Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
36. Our First Story



"HALO? Kenapa bengong?"


Zack melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku hingga membuatku tersadar dari lamunan. Memikirkan teori tentang kehidupan kami berdua, telah membuatku benar-benar kebingungkan.


"Ah, maaf. Aku kepikiran sesuatu." Apa-apaan yang sudah kubicarakan? Bisa-bisanya aku mendadak curhat tentang memikirkan sesuatu. Sekarang aku jadi malu.


Zack tersenyum canggung. "Oh, maaf. Sepertinya aku sedikit mengganggu."


Ketika dia ingin melangkah pergi dariku, secepatnya aku meraih tangannya sebelum berkata, "enggak mengganggu sama sekali. Kamu pengin tanya-tanya perihal daerah sini, bukan? Akan aku temani berkeliling."


Dalam beberapa detik Zack terdiam dan menatapku dengan keki. Dia pasti berpikir bahwa aku cewek yang aneh. Betapa memalukannya diriku.


"Baiklah." Zack menyetujui ajakanku dengan memasang senyum manis. Senyum yang sangat kurindukan.


Ketika memulai perjalanan, aku teringat akan kondisi rambutku. Kuraba-raba bagian belakang rambutku yang berubah panjang dan tak pendek seperti sebelumnya. Mungkin karena aku telah kembali ke dunia asliku, maka semua akan menjadi seperti semula. Tidak seperti perpindahan dunia paralel sebelumnya yang dimana suatu kondisi khusus akan terbawa sampai kapan saja. Meskipun bangkit dari kematian sekali pun.


"Daerah sini masih banyak pejalan kaki dan lebih mengurangi penggunaan kendaraan, kecuali jika jarak ditempuh cukup jauh," ucapku buru-buru saat mulai teringat jika sekarang aku sedang memandu Zack. "Tempat yang menjadi awal pertemuan kita tadi adalah kampusku. Barang kali ingin bertemu denganku, datanglah ke kampus. Aku berada di jam pagi."


Ucapanku begitu konyol. Ini kan pertemuan pertama kami, maksudku hanya Zack. Lantas, kenapa aku sok akrab begini?


Selanjutnya, aku membawa Zack berkeliling berbagai perkomplekan, taman tengah kota, dan menjelaskan betapa banyaknya kedai yang bisa dia datangi.


"Aku rekomendasikan kafe clair de lune. Menu di sana cukup bervariasi," saranku dengan unsur promosi dan siapa tahu Managerku atau DJ akan memberiku kenaikan gaji.


"Di mana letaknya?" Zack bertanya dan tepat sekali aku akan berangkat bekerja. Jadi, kami bisa satu jalan.


Dengan riang aku menjawab, "Ayo, aku tunjukkan. Tapi, ini akan jadi tempat yang terakhir untuk kutunjukkan."


"Kenapa?"


"Karena itu adalah tempat kerjaku," kataku sembari berjalan lebih dulu menuju kafe.


Setelah sampai, aku menawarkannya untuk mampir karena siapa tahu dia belum makan siang. Ketika Zack setuju, kuminta dia memasuki kafe dari pintu utama sebagai pelanggan. Sedangkan diriku akan masuk melalui pintu khusus pegawai di belakang kafe. Sebenarnya aku sudah terlambat. Tapi, ya, sudahlah. Setidaknya aku memiliki keberanian menghadap manager akibat pernah berurusan dengannya, walaupun di dunia yang berbeda.


Sherly menyambutku dengan sapaan, namun tidak kugubris karena terburu-buru dalam berganti seragam ke dalam kamar mandi. Kemudian, secepatnya aku melesat ke posisi sebagai penyambut pelanggan di depan pintu.


"Selamat datang di kafe clair de lune." Ucapan sambutan kulantunkan ketika pintu terbuka dan mendapati bahwa Zack adalah pelanggan tersebut. Bukankah seharusnya dia sudah masuk ke dalam dari tadi?


Hanya hari-hari biasa yang kujalani sebagai pegawai dan tak ada yang membuatku terkesan sama sekali. Kai seorang cleaner service. Megan, Sherly dan River, sebagai waiter. Aku bertugas penyambut tamu. Kurt adalah koki dan Vin menjadi barista sekaligus penjaga kasir. Di kafe sekecil ini, jumlah kami sudah termasuk cukup.


Dalam beberapa menit, Zack pergi dari kafe tanpa memberikan suatu kode wajah untukku. Maksudku, seperti senyuman, lirikan atau ucapan kecil. Seharusnya aku tak perlu heran, karena kami masih dalam fase asing.


Singkatnya hari ini dalam melayani pelanggan sampai selesai dan semua pegawai diberikan evaluasi harian setelah kafe tutup. Cukup melelahkan meskipun hanya berdiri lama di depan pintu.


"Hei, Ashley." Kai menyapa dan merangkulku saat sudah melangkah ke luar kafe untuk pulang. "Ayo dinner sama gue."


Sama seperti sebelumnya, Kai adalah teman masa kecilku yang hobi menyatakan cintanya ke padaku. Berkesan kekanakan dan kuanggap sebagai candaan belaka darinya.


