Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 50



Milan — Italy


The Diev's Hotel


Tok... Tokk... Tokkk...


Tiga kali ketukan pintu dari luar tidak dihiraukan oleh Jacob yang sedang mengistirahatkan matanya sejak beberapa jam yang lalu itu.


Hening


Drt... Drt... Drt...


Setelah tidak terdengar suara ketukan pintu berganti dengan dering ponselnya dinakas.


Drt... Drt... Drt... (2×)


Drt... Drt... Drt... (3×)


Sepertinya kali ini tidur pria itu benar - benar pulas hingga tidak terusik sedikitpun.


"Jacob...". Terdengar suara Angeline memanggil namanya dari luar


#Diluar Kamar Jacob


"Jacob !". Panggil Angeline kesekian kalinya


"Nona, kami sudah sejak tadi mengetuk pintu itu tapi tidak mendapat respon apapun". Ucap salah seorang pria dengan seragam hotel


Angeline menatap pria itu sebentar lalu beralih menatap pintu kamarnya Jacob yang enggan dibuka itu dengan khawatir.


"Kalian punya kunci cadangannya bukan ?". Tanya Angeline


Beberapa pria dengan setelan seragam The Diev's Hotel itu kompak menganggukkan kepala.


"Berikan kepadaku". Titahnya sembari menjulurkan tangannya kepada salah satu dari mereka


Mereka saling pandang satu sama lain dengan penuh arti.


"Cepat !". Sambungnya masih dengan menjulurkan tangan


"Ta—tapi".


"Aku yang akan tanggung jawab nanti". Ucapnya dengan cepat


Mereka ragu memberikan kunci cadangan itu kepada Angeline. Selain itu mereka tidak tahu siapa Angeline hanya saja mereka yang ditugaskan melayani Jacob kali ini sangat terkejut saat tahu ada seorang wanita yang menempati kamar pribadi pria itu.


"Kemarikan kuncinya". Ulang Angeline menyadari keraguan mereka


"I—ni, Nona". Ucap salah satu pria memberikan kunci cadangan itu kepada Angeline dengan sedikit ragu


"Semoga didalam sana tuan muda tidak memecat kami, Tuhan". Batinnya memohon dengan panas dingin


Dengan tidak sabaran Angeline mengambil kunci itu lalu membuka pintu dihadapannya.


Ceklek...


"Jac—". Ucapannya terhenti ketika melihat seisi ruangan itu berantakan dengan serpihan kaca dimana - mana


"Kenapa dengan tempat ini ? Dimana pria itu ?". Gumam Angeline menatap sekelilingnya


Bukan hanya Angeline, petugas hotel juga ikut terpaku memandang seisi ruangan yang belum lama ditempati Jacob.


"Apa tuan muda baru saja mengamuk ?".


"Astaga. Sepertinya sudah terjadi gempa diruangan ini".


"Oh My Godness. Tuan Mike harus tahu ini".


Batin beberapa petugas The Diev's Hotel mengomentari ruangan yang berantakan itu.


Angeline melangkah dengan hati - hati melewati banyaknya serpihan kaca diruangan itu.


"Nona !". Pekik mereka bersamaan melihat Angeline melangkah lebih jauh


Matanya menangkap sosok Jacob yang sedang tertidur pulas di sofa panjang dengan posisi menghadap jendela besar.


Sontak mereka menggelengkan kepala pertanda melarang Angeline mendekati Jacob.


"Astaga. Nona ini berani sekali mendekati singa yang tertidur".


"Berani juga nona itu mendekati tuan muda".


"Aku hanya waspada saja. Semoga tuan muda tidak mengamuk".


Gumam mereka bersamaan cemas sekaligus terkejut dengan keberanian Angeline.


"Jacob". Panggilnya saat hampir dekat dengan pria itu


"Bagaimana bisa dia tidur setelah membuat hancur ruangan ini ? Apa dia punya kepribadian ganda ?". Gumam Angeline


Merasa tidak ada jawaban dari sang empu, Angeline berinisiatif untuk membangunkan Jacob dengan menyentuh lengannya.


"Jac— arghh". Belum sempat menyentuh lengan pria itu, Angeline dikagetkan dengan Jacob yang menangkap pergelangan tangannya dengan cepat


Jacob yang pada dasarnya sangat peka dan sensitif dengan sekelilingnya menyadari ada seseorang yang akan menyentuhnya.


Pria itu membuka matanya lalu membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk. Sorot matanya menatap tajam Angeline.


"Jacob...". Angeline masih berusaha melepaskan genggaman pria itu yang cukup menyakiti pergelangan tangannya


Menyadari itu Jacob segera melepas genggamannya.


"Jac—".


"Duduk !". Perintah Jacob dengan cepat tanpa memberi waktu Angeline melanjutkan perkataannya


Angeline menatap Jacob dengan bingung.


"Aku tidak suka mengulangi perkataan yang sama untuk kedua kalinya Angeline Arberto !". Ucapnya terdengar tidak bersahabat


Jacob jelas ingat bagaimana kondisi kamar ini yang berantakan dengan banyaknya serpihan kaca akibat ulahnya beberapa jam yang lalu.


