
Los Angeles – USA
Mansion Utama
"Kau memberinya obat tidur, Jac ?". Tanya Sia penuh selidik
Jacob mengedikkan bahunya berjalan meninggalkan grandmanya yang masih setia menunggu Angeline membuka mata.
"Jacob ! kau belum menjawab pertanyaan grandma !". Refleks Sia berteriak melihat cucunya itu
"Aku lelah grandma. Nanti saja introgasinya". Jawabnya tidak menggubris Sia
"Astaga. Cucu tampanku itu kenapa tidak pernah berubah. Semakin kesini semakin mirip grandpanya !". Kesal Sia melihat kelakuan Jacob
Sia terus menggerutu tanpa sadar membuat Angeline merasa terusik.
"Eunghhh....". Lenguhan pelan Angeline membuat Sia berhenti berceloteh
"Oh, cucuku yang cantik akhirnya bangun". Ucap Sia ketika Angeline membuka matanya sempurna
"Grandma ?". Terlihat jelas Angeline bingung kenapa ada grandmanya Jacob disini tanpa menyadari dimana posisinya saat ini
"Ya, cantik. Ini grandma". Sia terkekeh melihat kepolosan Angeline
"Grandma disini ? Sejak kapan ?". Tanya Angeline
"Tentu saja sejak puluhan tahun yang lalu, Nak. Aku memang tinggal disini". Jawab Sia
Angeline menunjukkan ekspresi bodohnya kali ini mendengar jawaban Sia.
"Bukankah mansion kalian di Los Angeles. Sejak kapan Los Angeles menjadi Milan, grandma ?". Tanya Angeline
Mendengar itu sontak Sia terkekeh bersama beberapa pelayan yang berdiri disekitarnya menyadari kondisi Angeline saat ini.
"Tidak ada yang berubah, An. Kau memang sedang di mansion kami". Sia mengikuti kepolosan Angeline
Angeline tercengang tentu saja tidak mengerti.
"Grandma. It–".
"Jangan banyak berpikir, An. Kalian baru saja tiba disini lima belas menit yang lalu". Jelas Sia
Angeline semakin tidak mengerti arah perkataan Sia.
"Kami ?". Tanya Angeline lagi
"Ya, kau dan Jacob serta Mike baru saja mendarat di Los Angeles tiga puluh menit yang lalu". Sia kembali menjelaskan kebingungan Angeline saat ini
"Hah ?".
Sia tersenyum melihat reaksi Angeline.
"Maafkan cucuku itu, An. Dia memang tidak bisa diprediksi akan bertindak seperti apa kedepannya. Persis seperti grandpanya". Ungkap Sia
Angeline yang tidak mengerti hanya menganggukkan kepalanya.
"Bukankah tadi aku masih di Italia ? Kenapa sudah berada di Los Angeles secepat ini ?". Gumamnya mencoba mencerna apa yang bisa diingatnya
"Kau istirahatlah lebih lama, An. Lagipula kau pasti masih lelah karena perjalanan jauh. Jika sudah waktunya makan malam Mia akan memanggilmu". Tutur Sia
Lagi - lagi Angeline menganggukkan kepalanya.
Sementara Sia beserta beberapa pelayan sudah beranjak meninggalkan Angeline sendirian.
Angeline mulai memandangi seisi kamar yang ditempatinya saat ini.
"Kenapa aku tidak menyadari ini semua ? Apa pingsanku menyamai kematian sesaat pada manusia ?". Ucapnya kepada dirinya sendiri
#Sisi Lain Mansion Utama
Terlihat Victor, Liu dan Mike sedang berbincang - bincang di ruang tamu.
"Kau menginaplah, Mike. Kamarmu masih tetap sama seperti biasanya". Ucap Sia ketika sudah mendekati ketiganya
Mike tersenyum menanggapi perkataan Sia.
"Tidak perlu, Nyonya. Aku akan segera pulang ke apartmentku". Jawabnya sopan
"Mike...". Ucap Sia datar tidak suka dibantah
"Turuti saja, Mike. Daripada kita semua terkena imbasnya". Kekeh Victor pelan mendapat tatapan tajam istrinya
"Why ? Aku bicara fakta, bukan begitu Liu ?". Victor menatap horor Liu agar mengiyakan perkataannya
Liu hanya bisa pasrah ketika sudah diposisi seperti ini. Dirinya menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Victor.
"V ! Kau mu–".
"Tidak bisakah biarkan aku beristirahat dengan tenang tanpa gangguan, Grandma ?". Jacob memotong perkataan Sia
Mereka berempat mengalihkan pandangan menatap kearah sumber suara.
"Kau juga ! Kalian semua sama saja !". Kekesalan Sia bertambah ketika mengingat Jacob yang masih belum menjawab pertanyaannya tadi
Sontak Victor menggelengkan kepala tidak terima disamakan dengan mereka bertiga.
