
Las Vegas — USA
"Dimana bocah itu ?". Tanya Phillip yang baru saja tiba di markas utama Klan X'Dragons
"Ruang 1, Tuan". Jawab salah seorang yang bertugas berjaga di sana
Mereka semua sangat hafal siapa bocah yang di maksud.
Brakk
Phillip sengaja membuka pintu itu dengan kasar.
"Oh My Gosh". Kaget salah satu pria di ruangan itu
"Jantungku ti—". Ucapannya terpotong saat melihat Phillip masuk dengan wajah sangarnya
Glek
"Apa aku melakukan kesalahan lagi ? Apa Master akan menghukumku karena membuatnya masuk rumah sakit ?". Batinnya berperang dengan akal sehatnya
Siapa yang tidak takut jika sudah berhadapan dengan wakil pimpinan mereka ini. Phillip dikenal memiliki sifat yang hampir menyerupai Jacob.
Terlampau dingin dan menyeramkan jika bersitatap dengan mata tajam mereka.
"Tu—an Phillip". Sapanya berusaha menghilangkan rasa takut yang menyelimutinya saat ini
"Sial, padahal sejak tadi aku biasa saja selama ada Alex dan Mark. Tetapi sekalinya muncul Tuan Phillip kenapa aku jadi setakut ini". Sambungnya membatin
"Bagaimana keadaanmu ?". Tanya Phillip
Mereka tercengang heran apakah dihadapan mereka saat ini benar Phillip De Nielson ?
"Apa kepalanya terbentur sesuatu sebelum kemari ?". Batin Mark
"Wah aku dapat jackpot bagus hari ini. First time aku melihat dan mendengarnya menanyakan kabar seseorang". Batin Alex
Phillip menyadari orang - orang diruangan ini menatapnya tidak percaya.
"Kebetulan sekali Jaclerss sedang mode on. Apa ada yang bisa disumbangkan salah satu diantara kalian ?". Ucap Phillip terdengar ambigu
Tapi tidak untuk mereka bertiga yang paham betul maksud perkataan Phillip.
"A—ku sudah baik - baik saja, Tuan". Jawab Vincent cepat
Ya, bocah yang dimaksud Phillip adalah Vincent. Mengingat pria itu menjadi anggota X'Dragons yang termuda. Usianya jauh dibawah yang lainnya.
Anggap saja seperti anak SD masuk kawasan anak SMA. Vincent memilih mengabdi pada Klan itu untuk merubah takdir hidupnya.
Takdir kelamnya sebelum dibawa Jacob ke dalam kubangan gelap yang tidak pernah membiarkannya keluar.
Setidaknya bersama Jacob dirinya perlahan bangkit meski seharusnya dirinya menikmati kenakalan di sekolah bersama anak - anak seusianya.
Melupakan sedikit kenyataan mengenai Vincent. Kini sang empu menatap Phillip sedikit takut.
"Seharusnya begitu mengingat kau bukan korban utamanya". Sindir Phillip
"Setidaknya aku berguna. Ya begitulah kata Master". Bangga Vincent dalam hati
"Malam ini kalian pergi ke Los Angeles. Temui Master di mansionnya !". Seru Phillip
"Apa kita ada kegiatan, Tuan ?". Mark mendekati Phillip
"Kalian akan tahu sendiri jika sudah bertemu Master". Ucap Phillip beranjak keluar begitu saja
"Aku rasa otaknya terbentur sesuatu, Lex". Ujar Mark setelah Phillip tidak terlihat lagi
"Ya, kau benar. Atau otaknya tertinggal di mobil". Kekeh Alex dan Mark
"Mereka ini ternyata sama saja. Berani dibelakang orangnya". Komentar Vincent dalam hati
Ting !
Dering ponsel menghentikan tawa mereka.
Alex memeriksa ponselnya karena bunyi itu berasal dari miliknya.
Glek
Alex menelan ludahnya kasar melihat nama pengirimnya.
"Tuan Phillip. Mati aku". Batin Alex
Dengan cepat Alex membuka pesan yang dikirim Phillip.
Tuan Phillip
"I can see you all"
Glek
Lagi - lagi Phillip menelan kasar ludahnya. Matanya melirik kiri kanan mencari keberadaan Phillip.
Mark dan Vincent heran melihat Alex yang sedikit gemetar setelah membaca pesan yang masuk itu.
"Dia kenapa ?". Batin Mark
"Kenapa mendadak dia gemetar ?". Batin Vincent ikut mengomentari Alex
"Ada apa, Lex ?". Tanya Mark penasaran
"Pelankan suaramu sialan. Sepertinya Tuan Phillip punya indra keenam". Ujar Alex pelan
"Kau ini bicara apa ? Si muka tembok itu punya indra keenam ? Yang benar saja, Lex". Ucap Mark tertawa keras mengejek Alex
"Sialan. Aku bilang pelankan suaramu ! Kau cari mati rupanya !". Gerutu Alex cepat membungkam mulut Mark dengan tangannya menghentikan tawa pria itu
"Hahaha".
