Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 12



Las Vegas — USA


Mansion J


Seorang pria lengkap dengan setelan dokternya sedang bicara dengan seseorang diteleponnya. Tanpa disadarinya pasien yang berada ditempat tidur king size itu siuman.


"Aman, Master". Ucapnya menolehkan kepala kebelakang saat menyadari ada yang bergerak dibelakangnya


Enghhh...


Lenguhan Angeline tertangkap indra pendengarannya.


"Dia sudah siuman, Master". Sambungnya


"...."


"Baik, Master". Ucapnya sebelum terdengar panggilan terputus


"Nona, kau butuh sesuatu ?". Ujarnya mendekati Angeline


"A—ir". Cicit Angeline serak


Mendengar itu dokter Justin mendekati nakas menuangkan air untuk Angeline.


"Ini, minumlah nona Ruby". Ucapnya menyodorkan air ke mulut Angeline


Deg


"Arghhhhh...."


Seketika Angeline histeris mendengar nama itu diucapkan oleh pria.


"Ja—ngan. Jangan aku". Belum sempat mengatakan apapun Angeline sudah histeris saat mendengar suara pria


"Pergi !!". Histerisnya


"Nona, calm down. Aku tidak akan menyakitimu". Ucap dokter Justin pelan


"Tidak !! Pergi !!!!". Angeline terus histeris


"Nona, tenanglah".


"Pergi !!!!". Angeline semakin histeris hingga terdengar pecahan vas bunga


Prangg


Dokter Justin terkejut dengan reaksi yang Angeline berikan. Benar - benar diluar ekspektasinya akan kondisi mental Angeline.


"Gadis ini mentalnya sangat terguncang". Gumamnya pelan


Hiksss... Hikssss...


"Ja—ngan".


"Ti—dak"


Histerinya menggelengkan kepala seolah nama itu berputar di pendengarannya.


Tidak tega melihat Angeline terus histeris dokter Justin memilih meninggalkannya sendiri dikamar itu agar bisa menenangkan diri.


"Aku harus memberitahu Master". Batinnya menatap sedikit sendu Angeline


Setelah menutup pintu kini dirinya menuju halaman belakang mansion megah ini untuk menghubungi sang master.


Ting !


Malaikat Maut II


"Apa nona Ruby sudah siuman ?"


Melihat itu tentu saja dokter itu menautkan alisnya heran.


"Sejak kapan pria ini memperdulikan kondisi orang lain ?". Gumamnya menatap lekat ponselnya


Malaikat Maut II


"Sudah, apa Master ada bersamamu ?"


Send...


Ting !


Malaikat Maut II


"Tidak"


Dokter Justin membaca pesan masuk itu diiringi hembusan nafas kasar.


Malaikat Mau II


"Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Master"


Send...


Satu


Dua


Tiga


Hingga beberapa menit berlalu tidak ada tanda pesan masuk sama sekali sampai didetik berikutnua terdengar nada panggilan dari ponselnya.


Drt... Drt... Drt...


Malaikat Maut is Calling...


Melihat nama itu sontak dengan cepat dia mengangkat panggilannya.


"Master". Sapanya


"Hmm".


"Sepertinya hari - hariku akan selalu suram jika terus menerus berurusan dengan pria ini yang sayangnya sudah sangat membantuku sejak dulu, ck". Gumamnya sepelan mungkin agar tidak didengar sang Master


"Mental Nona Ruby sepertinya sangat terguncang Master. Sampai saat ini dia masih histeris". Terang dokter Justin


"Kenapa aku tidak mendengar histeris itu ? Kau meninggalkannya sendiri ?".


Deg


"Astaga, aku lupa". Batinnya menanggapi pertanyaan sang Master


"I—ya Master. Karena nona itu terus histeris aku memutuskan menghubungimu diluar kamarnya saja". Ucapnya gugup seperti dipergoki sedang mencuri


"Bodoh ! Bukan menenangkannya kau justru meninggalkan seseorang yang sedang histeris sendirian". Hardik pria itu dari seberang


"Jika sampai terjadi sesuatu dengannya kau orang pertama yang akan menemui ajalmu !". Sambungnya segera mematikan panggilan itu


Setelah mendengar itu tanpa menunggu lama lagi dokter Justin secepat mungkin masuk ke kamar perawatan Angeline.


