
Los Angeles — USA
Xan's Group
Jacob berdiri menatap lurus kota Los Angeles dari gedung perkantorannya.
Ingatannya masih melayang kepada perbincangannya dengan grandpanya kemarin.
#Flasback On
Jacob menyusul Victor ke ruang kerjanya.
Ceklek
"Grandpa mendengarkanmu, Leo !". Titah Victor tanpa basa basi
"Yang dilihat tidak seperti yang sebenarnya, Grandpa". Ucap Jacob ambigu
Victor menautkan alisnya tidak mengerti.
"Ada yang bermain dan ada yang mempermainkan".
"Ternyata pemikiranmu searah denganku". Tutur Victor
"Grandpa tenang saja. Kita ikuti permainan mereka berdua hingga di titik lelahnya mereka sendiri". Ujar Jacob yang dimengerti Victor
Pada dasarnya dua orang ini bicara lewat tatapan mata saja sudah saling memahami.
Terlebih insting keduanya tidak pernah salah.
"Kau jelas tahu yang grandpa harapkan, Pemimpin X'Dragons". Pungkas Victor mengeluarkan smirknya
Jacob menatap Victor datar.
"Apa maksud grandpa ?".
"Kau sudah tahu jawabannya kenapa masih bertanya, Leo ?". Ucap Victor sama datarnya
Jacob menautkan alisnya tidak mengerti.
Setelah itu hanya keheningan menyelimuti dua pria beda generasi itu.
Tidak mau berlarut dalam jebakan grandpanya Jacob pamit undur diri.
Saat diluar Jacob berpapasan dengan orang kepercayaan grandpanya. Siapa lagi jika bukan paman Liu.
"Tuan muda". Sapa pria seumuran grandpanya itu
Jacob menganggukkan kepalanya saja berlalu menjauhi ruang kerja Victor.
"Sorry, Grandpa. Belum saatnya aku menunjukkan jati diriku meski tanpa dicegahpun grandpa sudah lebih dulu mengetahuinya. My Lord". Batin Jacob tersenyum devil.
#Flasback Off
Jacob terus memikirkan perihal kemarin saat du mansion utama Hingga lamunannya berakhir dengan terbukanya pintu ruangan itu dengan keras.
Ceklek
Blam
Jacob menolehkan kepalanya menatap pelaku yang masuk tanpa permisi itu.
"Tidak bisakah sehari saja jangan mengusikku, Tuan ?". Ucap seseorang yang masuk ke ruangan itu dengan kesal
"Rumor tentang kita juga masih menjadi konsumsi publik. Tolonglah kerja samanya kali ini Tuan Jacob yang terhormat". Sambungnya
Hening
Jacob memilih diam saja tanpa bersuara satu katapun selama beberapa menit hingga terdengar lagi kekesalan wanita dihadapannya.
"Ck, aku bicara dengan patung ternyata". Sindirnya
Lima menit sudah berlalu Jacob masih tetap bungkam.
"Huftt jika tidak ada yang ingin dibicarakan mengapa mengirim orangmu untuk menjemputku, hah ? Buang - buang waktu istirahat ku saja". Kesalnya sudah dipuncak teratas
Ketika hendak melangkah mencapai handle pintu dengan cepat Jacob bersuara.
"Ruby !". Tahan Jacob cepat
Deg
Ya, wanita yang masuk ke ruangan Jacob tadi adalah Angeline Ruby Arberto. Wanita yang setiap saat harus terjerat dengan Jacob.
Angeline menatap tajam Jacob tidak suka dengan panggilan itu.
"Bisa panggil aku Angeline saja ?". Serunya terdengar tidak bersahabat
Jacob mengeluarkan smirknya persis seperti seorang psikopat.
"Mike !". Panggil Jacob dari interkom yang terhubung langsung dengan asisten pribadinya itu
Ceklek
Pria itu masuk setelah Jacob menghubunginya.
"Wow, gerak cepat ya". Kagumnya menatap kecepatan Mike mematuhi perintah Jacob
"Nona". Sapa Mike ramah saat meihat Angeline sudah duduk kembali di hadapan Jacob
Angeline tersenyum menganggukkan kepalanya tak kalah ramah dari Mike.
"Berkasnya, Tuan". Ucap Mike memberikan berkas kepada Jacob
"Siapkan rapatnya, Mike !". Titah Jacob setelah memeriksa berkas yang diberikan asistennya itu
"Baik, Tuan". Mike beranjak keluar melakukan perintah Jacob
"Kau ada rapat ? Lalu mengapa memintaku kemari ?". Angeline kembali kesal Jacob benar - benar membuang waktu paginya
Sementara Jacob terkekeh melihat kekesalan Angeline.
Entah sejak kapan membuat dan melihat Angeline kesal adalah cara menghilangkan rasa lelahnya.