Mark dan Alex menolehkan kepalanya kearah asal tawa itu.
Alex menatapnya horor sementara Mark ikut tertawa tidak memperdulikan ocehan Alex.
"Jarang - jarang aku membuatnya kesal begini. Lumayan hiburan sebelum beraksi nanti". Batin Mark terkekeh
"Aku pikir kaki tangan Master tidak ada yang bisa tertawa seperti ini selain Zayn". Gumam Vincent
Ya, wajar Vincent berpikir seperti itu. Karena semua yang berkerja dengan Jacob tidak pernah tertawa dan membuat lelucon seperti ini.
"Kau mulai berani ya !". Ucap Alex pada Vincent
Vincent memamerkan deretan giginya kepada Alex. Ya, Vincent tidak takut jika berhadapan dengan Mark dan Alex.
Lain halnya jika berhadapan dengan Jacob, Mike dan Phillip. Dalam bayangannya seperti menghadapi malaikat maut jika dihadapan mereka bertiga.
Ting !
Hening
Ketiganya terdiam mendengar itu masuk ke ponsel Mark.
Alex mulai panas dingin seolah tahu siapa pengirimnya.
Sementara Mark dan Vincent biasa saja tidak menaruh curiga apapun.
"Tuan Phillip ?". Gumam Mark mengerutkan alisnya
"Si—apa, Mark ?". Tanya Alex gugup
"Muka tembok". Jawab Mark santai
Sejak menjadi anggota X'Dragons dirinya memberi beberapa julukan kepada dua tangan kanan Jacob. Yang akan selalu membuatnya tertawa jika menyebut dua julukannya terhadap Mike dan Phillip.
"Mark !". Tegur Alex semakin kesal melihat keberanian Mark menyebut Phillip dengan julukannya
Vincent masih tertawa dengan pelan melihat kelakuan dua pria yang lebih tua darinya ini.
Sementara Mark terkekeh lalu membuka pesan yang dikirimkan Phillip kepadanya.
Tuan Phillip
"Kau sudah bosan hidup rupanya"
Mark mengerutkan alisnya tidak mengerti maksud pesan dari Phillip.
Glek
Beberapa detik kemudian Mark menyadari permasalahannya.
"Sial. Alex benar. Muka tembok ini punya indra keenam". Batin Mark
"Kenapa ?". Tanya Alex cepat melihat perubahan ekspresi Mark
"Tidak ada". Jawab Mark santai menetralkan ekspresinya
"Apa benar Tuan Phillip punya indra keenam ya ?". Batin Vincent sembari melirik kiri kanannya mencari sesuatu
"Kau ! Bersiaplah. Lepaskan juga perban dikepalamu itu. Membuatku malu menganggapmu anggota kami". Ucap Mark menunjuk Vincent
Vincent dan Alex kini mengerutkan alis mereka.
"Kau ini aneh. Tadi saja tertawa keras sekarang menjadi sok tegas". Komentar Alex
"Kau tidak ingin menjadi santapan Jaclerss bukan ?". Jawab Mark tersenyum devil
Deg
Mereka berdua terkejut mendengar itu. Seketika pikiran mereka tertuju pada satu sumber menjadi penyebab perubahan Mark ini.
"Tuan Phillip". Batin Alex dan Vincent bersamaan
Setelah itu Mark dan Alex beranjak keluar meninggalkan Vincent seorang diri di ruangan itu.
"Tangan kanannya Master memang persis seperti dirinya. Sangat mirip bahkan bayangannya juga sama". Batin Vincent merinding teringat kejadiannya bersama Jacob beberapa hari yang lalu
...****************...
Los Angeles — USA
JA Mansion
Sejak lima menit yang lalu Mike menunggu sang pemilik mansion yang tidak kunjung keluar dari kamarnya itu dengan tenang.
Ceklek
Jacob keluar kamarnya menuju tempat dimana Mike berada.
"Master". Sapa Mike berdiri
"Mereka sudah tiba ?". Tanya Jacob langsung pada intinya
"Sepertinya sedang dalam perjalanan, Master". Jawab Mike
"Phillip ?".
"Sudah berangkat ke Sisilia sore tadi, Master".
Jacob tidak menjawab atau bertanya lagi langsung berdiri.
"Ikut aku". Ajak Jacob berjalan mendahului Mike
Mike menganggukkan kepalanya sebelum mengikuti Jacob.
"Ruangan ini. Apa Master baik - baik saja ?". Gumamnya khawatir ketika melihat Jacob menuju ruangan keramat menurutnya itu
"Master ?". Mike bersuara dikeheningan yang melanda
Jacob menolehkan kepalanya dengan sorot mata yang berbeda.
Jika biasanya Jacob terlihat sangat menyeramkan jika bermain di dunia gelap. Kini kata sangat menyeramkan itu melebihi batasnya menggambarkan sosok Jacob dihadapannya ini.
