Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 14



Los Angeles — USA


Lyn's International Hospital


"Bagaimana ?". Jacob menatap Angeline cemas namun tetap terlihat datar


Ya, setelah mereka keluar dari toilet mendapat tatapan penuh menyelidik dari keluarga besar Jacob.


Bukannya memperdulikan itu, Jacob justru membawa Angeline menuju mobilnya untuk segera ke rumah sakit.


Melihat hal itu sontak mereka semakin menatap pasangan itu penuh tanya.


"Aku tidak apa - apa, Tuan. Anda terlalu berlebihan". Bukan dokter yang menjawab melainkan Angeline


Jacob menatap tajam Angeline yang sudah berani mencela perkataannya.


"Dokter ?". Ucap Jacob dingin meminta penjelasan


"Kemungkinan dokter Angeline mengalami sedikit masalah pada penciumannya, Tuan". Cicit dokter yang menangani Angeline pelan


Jacob menautkan alisnya karena merasa tidak puas dengan jawaban dokter itu.


Sementara Angeline mulai jengah dengan tingkah Jacob yang selalu mengintimidasi suasana dimanapun dirinya berada.


"Jangan salahkan penciumanku, salahkan saja tuanmu itu kenapa baunya anyir darah". Batin Angeline berteriak kesal melihat Jacob


"Anda dengar itu, Tuan. Aku baik - baik saja". Angeline lebih dulu menjawabnya


Jacob menatap Angeline datar seolah dirinya tidak menerima dengan baik penjelasan dokter itu.


"Baiklah dokter, terima kasih. Kami pamit dulu ya selamat menjalankan tugas Anda, Dok". Ujar Angeline mulai menarik tangan Jacob keluar dari sana


#Diluar Ruangan


"Jacob !". Teriak Sia dari seberang berjalan panik diikuti keluarga besarnya


"Kenapa mereka kesini ?". Angeline membatin melihat satu keluarga besar yang tidak lain pemilik rumah sakit ini sedang berjalan cemas kearah mereka


"Dokter bilang apa ? Calon cucu menantuku baik - baik saja kan ? Tidak ada masalah apapun kan ?". Cecar Sia dengan pertanyaan beruntun tidak sabaran


"Jac - Jac jawab !". Hardik Sia kesal karena Jacob diam saja


"Yang mana harus aku jawab dulu, grandma ?". Jacob kelewat santai dimata keluarganya dengan situasi sebelumnya


"Semuanya !". Bukan Sia yang menjawab melainkan Victor


"She's fine". Hanya itu yang Jacob katakan


"Kalian harus menikah !". Ungkap Sia membuat Angeline membulatkan matanya terkejut


Duarrr


Bagaikan mendapat petir di siang bolong, mereka terkejut mendengarnya.


"Apa - apaan ini. Apa katanya ? Menikah ? Aku ? Dengan pria brengsek ini ?". Batin Angeline berteriak tidak terima dengan pernyataan Sia yang seenaknya


"Honey !"


"Mom"


"Grandma"


Ucap Mereka bersamaan yang juga tidak menyangka kalimat itu yang keluar dari mulut Sia.


"Grandma. Kenapa harus menikah ? Aku tidak apa - apa". Cicit Angeline


"Iya hari ini kau tidak apa - apa. Mana tahu besok akan ada berita menggemparkan di media". Ujar Sia ambigu


"Berita ?". Angeline tidak mengerti sama sekali kehidupan keluarga dihadapannya ini melebihi kalangan selebritis—Selalu menjadi sorotan publik


"Iya, Ruby". Cicit Sia membuat Angeline mendadak gemetar dengan sebutan itu


Degg


"Tenang Angeline, tenang. Tarik nafas buang nafas". Batinnya memejamkan mata agar trauma itu tidak menguasainya


"Ruby". Panggil Sia mendekati Angeline


Angeline memundurkan tubuhnya menghimpit dinding. Traumanya seakan menguasai jiwa raganya saat ini.


"Ayolah nona cantik, layani kami"


"Kau sangat cantik, nona Ruby"


"Ruby ku sayang kemarilah layani aku"


"Arghhhh". Pekik Angeline menutup mata dan telinga menggunakan tangannya sembari menggelengkan kepala layaknya orang ketakutan


"Tidak tidak tidak. Jangan aku". Histeris Angeline hampir saja limbung jika saja Jacob tidak cepat menahan tubuhnya


"Ruby calm down. Kenapa denganmu, nak ?". Sia ikut panik melihat Angeline tiba - tiba histeris padahal sebelumnya dia baik - baik saja


"Ruby, look at my eyes !". Titah Jacob berusaha menyadarkan Angeline


Bukannya tenang Angeline semakin histeris kala mendengar nama Ruby disebutkan.


"Angeline Ruby Arberto !". Bentak Jacob keras


Mendengar bentakan Jacob membuat kesadaran Angeline kembali seolah suara itu menjadi obat penenangnya.


Angeline linglung menatap lurus kedepan sesaat pandangannya kabur dan sekelilingnya terlihat berputar.