Bukannya duduk, Angeline masih tetap berdiri menatap Jacob penuh pertanyaan.


Jacob menghembuskan nafasnya kasar lalu menarik pinggang Angeline dengan cepat agar duduk disebelahnya.


Angeline yang tidak siap tentu saja terkejut dengan aksi Jacob barusan.


"Jac—". Angeline tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika matanya bertemu dengan sorot mata tajam dari Jacob


"Hissshh, sejak kapan aku takut dengan sorot matanya ?". Batinnya menggerutu


"Ma—af, Tuan Muda jika kami sudah menganggu istirahat Anda. Kami akan membawa nona ini pergi". Ucap salah seorang pria yang ikut masuk bersama Angeline


"Pergilah !". Titah Jacob


Mendengar itu mereka segara membungkuk pamit undur diri dengan beribu pertanyaan tentang siapa Angeline ?.


Tidak hanya mereka yang hendak keluar, Angeline juga akan berdiri jika saja Jacob tidak menahan pinggangnya.


"Kalian keluarlah ! Minta petugas kebersihan untuk membersihkan ruangan ini ! Bawa juga kotak P3K". Ucap Jacob sembari memberi aba - aba kepada mereka dengan tangannya


"Baik, Tuan. Kami permisi". Balas salah satu dari mereka mewakili yang lainnya


Ceklek....


Setelah mereka semua pergi, Jacob menatap Angeline dari atas sampai bawah seolah sedang mencari sesuatu.


"Jacob !". Teriak Angeline menyadari Jacob menatapnya seperti ingin memakannya hidup - hidup


"Ada apa ?". Tanyanya santai


Angeline tergelak dengan reaksi Jacob barusan.


"Tidak panas". Ucapnya menyentuh jidat pria itu


"Ini juga tidak panas".


"Suhu tubuhmu normal, detak jantungmu juga normal sepertinya". Ucap Angeline terus menerus seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya


Jacob membiarkan Angeline menyentuh beberapa bagian tubuhnya tanpa melarang sedikitpun.


Angeline diam dengan pemikirannya menilai keanehan terhadap Jacob yang dirasakannya.


"Aku mer—".


Tok... Tokk... Tokkk...


"Masuk !". Ucap Jacob sedikit keras


Ceklek...


"Permisi, Tuan...". Ucap dua orang petugas kebersihan begitu masuk dengan membawa peralatan mereka


Jacob menganggukkan kepalanya pertanda mengizinkan mereka melakukan tugasnya.


"Kotak P3K ?". Tanya Jacob tanpa basa basi


"I—ni, Tuan". Ucap salah satu dari wanita itu dengan memberikan kotak yang dimaksud Jacob


Jacob mengambil kotak itu lalu mengangkat salah satu kaki Angeline ke pahanya sebagai bantalan tanpa permisi terlebih dahulu.


"Ehh...". Pekik Angeline refleks terkejut dengan aksi Jacob


"Apa yang kau lakukan, Jac ?". Tanyanya tidak tahu kenapa pria itu mengangkat kaki kanannya


Jacob tidak memperdulikan itu dirinya mulai membuka kotak itu dan mengeluarkan satu persatu yang dibutuhkannya.


"Ceroboh !". Tutur Jacob dengan menggelengkan kepala


Angeline yang tidak tahu kenapa dengan pria itu hanya diam saja.


"Ada ap— awshhh". Angeline meringis pelan saat tanpa aba - aba Jacob menarik serpihan kaca kecil dikakinya


"Kenapa sejak tadi aku tidak merasa kakiku terluka ? Bagaimana bisa pria ini menyadari hal yang bahkan aku sendiri tidak menyadarinya ?". Gumam Angeline


"Jacob. Aku bis—".


"Apakah sulit untukmu sekali saja menurut kepadaku ?". Tanya Jacob yang mulai mengoleskan obat merah ke kulit kaki Angeline


"Bukan begitu, Jac. Aku han—".


"Sudah !". Lagi - lagi Jacob dengan cepat memutus perkataan Angeline dengan menurunkan kaki wanita itu secara perlahan


"Terima kasih". Tutur Angeline dengan tulus yang mendapat anggukan kepala pria itu


"Jacob !". Angeline mulai kesal berhadapan dengan pria irit bicara seperti Jacob


Jacob mengernyitkan alisnya menatap Angeline heran.


"Aku ingin bicara !". Sambung Angeline


Hening


Tidak ada tanggapan apapun dari Jacob semakin menambah kekesalan Angeline sampai wanita itu mengatakan sesuatu yang dipendamnya sejak tadi.


"Aku ingin segera kembali ke Los Angeles. Pekerjaan dan pasien - pasienku sudah menanti kehadiranku disana, Tuan Jacob yang terhormat !". Ujarnya dengan cepat tidak ingin didahului oleh Jacob lagi


"Maxime sudah ada disana jika kau lupa". Ucap Jacob menyeringai penuh arti


"Maxime ?". Ulang Angeline seperti tidak asing dengan nama itu


Jacob menganggukkan kepalanya.


