![Deja Vu [ Lilian Ashley ]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/deja-vu---lilian-ashley--.webp)
TIDAK ada kegiatan berarti di dalam vila yang sepi. Hanya ada aku dan ponsel. Setidaknya aman sekaligus nyaman.
Malam telah tiba, akan tetapi semua orang belum juga kembali. Rencana mereka hanyalah berpergian ke kebun buah dan sayur, mengapa selama ini? Aku mulai merasa kesepian.
KRING!
Untuk kesekian kalinya, ponselku berdering yang mengartikan adanya panggilan telepon. Tertera nama Zack dan menurutku dia pasti ingin mengobrol atau memastikan kabar baikku.
"Halo," sapaku riang.
Tisak ada jawaban. Telingaku hanya mendengar suara napas yang berat, kemudian menjadi hening dalam beberapa saat.
"Ashley!" Zack berteriak dengan kepanikan yang menular kepadaku. "To-tolong ..."
Ini sangatlah tidak bagus. Sangat tidak wajar apabila Zack meminta tolong kepadaku. Ada yang tidak beres.
"Ada apa denganmu, Zack?" tanyaku buru-buru.
Seketika dia menjawab, "Mereka, mereka ingin membunuhku!"
Aku tersentak kaget dan merasa marah karena sudah pasti anggota Cate yang Zack maksud. Mereka berbohong dengan mengatakan tidak akan membunuh Zack. Seharusnya aku percaya ucapan Crystal. Tidak bisa kumaafkan perbuatan mereka. Ini gawat, sekarang akulah yang berganti untuk menyelamatkan Zack dengan cara apapun.
Secepatnya aku memesan taksi online dan melesat ke luar villa hingga melewati para pegawaiku yang baru kembali. Tidak kuhiraukan semua teriakan mereka yang mmanggilku dan menanyakan tujuan pelarianku. Setelah taksi mendatangiku, aku langsung melesat masuk dan berangkat menuju caffe meskipun waktu perjalanan menempuh dua jam lebih.
Selama perjalanan, aku hanya bisa memanjatkan doa keselamatan atas Zack. Semoga dia masih baik-baik saja.
"Pak, ayo percepat mobilnya!" perintahku akibat tak sabaran dalam duduk dan menunggu.
"Aduh, Neng. Lokasi yang dituju sangatlah jauh. Bahkan sepertinya akan ada kemacetan di ujung jalan," ujar sang sopir taksi dengan pasrah. "Bahkan bayarannya akan sangat mahal."
Tidak akan kupedulikan tentang bayaran. Di otakku hanya bisa membayangkan betapa naasnya nasib Zack bilamana diriku tak sampai pada waktunya. Sekarang adalah jam 20:30, maka aku akan sampai di jam 22:30. Kurang lebih begitu.
Akibat mengebut, beberapa kali sopir taksi ini menginjak rem hingga tubuhku hampir terpental ke berbagai arah apabila tak menggunakan sabuk pengaman. Beberapa kemacetan sudah menganggu perjalanan hingga taksi harus memutar haluan untuk mencari jalur lain. Jika begini, maka aku akan sampai lebih lambat!
Setelah menempuh perjalanan yang begitu mengikis kesabaranku, secepatnya aku melesat ke luar dan kulemparkan tas selempangku ke sopir taksi tersebut untuk mengambil berapa banyak uang yang dia inginkan.
BRAK!
Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu depan caffe dengan keras dengan kedua tanganku dan langsung mengedarkan semua pandanganku ke semua arah.
CEKREK!
Sebuah cahaya flash menyambut kehadiranku. Bukan seperti yang kubayangkan sebelum datang ke sini. Kini aku telah memasuki puncak dari bahaya yang mengancam nyawaku. Di sela-sela nafas yang sulit kuatur, kakiku sudah bersiap untuk melangkah kabur.
Coretan darah dimana-dimana. Kekacauan akan barang-barang sekitar yang diakibatkan oleh bekas perlawanan. Zeha terduduk dengan keadaan luka parah di kepala. Crystal, dan Aya telah terbaring dengan tangan yang masing-masing memegangi senjata tajam. Tak ada Yurika, aku khawatir dengan keadaannya yang tak terlihat di antara semua ini. Pemandangan yang pertama kali kulihat sampai cukup menambah kehororan di hidupku yang suram ini.
