
Los Angeles — USA
Xanders Mansion
"Dad, Mom. Kalian kemari ?". Sapa Jesslyn mendekati kedua mertuanya yang sudah tidak muda ini lagi sedang duduk di ruang tamu mereka
Jesslyn dengan cepat memeluk ibu mertuanya melepas rindu mereka yang sudah satu minggu lebih tidak bertemu lagi.
"Iya, Nak. Kami sudah lama tidak mengunjungi mansion ini, benarkan. V ?". Ungkap Sia
"Hmmm".
"Dimana suamimu ?". Tanya Victor
"Diruang kerjanya, Dad". Jawab Jesslyn
"Akan aku panggilkan". Sambungnya
"Tidak perlu, daddy yang akan kesana". Ucap Victor segera berjalan ke tempat yang disebutkan menantunya
"Apa semuanya baik - baik saja, Mom ? Sepertinya ada yang membuat daddy resah, right ?". Insting Jesslyn menyadari perubahan sikap ayah mertuanya
"Kau memang yang paling peka memahami kondisi sekitarmu persis seperti Jacob". Tutur Sia mengelus pipi menantunya
"Mom". Seru Jesslyn membalas dengan menggenggam tangan Sia
"Biarkan mereka yang menyelesaikan lebih dulu, nak. Nanti juga kita akan tahu". Ujar Sia lembut
"Oh ya, apa Jacob ada ?". Sambungnya
"No, Mom. Anak itu jarang di mansion ini lebih suka di mansionnya sendiri". Jawab Jesslyn
"Huftt, Anak itu ya. Tidak ada bedanya dengan grandpanya. Suka hidup terpisah".
"Mommy tahu sendiri bukan. Jacob bagaimana sejak kecil ?". Kekeh Jesslyn
"Memikirkan Jacob tidak akan ada hasil apapun, Mom. Tetap sama. Bagaimana jika mommy membantuku membuat kue kesukaan daddy dan Jonathan". Ujar Jesslyn sembari menatap Sia puppy eyes
"Kau memang pintar membuat seseorang lemah menatap matamu, nak. Ayo". Tutur Sia terkekeh
Mereka berdua bergegas menuju dapur untuk mulai berperang dengan pertepungan.
Sementara Victor sudah berada di ruang kerja putranya.
"Ada yang daddy pikirkan saat ini ?". Tanya Jonathan
"Aku tahu kau juga pasti memikirkan hal yang sama, Jo. Mengingat ini dari sumber yang sama juga". Sahut Victor
"Leo and Lio, right ?". Tebak Jonathan
Victor menganggukkan kepalanya.
"Daddy sudah lama curiga dengannya. Tapi mata bayanganku tidak pernah mendapati Leo bertingkah aneh. Cuma minggu lalu saat dia menginap di mansion ku tengah malam dia pergi dengan setelan rapi. Aku melihat itu sendiri untuk pertama kalinya". Jelas Victor panjang lebar
"Clubbing Dad, maybe ?". Balas Jonathan
"No, Jacob menjauhi tempat itu karena dia membuat tempat khusus dimansionnya untuk clubbing bersama temannya". Ujar Victor
"Lalu ?".
"Kau mengerti maksudku, Jo ! Jangan berpura - pura bodoh". Kesal Victor
Mendengar itu Jonathan hanya tertawa menanggapi daddy nya.
"Kita tunggu saja tersangkanya pulang, Dad. Biasanya sebelum berangkat kekantor, Jacob selalu datang ke mansion untuk menyapa mommy nya". Ujar Jonathan
"Only his mom ?". Sinis Victor
"Yeah, only that". Jawab Jonathan santai
"Kami kaum pria mana ada kegiatan kunjung mengunjung seperti itu. Aku saja sewaktu muda tidak pernah mengunjungimu. Benarkan, Dad ?". Jelas Jonathan terkekeh setelahnya
Victor membalas perkataan putranya dengan datar.
"Itu karena kau tinggal di mansion yang sama, sialan !". Sarkas Victor
Gelak tawa Jonathan terdengar kencang. Dirinya suka sekali membuat daddy nya itu emosi. Seperti kelucuan dimatanya.
"Salahkan siapa yang tidak pernah memberiku izin tinggal terpisah". Ucap Jonathan
"Hmmm".
"I'm sorry, Dad. Jangan emosi terus. Tidak baik untuk kesehatanmu. Kita tunggu saja cucu kesayanganmu datang". Pungkas Jonathan menanggapi deheman khas seorang Victor Xanders
...****************...