"Gue nggak diajak?" celetuk River yang muncul dari belakangku.


Kai menunjuk-nunjuk River yang terlihat sangat kocak sembari berkata, "Lo tuh nggak diajak. Hus-hus!"


River yang kesal dengan ucapan Kai telah membuatku tertawa kecil. Aku pun menepuk pelan bahu River. "Aku ajak kok, ayo. Kita ke kedai ramen."


Dahulu aku selalu menyesuaikan gaya bicara ke setiap lawan dialogku. Tapi, secara natural aku tak seperti itu.


"Ayo, Ley." Kini bergantian River yang merangkulku.


Pad akhirnya Kai yang berganti menjadi kesal dan menggerutu. Dari semua Kai yang aku temukan, tak pernah ketinggalan sifat kocaknya yang sangat bertolak belakang dengan River. Dua saudara yang lucu.


Baru saja kami setengah perjalanan untuk sampai ke tujuan, secara tak sengaja mataku melihat dari bawah adanya Zack yang berada di taman puncak. Tanpa melewatkan kesempatan, aku langsung melesat pergi untuk menghampirinya.


"Ashley, mau ke mana?" Kai berteriak dan hendak menyusulku.


Seketika aku menoleh ke arah mereka berdua. "Aku ada urusan, kalian duluan aja!"


Kakiku berlari dengan cepat. Bukan karena takut dikejar seperti sebelumnya, ataupun ketakutan akan ditangkap. Tetapi sebuah keceriaan tiada tara sekaligus reaksi tak sabaran untuk menghampiri apa yang akan kutuju. Apa dan siapa lagi yang dapat membuatku seperti ini jika bukan Zack! Perasaan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Tidak aneh, namun candu. Mungkin disebabkan oleh sifat asliku di dunia ini yang kembali bersama ingatan lama, lalu tercampur dengan kebahagiaanku saat masih terkena amnesia dahulu.


Inilah hidupku, tanpa kesuraman dan ketakutan. Aku, Lilian Ashley, gadis riang yang tak pernah mengenal sisi gelapnya dunia sebelumnya, hingga kemudian tiba-tiba saja tersuguhi segala macam kengerian dalam keadaan hilang ingatan. Semua sudah kulalui, kuingat dan aku tanam di otakku dalam-dalam.


Sekarang, giliranku untuk mengembalikkan apa yang sudah diperjuangkan oleh Zack sebelumnya, yaitu kisah cinta kami. Bukan hanya itu, termasuk kebersamaan secara permanen.


Sesudah menaiki undakan tangga berjumlah cukup banyak, kuatur nafas yang sudah terengah-engah dengan menghirup oksigen dengan rakus. Hal memalukan ini telah dilihat oleh Zack dari dekat dan saat aku memandanginya, wajahnya tergambarkan kebingungan terhadap kehadiranku.


"Aku ngelihat kamu dari kejauhan. Jadi aku ke sini!" ujarku sembari memasang senyuman lebar.


"Hanya karena melihatku, kamu sampai mendatangiku?" Zack menatapku dengan selidik. "Memangnya ada apa?"


Tidak ada alasan yang kusiapkan saat dilemparkan pertanyaan seperti ini. Secepatnya aku memutar otak untuk menjawab agar tidak dianggap sebagai orang aneh yang suka sok akrab.


Rasa canggung menjalar pada tubuhku saat mengucapkan, "Aku merasa seperti mengenalmu sebelumnya. Maka karena itu aku ke sini untuk ... untuk berkenalan! Iya, berkenalan."


Sepertinya tingkahku terlihat terlalu konyol di hadapannya.


"Apakah kamu pernah melihat orang yang meninggal?" Zack bertanya dan membuatku terdiam dalam kegugupan.


Jawabanku tergantung hasil akhir kedekatan kami. Aku pun menjawab, "Selama aku hidup, hal itu tidak pernah kualami. Semoga saja tidak akan. Kenapa bertanya seperti ini?"


"Tidak, maafkan aku sudah bertanya seperti itu." Zack tersenyum dalam meresponku. "Namaku Zack. Kamu Ashley, bukan?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Aku terkesiap saat Zack menyebutkan namaku. Apakah dia adalah Zack yang aku kenal sebelumnya?


"Mungkin kamu bisa sarankan pada atasanmu untuk memperkecil kartu nama karyawan," jawab Zack yang membuatku kecewa atas prediksi tadi.


Dia kembali memutar tubuh ke arah pagar pembatas, lalu mengeluarkan kamera kecil dan memotret pemandangan kota. Dahulu dia mengatakan bahwa profesinya adalah fotografer. Mungkin saja profesi sampingan, atau sebenarnya hanyalah hobi belaka.


"Kamu seorang fotografer, ya?" Aku memberi pertanyaan dengan berlagak begitu kepo sampai-sampai mencoba mengintip hasil jepretannya.


Zack menunjukkan hasil yang ia tangkap dan tersenyum bangga saat aku bereaksi kagum. "Iya, ini mata pencaharianku."


Kakiku melangkah mundur dan kupasangkan senyuman dengan percaya diri. "Kalau begitu, ayo potret aku dan kubayar sesuai harga."


