Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 36



Los Angeles — USA


Mansion Utama


"Grandma, mom". Sapa Angeline saat dirinya dan Jessica sampai di lantai dasar mansion itu


"Kemarilah, Nak". Seru Sia kepada Angeline yang hendak duduk disebelah Jesslyn


Angeline terlihat ragu untuk mendekat karena adanya Victor disebelah Sia.


"Tidak apa - apa. Kemarilah. Ada yang ingin aku katakan". Ucap Sia menyadari arah pandang Angeline


Perlahan Angeline mendekat lalu duduk di sisi kiri Sia.


Sia dengan cepat mengelus lembut tangan Angeline membuatnya keheranan.


"Kau akan di mansion ini sampai masa skorsmu berakhir, Nak". Tutur Sia


Angeline tercengang mendengar itu. Bagaimana bisa Sia mengetahui hukuman yang dijalaninya.


"Bukan Jacob, tetapi dokter Steven yang memberitahu kami". Sia bersuara lagi karena tahu alasan dibalik diamnya Angeline


Angeline menganggukkan kepalanya dengan mulut yang membentuk huruf O. Terlihat sangat lucu dimata Sia.


"Wait. A—apa maksud grandma aku akan menginap disini selama masa skorsku ?". Tanya Angeline


Sia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ten—tu saja tidak bisa, Grandma. A—ku tidak mau merepotkan kalian. Lagipula aku bih nyaman di apartmentku sendiri". Cicitnya pelan


"Jadi maksudmu di mansion ini kau tidak nyaman, Nak ?". Celetuk Jesslyn


Angeline terdiam dengan pernyataan Jesslyn.


"Bukan begitu, Mom. Hanya saja ak—".


"Tapi ini perintah Jacob, Nak. Dia bilang kau harus di mansion ini selama dia pergi ke Chicago". Tutur Sia santai


Semuanya membulatkan mata terkejut mendengar penuturan Sia kecuali Jessica yang memang tadi sempat dihubungi kakaknya.


"Apa pendengaranku bermasalah ya ? Sejak kapan Jacob mengatakan itu ?". Batin Jesslyn


"Keahliannya memanfaatkan kesempatan yang ada tidak pernah berubah sejak dulu". Gumam Victor menggelengkan kepala


"Mommy benar - benar ya. Jacob hanya mengatakan dia akan pergi ke Chicago selama satu hari saja. Tidak ada mengatakan Angeline harus di mansion ini". Batin Jonathan terkekeh pelan melihat ibunya


Sia menatap mereka semua seolah mengajak bekerja sama melalui sorot matanya seperti berkata.


"Kalian harus membantuku meyakinkan miliknya Jacob Xanders ini !". Begitulah kira - kira perintah Sia dalam diamnya


Hening


Angeline tidak menjawab lagi. Dirinya sibuk memaki Jacob kesal.


"Sialan ! Seharusnya aku tidak perlu ikut lagi ke mansion ini setelah acaranya selesai tadi". Batin Angeline berteriak kesal


"Angel...". Panggil Sia


"E—ehh".


"Bagaimana ? Apa kau mau menginap disini sampai Jacob kembali ?". Tanya Sia


"Grandma. Bagaimana ya ? Aku—".


"Jadi kau tetap tidak mau menginap disini ? Apa masa tuaku benar - benar akan kesepian, V ? Jessica sebentar lagi akan menikah dan ikut suaminya, Jesslyn juga. Mereka tidak tinggal disini. Sekarang ? Kau juga tidak mau menemani si tua ini di mansion sebesar ini, Eh ?. Lalu apakah salah aku ingin ada yang menemaniku, V ?". Ujar Sia lirih


Semua orang yang jelas mengetahui permainan Sia hanya terkekeh dalam hati menertawakan keahlian sang ratu di mansion ini.


"Grandma, kau cocok menerima penghargaan sebagai aktris terbaik sepanjang sejarah". Gumam Jessica menatap kasihan Angeline yang termakan akting grandmanya


"Good job, Mom". Kekeh Jesslyn membatin


Sementara Victor dan Jonathan diam saja menyaksikan sang ratu drama beraksi dihadapan mereka.


Angeline kelabakan melihat Sia mendadak sedih apalagi sekarang Victor menatapnya tajam.


"Semua ini gara - gara kau ! Jacob Fucking Xanders ! Sialan". Batin Angeline berteriak


"Kenapa juga harus ke luar kota sebelum mengantarku pulang, ck". Sambungnya bergumam kesal


"Grandma...". Angeline menatap Sia namun perkataannya menggantung saat dering ponselnya berbunyi


Drt... Drt... Drt...


Dengan cepat Angeline melihat siapa yang menghubunginya.


Devil Prince is Calling. . . .


"Maaf, grandma. Aku angkat telepon dulu ya". Ujar Angeline pelan


Sia menganggukkan kepalanya membiarkan Angeline beranjak menuju pojok kaca disana


Klik


"Iya". Ucapnya dengan malas


"...."


"Ck, bukan seperti ini yang aku harapkan". Gumamnya


"Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu. Jadi aku bisa membawa beberapa pakaian dan keperluan lainnya". Kesal Angeline


"...."


"Apa harus menginap ?".


"...."


"Hmm, baiklah". Ucapnya pasrah


Klik


Tanpa menunggu jawaban Jacob, dengan cepat Angeline mematikan sambungan teleponnya.


"Rasakan itu. Dia pikir hanya dia saja yang bisa mematikan sepihak. Aku juga bisa". Gerutunya


Entah keberanian darimana hingga dirinya berani mematikan sambungan sepihaknya dengan Jacob.


