Deja Vu [ Lilian Ashley ]

Deja Vu [ Lilian Ashley ]
14. Lagi-Lagi Menjadi Kenyataan



"MAAF, ya, kalau gue nggak bisa lindungi elo."


Untuk pertama kalinya diriku melihat River memasang tampang semuram itu di hadapanku. Matanya yang selalu menampilkan tatapan tajam, justru dalam seketika menjadi sayu dan berkaca-kaca.


"River, lo kenapa?" tanyaku kebingungan.


"Maaf, maaf banget," balas River dengan menahan isakan.


Rasanya begitu nyeri saat melihatnya begitu terlihat menderita akan sebuah kesalahan hingga meminta maaf untuk kesekian kalinya. Reflek tanganku meraih pipinya dengan berniat menghapus air mata yang telah mengalir pada wajahnya. Secara tiba-tiba, River mulai membelalak lebar dan dari ujung bibirnya mengalirkan darah segar hingga membuatku spontan membekap mulut.


"Thanks, ya, karena mau nerima cowok kasar seperti gue," gumam River sebelum dirinya jatuh terbaring bak pohon yang tumbang. Serta merta diriku menjerit keras namun aku sadari bahwa tak ada sedikit pun suara yang keluar dari kerongkonganku.


"RIVER!" teriakku yang berhasil mengeluarkan suara.


Alih-alih melihat River, diriku membuka mata bersama dengan nafas yang terengah-engah.


Kupandangi area sekitar dan mendapati tubuhku yang masih terbaring di atas ranjang. Jam menunjukkan pukul 07.01 tanggal 23 juli. Ternyata semua itu hanya bermimpi buruk. Aku enyahkan semua pikiran tentang hal tadi dan beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kampus. Seingatku, jadwal hari ini adalah dosen yang galak dan diriku tidak boleh sampai terlambat untuk masuk kelas.


Pagi yang normal tanpa ada sesuatu yang aneh kecuali mimpi aneh tersebut. Ah lupakan saja, lebih baik diriku fokus dalam beraktifitas dan menyibukkan diri agar semua pikiran negative ini menghilang. Walaupun tidak sepenuhnya juga.


"Hei, bengong mulu," tegur River saat diriku melangkah masuk menuju kelas.


Wajahnya yang memberi tatapan tajam membuatku teringat akan mimpi keparat tadi. Ah sudahlah, itu hanya mimpi dan tidak boleh beranggapan sebagai ramalan yang akan menjadi kenyataan. Ya, begitulah isi otakku sampai masuk ke tempat kerja.


"Ashley, bisa ambilkan double tip di meja ruangan istirahat?" pinta Vin padaku dan dengan cepat kuturuti permintaannya.


"Ley, ini tip-ex, bukan double tip," ujar Vincent seraya tertawa kecil. Karena sama-sama menyebutkan kata 'tip' dan hal itu membuatku gagal fokus.


"Eh, sorry. Biar gue ambilin double tip-nya." Sepertinya otakku mulai blank seharian ini, untung saja si pak manager tidak menegur sikapku.


"Nggak usah, gue bawain nih," sahut Megan sembari menyodorkan double tip kepada Vin. "Pasti lo pusing dengan tugas kampus. Nggak papa, Ley. Minta cuti ke manager bakal diizinin kok, sana gih."


"Iya, makasih." Entah mengapa hari ini kafe lumayan sepi dan kami semua sebagai karyawan menjadi berani untuk duduk di bagian bangku pelanggan. River yang mengotak-ngatik ponsel, Megan berkicau berbagai topik di hadapanku. Yang aku herankan, Vin dan Kurt menghabiskan bahan dapur hanya untuk perlombaan masak mereka. Syukurlah manager kami tidak segalak dulu. Bisa-bisa kami akan diteriakan berbagai omelan hingga telinga menjadi tuli.


"Ley, ayo beli makan," ucap River yang tanpa kusadari dirinya telah berdiri di sebelah kursiku.


Peraturan kafe sebelumnya hanya dibolehkan membawa bekal, tapi kini kami diperbolehkan membeli keluar kafe dalam waktu satu jam. Tentu saja manager mengatur clouter kami agar ada yang menjaga kafe.


Saat kami telah melangkah keluar gang belakang, mataku menangkap seseorang yang spontan pergi dengan menunduk yang kurasa dia tidak ingin di ketahui identitasnya oleh kami. Namun aku tahu siapa dia. Lagi-lagi dirinya si cowok berkulit pucat.


"Kita beli dimsum aja, ya? Kayaknya kemarin lo mau makan dimsum bareng Megan jadi tercancel gara-gara gue," kata River yang berjalan di sebelahku.


