![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
Hari ini, rasanya sedikit kurang bersemangat dalam aktifitas akibat terlalu banyak berpikir dan kekurangan tidur. Tadi, aku terbangun satu jam sebelum waktunya tiba. Karena merasa begitu tanggung jika kembali tidur, kuputuskan untuk mempersiapkan rutinitas pagi hari lebih awal.
Ketika pergi keluar, Zack berada di seberang yang dimana memandang ke bawah dari balik balkon. Kepalanya menoleh dan mendekatiku. Baru pertama kalinya aku merasa sedih di kala menatap pria yang begitu naas dalam kehidupan percintaannya. Tapi, wajahku menjadi kaku akibat pikiran menjadi campur aduk mengenai semalam.
"Tidak ingin memakai pakaian lebih tebal?" Zack melepaskan ikatan rambutku yang terkepal besar akibat lupa seusai mandi tadi.
Sepertinya, tampangku terlihat kedinginan sehingga dia peka untuk menghangatkan bagian leherku dengan seperti ini. Aku ingin berterima kasih, tapi mulutku terasa gagu.
"Ashley," panggilnya dan mendapat respons dehaman ringan dariku. "Kenapa dari tadi hanya diam saja? Apa ada yang kamu pikirkan?"
Kepalaku enggan menoleh dan hanya meliriknya sejenak. "Ya ... ada, sedikit."
"Coba ceritakan."
Kami berjalan dan akan memasuki lift seperti biasa untuk turun ke lobi utama. Banyak sekali yang ingin kukatakan, tapi tidak tahu hal mana seharusnya aku ucapkan.
"Apa semalam tidak tidur?" tanyanya yang membuatku spontan menoleh.
Kedua alis Zack terangkat, menandakan ingin tahu akan jawaban pertanyaan tersebut. Aku tidak terlalu yakin jika dia memasuki apartemenku. Namun, ucapannya tadi seperti sedang memastikan apakah aksinya telah diketahui atau tidak. Apabila perkiraanku benar, aku tidak bisa marah padanya akibat melihat mimpi mengenaskan itu.
"Kenapa? Apa aku kelihatan seperti kurang tidur?" Aku balik bertanya.
Kepalanya sedikit menunduk dalam menatapku, lalu jari telunjuknya mengusap area kantong mataku seraya berkata, "Tidak. Aku bisa membedakan mana orang yang tertidur pulas dan tidak."
Jadi, penyebab tidak bisa merasakan keberadaannya karena dia muncul ketika aku benar-benar tidur. Aku terdiam sejenak. Perkataannya tadi seperti menyiratkan sesuatu. Apabila tahu bahwa aku tertidur, buat apa dia menebak hal tadi?
"Kantung matamu tidak gelap, Ashley. Maka karena itu aku tahu," jawab Zack dengan tersenyum yang membuatku salah tingkah.
Ternyata, kantung mataku sehat. Aku terlalu berburuk sangka. Lagi pula, mana mungkin dia berbuat hal tidak bagus padaku.
Tombol lift tertekan oleh Zack. "Apa karena tugas kuliah?"
Lagi-lagi aku dibuat tertegun. Namun, meskipun bukan itu jawaban yang tepat, aku menjawab, "Kok tahu?"
"Karena kamu cerita sendiri saat kemarin kalau dosen memberi tugas tambahan."
Otakku mulai bekerja keras untuk mengingat hal itu, tapi hasilnya nihil. Aku merasa, tidak pernah membahas tugas kampus pada Zack.
Belakang kepalaku terelus lembut olehnya. "Sudahlah. Mau refreshing? Wanita suka berbelanja, bukan? Untuk hari ini saja absen di kampus. Kita berbelanja sepuasmu."
"Tapi ..."
"Bekerja di kafe juga akan kuizinkan. Tenang saja. Seharian ini adalah hari liburmu." Mulutnya berdesis pelan untuk mencegahku menyangkal ucapannya. "Tidak apa. Nanti titipkan saja tasmu ini di staff lobi."