Di antara semua pemandangan yang aku lihat, tak ada yang lebih menyeramkan daripada Zack. Dia berdiri di tengah-tengah tempat ini dengan mengangkat kamera yang telah dia gunakan untuk memotretku beberapa detik yang lalu. Wajahnya yang bengis, pupil mata mengecil dan terutama hoodie abu-abunya yang tercipratkan oleh darah sudah memperkuat jawabanku bahwa dia adalah pelakunya.
"Kau menyerahkan diri ke sini setelah berencana untuk membunuhku?" ujar Zack setelah mengeluarkan tawa kejam.
Dia meneleponku dengan tujuan memancingku kemari.
"Lihatlah. Aku sudah melukis tempat ini khusus untukmu. Karena tidak ada cat, kugunakan saja cairan merah dari beberapa cewek ini." Setelah mengucapkan kalimat yang mengerikan tersebut, Zack mengacungkan kamera bagian screen-nya ke arahku. "Ini akan menjadi foto terakhir sebelum kau mati.
Dia pernah mengatakan bahwa hobinya adalah menjadi fotografer dan pelukis. Namun, dengan cara yang berbeda dari kata normal.
Tiba-tiba, suara erangan muncul dan berasal dari Aya yang sedang terlungkup sembari mengacungkan gunting ke arah kaki Zack. Alih-alih berhasil, justru Zack menginjak tangan Aya dengan kuat sampai menghasilkan rintihan dari mulut cewek itu.
Akhirnya aku melangkah mundur, lalu berlari setelah mataku melotot dalam melihat tangan Zack yang memungut gunting dari tangan Aya. Ini parah, bukan pertama kalinya dia membunuhku. Bukan Zack, melainkan sisi kejinya. Aku benar-benar takut hingga berlari dalam keadaan bergetar.
"Tolong! Siapa pun, tolong saya!" teriakku yang meminta pertolongan di keramaian pejalan kaki. Air mataku berlinang akibat menjadi tontonan semua orang yang tidak ingin menjadi pelindungku. "Bu, pak! Tolong saya, saya mau dibu-bu ..."
Ucapanku terpotong dengan suara jeritan ketika kepalaku menoleh dan mendapati Zack berjalan santai untuk mendekatiku. Wajahnya tampak normal, bahkan dihiasi oleh senyuman. Hoodie yang bisa menunjukkan bukti kejahatannya telah dia lepaskan hingga hanya memakai kaos putih biasa.
Dengan sigap, aku memasuki gerombolan pejalan kaki yang berisikan ibu-ibu dan berteriak, "Tolong saya! Saya ingin ditangkap oleh penjahat!"
Menangis dan memelas, hanya itu yang bisa kutunjukkan untuk meminta pertolongan.
"Kamu kenapa, Nak?" Salah-satu ibu-ibu mulai bertanya yang membuatku sedikit lega.
"Dia akan saya bawa pulang." Mataku menatap nyalang ketika Zack sudah berdiri di depan gerombolan yang aku datangi. Senyuman manis beracunnya telah terpasang dalam berbicara kepada semua orang. "Maaf, Bu. Dia adik saya, saya ingin membawanya pulang setelah dia kabur dari rehab dan konseling bersama psikolog "
Omong kosong yang sangat bodoh. Aku sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sakit jiwa hingga membutuhkan rehabilitasi. Apalagi dikirim ke psikolog.
"Oh, benarkah begitu?" Aku terperangah saat seorang wanita paruh baya yang menjawab bualan Zack.
Tidak dan kumohon jangan percaya. Mengapa mereka bisa mempercayai ucapan dari cowok itu?
"Anda pasti kesulitan dalam mengurus adik yang malang ini," sahut ibu-ibu yang lain dengan nada prihatin dalam menoleh ke arahku. "Saya doakan semoga dia cepat sembuh."
Zack menggaruk tengkuknya dan tetap memasang senyum lebar. "Meskipun sangat sulit hingga dia kabur dan menganggap saya seperti penjahat, saya sama sekali tidak merasa kesusahan."