Langkah kaki cowok benar-benar begitu lebar hingga kecepatan mereka dalam berjalan tidak setara dengan cewek. Sudah berkali-kali diriku harus menyusulnya jika berjalan bersama.


"Oke," balasku singkat.


"Muka lo kenapa? Kecapean?" tanya River yang memberhentikan langkahnya dan menatapku dengan prihatin.


"Jangan cepet-cepet, lo jalan udah kayak dikejar aja," balasku tak senang.


Seketika River meraih sebelah tanganku dan mengenggamnya dengan erat. "Gini aja."


Untuk pertama kalinya aku melihat cowok ini tersenyum tipis. Bukan tersenyum sinis ataupun flirting. Namun senyuman yang begitu ikhlas dan manis sekaligus mungkin tanpa ia sadari.


Kini kami berjalan bergandengan yang begitu terasa mesra dan tak asing. Aku yakin jika Ashley yang ini alias bukan diriku yang lupa ingatan akan merasa begitu bahagia karena sikap River seperti sekarang ini. Apakah cowok ini merasa sedih akan kehilangan seseorang ia cintai yang begitu cerewet, perhatian dan hiperaktif tersebut hingga merubah sikapnya kepadaku dengan harapan ingatan tersebut akan kembali seperti semula? Kemungkinan bukan diriku yang mengalami sebuah kemalangan, melainkan River.


Pasti rasanya begitu sakit saat cewek yang ia sukai hingga tertolak berkali-kali lalu kini diterima dan sekarang mendadak menjadi amnesia alias melupakan segala hal tentangnya.


TIN!! TIN!!


Seketika, diriku tersadar bahwa genggaman tanganku telah hilang karena sibuk memikirkan tentang River hingga tidak tahu akan keadaan sekitar. Kini diriku berdiri di tengah-tengah zebra cross yang sering kulewati dan bersamaan dengan lampu lalu lintas telah menampilkan warna hijau bertanda kendaraan diizinkan untuk lalu lalang secara bebas.


Jantungku serasa berhenti berdetak saat merasakan sebagai seorang penonton, aku melihat truk yang menderap cepat ke arahku dengan ditemani suara klakson beberapa kali berbunyi panik. Lagi-lagi sebuah muncul mimpi buruk yang menggambarkan kejadian keji, namun kali ini, dimana diriku tertabrak. Lalu, apakah aku akan bangkit di rumah sakit untuk kedua kalinya? Apakah aku akan selamat lagi?


Sebelum diriku bergerak sekaligus berpikir jernih, aku mendengar suara teriakan perintah untuk menghindar dan baru kusadari saat ekor mataku dapat melihat River yang berlari ke arahku dengan air muka panik.


Aku merasakan shock hebat saat River menabrakku menggunakan dengan sengaja dan kuat hingga tubuhku terlempar keras sampai pada pinggiran jalan. Tidak kupedulikan kepala yang terbentur pada sisi troatoar, justru mataku hanya bisa fokus menatap dengan nyalang saat cowok bodoh itu menggantikan posisiku sebagai korban tabrakan yang mengenaskan. Mulutku hanya bisa terbuka lebar dan tak mampu mengeluarkan teriakan untuk mengekspresikan kepanikan luar biasa ini. Aku pun bangkit dan dengan cepat menderap kearah River yang sudah terbaring di atas jalan dengan keadaan super parah dan menyakitkan. Kurasakan seluruh tatapan tertuju pada kami dan beberapa teriakan orang-orang yang berusaha meminta tolong untuk memberhentikan lalu lintas.


"Kepala lo berdarah, Ley." Menyebalkan, di saat keadaannya lebih parah begini masih saja mengkhawatirkan diriku.


"Riv, bertahan, ya!" Tak kuasa diriku menatap River dalam keadaan parah seperti ini. Aku tidak bisa menerima jika harus ada pengganti dalam penolakan kematianku.


Selama beberapa saat, suara sirine ambulans terdengar jelas dalam mendekat ke arah kami. Begitu sibuknya diriku meminta River untuk bertahan hingga tak sadar jika air mataku telah membasahi seragam kerjaku. Paramedik berbondong-bondong ke arah kami. Tanganku ditarik oleh salah satu petugas yang mengatakan bahwa luka kepalaku butuh diobati sesegera mungkin. Sedangkan River dibawa oleh brankar bersama dua petugas paramedik lainnya memasuki ambulans bersamaku.


"Maaf, ya, kalau gue nggak bisa lindungi elo."