Brughh


Angeline jatuh ke pelukan Jacob tidak sadarkan diri membuat semua keluarga Jacob khawatir.


"Sebenarnya ada apa ini ? Kenapa setiap nama Ruby disebutkan dirinya selalu histeris ketakutan seperti tadi". Batin Victor dan Jonathan bersamaan


Mereka mengikuti Jacob menuju UGD karena Angeline harus diperiksa.


"Maaf tuan bisa anda keluar dulu kami ingin memeriksa keadaan dokter Angel dulu". Tutur salah satu suster yang sebenarnya takut melihat Jacob


Mereka berdiri didepan UGD dengan raut wajah khawatir yang berbeda - beda.


"Ada yang ingin grandma tanyakan ?". Jacob bersuara tanpa melihat Sia


" Sejauh mana hubungan kalian, Jac ?". Tanya Sia menatap Jacob penuh selidik


Jacob menautkan alisnya menanggapi pertanyaan sang nenek.


"Apa kalian sudah sering melakukan se—". Sia menghentikan perkataannya saat melihat pintu UGD terbuka


"Keluarga pas—"


Deg


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa ada keluarga tuan besar sedang menunggu disini". Batin dokter itu berteriak terkejut melihat siapa didepannya sekarang


"Tuan besar, nyonya besar, tuan muda, nona muda". Sapanya seramah mungkin


"Kalian ada hubungan kekeluargaan dengan dokter Angel, Tuan ?". Dokter itu memberanikan diri bertanya


Semuanya diam dengan ekspresi datar terkecuali Sia dan Jesslyn.


"Iya, nak. Soon". Ujar Sia menanggapinya


Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa dokter Angel memiliki hubungan lebih dengan tuan muda mengingat bagaimana ekspresi tak terbaca saat membawa masuk dokter Angel". Batin dokter itu menerawang


"Boleh saya bicara dengan salah satu dari keluarga dokter Angel, Tuan ? Ada hal yang ingin saya bicarakan". Ujar dokter yang menangani Angeline


Mereka menolehkan pandangan menuju Jacob.


"Bicarakan denganku". Ucap Jacob datar


"Mari tuan ikut saya, tuan muda". Jacob mengekori dokter itu dari belakang menuju ruang kerjanya


...****************...


Las Vegas — USA


DM'S Mansion


"Aku akan membuat mereka menanggung akibat sudah menghilangkan nyawamu, sweety". Ucap pria yang memandang sendu sebuah bingkai foto


"Tunggu aku Jessica Amora Xanders". Batinnya dengan sorot mata tak terbaca


Ceklek...


"Tuan, satu jam lagi penerbangan anda sudah siap". Seorang pria datang mendekatinya


"Hmmm"


"Tuan benar - benar dengan rencana balas dendamnya". Batin pria itu melihat atasannya


"Saya menunggu anda di luar, Tuan". Ucapnya pamit undur diri


Hanya anggukan kepala yang didapatnya dari sang atasan.


"Aku akan mulai membalasnya, Sweety". Ucapnya dengan senyum mematikan


Sebelum pergi dirinya mengunjungi kamar sang ibu yang masih terang. Ada rasa kecewa dan marah melihat kondisi ibunya seperti itu.


Cup


"Aku pergi dulu, mom". Ucapnya setelah memberi kecupan dikening ibunya


Berharap ada tanggapan dari sang ibu yang ada hanya melihat sosok wanita paruh baya menatap kosong pandangannya.


"Aku akan membalasnya, mom". Ucapnya lagi


Hening...


"Jaga dirimu baik - baik, mom". Setelah mengatakan itu dirinya hendak keluar kamar namun terhenti karena suara sang ibu


"Jangan ! Jangan membuatmu masuk ke lubang yang sama dengan daddy mu dulu, Nak". Ucapnya kini menatap putranya dengan mata mengembun


"Mom". Lirihnya


Ibunya hanya menggelengkan kepala memintanya untuk tidak melakukan apapun.


"Adikmu Elma sudah bahagia disana. Jangan mengusik ketenangannya". Ujar sang ibu


"Kali ini aku tidak bisa diam saja, mom". Balasnya


"Mommy baik - baik saja, nak. Hanya saja terkadang masih belum bisa menerima kepergiannya. Tapi mommy akan berusaha menerima itu". Ucap sendu sang ibu


Pria itu hanya diam saja tanpa membalas.


"Jangan menabur benih jika tidak sanggup menerima hasilnya, Lucas". Ucap lirih ibunya


"Mom". Balasnya


Ibunya tetap menggelengkan kepala menghentikan rencananya.


Cup


"Aku pamit, mom". Ucapnya berlalu meninggalkan sang ibu dikamar itu


"Mommy berdoa semoga dirimu tidak melakukan hal yang sama dengan daddy mu dulu, nak". Batin ibunya penuh harap menatap sendu kepergian sang putra


#Dihalaman depan mansion


"Tuan". Sapa asisten pribadinya


"Langsung ke bandara saja !". Titahnya setelah masuk kedalam mobil


"Baik, tuan".


Mobilnya meninggalkan pelataran mansion menuju tempat landasan pacu di kota itu.