"Astaga. Apa dokter yang bertugas menggantikanku satu minggu ini yang dimaksud Jacob ?". Batin Angeline menyadari nama itu dengan cepat


"Kau tidak serius dengan perkataanmu untuk menghentikanku dari rumah sakit kan, Jac ?". Angeline menatap pria itu dengan horor


Jacob menunjukkan senyum tipisnya melihat Angeline yang dengan cepat menyadari sesuatu.


"Lihat saja nanti". Jawabnya santai


"Jacob !". Pekik Angeline tidak peduli akan didengar oleh petugas kebersihan itu


Jacob tersenyum setipis mungkin melihat kekesalan diwajah Angeline.


"Kau akan disini menemaniku selama empat hari. Setelah itu aku akan mempertimbangkan posisimu dirumah sakit harus diganti atau tidak". Ujar Jacob kembali duduk


Sementara Angeline menatap horor pria itu karena memutuskan hal itu secara sepihak tanpa membicarakan apapun dengannya.


"Tidak mau !".


"Aku ingin kembali sekarang juga !". Sambungnya


Mendengar itu Jacob segera merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"..."


"Angeline Arberto. Aku ingin nama itu dihapus dari daftar dokter bedah di rum—". Belum sempat melanjutkan perkataannya Angeline lebih dulu mengambil ponsel pria itu tanpa takut


Klik


"Kau ini apa - apaan, Hah ?". Ucapnya dengan kesal


"Well, aku hanya melakukan apa yang menjadi keputusanmu". Ujarnya


"Keputusan apa ?".


"Kau ingin kembali sekarang bukan ?". Angeline menganggukkan kepalanya dengan cepat


"Itu artinya namamu akan dihapus dari daftar dokter bedah di rumah sakit internasional saat itu juga". Ucap Jacob menyeringai tipis


Angeline membulatkan matanya penuh keterkejutan.


"Are you kidding, Me ?".


Jacob menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak bisa begitu, Jac ! Aku sudah menghabiskan tiga tahunku mengabdi di bidang itu !". Ucap Angeline tidak terima dengan keputusan sepihak Jacob


"Pilihan ada ditanganmu, Mrs.Xanders". Tutur Jacob menyeringai


"Sialan ! Jacob Fucking Xanders ! Beraninya mempermainkanku !". Gumamnya memaki Jacob


Jika Angeline dan Jacob sibuk berdebat maka lain halnya dengan dua petugas kebersihan yang secara jelas mendengar Jacob menyebut Angeline dengan kata Mrs.Xanders.


Mereka saling pandang satu sama lain ingin sekali bertanya tapi tidak punya keberanian jika berhadapan dengan sang penguasa itu.


"Fine !".


"Aku akan menemanimu disini. Puas kau !". Sambungnya dengan membuang muka tidak ingin menatap Jacob


Jacob hanya menyeringai tipis mendengar pilihan terakhir Angeline.


Hening


Setelah perdebatan mereka tadi terjadi keheningan saat ini diantara mereka.


"Aku akan kembali ke kamar sebelah". Ucap Angeline sudah berdiri dari duduknya


"Tidak ingin tahu ada dimana kita saat ini ?". Tiba - tiba suara Jacob menghentikan langkah Angeline


"Aku tidak peduli lagi !". Balas Angeline dengan datar lalu melanjutkan langkahnya


"Nyonya...". Sapa dua petugas kebersihan itu dengan sopan setelah mendengar penuturan Jacob tadi membuat mereka benar - benar menganggap Angeline adalah Mrs.Xanders


Angeline yang sudah sangat kesal tidak memperdulikan sapaan mereka yang memanggilnya dengan sebutan nyonya.


"Kalian bisa pergi jika sudah selesai membersihkan tempat ini !". Suara Jacob menghentikan tatapan mereka yang menatap langkah Angeline sejak tadi


"Ba—baik, Tuan". Ucap mereka bersamaan dengan cepat membersihkan sisa - sisa serpihan kaca yang ada


"Benar - benar menggemaskan". Kekeh Jacob berjalan masuk ke dalam kamar mandi di ruangan itu


Sementara Angeline terlihat sangat kesal dengan pilihan yang diberikan Jacob membuka kasar pintu kamar pribadi itu.


Blam...


"Kapan aku bisa terbebas dari jeratan iblis itu ?". Teriak Angeline tanpa peduli orang - orang diluar sana akan mendengarnya


Tok... Tokk...


Dengan cepat Angeline membuka pintu itu.


"Maaf mengganggumu, Nyonya. Tuan Muda meminta Anda bersiap - siap. Anda hanya punya waktu tiga puluh menit untuk bersiap - siap". Ucap seorang pria dengan sopan


"Hmm". Hanya itu tanggapan yang Angeline berikan


Pria yang bertugas menyampaikan perintah Jacob itupun berlalu dari hadapan Angeline.


Blamm...


Lagi - lagi Angeline menutup pintu itu dengan kasar tidak peduli pintunya akan rusak.