Ceklek


Deg


"Nona Ruby !". Pekiknya mendapati Angeline hendak melukai dirinya dengan serpihan kaca yang sebelumnya sudah dia pecahkan


"Kau gila ! Kemana akal sehatmu, Hah". Bentak Justin tanpa sadar merebut paksa serpihankaca ditangan Angeline


Sementara Angeline sama sekali tidak ada niat untuk mendengarkan perkataan Justin. Dirinya tetap berusaha meraih serpihan kaca lainnya dengan tatapan kosong.


"Nona sadarlah. Jangan seperti ini. Disini kau aman tidak ada yang berani menyakitimu. Percayalah padaku". Ujar Justin berusaha menyadarkan Angeline


Sesaat Angeline terpaku dengan perkataannya lalu menolehkan kepalanya menghadap Justin dengan raut wajau sulit diartikan.


"Haha". Angeline tertawa layaknya orang hilang akal membuat Justin tergelak


"Nona". Sadar Justin tidak dihiraukan Angeline yang masih terus tertawa


Prangg


"Menjauh !". Teriak Angeline sembari mengancam dengan pecahan kaca


"Oh My Godness. Mati aku, itu vas bunga termahal. Satu - satunya didunia ini". Batin Justin menelan ludahnya menatap horor pecahan vas bunga itu


Tanpa pikir panjang Justin kembali ke alam sadarnya mendekati Angeline mantap namun pasti. Angeline semakin menekan pecahan kaca di nadi tangannya.


Bugh...


Terpaksa Justin memukul tengkuk Angeline sedikit keras agar wanita itu pingsan sejenak dan tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi.


"Semoga saja setelah ini tangan kananku tidak dijadikan santapan peliharan Master". Batinnya sembari membawa tubuh Angeline yang pingsan ke tempat tidur


Ting !


Malaikat Maut


"I can see you, bastard !"


Glek...


Pria dengan setelan jas putih rapi itu menelan susah payah salivanya akibat pesan yanh diterima dari sang Master.


"Baru saja permohonanku diucapkan, ternyata raja iblis ini lebih dulu mengetahuinya, ck". Gumamnya sedikit kesal sebenarnya


Ting !


Malaikat Maut


"Teruslah mengumpat sampai besok, Kupastikan dipagi harinya kau sudah melihat jasadmu ditangisi keluargamu !"


Membaca itu dirinya sangat terkejut lalu menolehkan kepala kiri kanannya memastikan letak CCTV atau minimal kamera tersembunyi dikamar itu.


"Seperti cenayang saja". Batinnya


Satu minggu berlalu...


Angeline bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa - apa kepadanya. Dirinya yang sebelumnya selalu histeris kini lenyap seperti melupakan kejadian menimpanya begitu saja. Bahkan dirinya selalu menebar senyuman kepada siapapun yang ia lewati di mansion itu membuat Justin selaku dokter memantau kondisiny ikut merasa terkejut.


"Ini aneh. Apa karena aku memukul sedikit keras tengkuknya saat itu mengakibatkan sarafnya terganggu". Gumamnya melihat Angeline dari kejauhan


Drt... Drt... Drt...


Ponsel disakunya bergetar menandakan ada pesan masuk.


Malaikat Maut is Calling...


"Halo Master". Sapanya


"..."


"Dalam dunia medis ini jelas aneh, Master. Setelah siuman hari itu dia terlihat seperti bukan dirinya lagi. Dia melupakan semuanya bahkan bersikap biasa saja ditempat asing. Menurut prediksi dan analisa kedokteran seharusnya dia mengalami trauma berat. Tapi yang saya lihat dia biasa saja berbeda jauh saat dirinya siuman pertama kali hari itu, Master". Terangnya


"..."


"Tuan Phillip yang selalu berkunjung kemari memantau langsung kondisi Nona Ruby, Master"


"..."


"Baik, Master. Aku akan mengirim rekam medisnya ke Rumah Sakit Internasional"


"..."