Los Angeles — USA
Angeline mulai membiasakan diri dengan kehidupannya sekarang yang selalu dikelilingi sorotan blitz kamera berbagai jenis.
Menghindar terus menerus juga tidak memberi efek apapun yang ada justru menghambat aktivitasnya.
Tepatnya setelah kejadian dimana Jacob menjemputnya karena dirinya melupakan jadwal operasi besar hari itu. Angeline memilih berdamai dengan keadaanya sekarang.
Hanya satu yang sebisa mungkin dia hindari untuk sekarang—Keluarga Xanders !.
Angeline sadar berurusan sekecil apapun dengan keluarga itu bisa menariknya sebesar ini. Benar - benar pengaruh mereka sangat besar.
Seperti saat ini dirinya sedang berbelanja di supermarket terdekat dengan distrik apartmentnya. Banyak orang memperhatikan bahkan merekamnya dengan ponsel mereka.
"Di era sekarang apapun bisa menjadi sumber uang. Mengirim satu foto saja bisa menghasilkan uang, ck". Angeline bermonolog mengomentari kegiatan disekelilingnya
"Lihat itu. Bukankah dia wanita beruntung itu ?".
"Ternyata dilihat secara langsung sangat cantik. Di foto yang tersebar saja dia sudah cantik. Ditambah lagi melihatnya langsung".
"Jujur aku sebagai seorang wanita benar - benar iri dengan kesempurnaan wajah dan tubuhnya".
"Sangat cocok bersanding dengan Tuan Muda Xanders".
"Aku terpesona dengan aura kecantikannya".
Begitulah ucapan - ucapan mereka yang Angeline dengar namun diabaikannya.
"Sarah benar. Mulai sekarang aku harus memakai masker kapanpun dimanapun agar orang - orang ini tidak mengenaliku". Batin Angeline
Saat dirasa apa yang diperlukannya sudah lengkap Angeline beranjak ke kasir untuk membayar belanjaannya.
"Totalnya sat—". Kasir itu menjeda ucapannya kala menatap Angeline lekat
"Bukankah Anda calon nyonya Xanders itu ?". Ucapnya dengan keras membuat pengunjung lainnya menatap Angeline lebih lekat
"Sial sekali. Kenapa dia harus berteriak seperti itu. Tidak cukup kah mereka sebelumnya sudah merekamku. Sekarang ditambah ini lagi, Oh God". Batin Angeline berteriak frustasi
"Hmm, bu—kan aku. Anda salah orang". Jawab Angeline cepat
"Maaf, bisa beritahu aku jumlahnya berapa ? Aku masih ada pekerjaan". Sambungnya
"Tidak, tidak. Mana mungkin aku salah orang. Tunggu sebentar". Ujarnya seperti sedang mencari sesuatu
"Nah ini. Kan mirip ! Aku tidak salah orang. Wahh. Bisa kita berfoto, Nona ?". Soraknya histeris semakin menarik perhatian yang lain
"E—ehh. Maaf tapi Anda salah orang, Permisi". Ucap Angeline dengan cepat berlalu pergi tanpa membayar dan membawa barang belanjaan yang dibutuhkannya itu
Semakin banyak orang yang memotret dan merekam Angeline saat berlalu dengan cepat meninggalkan supermarket itu.
Angeline tidak memperdulikan teriakan itu dirinya terus berjalan menjauhi kerumunan itu agar bisa bebas dari suasana yang menurutnya gila.
"Yes, aku dapat satu foto yang bagus".
"Satu foto yang sangat mahal ini".
"Yeah, videoku blur".
"Oh My Godness. Look at this. Wajah dan tatapannya benar - benar sempurna".
"Aku bisa dapat berapa ya dari satu foto wanita ini ?".
Ucap orang - orang yang berhasil merekam dan memotret Angeline tadi.
Angeline memilih kembali ke Apartmentnya. Niat ingin me time setelah berbelanja nanti malah batal karena moodnya uang hancur.
"Benar - benar sial sekali berurusan dengan The Devil Prince itu !". Angeline memaki Jacob sebagai tersangka utama
Sampai di lobby apartmentnya Angeline tetap melihat banyak reporter yang menunggu disana seolah tiada kata bosan mencari tanggapan Angeline akan rumor itu.
"Kenapa hari ini semua orang menyebalkan !". Umpat Angeline kesal dengan langkah besar menerobos kerumunan itu dibantu dengan beberapa security yang bergegas membantunya
"Look at this. Pagi yang seharusnya aku lewati dengan full senyum. Hilang sudah. Rasanya aku jadi malas berangkat ke rumah sakit siang ini". Ucapnya saat sudah masuk ke unit apartmentnya
Ya, hari ini Angeline masuk siang. Karena memang begitu jadwalnya sekarang. Setiap hari rabu dan sabtu dirinya selalu masuk kerja jam satu siang.