Permintaanku terkabulkan dan Zack mengangkat kameranya untuk bersiap menangkap gambar. Kedua tangan kuletakkan di belakang punggung dan aku kelukan sebagai caraku berpose.


Kilatan cahaya yang muncul sekilas telah mengartikan kesudahan dalam memotret diriku. Serta merta aku mendekat dan mengintip hasil foto tersebut.


"Apakah bagus?" Zack memperlihatkan hasil fotonya padaku.


Reaksi tercengang mulai kutahan saat melihat hasil foto yang sama persis dengan apa yang Zack tunjukkan dahulu padaku. Foto yang dia perlihatkan agar aku mempercayai penjelasannya, dan foto yang dimana terbakar saat hadirnya mimpi burukku untuk pertama kalinya.


"Kurang, ya? Mungkin akan kuulang ..."


"Tunggu!" sergahku cepat-cepat sampai memotong ucapan Zack. "Bagus kok, beneran!"


Zack tersenyum atas pujianku. "Syukurlah."


Aku merogoh-rogoh tas sebelum berkata, "Mau dibayar berapa?"


"Tidak perlu," kata Zack dengan nada bicara yang kaku. "Akan kuberikan padamu foto ini."


"Benarkah?" Mataku berbinar saat mendengar perkataannya yang memberiku kesempatan untuk menyodorkan ponselku seraya bertanya. "Berapa nomor ponselmu?"


Zack mulai tersenyum canggung. "Sebenarnya aku akan memberikan foto ini versi cetak, bukan digital melalui pesan."


Apabila tidak memberikanku jalur digital, berarti dia butuh alamatku untuk mengirimkan foto itu.


Secepatnya aku mengeluarkan kartu alamat apartemenku kepadanya. "Berarti kamu butuh alamat tempat tinggalku. Ini, ambillah."


Hening sejenak, seakan-akan ada sesuatu yang salah dengan sikapku hingga membuat Zack menatap lama kartu yang masih berada di tanganku.


"Kamu nggak berpikir dua kali untuk memberikan alamat tempat tinggal?" tanya Zack yang menatapku dengan lekat-lekat.


"Tidak perlu." Aku menggelengkan kepala tanpa melunturkan senyuman pada bibirku. "Aku mempercayaimu, dan untuk apa ragu?"


Cowok di hadapanku ini tidak akan menyakitiku seandainya aku tidak menyakitinya lebih dulu seperti sebelumnya.


"Hanya bertemu sehari, kamu dapat mempercayaiku?" Lagi-lagi ada sebuah keraguan pada diri Zack dalam mencerna ucapanku.


Seandainya aku bisa membuktikan bahwa kami sudah bertemu lebih dari itu, mungkin proses pendekatan kami akan lebih cepat tanpa adanya rasa canggung atau ragu seperti ini.


'Aku mempercayaimu, Zack. Sejak awal dan sampai sekarang.' Itulah kalimat yang ingin kuucapkan, tapi hanya sampai pada batin yang mustahil terdengar olehnya.


Kuputuskan untuk menjawab, "Kenapa? Apa kamu tak mempercayaiku?"


Membalikkan pertanyaan adalah solusinya.


Zack menimpal-nimpal jawabannya sebelum berkata, "Bukan seperti itu. Hanya terasa aneh bagiku saat bertemu dengan orang baru yang mencoba akrab dalam waktu singkat."


Yeah, aku juga akan merasa waswas seandainya bertemu dengan orang sok akrab dan berusaha mendekatiku menggunakan segala cara.


"Tak apa." Tanganku pun menepuk-nepuk bahu Zack. "Aku tidak menggigit, kok."


Terlintas di otakku mengenai perubahan jadwal tidur yang sudah kubuat sebelum ini. Wajar bagiku untuk lupa karena masih sedikit beradaptasi walaupun ini adalah kehidupanku yang sebenarnya. Sekarang aku tak boleh tidur terlalu larut, bisa-bisa kantung mataku menjadi gelap dan jelek. Pak Manager atau si DJ sudah memperingatkan bahwa penampilan adalah hal yang terpenting. Hal konyol jika aku dapat potong gaji hanya karena memiliki mata panda.


Secepatnya aku berpikir keras mengenai cara agar bisa bertemu Zack keesokan hari.


"Selain menjadi fotografer, apa lagi kesibukanmu?" tanyaku yang sedari awal sudah tahu mengenai jawabannya.


Zack menatap ke atas seperti bingung untuk menjawab. "Aku seorang pelukis."


"Bagus, dong!" ucapku dengan penuh semangat. "Aku memiliki hobi melukis. Mungkin kamu bisa menilai karya-karyaku yang terpajang di kampus. Kamu ingat kampusku, 'kan?"


Zack mengangguk sejenak.


"Nah, datanglah ke kampusku esok! Aku tunggu." Aku berbalik badan dan melangkah pergi untuk pulang. "Jangan lupa, ya, Zack!"


Napas lega terhembuskan dan kesempatanku untuk terus menerus bertemu Zack akan selalu kuusahakan untuk didapatkan. Pasti dan pasti.


- ♧ -