Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 49



Los Angeles — USA


Xan's Group


Tok... Tokk... Tokkk...


Seseorang mengetuk pintu ruangan Jacob dari luar.


Ceklek


Jacob yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya terusik dengan suara pintu yang dibuka itu tanpa izinnya.


"Maaf, mengganggumu Tuan. Ada yang ingin saya tunjukkan". Ucap Mike sembari memberi iPadnya kepada Jacob


Jacob yang tadinya menautkan alis segera menerima iPad itu.


Rahangnya mengeras melihat apa yang ada dilayar iPad milik Mike.


"Ternyata dia sungguh - sungguh dengan syaratnya". Ucapnya dingin


Mike yang tidak tahu syarat apa yang dimaksud Jacob hanya diam saja.


Jacob meletakkan iPad itu di meja kerjanya.


"Apa ada kabar dari Phillip ?". Tanyanya


"Mereka masih terus menyelidiki tempat itu, Tuan". Jawabnya dengan formal


"Zayn ?".


"Dia sudah kembali ke New York tadi malam, Tuan".


"Apa mereka berhasil mengambil data pribadinya ?".


"Sejauh ini masih aman, Master. Zayn sangat handal dalam menyembunyikan identitasnya sebagau hacker kita". Jawab Mike


Jacob menganggukkan kepalanya pelan.


"Perketat keamanan untuknya". Titah Jacob


"Keselamatannya sedang terancam. Dia memang bagian X'Dragons yang tertinggi. Tapi tugasnya hanya sebagai hacker bukan pemegang senjata khusus". Ungkap Jacob


Mike menganggukkan kepala membenarkan pernyataan Jacob barusan.


"Baiklah, Tuan. Saya permisi". Pamitnya kepada Jacob


Jacob tidak memberi tanggapan apapun selain anggukkan kepala.


...****************...


Los Angeles — USA


Mansion Utama


Keadaan di mansion utama sedang ricuh karena Angeline belum juga kembali padahal jam kerjanya sudah berakhir sejak pukul lima sore tadi.


"V, apa kau sudah mengirim anak buahmu untuk mencarinya ?". Tanya Sia dengan gusar


Victor menganggukkan kepalanya.


"Seharusnya dia sudah disini sebelum Jacob datang nanti. Bagaimana jika cucumu itu datang tidak mendapati wanitanya dimansion ini ?". Sia cemas


"Calm down, Angeline pasti ditempat yang aman, Honey". Ujarnya


"Tidak bisa, V. Sebelum Angeline ada dihadapanku aku tidak akan bisa tenang". Cicitnya membalas ucapan Victor


"Kau sudah menghubungi Jesslyn ? Barangkali Angeline ada dimansion mereka". Sambungnya tidak sabaran


"Sudah. Angeline juga tidak disana". Jawab Victor


Sia menghela nafasnya kasar mengkhawatirkan Angeline.


Tring... Tringg... Tringgg...


Ponsel Sia berbunyi pertanda ada yang menghubunginya.


"Nyonya...". Ujar Mia menyodorkan ponsel majikannya


Dengan cepat Sia mengambil ponselnya lalu melihat nama yang menghubunginya.


Sia membulatkan matanya melihat nama itu.


"V...". Cicitnya sembari menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan nama cucu kesayangannya


Victor segera membaca nama yang tertera di layar ponsel istrinya.


Leo is Calling. . . .


"Berikan kepadaku. Biar aku yang berbicara dengannya". Pinta Victor namun tak kunjung diberi oleh Sia


"Honey...". Panggilnya dengan datar


Sia enggan memberikan ponselnya karena tidak ingin dianggap pengecut oleh cucunya itu.


Dengan cepat Sia menggeser tombol hijau keatas untuk menerima panggilan Jacob.


"Halo...". Sapanya terdengar santai


Hening


Tidak ada balasan dari seberang telepon membuat Sia menautkan alisnya.


"Jac—".


Tut...


Panggilannya diakhir begitu saja oleh pihak seberang.


"Aneh. Tidak pernah sekalipun Jacob seperti ini". Tuturnya menatap tidak percaya pada ponselnya


"Mungkin dia tidak sengaja menekan layar ponselnya, Honey". Ujar Victor menanggapi itu


"Tapi in—".


Sia tidak melanjutkan perkataannya ketika Victor menatapnya tajam pertanda untuk berhenti memikirkan hal yang tidak penting.


"Baiklah. Kita tunggu saja kabar dari Angeline". Ucapnya pasrah


Victor terkekeh pelan merubah ekspresinya yang tadi datar membuat Sia melototkan matanya seketika.


"Kau mempermainkan aku, V ! Beraninya kau !". Bentaknya menatap horor Victor


Sementara Victor dalang kekesalan Sia hanya terkekeh menanggapi kekesalan istrinya.