...****************...
Los Angeles — USA
Xanders Mansion
Sia dan Jesslyn masih sibuk dengan kegiatan membuat kue yang mereka lakukan.
Sementara Victor dan Jonathan masih tetap menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
"Jacob belum datang juga, nak ?". Sia bersuara saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan tiga puluh
"Entahlah, Mom. Biasanya jam tujuh pagi Jacob sudah kemari". Ujar Jesslyn yang juga heran
"Apa anak itu tahu pagi ini ada kami di mansion kalian ?". Tutur Sia
"Aku rasa tidak, Mom. Ingatlah mom. Anak itu datang tanpa diminta, tidak akan datang jika diminta. Begitulah tingkahnya". Jelas Jesslyn setenang mungkin
"Tapi biasanya dia selalu kemarikan ?". Tanya Sia belum puas
Jesslyn menganggukkan kepalanya.
"Huftt anak itu benar - benar ya !". Seru Sia kesal
Jesslyn tersenyum menanggapi kekesalan ibu mertuanya.
Selang beberapa menit dering telepon mansion terdengar.
Drt... Drt... Drt...
Drt... Drt... Drt...
"Angkatlah dulu teleponnya, nak. Sini biar mommy yang urus kue itu". Tutur Sia beranjak mengambil alih kegiatan Jesslyn
Drt... Drt...
Klik
"Halo, dengan Jesslyn Xanders disini". Ucap Jesslyn lembut
"Ny—nyonya !". Terdengar keterkejutan dari suara itu
"Halo. Siapa ya ?". Ulang Jesslyn
"Halo nyonya xanders". Sapa seseorang terdengar lebih tenang dari sebelumnya
"Iya ?".
"Kami dari rumah sakit internasional ingin mengabarkan bahwa baru saja Tuan Muda dibawa kemari menggunakan ambulance". Jelasnya dengan cepat
Deg
"Jacob ? Rumah sakit ?". Batin Jesslyn terpaku
Prangg
Jesslyn menjatuhkan telepon ditangannya itu. Sia yang melihatnya sontak mendekat dengan cemas.
"Jess ada apa ? Siapa yang menghubungimu ?". Tanya Sia
"Jesslyn ada apa ?". Ulang Sia dengan panik saat Jesslyn tiba - tiba menangis
Merasa tidak ada jawaban dari menantunya dengan cepat Sia menggapai telepon yang Jesslyn jatuhkan.
"Halo, Theresia Xanders yang bicara. Ada apa ini ? Kalian siapa ?". Ucap Sia panik
"Maaf, nyonya besar. Kami hanya ingin mengabarkan bahwa baru saja Tuan Muda dibawa ke rumah sakit dengan ambulance". Ulang seseorang dari seberang dengan sopan
"Apa !". Sia histeris
Tanpa memperdulikan apakah teleponnya sudah mati apa belum Sia melemparnya ke sofa lalu berteriak memanggil suami dan putranya.
"V !"
"Jo !"
"Cepat kemari !"
Teriak Sia dengan kencang sembari memeluk menenangkan menantunya yang menangis.
Sementara dua pria yang namanya diteriaki bergegas mendekati Sia dan Jesslyn.
Deg
Mereka berdua terpaku melihat dua wanita yang mereka cintai sedang menangis terduduk dilantai.
"Ada apa ini ? Siapa yang berani membuat mereka menangis ?". Begitulah sekiranya batin mereka bersamaan
"Mom ada apa ini ? Kenapa kalian menangis ?".
"Honey, what happend ?".
Tanya Victor dan Jonathaan bersamaan.
"Ja—Jacob !". Ucap Sia terbata
"Jacob ?". Victor bersuara
"Jacob masuk rumah sakit. Baru saja mereka memberi kabar". Ucap Sia dengan cepat mendekati suaminya
"V, ayo kita kesana. Aku khawatir Jacob kenapa - kenapa". Ajak Sia
"Of course. Ayo. Jo bantu istrimu !". Balas Victor cepat
Mereka berempat bergegas ke rumah sakit untuk menemui putra dan cucu yang sangat disayangi itu.
Mendadak Victor diselimuti rasa panik untuk pertama kalinya melebihi rasa panik saat Sia akan melahirkan Jonathan dulu.