Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 34



Sisilia — Italia


Beberapa tim yang sedang mengintai markas disana terlihat sedang serius.


"Hati - hati dengan sisi kananmu, Niel". Suara seseorang masuk e alat pendengar mereka


"I see". Jawab sang empu


"Waspada, mereka penuh senjata !". Sambungnya


"Baik, Tuan". Balas mereka serentak


"Zayn ! Posisi Master ?".


Hening


Tidak ada tanda - tanda jawaban atas pertanyaan itu.


"Zayn !". Ulangnya


"Ck, sabar sedikit tidak bisa ya ?. Aku sedang melacak posisi Master !". Kesal Zayn


"Oh".


"Master sedang bersama, ehmm—". Zayn menjeda perkataannya takut membuka privacy sang Master


"Diamlah ! Aku tahu maksudmu". Serunya


"Sialan, kau yang bertanya kau juga yang menghentikan penjelasanku !". Maki Zayn kesal


"Phillip, Awasss. Sisi kirimu !". Ucap Zayn cepat setelah menyadari ada yang mencurigakan


Phillip dengan cepat melesatkan dua pelurunya kearah yang dimaksud Zayn.


Tembakan angin tanpa suara itu sukses dilepasnya.


Brughh


Brughhh


Dua pria yang hendak menembak jarak jauh tumbang kalah telak dengan Phillip yang lebih dulu memberi salam perkenalan kepada mereka.


Phillip dengan cepat melesatkan tiga pelurunya kearah maksud yang dimaksud Zayn.


"Cih, ternyata mereka cukup cepat menyadari kehadiran kita". Kekeh Phillip


"Well, let's play the game Tim X. Kepala pemimpin mereka tantangan dari Master untuk kita !". Sambungnya seolah memberi semangat


Mereka semua tersenyum devil seolah tak sabar beraksi.


"Cihh, mereka seperti haus darah saja. Ternyata ini alasan Master merekrut mereka menjadi Tim X dan hanya melibatkan mereka dalam misi besar seperti ini". Gumam Zayn bergidik setelah melihat beberapa wajah Tim X yang bertugas hari ini melalui layar yang sudah menangkap hasil kamera dari berbagai sudut


Phillip mulai beraksi sesuai rencana yang sudah mereka susun dengan baik.


"Dante, bawa Tim X.1 mengepung sisi belakang !". Titah Phillip dapat didengar mereka semua


Tidak ada jawaban apapun karena pria yang disapa Dante itu segera bergerak sesuai perintah dari Phillip.


"Sam, Tim X.2 bagianmu !". Lanjut Phillip sembari terus mengendap - endap mencari celah agar bisa masuk tanpa disadari siapapun


Duarrr


Suara ledakan dari belakang gedung itu sontak menarik perhatian beberapa pria yang berjaga didepan pintu masuk markas itu.


"Kerja bagus. Tidak salah Master menempatkan kalian di tim ini". Ucap Phillip lalu mengarahkan snippernya kearah dua pria yang berjaga di sisi kiri depan markas


Brughh


Brughhh


Dua pria itu tumbang begitu saja tanpa dicurigai.


"Hei, kalian kenapa ?". Tanya pria yang berlari mendekati keduanya


"Astaga, darah. Ada musuh !". Teriak salah satunya setelah menyadari darah yang keluar dari balik jas yang dikenakan rekannya


Mendengar itu dengan cepat mereka yang tersisa mulai merapatkan diri.


Brughh


Brughhh


Brughhhh


Tiga pria tergeletak setelah mendapat hadiah dari snipper Phillip.


"Ternyata berguna juga snipper bocah itu". Gumam Phillip tersenyum devil dengan mata memusatkan diri kepada pria yang tersisa


Snipper yang dipakainya adalah milik Vincent. Sebuah senjata yang dipesan khusus oleh Jacob untuknya.


Ya, itu jenis snipper angin. Suara dari tembakannya tidak akan terdengar hingga tidak ada yang akan mencurigainya jika menembak seseorang dari kejauhan.


Phillip memakai senjata Vincent tanpa meminta izin terlebih dahulu ataupun memberitahunya.


"Lagipula bocah itu mana berani melarangku". Ya begitulah sekiranya ungkap Phillip


"Segera bereskan sisanya, Niel ! Sepertinya beberapa pria sedang berlari keluar untuk melihat". Ujar Zayn


Mendengar itu Phillip mengeluarkan smirknya khas psikopat.


