
Milan – Italy
The Diev's Hotel
Beberapa jam yang lalu Jacob meninggalkan hotel itu karena ada urusan mendesak yang harus diselesaikan.
Meninggalkan Angeline yang masih terus merenungi kejadian diantara mereka. Ingatan demi ingatannya silih berganti membuatnya sangat terkejut.
"Aku memakinya terus menerus menyalahkannya padahal aku sendiri yang memulainya. Arghhh". Teriaknya sudah kesekian kalinya pagi itu
"Bagaimana aku menghadap wajahnya nanti ?". Ucapnya lagi
Sementara diluar pintu kamar hotel yang ditempatinya sudah banyak petugas serta bodyguard yang terus menerus mengetuk pintu itu tapi diabaikan oleh Angeline.
Tanpa disadari Angeline tindakannya itu bisa memicu kekhawatiran banyak orang akan reaksi Jacob saat kembali nanti.
Tok... Tokk... Tokkk...
Ketukan pada pintu itu sudah kesekian kalinya berbunyi namun tetap diabaikan oleh penghuni kamar itu.
#Luar Kamar Hotel
"Bagaimana ini ? Tuan muda sudah dalam perjalanan ke hotel tapi nona di dalam sana masih enggan membuka pintunya". Tutur salah seorang petugas dengan seragam hotel mewah
Tok... Tokk... Tokkk... (1×)
Hening
Tok... Tokk... Tokkk... (2×)
Masih tetap keheningan terjadi setelah ketukan pintu yang kesekian kalinya itu.
Ting !
Denting pesan masuk ke salah satu ponsel seorang pria yang memakai jas rapi lengkap dengan tugasnya di hotel itu.
General Manager Of The Diev's Hotel...
Wajah pucat pasi pria itu semakin kentara terlihat setelah membaca pesan masuk tersebut.
Ting !
Dengan cepat pria itu membaca pesan kedua.
"It's a fucking situation !". Makinya dengan cepat
"Ketuk terus pintu itu. Tuan muda sudah tiba di lobby. Cepat !". Instruksinya dengan penuh kekesalan
Beberapa menit kemudian terdengar suara yang mengisi keheningan di sekitar koridor hotel itu.
Ting !
Semua mata tertuju kepada sang General Manager mengira suara itu berasal dari ponselnya.
Dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya.
"Bukan ponselku yang berbunyi, Sialan !". Sarkasnya
Sesaat kemudian mereka semua menyadari satu hal yang sama.
Fokus mereka terpaku pada pintu lift yang seperti akan terbuka. Membuat mereka semua panas dingin.
Glekk...
Mereka menelan ludahnya kasar karena tegang sekaligus takut.
Tap... Tappp...
Derap langkah berat itu terdengar seperti lantunan kematian bagi mereka saat ini.
"Tuan Aiden sudah menandatangi kontrak resmi kita, Tuan. Apakah kita harus segera kem—".
Sayup - sayup mereka dapat mendengar suara yang sedang berbicara itu.
Namun seseorang yang berbicara tadi menghentikan perkataannya mengikuti arah pandang pria dihadapannya.
"Ada sesuatu yang aku lewatkan ?". Suara bariton Jacob memenuhi seisi koridor yang sunyi itu
Deg
Glekkk...
Mereka semua semakin menelan kasar ludahnya bersamaan ketika mendengar suara itu–Suara yang sangat dihindari semua orang.
"Ben ?". Jacob kembali bersuara tidak lupa dengan tatapan tajamnya
"I–itu... Nona it—". Belum sempat menjelaskan semuanya Jacob lebih dulu melangkah menerobos mereka semua berdiri di depan pintu itu
Jacob yang dasarnya sangat peka terhadap sekitarnya bisa mengetahui permasalahnnya tanpa dijelaskan.
Tokk... Tokkk... (1×)
"Angeline !". Panggilnya sedikit meninggikan suara
Tokkk... Tokkkk... (2×)
"Angeline Arberto !". Teriaknya lagi
Tokkkk.... Tokkkkk (3×)
Saat hendak mengetuk untuk keempat kalinya pintu itu sudah terbuka membuat mereka semua bernafas lega.
Ceklekk...
"Apa membuat semua orang khawatir adalah kebiasaanmu, Nona Angeline Arberto ?". Sarkas Jacob tepat ketika Angeline membuka pintu
Deg...
Angeline terlihat pucat pasi berhadapan dengan Jacob saat ini.
Brukk...
Tanpa diduga Angeline limbung seketika. Beruntungnya Jacob dengan cepat menangkap wanita itu sebelum menyentuh lantai.
Sementara semua orang terkejut melihat itu hanya bisa berhadap kondisi Angeline baik - baik saja.
"Panggil Adrian kemari, Mike !". Titah Jacob sebelum menggendong Angeline ala bridal masuk ke dalam kamar hotel itu
Mike menganggukkan kepalanya lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel segera menghubungi dokter yang disebutkan Jacob barusan.
"Selama bekerja disini. Hanya dua orang yang ingin sekali aku hindari".
"Masalah pertama yang aku hadapi setelah beberapa tahun bekerja di hotel ini".
"Aku mencium aroma - aroma singa mengamuk sebentar lagi".
"Selamatkan kami Tuhan dari singa ini".
Gumam mereka dalam hati.
Dua puluh menit berlalu...
Ting !
Denting lift berbunyi pertanda ada seseorang yang akan masuk ke lantai tersebut.
"Kau bosan hidup, Ad ?". Ucap Mike saat melihat seorang pria memakai pakaian casual lengkap dengan tas dokternya tiba
Pria itu hanya menyengir kuda menanggapi pertanyaan Mike barusan.
