Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 58



Los Angeles — USA


Lyn's International Hospital


Kepanikan sedang melanda semua tim medis yang berada di dalam ruang operasi dilantai tiga rumah sakit itu.


"Bagaimana ini ? Disini selain dokter Steven hanya dokter Angel yang bisa mengambil alih operasi besar ini". Tutur salah seorang dokter


"Tidak juga. Jangan lupa kita punya dokter pengganti yang dikirim Presdir menggantikan dokter Angel". Ucap dokter lainnya


Mereka terdiam dengan pemikiran masing - masing bagaimana menangani permasalahan ini tanpa harus melibatkan Angeline.


Ceklek...


Suara pintu yang dibuka membuat semua orang menolehkan kepala melihat siapa yang akan masuk.


"Apa aku terlambat ?". Tanya seorang pria tampan lengkap dengan setelan jas dokternya


Mereka semua terkejut tidak menyangka dokter yang mereka ketahui sudah dipulangkan tugasnya ke rumah sakit pusat justru berdiri dihadapan mereka saat ini.


"Dokter Maxime ? Anda disini ?". Tanya salah seorang dokter dengan bodohnya


Maxime tersenyum tipis masuk ke dalam sana tanpa menjawab pertanyaan barusan.


"Seperti yang kau lihat. Aku berdiri dihadapanmu dengan nyata !". Ucapnya sedikit sinis


Dokter itu menelan salivanya susah payah.


"Berhadapan dengan dokter ini sudah seperti bertemu presdir versi sedikit lembut". Gumam dokter itu


"Untuk beberapa waktu kedepan jangan berharap bisa melihat dokter Angeline di rumah sakit ini". Ucapnya lagi membuat mereka mengernyitkan alis masing - masing


"Apa dokter Angeline cuti ?".


"Apa maksud perkataan dokter ini ? Kenapa kami tidak bisa bertemu dokter Angeline ?".


"Jangan bilang jika berita yang beredar itu benar ?".


"What ? Kami tidak bisa melihat dokter kesayangan kami lagi dalam beberapa waktu kedepan ? Tapi kenapa ?".


"Dia ini sudah seperti fotokopian presdir. Suka memberi teka teki. Menambah beban pikirku saja, Ck !".


Gumam mereka masing - masing tanpa sadar.


"Aku akan memeriksakan pasien ini terlebih dahulu. Setelah itu kita berkumpul di ruanganku untuk membahas permasalahan ini !". Ujar Maxime dengan tangannya mulai melakukan pemeriksaan terhadap tubuh pasiennya saat ini


Mereka semua menganggukkan kepala lalu perlahan meninggalkan Maxime dan beberapa dokter utama dalam penanganan kali ini agar mereka fokus memeriksa pasien tersebut.


...****************...


Los Angeles — USA


Mansion Utama


Tampak matahari sudah menghilang berganti dengan munculnya sang bulan pertanda hari sudah malam. Akhir dari segala aktivitas padat di berbagai belahan bumi.


Termasuk banyaknya pelayan yang silih berganti masuk dan keluar dari dapur menuju meja makan untuk menyajikan banyak menu malam ini. Terlebih ada anak dan menantu sang pemilik mansion yang menginap di mansion megah itu.


"Apa semuanya sudah siap, Grace ?". Tanya sang nyonya besar


Bibi Grace terlihat menganggukkan kepalanya pelan.


Sia memberi senyuman tulus kepada wanita yang seumuran dengan dirinya itu. Wanita yang sudah puluhan tahun bekerja dengannya hingga bisa menjadi kepala pelayan di mansion ini.


"Jika sudah selesai dengan pekerjaan saat ini, kalian makanlah. Tidak perlu menunggu kami hingga selesai makan. Ada aku disini yang akan membereskan sisanya nanti". Terdengar suara itu begitu lembut masuk ke telinga mereka, namun itu bukan suara Sia


Mereka semua menolehkan kepala kearah sumber suara. Terlihat Jesslyn berjalan menuju tempat dimana mereka semua berpijak saat ini.


"Maaf ya aku tidak membantu kalian menyiapkan makan malam ini". Tuturnya dengan tersenyum membuat siapa saja terpesona


Mereka membalas senyuman Jesslyn tak kalah tulusnya.


"Tidak apa - apa, Nyonya. Ini sudah tugas kami". Jawab Bibi Grace selaku kepala pelayan mewakili mereka semua


"Menantuku benar, kalian makanlah. Aku tidak mau ada orang yang bekerja di mansion ini mendapat sakit maag". Ucap Sia dengan gurauan


Jesslyn terkekeh mendengar candaan ibu mertuanya itu.


Bagaimana mereka tidak betah puluhan tahun bekerja di mansion ini ? Selain gajinya yang besar, pemilik mansionnya juga sangat memanusiakan mereka layaknya orang sepadan tanpa membeda - bedakan status.


Meski hingga detik ini tetap saja tidak ada yang berani bertatap muka dengan Victor dan Jacob yang memang terkenal berwajah datar nan dingin minim ekspresi itu.


"Kalau begitu kami permisi, Nyonya. Jika Anda membutuhkan sesuatu panggil saja kami". Tutur Bibi Grace sebelum meninggalkan Sia dan Jesslyn


"Apa Angeline masih belum keluar dari kamar Jacob sejak tadi, Nak ?". Kini Sia menatap ke lantai dua dimana terdapat satu lorong terang menuju kamar cucunya itu


Jesslyn menggelengkan kepalanya ikut menatap arah pandang ibu mertuanya.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka ?". Tanya Sia


"Jacob juga belum kembali, Mom". Ujar Jesslyn


Sia menolehkan kepalanya mengernyitkan alis mendengar perkataan Jesslyn lalu melihat jam yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam.