"Apa itu Jacob ?". Tanya Sia ketika Angeline sudah duduk lagi disebalahnya


Angeline menganggukkan kepalanya.


"Dia bilang aku harus menginap disini". Ucapnya


"Benarkah ?". Tanya Sia berbinar


"Iya grandma. Kau senang ?". Ujar Angeline


Sia kegirangan mendengar itu. Jacob seperti memiliki indra keenam yang bisa memahami keinginan grandmanya.


"Setidaknya selama pangeran iblis itu tidak ada disini aku akan aman". Batin Angeline


"Mia ! Bersihkan kamar di pojok kanan lantai dua". Teriak Sia menggema di ruangan itu


Mendengar itu sontak mereka yang tahu itu letak kamarnya siapa menatap Sia bertanya - tanya.


"Apa lagi rencanamu, Honey". Gumam Victor menatap curiga istrinya


"Astaga, Sepertinya ratu drama ini punya niat terselubung". Batin Jonathan


"Grandma. Aku mendukungmu ! Meskipun aku tidak tahu apa rencanamu". Batin Jessica terkekeh menilai grandmanya


"Mommy benar - benar ingin menjadikan Angeline cucu menantunya dalam waktu dekat". Kekeh Jesslyn mengetahui aksi ibu mertuanya itu


...****************...


Chicago, IIIionis — USA


"Master". Sapa Samuel dan Alex menyambut Jacob yang baru mendarat di tanah Kota Chicago


Jacob menganggukkan kepalanya sesaat sebagai balasan atas sapaan mereka.


"Sam !". Seru Jacob


Mendengar namanya disebut. Samuel bergerak cepat mendekati Jacob.


"Ya, Master". Ucap Samuel


"Bagaimana Sisilia ?". Pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan Alex saat mereka tiba dibandara beberapa jam yang lalu


"Aman, Master. Hadiahnya sudah saya kirim ke markas". Jawab Samuel tegas


Alex menatap sinis Samuel sambil berceloteh.


"Cih, saat aku bertanya seperti itu dia bukan menjawab justru balik bertanya. Giliran Master yang bertanya ? Dengan cepat dia menjawabnya. Benar - benar muka dua. Sialan kau, Sam !". Maki Alex dalam hati


Jacob menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa ada yang mencurigakan ?". Ucap Jacob ambigu


Entah kepada siapa pertanyaan itu dia berikan.


Sementara Samuel dan Alex memberi kode lewat tatapan mereka. Seolah bertanya...


"Master bertanya padamu atau padaku ?". Begitulah arti tatapan mereka


"Maaf, Master ?". Samuel bersuara pelan menetralkan keadaan


"Kota ini !". Ulang Jacob memperjelas pertanyaannya


"Tidak ada yang mencur—". Alex baru akan menjawab namun dengan cepat di potong oleh Samuel


"Black Lion, Master". Ujar Samuel yang langsung mengerti arah pertanyaan Jacob


Jacob mengeluarkan smirknya menatap lurus pemandangan dihadapannya.


"Tim X ?".


"Lengkap, Master". Jawabnya


"Tim A ?". Tanya Jacob lagi


Hening


Alex tidak menanggapi pertanyaan Jacob. Dirinya sibuk berperang batin memahami nama yang Samuel sebutkan.


Melihat Alex yang diam saja sontak Samuel menyenggol bahunya menyadarkan Alex dari lamunannya.


"E—ehhh". Sadar Alex seketika


"Master bertanya bagaimana tim mu ?". Ujar Samuel mengulangi pertanyaan Jacob


"Le—ngkap, Master". Jawabnya sedikit gerogi karena ketahuan melamun saat berhadapan dengan Jacob


Jacob tidak memberi tanggapan apapun. Kakinya terus melangkah masuk ke dalam mobil yang menunggunya.


"Kita ke penthouseku !". Ucap Jacob sebelum masuk ke dalam mobil itu


Baik Samuel maupun Alex menganggukkan kepalanya.


Ya, mereka berpisah dengan tim masing - masing agar tidak dicurigai identitas mereka.


Mereka semua termasuk Alex dan Samuel sengaja berpenampilan casual agar mereka dengan mudah berbaur bersama orang luar tanpa dikenali.


Ting !


Ting !


Dua pesan masuk ke ponsel Alex dan Samuel secara bersamaan membuat mereka mengerutkan alisnya.


Samuel dengan cepat membuka pesan itu karena yakin siapa yang mengirimnya.


Master


"Minta tim mu berjaga di wilayah barat kota ini !"


Samuel tidak membalas pesan itu dengan cepat dirinya mengirim pesan kepada tangan kanannya yang dipercaya menjadi wakil pemimpin Tim X.


Sementara Alex masih menatap ponselnya enggan untuk dibuka.


Ting !


Satu pesan lagi masuk ke ponselnya.


Terpaksa Alex melihat siapa pengirimnya.


Deg


"Astaga aku mengabaikan pesan dari Master". Gumamnya


Seketika jarinya bergerak dengan cepat membuka dua pesan masuk yang Jacob kirim.


Master


"Minta tim mu mengawasi kawasan selatan kota ini !"


Master


"Vincent dan Zayn juga akan membantu kita disini !"


Alex segera menghubungi timnya untuk menjalankan tugas dari Master mereka.


"Misi apa kali ini yang akan kami jalankan ? Kenapa sepertinya ini sangat berbahaya". Gumamnya menilai semua yang dipahaminya


Setelah itu mereka bergegas menuju penthouse yang Jacob katakan.