Brugh


Brughh


Brughhh


Brughhhh


Brughhhhh


Lima pria yang tersisa ikut tergeletak seketika setelah Phillip melesatkan pelurunya tepat mengenai jantung mereka semua.


Ceklek


Tujuh pria keluar dari dalam markas itu dengan wajah terkejut setelah melihat anak buah mereka sudah terkapar meregang nyawa.


"Waspada !!!". Teriak seorang pria dengan keras


"Tu—".


Duarrr


Ledakan terjadi sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya.


"Kerja bagus, Tim X". Puji Zayn bertepuk tangan


Brughhh


Phillip melesatkan satu tembakannya sebelum masuk ke dalam melalui jendela yang terbuka.


"Hadiah kecil dariku karena sudah mengusik, Master". Kekeh Phillip lalu dengan cepat meloncat masuk


"Niel, berhati - hatilah dilorong kanan itu ada CCTV". Suara Zayn lagi - lagi terdengar


Tanpa sadar Phillip menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana, Sam ?".


Hening


Tidak ada jawaban hanya terdengar suara seperti orang berkelahi.


Duarrr


"Astaga, jantungku tidak aman". Pekik Zayn mendengar ledakan ketiga kalinya


"Sam ?". Ulang Phillip datar


Meski matanya sibuk menelisik kanan kiri lorong itu memperhatikan CCTV, Phillip tetap berbicara dengan tenang agar tidak menimbulkan suara.


Krask... Kruskk...


Hanya itu yang terdengar dari alat pendengar yang digunakannya.


"Finish, Tuan". Suara Sam


"Sesuai rencana, Tuan". Kekeh Dante


Phillip yang mendengar itu ikut terkekeh.


Sementara Zayn yang lagi - lagi terlibat dalam misi sekumpulan mafia psikopat ini hanya beranu bergumam saja.


"Mereka ini seperti fotokopian Master sekali. Mafia berdarah dingin". Gumam Zayn merinding


"Pastikan tidak ada yang tersisa diluar !". Titah Phillip cepat


"Baik, Tuan". Ucap Dante dan Sam bersamaan


"Zayn, beri virus CCTV mereka". Seru Phillip


"Baiklah". Hanya itu tanggapan Zayn yang langsung mengotak ngatik komputernya


"Done". Ucap Zayn setelah dua menit kemudian


Phillip tidak memberi tanggapan lagi karena fokusnya hanya kepada pintu besar yang berlogo sebuah Klan yang menjadi incarannya kali ini.


"Kepalanya semakin dekat". Kekeh Phillip


"Dante, Sam. Masuklah ! Biarkan Tim X tetap berjaga diluar". Titah Phillip


"Baik, Tuan". Ucap mereka bersamaan


Mereka mulai menjalankan aksi utama mereka malam hari ini.


Brakk


Phillip sengaja menendang pintu itu dengan kasar membuat semua orang yang berada didalam sana membulatkan matanya.


"Chi sei ? coraggio di entrare nella nostra base. stai cercando di morire ?". Ucap pria yang terlihat lebih muda dari Phillip


(Siapa kau ? Beraninya masuk ke markas kami. Apa kau cari mati ?).


Mendengar itu Phillip hanya mengeluarkan smirknya. Berjalan masuk lebih dalam dengan tenang tanpa memperdulikan tatapan membunuh mereka semua.


"X'Dragons". Satu kata yang Phillip ucapkan sontak membuat mereka bergetar dengan wajah pucat


...****************...


Los Angeles — USA


Mansion Utama


Setelah acara pertunangan Jessica dan Felix selesai. Mereka semua memutuskan berkumpul di mansion utama.


"Apa kau bahagia, Amor ?". Celetuk Sia


Jessica cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Namun sedetik kemudian senyum terbit dibibirnya.


"Jelas dia bahagia, Mom". Kekeh Jesslyn


Sia ikut terkekeh merasa pertanyaannya bodoh.


Mereka semua duduk bercengkerama meski tanpa Felix, karena pria itu sudah harus kembali ke San Francisco mengingat pekerjaannya menumpuk.


Drt... Drt... Drt...


Ponsel Jacob di sakunya bergetar cukup lama.


Phillip is Calling. . .


Setelah melihat nama yang menghubunginya tanpa mengatakan apapun Jacob beranjak menuju halaman belakang mansion itu.