"Aku pergi saja". Angeline sudah berdiri namun ditahan Jacob
"Ck, Jangan menahanku, Tuan !". Kesal Angeline berusaha melepaskan cekalan Jacob
"Kau mau kemana ?". Akhirnya Jacob bersuara
"Pulang tentu saja. Kemana lagi ?". Angeline menautkan alisnya
"Tetap disini. Lima menit lagi aku kembali". Titah Jacob sudah berdiri melepaskan cekalannya pada tangan Angeline
"Tidak mau !". Ucap Angeline berjalan mendekati pintu
"Tetap disini atau ancamanku mulai berlaku lagi !". Seru Jacob datar
Deg
"Sial, aku lupa tentang itu, ck. Pria ini suka sekali memanfaatkan kelemahanku". Batin Angeline memaki Jacob
"Aku menunggu disini sedangkan anda sendiri rapat ? Begitu maumu ?".
Jacob diam tidak memberi tanggapan apapun.
"Pokoknya aku tidak mau !". Angeline mulai berontak
"Selain menyia - nyiakan waktuku dia juga ingin membuatku kebosanan, sialan". Angeline kembali mengumpat Jacob
"Simpan dulu umpatanmu itu, Ruby". Kekeh Jacob
Angeline menatap Jacob sengit seperti musuh. Benar - benar tanpa takut sama sekali.
"Aku tetap tidak ma—".
Tok... Tok... Tok...
Jacob berjalan membuka pintu ruangannya hendak keluar. Tanpa bersuarapun Jacob tahu siapa yang mengetuk pintunya.
"Tetap disini sampai aku kembali lima menit lagi, mengerti ?". Seru Jacob sebelum keluar
Ceklek
"Jacob Fucking Xanders ! Awas kau ya !". Maki Angeline kesal dalam hati.
Tentu saja dalam hati mana berani Angeline mengumpatnya di ruangan ini mana tahu ada kamera tersembunyi mengingat pria itu sulit ditebak.
Sepuluh menit berlalu, Jacob masih belum menunjukkan batang hidungnya.
"Tetap disini sampai aku kembali lima menit lagi, mengerti ?". Angeline meniru perkataan Jacob dengan menggerutu
Hingga dua puluh menit berlalu tidak ada tanda - tanda Jacob akan kembali Angeline memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu tidak memperdulikan ancaman Jacob sebelumnya.
Blam
Angeline menutup dengan kencang pintu itu tidak peduli tatapan terkejut beberapa pria yang berjaga di lantai itu melihat aksinya.
"Berlebihan sekali. Presiden saja tidak ada tuh dijaga dengan ketat seperti ini". Angeline tidak henti - hentinya mengumpat Jacob
"Anda mau kemana, nona ?". Tanya bodyguard yang tiba - tiba mendekati Angeline seperti menghalangi langkahnya
"Bukan urusanmu !". Jawab Angeline ketus
"Maaf, Nona. Sesuai perintah tuan Anda tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum tuan kembali". Ujar pria itu sopan
"Ck, perintahnya tidak berlaku untukku ! Awas !". Angeline melawan pria yang menghalanginya
"Aku bilang awas. Menyingkirlah jangan menghalangiku. Atau aku akan—".
"Akan apa, Ruby ?". Jacob sudah berdiri tegap dihadapannya diikuti beberapa staff dibelakangnya
Mereka menatap Angeline terkekeh kecil. Baru kali ini mereka melihat ada wanita yang berani melawan perintah tuannya.
Deg
Angeline menunduk kikuk setelah melihat banyaknya orang yang mengikuti Jacob kelantai ini.
"Ck, dilihat asistennya saja aku malu apalagi sebanyak ini. Mau taruh dimana mukaku, Sialan". Gumam Angeline
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Jacob mendekati Angeline yang berusaha melawan bodyguardnya.
"Kau tidak mendengar perintahku, Ruby ? Mencoba membangkang, Eh ?". Ucap Jacob datar
"Kau membuang waktuku, membuatku kebosanan menunggumu didalam sana yang katanya akan kembali dalam lima menit itu". Sindir Angeline
"Jadi menunggu membuatmu bosan, Ruby ? Lalu bagaimana dengan hari - harimu satu minggu ini menunggu masa skorsmu berakhir ?". Jacob sengaja menakan kata skors
"Ingin sekali aku menampar wajah datarnya itu. Jangan lupakan mulut tajamnya itu juga. Sialan". Batin Angeline menatap Jacob seperti musuh
"Bukan urusanmu !". Seru Angeline sedikit kencang
"Minta bodyguardmu minggir. Aku ingin pulang !". Sambungnya semakin kesal
Hening
Tidak ada yang berani bersuara setelah mendengar Angeline memerintah Jacob.
"Baru kali ini ada yang berani memerintah, Tuan muda".
"Aku akui wanita ini sangat pemberani".
"Perfecto. Tuan muda mendapat lawan yang seimbang".