"Kau tidak ingat umur ternyata. Masih saja suka menatap horor suamimu sendiri, Honey". Ujar Victor


"Cihh, tidak sadar diri. Seperti dirinya tidak begitu saja. Dasar si muka tembok". Sindirnya yang justru terlihat lucu dimata Victor


"Kau masih menertawakanku, V ?". Kini Sia melayangkan tatapan mautnya


Victor menggelengkan kepalanya pelan.


"Liu yang menertawakanmu, Honey". Ucapnya sembari menatap Liu tajam


Sia yang jelas tahu sejak dulu Victor selalu melimpahkan kesalahannya kepada Liu selaku asisten pribadinya. Dua pria itu sejak masih remaja sampai sudah setua ini masih tetap sama.


Dijuluki semua orang sebagai Duo Killer. Mengingat bagaimana sewaktu muda mereka berdua selalu menjadi pusat perhatian dimanapun mereka berada bahkan selalu sukses membuat pertahanan seseorang runtuh hanya dengan tatapannya saja.


Ingat ! Victor Xanders pada masanya dijuluki CEO Sang Mafia oleh semua kalangan yang mengenalnya pada masa itu hingga detik ini.


Mungkin lambat laun posisi itu akan diambil alih oleh seseorang, maybe.


...****************...


Milan — Italy


The Diev's Hotel


Jika di benua seberang, satu keluarga besar ternama sedang cemas menanti kepulangan seorang wanita. Maka di benua ini wanita yang mereka khawatirkan sedang menatap horor pria yang tengah berdiri memandangi pemandangan kota dengan membelakanginya.


"Jelaskan kemana kau membawaku, Jac !". Hardiknya dengan nada datar


Pria itu tak kunjung menjawab pertanyaan itu. Membuat Angeline semakin kesal.


"Jacob Ash—". Baru akan memakinya, Angeline lupa nama tengah pria itu karena terbiasa dengan mengganti nama tengahnya saat mengumpatinya


"Sialan, apa nama tengahnya ? Bagaimana bisa aku lupa ? Ck". Gumamnya memaki dirinya sendiri


Jacob ? Ya, pria itu mengirim anak buahnya untuk menjemput Angeline membawanya ke bandara saat jam pulang kerjanya berakhir tanpa menjelaskan kemana mereka akan pergi.


Angeline yang seharian berada di ruang operasi ketika mendapati tempat untuk beristirahat langsung saja dipergunakannya dengan baik. Hingga saat bangunpun dia tidak tahu berada dimana.


"Jacob Ach—". Umpatannya lagi - lagi menggantung karena tidak ingat nama tengahnya Jacob


Sementara Jacob yang mendengar namanya dua kali disebut dengan menggantung membuatnya memutarkan badan menghadap Angeline.


Jacob menaikkan sebelah alisnya menunggu Angeline melanjutkan perkataanya.


Angeline tidak sadar kini dirinya menjadi pusat perhatian Jacob terus saja menggerutu kesal sembari memukul kepalanya mengingat - ingat nama tengah pria itu.


"Ash—. Ishh apa sih nama tengahnya. Acheo ? Ashole ? Achio ? Atau apa sih ? Ck". Gumamnya terus menggerutu kesal


Satu menit...


Dua menit...


Tiga menit...


Hening


Hingga menit ke delapan Angeline mulai bersuara lagi. Kali ini dengan terang - terangan mengumpat Jacob seperti biasa dilakukannya.


"Jacob Fucking Xanders ! Aku bertanya sekali lagi. Kemana kau membawaku ? Sialan !". Makinya terang - terangan sembari mengumpat nama pria itu tanpa takut


Sontak Jacob yang mendengar seorang wanita yang sudah di cap sebagai wanitanya itu mengumpat namanya membuat Jacob menatapnya tajam.


"Ulangi !". Serunya terdengar tidak bersahabat


"Jacob Fuc—". Angeline menggantung perkataannya


Glek...


Angeline baru tersadar mengumpat pria itu dengan kalimat biasanya dia katakan.


"Angeline yang bodoh ! Bagaimana mungkin kau mengumpat seperti itu dihadapan orangnya langsung. Ishh benar - benar sialan !". Batinnya langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap Jacob


"Kau biasa mengumpat pria itu dengan kata - kata kasar hanya dalam hati saja tidak seperti sekarang. Ck, tinggal beberapa hari dengan grandma sudah membuatmu berani melakukan itu dihadapan orangnya sendiri, Angeline. Sial....". Sambungnya masih terus bergumam penuh gerutu


Jacob menyadari perubahan wanitanya yang begitu cepat hanya membuatnya tersenyum sinis.