"Menginaplah disini, Mike. Turuti perkataan grandma. Dan untuk grandma siapkan saja tenagamu untuk mengintrogasiku nanti". Ucapnya masih berdiri di lantai atas tanpa berniat turun
"Satu lagi. Jangan berisik !". Titahnya sembari membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan mereka begitu saja
Mendengar perkataan Jscob yang sudah jelas tidak terima bantahan dalam bentuk apapun akhirnya Mike terpaksa mengiyakan tawaran Sia yang memintanya menginap di mansion utama.
"Tidak Liu tidak juga Mike. Kalian sama saja hanya tunduk kepada dua manusia kutub itu. Ck !". Kesal Sia berlalu meninggalkan Mereka bertiga
"Seperti kalian. Sia juga hanya akan diam jika Jacob sudah bicara. Hanya saja dia tidak menyadari itu". Ungkap Victor menggelengkan kepala menanggapi perkataan Sia dan Jacob yang memiliki kemiripan jika sudah memutuskan sesuatu.
"Anda benar, Tuan". Ucap Liu ikut terkekeh
Sementara Mike hanya tersenyum tipis menanggapi itu.
"Oh ya. Jadi apakah pembangunan hotel sudah mulai dijalankan, Mike ?". Tanya Victor serius
Mike menganggukkan kepalanya.
"Untuk saat ini Tuan Aiden sendiri yang mengambil alih tugas memantau langsung pembangunannya". Jelas Mike
Victor menganggukkan kepalanya.
"Diprediksikan akhir tahun ini hotel itu sudah bisa diresmikan pembukaannya untuk umum". Ucap Mike lagi
"Jacob memang tidak bisa ditebak akan melakukan bisnis apa lagi kedepannya". Ucap Victor
Liu dan Mike menganggukkan kepala membenarkan perkataan Victor.
"Tangan dan otaknya yang dingin membuat dia bisa melakukan apapun termasuk menghancurkan sesuatu dimasa depan". Ujar Victor ambigu
Mike hanya diam mendengar perkataan Victor. Tidak dengan Liu yang mengerti arti perkataan atasannya itu.
"Ah, sudahi pembicaraan kita sampai disini saja. Kau beristirahatlah Mike. Kau juga Liu !". Titahnya berdiri hendak melangkah menuju kamarnya
Mike dan Liu menganggukkan kepalanya menatap punggung Victor yang sudah menghilang dibalik tembok besar itu.
Sore berlalu dengan tenggelamnya matahari berganti dengan pancaran bulan...
Makan malam kali ini Sia sendiri yang akan membuatnya tidak lupa dibantu beberapa pelayan tentu saja.
"Apa Anda akan membuat beberapa menu khas Italia, nyonya ?". Tanya bibi Grace penasaran dengan bahan masakan didepannya
Sia menganggukkan kepalanya dengan tersenyum hangat.
"Sudah lama aku tidak memasak menu kesukaan dua kutub itu, Grace. Apalagi sekarang ada Angeline". Jawab Sia santai
"Lalu ini ?". Rasa penasaran bibi Grace terus merambah ketika melihat beberapa daging ayam yang masih fresh
"Bukankah di mansion ini tidak ada yang memakan sesuatu yang terbuat dari olahan daging ayam, nyonya ?". Mendengar pertanyaan itu Sia hanya tersenyum
"Ah itu, aku sengaja meminta Lea membelinya karena aku akan membuat sup untuk Angeline". Tutur Sia
Mendengar itu mereka semua mengerutkan alisnya. Pasalnya baru kali ini seorang Theresia Xanders membuat menu lain untuk seseorang.
"Seperti bukan diri nyonya besar yang kami kenal". Batin mereka bersamaan menanggapi perkataan Sia
Sia melihat satu persatu semua yang ada disekitarnya lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Berhenti memasang wajah bodoh kalian itu ! Ck, ya. Dugaan kalian benar. Bukan aku yang berinisiatif membuat sup itu, tapi Jacob. Dia memintaku membuat sup ayam kesukaan Angeline". Ujarnya sedikit kesal merasa dicurigai oleh pelayannya sendiri
Mendengar itu sontak mereka semua terkekeh. Dugaan mereka sudah tentu benar. Bagaimana mungkin nyonya besar mereka melakukan semua itu jika tidak ada dalang dibalik semuanya...
"Sial, tidak bisakah aku terlihat begitu baik dimata pelayanku sendiri ? Ck". Gumamnya memaki penuh kekesalan
Bibi Grace menganggukkan kepalanya lalu mengambil ayam itu untuk dibersihkan lalu dipotong sesuai arahan Sia.
Beberapa saat kemudian semua menu sudah siap di hidangkan di meja makan...
"Mia ! Panggil mereka semua kemari". Serunya sedikit berteriak dari arah dapur
Mia menganggukkan kepalanya segera menuju lantai atas memanggil penghuni mansion ini.
"Apa supnya sudah siap, Grace ?". Tanya Sia
Bibi Grace menganggukkan kepalanya segera membawa menu khusus itu.