Tubuhku berdesir, bulu kudukku meremang saat mendengar ucapan yang persis seperti mimpi buruk semalam. Lagi-lagi semuanya terjadi tanpa kusangka-sangka. Apa yang terlihat melalui otakku, semua akan terjadi di masa yang akan datang. Dasar penglihatan keparat.


Ketika kami sampai pada rumah sakit, aku dan River dipisahkan dengan perawatan yang berbeda. Kepalaku hanya di obati sebentar dan di baluri oleh perban. Syukurlah diriku tak mengalami gegar otak atau bahkan lebih parahnya robek hingga perlu dijahit. Dengan memohon-mohon aku meminta pada sang dokter untuk melihat keadaan River, namun semua itu sia-sia. Diriku diperintahkan beristirahat sejenak untuk menunggu kondisi River yang masih ditangani oleh para dokter.


Apa maksudnya ini? Hari ini adalah tanggal dua puluh tiga, tanggal yang dimana membunuhku tanpa rasa sakit pada saat itu. Tapi, Jika aku tidak mengalami kecelakaan hari ini seperti yang lalu hingga merenggut nyawa, apakah takdir itu akan berpindah pada orang lain? Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku hanya ketakutan hingga selalu over thinking seperti ini.


Dua jam berlalu hingga diriku dipersilahkan untuk melihat keadaan River. Dokter mengatakan bahwa cowok sok pahlawan itu telah mengalami gegar otak akibat benturan yang begitu keras, penglihatannya mungkin akan terganggu karena area pelipisnya terluka parah hingga nyaris merusak saraf matanya dan haruslah di jahit karena terobek dengan parah. Dasar cengeng, hanya mendengar apa yang dialami River diriku sampai menangis lagi dan lagi.


Aku pun duduk di sebelah ranjang river yang sedang terbaring tak sadarkan diri dalam keadaan tangan terinfus. Mungkin obat bius yang diberikan masih berefek padanya hingga belum terbangun sampai sekarang. Kepalanya yang terbaluri perban dan luka di ujung bibirnya telah diobati walaupun bekasnya masih terlihat olehku. Kugenggam tangannya dengan erat dan seketika mataku terbelalak karena terkejut hebat saat teringat sesuatu yang begitu memukul kelak diriku.


Ini adalah penglihatanku. Aku pernah melihat situasi ini sekilas saat pulang dari caffe dan duduk berdua pada sofa apartemenku. Alih-alih tabung oksigen yang terpasang, kini hanyalah ada perban terbalut di kepalanya. Lagi-lagi hal mengerikan itu menjadi kenyataan.


"Permisi mbak," Panggil seorang perawat yang menghampiriku. "Maaf, saya akan melakukan beberapa perawatan untuk pasien."


Ya, ampun, aku terusir. "Baiklah, silahkan."


Lebih baik diriku kembali ke caffe untuk meminta izin pada manager agar pulang lebih awal dan menemani River di rumah sakit.


Aku pun mengurusi pembayaran lalu pergi menggunakan taksi untuk kembali ke caffe. Seperti yang kupikirkan, beberapa orang telah panik dengan penampilanku.


"Lo kenapa, Ley?" tanya Vin sembari memperhatikan wajahku.


"Astaga, Ashley! Mana River? Kepala lo kenapa?"


Sebelum mereka menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan random, aku pun menjelaskan kejadian kecelakaan tadi dengan jelas lalu semua orang merespon dengan prihatin. Tak luput pula mereka membantuku untuk berbicara pada manager agar mengizinkanku pulang lebih awal dari biasanya. Beruntungnya, aku terizinkan. Jika tidak, akan kuberikan cap bahwa manager tersebut adalah manusia yang tidak berperi kemanusiaan.


Di saat diriku kembali pada rumah sakit, River masih memejamkan matanya. Sepanjang sore diriku menemaninya dan berharap ia membuka matanya secepat mungkin. Dasar dokter menyebalkan, apakah dosis biusnya berlebihan hingga pasien di hadapanku tidak terbangun sepanjang hari? Bahkan sekarang sudah jam 18:00 yang menandakan sebentar lagi matahari akan terbenam. Hari akan mulai malam, dan aku harus pulang sebelum si pemangsa malam mengincarku. Tapi, bagaimana dengan River? Sialnya, pihak rumah sakit tidak memperbolehkan siapapun untuk menginap dengan alasan menemani pasien.


"Gue pergi ya, Ver. Gue harap elo bangun setelah ini," bisikku yang tahu bahwa River tidak akan mendengarku.


Kulangkahkan kakiku untuk pergi dan mulai aku singkirkan rasa risau pada teror malam yang mungkin akan mendatangiku.


- ♧ -