Aku tidak bisa membantah lagi.
Sedari tadi dia tersenyum di sisiku, membuatku merasa sedikit lega. Sungguh tidak tega apabila kebahagiaannya menghilang dan diganti oleh raungan-raungannya ketika kematianku hadir. Reaksi duka dan pahitnya ketika melihatku saat amnesia, kini kulihat bahagia tanpa beban. Entah ini perasaan khawatir, kasihan atau sekadar iba, begitu familiar di benakku. Apakah aku mulai benar-benar menyukainya? Kurasa begitu. Kehidupan teror sebelumnya, entah sejak kapan mulai menjadi melodramatis seketika. Emosiku betul-betul campur aduk.
Kaki ini berjinjit dan memberi kecupan sekilas pada bibir Zack sehingga matanya membelalak hebat akibat terkejut. Dia mematung sejenak, kemudian terkekeh dalam keadaan tetap menatapku. Tiba-tiba, aku sadari betapa konyolnya tingkahku. Di sela-sela aksi tatap menatap, suara dentingan lift berbunyi yang menandakan pintu sedang terbuka menuju lobi.
Aku memecahkan suasana dengan menoleh ke luar dan berkata, "Liftnya sudah terbuka."
Dengan sigap, Zack berpaling dan menekan tombol lift ke lantai paling atas sehingga pintu kembali tertutup. Kemudian, dia kembali berhadapanku dan mendekat perlahan.
Lalu, menciumku.
Saat bibirnya menyapu bibirku, segala yang ada di pikiranku lenyap seketika. Seluruh pancaindra ini mendadak tidak berfungsi. Dunia terasa begitu kosong-sekaligus juga semakin tajam, karena aku bisa merasakan semua tentang dirinya: napasnya yang hangat, bibirnya yang lembut, kulitnya yang manis. Meskipun dahulu ketika amnesia keparat melandaku dan River memberi ciuman paksa, kini baru kurasakan bagaimana perasaan pasrah yang tenang dan membahagiakan. Seumur hidup, aku baru merasakan hal seperti ini.
Aku menarik diri ke belakang karena sudah merasa cukup, kemudian tak sengaja terhuyung. Namun, Zack keburu menangkapku.
Dan lanjut menciumku lagi.
Begitu terasa dekapannya semakin erat, menarikku mendekat padanya, memberikan ciuman dengan sedikit kasar, yang mungkin karena sedikit bersemangat, sampai-sampai membuat jantungku berdegup kencang.
Zack melepaskan ciumannya, lalu mengatakan, "Sudah lebih baik dengan perasaanmu sekarang?"
"Emm ..." Aku menjadi bingung dalam merangkai jawaban.
Pintu lift terbuka, dan Zack kembali menutupnya untuk turun ke lobi lagi.
"Ashley," panggilnya dan aku berdeham pelan. "Aku satu-satunya orang yang melakukan ini denganmu, bukan?"
"Hah?"
"Aku yang paling istimewa untukmu, bukan?"
"Ya, tentu saja," tegasku.
"Baiklah kalau begitu," jawabnya lirih, lalu kembali mengecupku sebentar dan pintu lift terbuka sampai ke lobi.
Untung saja hari ini tidak ada yang lalu lalang menggunakan lift. Aku tidak tahu kenapa, namun aneh juga. Ah sudahlah, aku tidak perlu memikirkan hal yang tidak berguna.
"Berikan tasmu." Zack menadahkan satu tangannya ke arahku.
"Aku bisa sendiri ...."
"Ashley." Dia memotong ucapanku.
Raut wajahnya yang semu, namun tampak mengatakan bahwa aku wajib menurut. Oleh karena itu, aku menyerahkan tas ringan ini dan dia membawakannya ke staf lobi untuk dititipkan.
- ♧ -