"Baunya sangat harum sekali nyonya". Ucap Grace terus mencium aroma sup ayamnya
"Aku tidak tahu rasanya bagaimana, Grace. Karena ini resep dari menantuku". Jawab Sia sembari menata beberapa piring
"Pasti lezat sekali jika resep dari nyonya Jesslyn dibuat dengan tanganmu, Nyonya". Tutur Grace membuat Sia terkekeh
"Semoga Angeline menyukai sup ini". Ucap Sia
Bibi Grace menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Aku mencium aroma masakan lezat kali ini". Ucap Victor yang pertama datang
Sia tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Kemana yang lainnya ?". Victor kembali bersuara
Sia melihat sekelilingnya lalu menatap Mia yang terlihat turun dari lantai atas.
"Tuan Jacob dan Tuan Mike masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, Nyonya". Jelas Mia mendekati bibi Grace
"Angeline ?". Tanya Sia
Belum sempat menjawabnya terlihat sosok cantik natural tanpa polesan make up berjalan menuruni anak tangga menuju mereka semua.
"Grandam... Grandpa...". Sapanya pertama kali
"Bibi Grace... Mia...". Lanjut Angeline menyapa kedua orang kepercayaan Sia
Mereka kompak menganggukkan kepala membalas sapaan Angeline.
"Bagaimana keadaanmu, Nak ? Apa sudah merasa baikkan ?". Tanya Sia dengan cepat
Mendengar itu Victor menghela nafasnya melihat kebiasaan istrinya.
"Setidaknya biarkan Angeline duduk lebih dulu, Honey". Tegur Victor
Sia terkekeh menanggapi teguran suaminya barusan.
"Karena terpana dengan aura kecantikannya aku sampai lupa menyuruhnya duduk, V". Kekeh Sia lalu meminta Angeline duduk disebelahnya
Sementara Angeline tersenyum malu mendengar perkataan Sia.
Angeline menatap sekelilingnya seperti sedang mencari sesuatu yang disadari oleh Sia dengan cepat.
"Mereka masih ada urusan yang harus diselesaikan, An. Nanti mereka akan menyusul". Jelas Sia
Angeline menolehkan kepalanya lalu tersenyum tipis.
"Apa mereka ini memiliki indra keenam ?". Batin Angeline menilai semua penghuni mansion utama yang ditemuinya
Sia mulai mengisi piring milik Victor dengan beberapa menu makanan yang tentu saja sehat dikonsumsi lanjut usia seperti mereka.
"Terimakasih...". Ucap Victor setelah menerima piring yang diberikan istrinya
Sia tersenyum menanggapi itu.
Sementara Angeline menatap Sia dan Victor bergantian. Melihat bagaimana bahasa tubuh kedua orang itu yang begitu harmonis.
"Aku harap bisa seperti itu suatu saat nanti". Gumamnya dengan tersenyum
"Sup ayam ?". Tanya Victor tidak sengaja melihat Sia menuangkan satu menu itu ke dalam wadah kecil
"Sejak kapan ?". Victor heran karena puluhan tahun hidup bersama Sia tidak pernah sekalipun dirinya membuat menu itu
"Khusus untuk Angeline, V !". Ucap Sia
Victor menatap istrinya penuh selidik.
"Jangan berpikir macam - macam, V !. Jacob memintaku membuat sup ayam karena katanya Angeline menyukai itu". Ungkapnya membuat Angeline terkejut
Victor menganggukkan kepalanya menanggapi penjelasan Sia.
Sia meletakkan semangkuk kecil berisi sup ayam buatannya dihadapan Angeline.
"Terimakasih grandma...". Ucap Angeline
Sia tersenyum tulus menanggapi ucapan Angeline.
"Darimana dia tahu aku suka sup ayam ?". Batin Angeline heran
Ketika mereka baru saja mulai menyantap makanan muncul dua sosok yang berjalan kearah mereka.
"Selamat malam...". Sapa Mike yang berjalan dibelakang Jacob
"Malam...". Jawab Sia, Mia, dan Bibi Grace bersamaan
Sementara Victor hanya menganggukkan kepalanya dengan Angeline yang diam saja tidak memberi balasan.
Tanpa basa basi seperti Mike barusan. Jacob langsung duduk di seberang tepat berhadapan dengan Victor sementara Mike memilih duduk disisi kiri pria itu.
Sia bergerak mengambil piring Jacob mengisinya dengan beberapa menu.
"Ini. Kau harus makan yang banyak, Jac". Ucap Sia sembari meletakkan piring itu dihadapan Jacob
Jacob tersenyum tipis mendengar perkataan Sia.
"Aku bisa mengambil sendiri, Nyonya". Ucap Mike tersenyum mencegah Sia yang akan mengambil piringnya
Sia menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk.
Mereka mulai menyantap hidangan yang disediakan dalam keheningan.
Sesekali Angeline mencuri pandang kearah Jacob yang menikmati hidangan itu dengan lahap.
"Habiskan makananmu. Menatapku terus menerus tidak akan membuatmu kenyang, Angeline !". Tutur Jacob santai membuat Angeline seketika menundukkan kepalanya karena ketahuan menatap pria itu
Tidak ada lagi yang bersuara karena semuanya tahu makan satu meja dengan Victor harus diam dan nikmati saja makanannya tanpa bersuara.