Klik


"Ya". Ucap Jacob


"...."


"Semuanya".


"...."


"Urus sisanya tanpa meninggalkan jejak".


"...."


"Minta Tim X ke Chicago. Tim A akan bersama mereka menjalankan misi". Titah Jacob


"...."


Jacob terus berbicara dengan Phillip melalui sambungan telepon ditangannnya.


Sementara Angeline melihat itu tentu saja merasa kehidupan dan sifat Jacob semakin diluar kapasitas otaknya jika ditelusuri lebih dalam.


"Apa begitu penting hingga bicara saja harus menjauh dari jangkauan semua orang ?". Gumam Angeline menatap lurus pemandangan dihadapannya yang menampilkan sosok Jacob berdiri tegap membelakanginya


Lima menit berlalu Jacob kembali masuk ke dalam mansion itu.


Matanya sibuk mencari kesana kemari seperti mencari sesuatu.


"Dia ada dikamar adikmu sedang membantunya melepas aksesoris yang melekat ditubuhnya itu". Ujar Victor yang menyadari arah pandang Jacob


Jacob memilih duduk disebelah daddy nya setelah mendengar perkataan Victor.


"Kau sendiri kapan akan meresmikan hubungan kalian, Jac ? Apa kau mau terus - terusan membuat Angeline terpojok mengingat rumor diantara kalian semakin berhembus". Tutur Sia


"Hmmm". Hanya itu tanggapan Jacob


"Terserah kapan waktunya, Nak. Tapi ingat ini. Jangan pernah mempermainkan perasaan seseorang apalagi kami tahu kau jelas menjerat Angeline, Right ?". Ungkap Jesslyn


"Mommy tidak tahu apa alasanmu melakukan itu. Tapi yang jelas mommy tidak akan pernah menyukai hal bodoh dengan mempermainkan wanita, Jac". Sambungnya


Jacob diam saja mendengar penuturan mommy dan grandmanya.


"Jessica dulu, baru aku". Ucap Jacob santai


"Kau itu ya ! Men—".


Drt... Drt... Drt...


Untuk kedua kalinya ponsel Jacob bergetar hingga membuatnya tidak terlalu mendengarkan apa yang Sia katakan.


Mike is Calling. . . .


Jacob berdiri membuat keluarganya menatap heran.


Klik


"Katakan !". Titah Jacob beranjak menjauh lagi dari keluarganya


Kali ini tujuannya naik kelantai dua menuju kamar pribadinya dimansion itu.


"Dia itu sebenarnya cucuku atau bukan sih ?". Kesal Sia menatap punggung Jacob yang perlahan menghilang dari pandangannya


"Mom". Protes Jonathan cepat


"Lihat. Perbedaan kalian. Putraku ini tidak kaku punya sisi humoris. Sedangkan cucuku ? Dia sangat kaku seperti kanebo kering, dingin, irit sekali bicaranya". Jelas Sia lalu menolehkan kepalanya kearah sang suami


"Ah aku tahu sekarang. Jacob begitu pasti karena didikan grandpanya". Sambung Sia seketika mendapat tatapan tajam dari suaminya


"Ulangi, Honey". Ucap Victor pelan namun mereka tahu makna dari suara itu


"Kenapa, V ? Aku benarkan ?". Kekeh Sia tanpa dosa


"Ya, Mom. Sifatnya persis daddy, mulutnya persis dirimu. Sangat tajam". Ucap Jonathan menyela


"Apa aku begitu, V ?". Sia menatap suaminya lembut


Victor menggelengkan kepalanya lalu memberikan tatapan tajam kepada putranya.


"Untung aku begitu mencintaimu, My Yrish". Gumam Victor menatap istrinya penuh cinta


"Karena aku tahu kelemahanmu, V". Sia ikut bergumam


"Sudah menjadi budak cinta sejak puluhan tahun ya begini jadinya. Tidak berani melawan, Ck". Batin Jonathan menatap jengah orangtuanya


"Mommy yang tidak suka dilawan, daddy yang tidak berani membantah jika mommy sudah mengeluarkan puppy eyesnya. Seketika pertahanan daddy runtuh". Batin Jesslyn menggelengkan kepala menatap kedua mertuanya


Setelah itu tidak ada pembicaraan apapun lagi diantara mereka. Sampai saat Jessica dan Angeline turun dengan menampilkan aura masing - masing.