"Sudah hilang keberanianmu yang tadi, Ruby ?". Sindirnya dengan tersenyum tipis


Angeline spontan menaikkan wajahnya yang tadi sempat menunduk. Kini sudah menatap Jacob dengan tajam ketika mendengar nama tengahnya secara jelas disebutkan oleh pria itu.


"Tapi kenapa ? Bagaimana bisa ? Identitasku di rumah sakit saja hanya Angeline R. Arberto. Tidak ada yang tahu nama tengahku selain orang - orang di masa laluku tiga tahun yang lalu". Sambungnya lagi


Jacob yang menyadari dirinya keceplosan memanggil Angeline dengan nama Ruby langsung saja membuang muka kesembarangan arah.


"Sepertinya mulutku harus di terapi agar tidak memanggilnya dengan nama itu lagi !". Batin Jacob memaki dirinya sendiri


"Sebenarnya siapa kau ?". Tanya Angeline dengan menatap Jacob penuh amarah


Hening


Jacob tidak memberi jawaban apapun membuat Angeline meradang.


Prangg...


Jacob terkejut melihat aksi Angeline memecahkan vas bunga dengan cepat.


"Aku tanya sebenarnya siapa kau ? Kenapa terus memanggilku Ruby ? Hah ?". Teriaknya sudah berdiri diantara pecahan kaca dari vas bunga itu


Jacob membulatkan matanya penuh melihat itu.


"Angeline...". Ucapnya dengan lembut


Deg


Seketika air mata Angeline mengalir deras di pipinya kala mendengar suara lembut itu persis seperti suara yang didengarnya saat membuka mata tiga tahun yang lalu.


"Angeline...".


"Angel...".


"Calm down. Aku disini. My Angel...".


Suara pria tiga tahun yang lalu seolah berputar terus menerus di otaknya. Pria yang belum sekalipun Angeline lihat tapi sering mendengar suara lembutnya menyapa Angeline yang kala itu masih setia menutup matanya.


"Aku rindu suara itu". Gumamnya tanpa sadar


"Angeline...". Panggilan Jacob membuatnya kembali ke alam sadarnya


"Pergi !". Teriaknya disertai melemparkan sebuah asbak kearah Jacob tanpa sadar


Jacob yang tidak siap menerima lemparan Angeline tentu saja terkejut melihat benda itu sudah tepat mengenai jidatnya hingga dia tidak bisa menghindar.


Bughh....


Pranggg


Setelah membuat jidatnya mengeluarkan darah, asbak itu jatuh kelantai menimbulkan suara yang cukup nyaring.


Jacob terhuyung sedikit kebelakang sembari menyentuh jidatnya yang mengeluarkan darah segar.


Angeline masih memejamkan matanya berharap suara lembut itu berputar lagi di otaknya seperti sebuah kaset. Namun harapannya sia - sia. Hal itu tidak didapatkannya yang ada justru Angeline mendengar ringisan pelan dari seseorang di alam sadarnya.


Sontak Angeline membuka matanya langsung terkejut melihat Jacob berdiri dengan memegang jidatnya.


Seolah lupa dengan apa yang dilakukan sebelumnya, Angeline ingin mendekati Jacob namun terhenti saat mendengar suara pria itu.


"Tenangkan dirimu. Aku akan pergi ke kamar sebelah". Ucapnya datar tanpa menatap Angeline seperti biasanya


Blamm...


Jacob menutup pintu itu dengan keras membuatnya terlonjak kaget.


Angeline tentu saja terkejut melihat reaksi Jacob. Karena saat ini Angeline benar - benar tidak sadar kekacauan dikamar hotel ini disebabkan oleh dirinya sendiri.


Bahkan Jacob terluka karena terkena lemparan asbak yang dilemparnya tadi pun dia lupa.


Angeline berjalan ke arah sofa lalu mendudukkan dirinya disana menatap hamparan luas sebuah kota yang terpampang jelas dihadapannya dengan sorot mata kosong.


"Sebenarnya aku kenapa ? Jacob kenapa ? Lagi, kenapa ada banyak pecahan kaca disekitar kami ? Apa kami bertengkar ? Tapi kenapa ?". Batinnya bertanya - tanya


Angeline yang kebingungan seolah ditarik keluar masuk oleh alam bawah sadarnya hingga melakukan hal tak terduga kepada Jacob pun dia tidak merasa melakukan apapun.


#Sebelah Kamar Angeline


Brakkk


Jacob membuka pintu kamar itu dengan kasar lantaran dirinya masih dikuasai oleh amarah akibat perlakuan Angeline.