Ceklek...
Tanpa basa basi lagi, Mike segera membawa pria itu masuk ke dalam kamar Jacob.
Saat masuk yang jelas terlihat adalah seorang wanita cantik sedang terbaring di tempat tidur tidak lupa dengan tatapan maut dari seorang Jacob Xanders yang terkenal sangat menakutkan.
"Ingatkan aku untuk menembak kakimu setelah ini, Adrian !". Ucap Jacob teramat dingin
Mendengar itu Adrian yang beberapa menit lalu masih menanggapi perkataan Mike dengan senyuman maka tidak berlaku untuk saat ini.
"Berurusan dengan seorang Jacob Xanders benar - benar akan mempercepat siapapun bertemu mautnya, Sialan !". Gumam Adrian mengeluarkan kekesalannya menghadapi Jacob
Jacob semakin menatap tajam pria itu ketika hendak menempelkan alat kedokterannya ke area dada Angeline.
"Kau sudah bosan memeriksa pasien menggunakan tanganmu lagi, Eh ?". Tanya Jacob terkesan menyeramkan
Refleks Adrian menyadari maksud perkataan Jacob.
"Tadinya aku ingin bertanya siapa wanita cantik ini. Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya melihat bagaimana reaksi Jacob barusan". Adrian kembali bergumam dengan terkekeh pelan—Nyaris tidak bisa disadari semua orang terkecuali Jacob
"Aku butuh konsentrasi untuk memeriksa keadaan nona ini lebih rinci, Master". Ujarnya kepada Jacob yang memiliki insting dan kepekaan tajam itu
"Kelurlah, Mike !". Usir Jacob
Mike dan Adrian saling pandang satu sama lain mendengar perintah Jacob.
"Anda juga kelu–".
"Kau memerintahku ?".
"Bu–kan begitu, Master. Hanya saj–".
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Adrian dibuat takut ketika tidak sengaja menatap sorot mata tajam pria paling berkuasa itu
Glekk....
"Sialan ! Kenapa aku bisa bekerja untuk pria ini ya ?". Batinnya bermonolog
Tidak mau ikut campur apalagi membantah Jacob. Mike keluar dari kamar itu meninggalkan Adrian yang terpaksa harus memeriksa pasiennya ditemani Jacob.
Dua menit kemudian....
Adrian selesai memeriksa Angeline secara keseluruhan.
"Tidak ada yang ingin kau jelaskan ?". Tanya Jacob tanpa basa basi
"Be–gini, Master. Kondisinya baik - baik saja hanya sedikit syok". Ungkap Adrian
Jacob menatap tajam Adrian tidak terima penjelasannya mengenai kondisi Angeline.
"Mike !". Panggil Jacob tanpa mengalihkan pandangannya dari pria dihadapannya
"Pulangkan pria tidak berguna ini kepada keluarganya ! Aku muak melihat wajah bodohnya itu". Titah Jacob mendapat kekehan pelan dari Adriano
"Sepertinya ide yang bagus. Oh God, aku sudah tidak sabar bertemu bibi ku". Ujarnya menanggapi perkataan Jacob dengan lelucon
"Ingat, jangan beri dia gaji sepeserpun karena selama ini dia tidak menjalankan pekerjaannya dengan baik, Mike !".
Adrian langsung membulatkan matanya penuh mendengar perkataan Jacob yang dirinya sendiri tahu hanya sekedar candaan belaka. Namun tetap saja seorang Jacob Xanders itu sulit ditebak.
Sementara Mike menampilkan senyuman tipisnya melihat kelakuan Jacob menjahili Adriano.
"Mari ikut saya. Anda akan segera dipulangkan Tuan Muda Maverick...". Kekeh Mike tidak peduli tanggapan Adriano terhadap kalimat terakhirnya
"Kau ! Cari mati denganku ya !". Tunjuknya kepada Mike dengan raut penuh kekesalan
"Mike !". Peringat Jacob karena orang kepercayaannya itu mulai lupa kondisi sekitarnya
"Maaf, Tuan. Mari dokter saya akan mengantar Anda sampai lobby". Seketika Mike sadar letak kelancangannya
Sementara Adrian terkekeh puas melihat Mike yang diberi peringatan dari Jacob.
"Permisi, Tuan". Ucapnya hendak keluar bersama Mike
"Pulanglah saat Jessica menikah nanti, Adri...". Tutur Jacob menghentikan langkah kaki Mike dan Adrian
"Akan aku usahakan". Balas Adrian tersenyum getir lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Mike
Mike yang mengerti suasana saat ini terasa bingung harus mengikuti Adrian atau tidak.
"Biarkan dia pergi, Mike. Lima tahun ini bukan waktu yang mudah baginya. Tim D siap siaga menjaganya". Ujar Jacob mengerti kebimbangan Mike dan perubahan ekspresi Adrian barusan
"Bagaimanapun kisahnya,, kau tetap bagian Maverick, Ad". Batin Jacob penuh arti
"Tuan Muda yang tersingkirkan. Miris sekali". Gumam Mike sesekali menatap lurus punggung yang sudah tidak terlihat itu
"Baiklah, Tuan. Ada lagi yang Anda butuhkan ?". Tanya Mike
Jacob menggelengkan kepalanya.
Melihat itu Mike baru akan meninggalkan Jacob bersama Angeline di kamar itu terhenti kala mendapat perintah dari Jacob.
"Siapkan jet pribadiku, Mike. Sore ini juga kita kembali ke Los Angeles !". Titahnya
Mike menganggukkan kepalanya lalu pamit undur diri dari hadapan Jacob.