"Aku pikir dia sudah kembali karena mobilnya sudah terparkir di halaman". Ucap Sia bingung


Kini Jesslyn balik menatap ibu mertuanya dengan menautkan kedua alisnya sesaat.


"Mom ?".


"Apa mungkin dia sedang di kamar itu ?".


Ucap Sia dan Jesslyn bersamaan dengan menduga sesuatu hal yang sama pula.


"Jika saja Victor tidak melarangku hari itu sudah aku musnahkan seisi kamar itu. karena Jacob selalu kesana jika moodnya sedang tidak bagus". Tutur Sia


"Awas saja jika aku bertemu wanita ular itu akan aku pastikan hidupnya penuh kesengsaraan". Sambungnya dengan menggebu - gebu


"Mom, tenangkan dirimu". Jesslyn mengusap pelan bahu ibu mertuanya bermaksud meredam amarahnya


"Aku harus membicarakan ini lagi dengan Victor". Ucap Sia lagi


Jesslyn hanya diam tidak mengangguk tidak juga menggelengkan kepalanya. Karena saat ini dirinya juga berpikir bagaimana cara mengeluarkan putranya dari lingkaran hitam masa lalunya.


"Mommy harap Angeline bukan bentuk dari pelarianmu, Jac - Jac". Batin Jesslyn penuh harap


Jesslyn terus mengusap bahu ibu mertuanya hingga mereka tidak sadar bahwa sejak tadi sudah berdiri tiga sosok dibelakang mereka. Bahkan dengan jelas mendengar emosi Sia yang mendadak muncul itu.


"Kau lihat itu, Dad ? Tidak hanya Jacob, mommy juga cukup menderita setiap mengingat hari itu". Sindir Jonathan


Victor menolehkan kepalanya menatap tajam sang putra yang sudah menyindirnya barusan.


"Itu bukan sepenuhnya salahku ! Wanita it—". Belum sempat menyudahi perkataannya sudah dipotong oleh Liu


"Tuan !". Ucap Liu bernada perintah agar Victor tidak melanjutkan perkataannya


Mendengar itu sontak Victor membuang muka lalu menarik nafasnya kasar.


"Bagaimanapun aku berkontribusi dalam hal ini. Tetap saja keputusanku sudah benar dan kau bahkan kalian semua tidak akan ada yang bisa mengerti ini, Jonathan Frederick Xanders !". Tutur Victor dengan sengaja menyebut nama lengkap sang putra


Jonathan mengernyitkan alisnya tidak mengerti maksud perkataan ayahnya barusan. Hanya satu hal yang dia mengerti yaitu jika seorang Victor Xanders sudah menyebut nama lengkap seseorang itu artinya ada makna tersimpan yang tidak bisa dia jelaskan kepada sang pemilik nama.


Victor berlalu mendekati dua wanita beda generasi diikuti Liu yang setia mendampinginya kapanpun dan dimanapun pria itu berada. Meninggalkan Jonathan seorang diri ditempat itu.


"Makan malamnya sudah siap kenapa tidak memanggil kami ? Eh ?". Tanya Victor pura - pura tidak tahu akan pembicaraan istri dan menantunya tadi


"Aku baru akan meminta Mia memanggil kalian, V...". Tutur Sia menatap Victor penuh arti


"Apa aku melewatkan sesuatu ?". Victor pada dasarnya sangat mengerti makna dari raut wajah wanita yang sudah menemaninya puluhan tahun itu tanpa diperjelas


Baik Sia maupun Jesslyn sama - sama membisu ketika Victor bersuara.


"Bisakah kita menikmati makan malam terlebih dahulu, Dad ?". Jonathan lebih dulu bicara sembari berjalan kearah mereka


Victor menghela nafasnya dengan berat lalu menganggukkan kepalanya.


"Liu !". Panggil Victor dengan nada perintah


Seketika sang pemilik nama berjalan kearah tangga menuju lantai dua meninggalkan mereka dimeja makan.


Tiga sosok dimeja makan itu masih tercengang melihat bagaimana interaksi antara Victor dan Liu yang tidak banyak penjelasan langsung beraksi–Mereka yang sudah biasa juga masih tetap terkejut apalagi yang belum pernah bertatap langsung dengan dua manusia yang terkenal sangat mematikan pada masanya itu ?.


"V...". Panggil Sia dengan kelembutan


Victor hanya tersenyum tipis sebagai balasan atas panggilan istrinya itu.


Sementara sepasang suami istri yang duduk berdampingan itu saling berbisik.


"Daddy dan Paman Liu masih tetap sama seperti mereka muda dulu. Tapi kenapa kau dan Noah tidak seperti mereka, Jo ?". Bisik Jesslyn terselip nada ejekan


"Itu karena kami termasuk ke dalam golongan manusia normal, Baby". Jonathan menjawab dengan terkekeh


Jesslyn juga ikut terkekeh sepelan mungkin. Memang terkadang baginya lucu jika membahas perbedaan interaksi antara ayah mertuanya bersama orang kepercayaannya dan suaminya bersama orang kepercayaannya itu.