Deg
Mike sudah menduga ada yang tidak beres dengan Jacob mengingat saat ini mereka menuju satu ruangan paling rahasia yang ada di mansion ini yang hanya diketahui dirinya dan Phillip.
"Siapa yang sudah berani membangunkan sisi lainnya ini ? Ck". Batin Mike tidak ada takut - takutnya menghadapi Jacob yang berbeda
Ceklek
Jacob masuk ke dalam ruangan itu lalu berdiam diri dengan membelakangi Mike tanpa mengatakan apapun kepadanya.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Hingga sepuluh menit berlalu Jacob tetap diam saja. Akhirnya Mike mulai bersuara.
"Ei . Si . Eic". Sebut Mike sembari membungkuk memberi hormat setelah menyebut itu yang seperti sebuah kode
Jacob memutar tubuhnya menatap Mike dengan senyum devil persis seperti senyum psikopat.
"Sudah lama dia tidak bangun". Batin Mike balas menatap datar Jacob
"Selesaikan semuanya sebelum tanganku yang mengakhirinya". Ucap Jacob yang terlihat berbeda dengan aura lebih menyeramkan dari biasanya
"Baik, Master". Jawab Mike berusaha santai
"Mereka terlalu kecil untuk menghadapiku, bukan ?". Sinis Jacob layaknya psikopat
"Kepalanya ! Jika tidak ada maka salah satu dari kalian yang menggantikannya". Kekeh Jacob terdengar sangat mematikan
"Phillip. Semuanya tergantung dirimu. Kau harus menyelesaikannya sialan !". Mike mengumpat kasar
"Keluarlah !". Titahnya tanpa ekspresi apapun sebelum kembali membelakangi Mike
Mike membungkukkan badannya lagi sebelum keluar meninggalkan Jacob.
Ceklek
Setelah berada di luar ruangan itu tepatnya di lorong gelap minim pencahayaan itu Mike mulai menghubungi Phillip.
Didering ketiga akhirnya Phillip mengangkat panggilannya.
Klik
"Semuanya berada ditanganmu, sialan !". Ucap Mike sengaja menekan setiap katanya
"...."
"Iya, Aku baru saja keluar dari White Room itu".
"...."
"Jangan membuat lelucon sebelum misimu selesai, Sialan !"
"...."
"Bawa kepalanya sesuai perintah Master !".
"...."
"Mereka bertiga menjadi urusanku. Kau urus saja dua bocah yang bersamamu itu !".
"...."
Ceklek
Mendengar itu dengan cepat Mike mematikan sambungan teleponnya tanpa membalas apapun perkataan Phillip yang pasti sedang memakinya saat ini.
"Master". Sapa Mike lebih ramah dari sebelumnya karena merasa saat ini Jacob sudah mode normal
"Hmm".
Hanya itu tanggapan Jacob lalu beranjak mendahului Mike menuju lantai dasar mansionnya.
"Satunya mafia berdarah dingin. Satunya lagi psikopat bertangan dingin. Ck". Gumam Mike mengomentari pria dihadapannya ini
"Master. Mereka sudah tiba sejak lima menit yang lalu". Ucap seorang pria yang memakai sarung tangan putih mendekati Jacob
Jacob tidak menjawab ataupun membalas perkataannya. Dirinya terus saja berjalan seolah tidak peduli dengan sekitarnya.
Mike menyadari Jacob yang dihadapannya masih belum sepenuhnya Jacob Xanders itu dengan cepat menarik tangan pria yang berjalan berdampingan dengan Jacob.
"Ada apa ?". Tanyanya kepada Mike
"Cari aman saja, Pak Yuan". Ungkap Mike berbisik kepada pria yang seusia Jonathan Xanders ini
Pria itu langsung mengerti maksud perkataan Mike sontak saja bungkam lalu menganggukkan kepalanya setuju.
Setelah itu mereka berdua terus mengikuti langkah Jacob dalam keheningan.
"Aku akan membicarakan ini dengan Paman Liu". Batin pria itu
Ya, pria yang disapa Pak Yuan itu adalah keponakan dari Paman Liu, sang tangan kanannya Victor Xanders sejak muda hingga mereka menua seperti sekarang.
Mengikuti jejak pamannya, Semasa mudanya Yuan juga menjadi tangan kanan dari putranya Victor Xanders yaitu Jonathan Xanders.
Seiring waktu Jonathan meminta Yuan untuk menjadi kepala pelayan di mansion Jacob putranya.
Tidak hanya menjadi kepercayaan Jonathan saja. Yuan juga menjadi orang kepercayaan Victor untuk memata - matai cucunya itu tanpa sepengetahuan Jacob.
"Kakeknya mantan mafia paling ditakuti, ayahnya memilih jalan hidup yang normal, aku rasa cucunya sepertinya mengikuti jejak kakeknya tetapi ini versi lebih menyeramkan". Gumam Pak Yuan melihat Jacob yang aura menyeramkannya melebihi sang kakek dimasa mudanya dulu