"Beraninya dia membangkang seperti itu".
"Aku rasa wanita ini wanita pertama yang tidak pernah mau berlama - lama disekitar Tuan. Sangat berbeda dengan wanita lainnya".
Batin mereka mengomentari keberanian Angeline menghadapi Jacob.
"Mike !". Bukannya menjawab Angeline, Jacob justru memanggil asistennya.
Mike yang mengerti panggilan itu dengan cepat membawa staff itu ke ruangannya untuk mulai berdiskusi mengganti Jacob.
Sementara Jacob menarik tangan Angeline menuju lift eksekutifnya.
Tanpa.bicara apapun Jacob membawa Angeline turun ke lobby perusahaannya.
"Kau mau membawaku kemana ? Tidak bisakah jangan menyeretku ke hadapan publik bersamamu, ck". Gerutu Angeline saat mereka sudah hampir sampai di pintu utama perusahaan raksasa itu
"Diam ! Kau ingin pulang bukan ?". Ucap Jacob sedikit membentak
"Iya. Aku bisa pulang sendiri". Angeline berusaha melepas pegangan tangan Jacob padanya
Semakin Angeline berusaha melepasnya semakin erat Jacob memegangnya.
"Kau yakin bisa pulang sendiri ?". Tanya Jacob dengan memainkan matanya memberi kode Angeline melihat keluar
Deg
"Astaga bagaimana mereka semua tahu aku ada disini". Gumam Angeline berteriak
Lagi - lagi dirinya harus terjebak diantara banyaknya reporter dan sorot kamera saat bersama Jacob.
"Masih ingin pulang sendiri, Ruby ?". Jacob terkekeh melihat reaksi Angeline
"Kapan aku bisa terbebas dari jeratan devil ini dan kamera yang mengikutinya, Tuhan". Batin Angeline mengeluh
"Berada disekitarmu membuatku kesulitan bergerak bebas". Bisik Angeline saat mereka sudah keluar dan menuju mobil Jacob
Lagi - lagi Jacob terkekeh pelan menanggapi ocehan Angeline.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Suara dari kamera yang menyoroti mereka mulai terdengar.
Jacob memeluk Angeline erat menutupinya dari blitz kamera para reporter itu.
"Tuan apa benar kalian akan segera menikah ?".
"Nona tolong sekali saja beri tanggapan mengenai rumor diantara kalian".
"Apakah rumor kehamilan itu benar ?".
"Apa kalian muncul ke publik karena ada insiden diantara kalian, Nona ?".
"Apa benar kabarnya jika Nona Jessica akan lebih dulu naik pelaminan, Tuan ?".
"Apa benar anda anak yatim piatu, Nona ?".
Deg
Kalimat terakhir yang Angeline dengar membuatnya semakin menunduk.
Jacob menyadari perubahan Angeline pun menatap tajam mereka semua. Untuk pertama kalinya Jacob mau menatap orang yang meliputnya dari dekat.
"Jika aku mendengar satu kalimat yang sama lagi. Ku pastikan perusahaan kalian hancur !". Ancam Jacob sebelum masuk ke mobilnya
Mendengar ancaman Jacob seketika mereka semua mundur. Siapa yang tidak takut dengan ancaman itu.
Semua orang pasti akan mundur jika sudah mendapat ultimatum dari seorang Jacob Xanders.
Setelah masuk kedalam mobil. Jacob mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran kantornya.
"Tidak usah dipikirkan perkataan reporter sialan itu". Ujar Jacob menatap Angeline sesekali
Hening
Angeline diam saja mulai membuat Jacob naik pitam mengerti kemana fokus wanita disampingnya ini.
"Ruby". Panggil Jacob lembut
Tes
Airmata Angeline perlahan menetes. Rasa perih dihatinya saat ini melebihi sakit disaat orang - orang memfitnahnya.
"Apa harus mencari tahu sampai sedalam itu ? Bagaimanapun mereka benar. Aku anak yang sudah kehilangan orangtuanya". Cicit Angeline pelan
Jacob mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Angeline.
Terlebih melihat airmata Angeline membuatnya semakin emosi.
"Mereka akan mendapat kejutan sebentar lagi. Aku pastikan itu". Ucap Jacob terdengar ambigu bagi Angeline
Angeline mengabaikan perkataan Jacob, dirinya terus teringat dengan pertanyaan reporter tadi.
Sementara Jacob berubah pikiran. Niatnya ingin mengantar Angeline ke apartmentnya sirna sudah. Sekarang mereka sedang menuju mansion utama tanpa Angeline sadari rutenya berbeda.
Jacob yakin saat disana nanti Angeline akan melupakan kesedihannya karena sudah bersama Sia.
"Maafkan aku, Ruby. Aku janji ini terakhir kalinya mereka bersuara". Batin Jacob
"Angeline rindu kalian. Mom, Dad". Batin Angeline