"Nona Ruby saat ini sedang di dapur bercanda gurau dengan beberapa pelayan di mansion ini, Master"


"..."


"Siap Master"


Setelah mengatakan itu panggilanya terputus sebelah pihak.


"Sabar, nasib bawahan memang seperti ini". Gumamnya menatap ponsel yang menampilkan log panggilan


"Dokter Justin". Seru Angeline tiba - tiba sudah berdiri dibelakangnya


Deg


"Apa Nona Ruby mendengar percakapanku dengan Master ?". Batinnya sedikit terkejut melihat Angeline seperti hantu tiba - tiba muncul


"Dokter". Panggilnya lagi


"E—ehh. Iya nona. Anda butuh sesuatu ?". Ucapnya sadar seketika merubah ekspresinya


"A—pa aku bisa bicara hal penting denganmu ?".


Mendengar itu sontak dokter Justin menganggukkan kepalanya.


"Mari ikut saya, kita bicara di balkon atas". Ajak Justin berjalan dengan Angeline mengekorinya


#Flashback Off


Dua pria beda usia dihadapan Jacob kini semakin bergetar seolah keberanian mereka menghilang ketika berhadapan dengannya.


"Seharusnya hari itu aku tidak melepaskanmu". Ucap Jacob menatapnya tajam


"Ma—ksud Anda apa, Tuan ? Kita tidak punya masalah. Anda bisa saya tuntut dengan kasus penganiayan, Tuan". Ujar pria tua yang disapa Mr.Hans dengan keberanian setipis tisu sebenarnya


"In your dream ! Sebelum itu ku pastikan tubuhmu sudah berada ditempat yang terpisah - pisah". Tutur Jacob diiringi senyum devil, Khas Jacob Xanders. Hanya Mike yang mengerti arti senyuman itu


"Tamat sudah riwayatmu pria tua". Batin Mike menatap miris dua pria dihadapannya


"Mike, bawa mereka ke markas. Phillip tahu apa yang harus dilakukannya. Berikan jasadnya kepada Jaclerss aku rasa dia sudah lama tidak manyantap menu berdarah". Titah Jacob dingin


Deg...


"Phillip ? A—pa jangan - jangan pria ini Mafia dari paranya Mafia. Semoga dugaanku salah". Batin Mr.Hans mulai panas dingin


"Apa pria ini ketua Klan X'Dragons ? Karena hanya Klan itu yang tahu letak markas ini". Batin tangan kanan Mr.Hans menatap Jacob horor


"Baik, Master". Setelah mengatakan itu Mike segera menghubungi Phillip yang dimaksud Jacob


"Aman, Master". Ucap Mike mendekati Jacob


"Biarkan Phillip bermain - main dengan mereka". Kekehan Jacob terdengar seram ditelinga mereka termasuk anak buahnya yang mendengar dari alat ditelinga mereka


"Welcome to the hell".


"Pria yang malang"


"Lepas dari jeratan harimau kini masuk jeratan singa"


"Semoga Tuhan mengampuni dosa kalian, ya walaupun itu mustahil"


"Neraka sesungguhnya menanti kedatangan kalian"


Begitulah suara - suara yang didengar Jacob dan Mike dari alat pendengar yang mereka gunakan.


"Kau bisa kembali jika sudah berhasil mendapatkan video kebaikan Phillip membantu malaikat maut menjalankan tugasnya, Mike !". Ujar Jacob dengan senyum devil mematikan


"Siap Master". Ucapnya


Setelah itu Jacob keluar meninggalkan mereka begitu saja.


"Satu dari mereka sudah dibereskan, sisa beberapa tikus lagi". Gumam Jacob menatap datar tempat yang kini menjadi lautan mayat


"Apa Anda ada tujuan ke tempat lain lagi, Master ?". Tanya pria yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk Jacob


"Tidak, kita langsung kembali ke Los Angeles". Titahnya


"Baik Master".


Mobil yang ditumpangi Jacob melaju meninggalkan tempat itu menuju mansionnya untuk segera kembali ke Los Angeles dengan helikopternya.