"Separah itukah traumanya ? Sampai harus melakukan hal diluar nalarnya yang pada akhirnya akan dia lupakan seolah tidak terjadi apa - apa ?". Ucapnya


"Semua ini karena bedebah sialan itu ! Tunggu aku membalas rasa sakitmu kepada anak tua bangka itu, Ruby. Aku janji !". Ucapnya lagi dengan berjanji pada dirinya sendiri


"Arghhh". Teriaknya kesal dan marah bersamaan


Prangg...


Bughhh...


Geleduk....


Blamm...


Prangggg...


Srakk....


Jacob melempar, membuang dan menendang apa saja yang bisa dihancurkannya saat ini. Termasuk seisi kamar hotel itu sudah sebagian hancur oleh tangan dan kakinya Jacob.


Beruntungnya kamar hotel itu di desain kedap suara. Jadi tidak ada yang bisa mendengarnya memporak porandakan kamar mewah itu.


"Hoooshhh... Hufttt". Jacob mengatur nafasnya tak beraturan


Jacob mengabaikan luka di tangan dan jidatnya saat ini. Dirinya merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Aku ingin secepatnya identitas anak dan istri pria tua bangka itu ada di meja kerjaku !". Ucapnya tanpa basa basi ketika panggilannya sudah terhubung satu sama lain dengan pihak seberang


"...."


"I don't care ! Bagaimanapun caranya aku ingin secepatnya !".


"...."


"St. Marina !".


"...."


"Itu urusanmu !".


"...."


"Kalian digaji mahal hanya untuk menunjukkan kinerja buruk ?". Sindirnya


"...."


"J.A.X !".


"...."


Tut


Jacob mematikan sambungan sepihaknya tanpa mendengar balasan dari orang di seberang.


"Tunggulah mautmu ini datang. Pria malang". Ucapnya dengan mengeluarkan smirk mematikannya


...****************...


Los Angeles — USA


Mansion Utama


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Namun Sia masih mencemaskan keberadaan Angeline hingga membuat suaminya ikut terjaga saat ini.


"V, dimana Angeline ?". Tanya Sia entah sudah keberapa kalinya


Victor mengusap wajahnya kasar.


"Honey, Angeline pasti ditempat yang aman". Ucapnya


"V ! Angeline itu amanahnya Jacob kepada kita. Bagaimana kau bisa setenang ini ?". Bentaknya


"Theresia Yrish Geraldiev !". Seru Victor dengan datar


"V...". Jawab Sia dengan mata berkaca - kaca


Victor yang dasarnya paling tidak bisa melihat mata itu mengeluarkan air mata langsung saja luluh seketika.


"Calm down. Emosi tidak akan menghasilkan kabar baik, Honey". Balas Victor merengkuh istrinya dengan lembut


"Kau yakin Angeline baik - baik saja ?". Tanya Sia


Victor menganggukkan kepalanya dengan terus mengelus rambut istrinya.


"Anak buahku masih terus menelusuri kota ini untuk mencari keberadaannya. Honey". Jelas Victor


"Apa sudah ada kabar dari Jacob ?".


Victor menggelengkan kepalanya.


"Sejak beberapa jam yang lalu ponselnya tidak bisa dihubungi setelah dia menelponmu". Jawab Victor


Sia mengernyitkan alisnya mendengar itu.


"Ap—". Sia menggantung perkataannya saat orang kepercayaan suaminya datang menemui mereka


"Tuan besar. Ada informasi yang ingin kami sampaikan atas penelusuran kami". Ucap pria itu


"Katakan !". Titah Victor


"Menurut informasi pihak bandara. Tepat pukul lima sore lewat tujuh menit pesawat pribadi tuan muda lepas landas menuju kota Milan. Tuan, Nyonya". Ungkapnya


"Jacob ? Italia ?". Ulang Sia cepa5


Pria itu menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Sia.


Sia menatap suaminya penuh pertanyaan.


"V !". Serunya


"Sepertinya cucumu tersayang pergi dengan membawa wanitanya, Honey". Kekeh Victor ikut bernafas lega


"Kau benar. Cucu laknat itu pelaku kecemasanku. Awas kau Jacob !". Ucap Sia menggebu - gebu


Victor hanya menggelengkan kepalanya melihat itu. Kecemasan istrinya dengan cepat berganti penuh kekesalan setelah mendengar informasi dari anak buahnya ditengah malam ini.


"Tingkahmu benar - benar menunjukkan kau cucunya Victor Xanders, Boy !". Gumamnya dengan tersenyum tipis


"Cucu laknat. Awas kau saat kembali nanti ! Jacob !". Batin Sia memaki cucunya


Kini hilang sudah kecemasan Sia sehingga seisi mansion yang tadi tidak bisa tidur saat ini sudah diperbolehkan kembali ke pavilium masing - masing. Termasuk Sia dan Victor yang sudah beranjak ke kamar mereka.