang berbeda.
"Kenapa begitu ribut? Ada siapa saja di dekatmu?" ucap Zack yang membuatku kebingungan untuk menjawab.
"Aku menghidupkan TV dengan volume besar. Maaf, sepertinya terlalu menganggu," kilahku buru-buru. Agar topik ini tidak berlanjut dan siapa tahu saja Zack memintaku untuk mengecilkan suara TV kebohonganku, aku pun mengalihkan pembicaraan. "Emm, Zack. Aku teringat bagaimana terjatuhnya diriku di jurang dan sekilas melihatmu ada di sana."
"Iya, itu adalah aku."
Pengalihanku berhasil. Saatnya untuk melanjutkan, "Saat aku terbangun di dunia lain, kenapa ada yang mengatakan bahwa aku telah sama terjatuh dijurang dan kamu yang menolongku? Bukankah kita berpindah hidup secara bersamaan?"
Suara tawa lirih terdengar olehku. "Ashley, kamu memang cerewet, ya. Terlalu banyak bertanya."
Lebih cocok terdengar layaknya fakta daripada hinaan.
"Aku tidak tahu apa hubunganku di dunia itu. Mungkin saja aku adalah yang numpang lewat dan berinisiatif menolongmu. Kamu membahas diriku yang berada di sebelum tanggal 20, bukan?"
"iya," jawabku singkat.
"Ketahuilah. Saat kamu terjatuh, aku begitu frustasi hingga ikut menjatuhkan diri bersamamu," sambung Zack yang membuatku tertegun. "Rasa sakitnya hanya sebentar. Lagi pula, tak sesakit kematian para korban yang dahulu tersiksa di tanganku. Mungkin inilah karmaku."
Tanpa berpikir panjang, dia melakukan semua itu seakan-akan nyawanya sama sekali tidak penting. Mengatasnamakan karma hingga tak sadar membuat kepribadiannya yang lain juga ikut merasakan sakitnya kematian pada dirinya.
"Apa-apaan ini?" Suara Zack terdengar begitu jauh dari ponselnya, bahkan nada suaranya menjadi berbeda dari sebelumnya. "Sialan, dia menghubungi si cewek pembawa petaka ini. Pantas saja aku merasa pusing, ternyata sekarang adalah tengah malam. Si bodoh ini tidak pernah memikirkan kesehatan tubuhnya sama sekali."
BIP... BIP...
Sambungan telepon telah dinonaktifkan olehnya. Dari gaya bicaranya, dia pasti adalah si Keji alias sisi lain dari Zack. Kemunculannya akibat rasa pusing. Sekarang aku paham bahwa si Keji tersebut hanya ingin mendapatkan yang terbaik untuk tubuhnya bersama Zack. Dia tak ingin merasa kesakitan hingga muncul untuk menghentikan perbuatan Zack yang menyakiti diri sendiri. Contohnya saja tadi, berjaga sampai tengah malam hingga menimbulkan rasa sakit di kepala.
Egois, itu kata yang cocok untuk Zack.
"Nona Manager! Jika mengantuk, tidurlah bersama kami!" Aku menoleh dan mendapati Sherly yang telah berteriak kepadaku.
Kakiku berjalan mendekat ke tenda yang dimasuki oleh Sherly dan Megan.
"Tidur bertiga?" tanyaku tak percaya bahwa tenda di depanku dapat memuat tiga orang cewek.
Sherly yang masih menjulurkan lehernya ke luar tenda langsung menjawab, "Muat, Nona. Tendanya gede lho, apalagi yang masang adalah River."
River melirik dengan sinis, sedangkan Kai bersama Vin hanya bersunggut-sunggut tanda mengejek. Kepalaku menggeleng pelan sembari tersenyum dalam menanggapi tingkah mereka semua.
"Kalian ingin tidur?" kataku.
Sherly mengangguk dan aku langsung memasuki tenda yang berisikan kasur matras yang cukup nyaman untuk tidur. Dari bagian kanan adalah Megan, tengah yaitu Sherly, dan kiri untuk diriku.
"Nona Manager," panggil Megan yang terduduk ke arahku. "Saya tuh iri banget sama anda. Bisa menjadi Manager di umur muda."
"Iya, kasih tahu tips-tipsnya ke kami berdua dong, Manager." Sherly ikut menyahuti.
Aku pun tersenyum keki. "Saya juga nggak tahu bagaimana bisa menjadi Manger seperti sekarang."
Mereka berdua serentak kecewa dan kembali membaringkan tubuh.
"Sudahlah, Megan. Ayo tidur. Manager pasti mengantuk," ucap Sherly.
TLING!
Seketika kubuka ponsel setelah mendengar notifikasi pesan dan melihat pengirimnya adalah Zack.
- ♧ -