Dengan usaha terakhirku, aku pun lanjut berlari sebelum gerombolan ibu-ibu tersebut menyerahkanku kepada Zack. Akan tetapi, keberuntungan tidak menyertaiku sampai di sini.
Baru saja sekitar tiga meter kakiku berlari, seketika dua orang bapak-bapak menahan tanganku dan menggiringku kembali ke Zack.
"Tadi saya dengar dari jauh kalau wanita ini kabur dari abangnya." Salah-satu bapak-bapak memegangiku dengan kuat dan langsung menyerahkanku ke genggamannya.
"Awasi adiknya, Mas. Bahaya sekali kalau berlari-lari seperti ini." Bapak-bapak yang lainnya menyahuti.
Aku pun mulai menangis sejadi-jadinya. "Pak, tolong saya. Saya nggak sakit. Tapi saya ingin dibu ..."
Zack langsung menyentakkanku untuk menghentikan ucapanku. Tanpa jeda, dia menarikku pergi. "Terima kasih Pak, Bu. Saya akan kembali ke orangtua kami. Doakan adik saya sembuh juga, terima kasih lagi."
"Semoga anak itu cepat sembuh."
"Terlihat dari emosi kepanikannya, pasti orangtua mereka dipenuhi kesabaran."
"Malangnya."
Kata-kata kekhawatiran dari para pejalan kaki tadi telah sampai ke telingaku dan membuatku pasrah. Aku tak percaya mereka dapat percaya hanya dengan senyuman yang dimiliki Zack.
Selepas itu, Zack menjambak rambutku dan melemparkanku ke gang kecil saat sudah merasa jauh dari keramaian. Tubuhku terjatuh dan mulai mendorong mundur tubuhku dengan kaki ketika dia mendekat.
Dia mengusap rambut depannya ke belakang dan menatapku sinis. "Kau benar-benar cerewet dan sangat menyusahkan."
"Kumohon," gumamku. "Kita harus hidup bersama seperti katamu. Jangan begini."
Ucapanku telah membuat amarah Zack semakin membara. "Hidup bersamamu? Jangan harap! Salah satu dari kita harus mati jika ingin hidup damai!"
Kugenggam pasir yang berada di sekitar dan aku hempaskan tepat ke wajah Zack saat dia mengacungkan gunting dari saku celananya. Serta merta aku menyundul perutnya dan kabur secepat mungkin.
Belum pernah aku berlari sekencang ini. Rasanya kakiku seperti terlepas dan tubuhku melayang dengan kecepatan tinggi. Aku tidak bisa pulang karena Zack pasti akan mendobrak apartemenku. Pilihan terakhir hanya satu, bersembunyi di kampus.
Aku belum bisa bernafas lega walaupun sudah sampai ke kampus yang sudah gelap akibat tak ada penghuni sama sekali. Sekarang adalah tengah malam, takkan ada mahasiswa yang berada di sift malam. Bahkan anehnya, tak ada satpam yang berjaga. Selanjutnya, aku berlari ke koridor-koridor dan mencari tempat bersembunyi yang aman sampai Zack menyerah untuk mencariku.
"ASHLEY!"
Teriakan Zack yang menggema telah menandakan dia sudah mengikuti sampai sini.
Dengan sigap, aku langsung memasuki auditorium yang penuh dengan kursi-kursi persis seperti bioskop. Pada bagian kursi paling belakang, aku jongkok dan bersembunyi sembari berdoa untuk keselamatan.
Dalam seperkian detik, muncul suara tawa mengerikan hingga aku tak berani untuk memeriksa keadaan sekitar.
"Mengapa bersembunyi, Ashley? Percuma saja, kau akan kutemukan," seru Zack.
Terdengar suara benda jatuh dan asap perlahan tercium di hidungku. Kubungkam mulutku dengan paksa ketika hampir terbatuk-batuk.
"Ketemu!"
Kepalaku menoleh perlahan dan tempo detak jantungku berubah cepat. Zack berdiri di ujung deretan kursi yang kujadikan tempat persembunyian. Mulutnya menyeringai lebar dan kakinya mulai melangkah ke arahku. Seketika aku bangkit dan meloncati kursi-kursi untuk ke luar dari tempat ini. Kemudian, kusadari api mulai menjalar ke mana-mana.
Zack ingin membakar kampus ini.
- ♧ -