
Los Angeles — USA
Mansion Utama
Matahari mulai menampakkan dirinya pertanda kegiatan pagi hari di mansion ini mulai berlangsung. Termasuk nyonya sang pemilik mansion beserta menantunya sudah disibukkan dengan kegiatan memasak mereka.
"Morning mom, grandma". Sapa Jessica mendekati dua wanita yang sibuk memasak itu
"Morning sweety"
"Oh manisnya cucuku ini"
Ucap Sia dan Jesslyn bersamaan.
"Menu apa yang akan kalian hidangkan, mom ?". Jessica penasaran tidak biasanya mereka memasak menu berbeda kali ini
"Menu spesial untuk kakak dan calon kakak iparmu tentu saja". Ujar Sia
"Untukku tidak ada yang spesial, grandma ?". Ujarnya berpura - pura sedih
"Tentu saja ada—". Jawab Sia dengan senyum manis penuh arti
"Grandma memang yang terbaik". Jessica mencium pipi wanita tua itu dengan lembut
"Jika kau juga membawa dan memperkenalkan calon suamimu seperti kakakmu, girl". Ujar Sia santai membuat Jessica melepaskan pelukan manja darinya
"Oh My Godness, grandma please. Jangan membahas itu". Jessica kesal dengan penuturan nenek tercintanya
"C'mon, Jess. Mau sampai kapan kau begini ? Usiamu sudah matang untuk menikah". Sia bicara dengan mata seolah ingin segera melihat cucunya memiliki pasangan
"Biarkan kak Jacob dulu, baru aku". Jessica menghindari pembicaraan itu dengan membahas kakaknya
"Tentu saja itu yang utama. Tapi kau juga penting, Jess. Kau cucu perempuanku satu - satunya begitupun Jacob". Mendadak Sia menatap Jessica penuh arti
Sementara Jesslyn yang diam sejak tadi memahami arah pembicaraan ibu mertuanya itu tidak mengatakan apapun.
"Grandma, please". Mohon Jessica agar neneknya menghentikan dramanya—Sangat mendramatisir
"Apa kau belum melupakan lelaki brengsek itu, Jess ? Lelaki yang mem—". Belum sempat menyelesaikan perkataannya Sia dibuat terdiam dengan sosok yang berdehem dibelakang Jessica dan Jesslyn
"Hmm".
"Mem apa, Honey ? Lanjutkan perkataanmu. Aku dan Jonathan ingin mendengarnya". Ucap Victor tenang
Sia, Jesslyn, dan Jessica hanya diam dengan pandangan menunduk.
"Honey ?". Panggil Victor
"A—ku permisi keatas dulu grandpa, grandma". Merasa ada kesempatan Jessica pamit undur diri
"Tidak semudah itu, Jess. Sebelum grandma mu menjelaskan semuanya kau harus tetap disini". Titah Victor tak terbantahkan
Glekk...
Mereka bertiga menelan saliva susah payah karena hanya mereka yang mengetahui masa lalu Jessica.
"V, tidak ada yang harus dijelaskan. Itu hanya pembicaraan seputar wanita". Ujar Sia kembali menyibukkan diri didapur
Jessica yang merasa menjadi topik pembahasan ikut menganggukkan kepalanya tanda perkataan sang nenek adalah benar.
"Really ?". Ucap Victor mendekati istrinya
"Of course". Balas Sia santai
Cup
Tanpa dapat dicegah Victor mendaratkan kecupan di pipi istrinya membuat beberapa pasang mata tersenyum menatap pasangan yang sudah tidak muda itu masih tetap harmonis.
"V !". Pekik Sia kaget dengan kelakuan suaminya
"Ck, Daddy benar - benar tidak ingat umur". Jonathan bersuara mengomentari ayahnya
"Kenapa ? Kau iri ?". Sinis Victor kepada putranya
"Stop ! Kalian berdua berhentilah bertikai tidak jelas. Sebaiknya tunggu saja di meja makan jangan mengganggu kami !". Ujar Sia jengah dengan kelakuan suami dan putranya
Seolah perkataan Sia adalah perintah mutlak, mereka berdua berjalan mendekati meja makan sembari mata menatap istri masing - masing penuh cinta.
"Istriku yang terbaik"
"Istriku yang terhebat"
Ucap Victor dan Jonathan bersamaan memuji istri mereka.
"Cih"
"Ck"
Lagi - lagi mereka memperdebatkan hal kecil.
Sementara Jessica sudah dilantai atas tepatnya berada didepan kamar yang Angeline tempati.
Tok... Tok... Tok...
"Angel apa kau ada di dalam ?". Panggil Jessica
Ceklek...
"Oh, Hai. Ayo masuk". Angeline mempersilahkan Jessica masuk ke kamarnya
"Grandma dan mommy ku sedang menyiapkan sarapan, mereka meminta kita turun secepatnya". Ujar Jessica
Angeline hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo". Jessica menarik tangan Angeline
"Kau turunlah, aku akan memanggil kakakku dulu". Ujar Jessica saat mereka hendak turun ke bawah
Lagi - lagi Angeline hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tulus.
Angeline mulai turun sedangkan Jessica menuju kamar kakaknya.
Tok... Tok... Tok...
"Kak, semua orang sudah menunggu dibawah". Ucap Jessica sedikit berteriak
Hening
Tidak ada tanda - tanda Jacob menjawab perkataannya membuat Jessica mengerutkan alisnya menatap pintu kamar sang kakak.
Jessica memegang handle pintu kamar itu tapi tidak bisa dibuka.
"Dikunci ? tidak biasanya kakak mengunci kamarnya, aneh". Gumamnya berjalan meninggalkan area kamar Jacob
#Diruang Makan
Sia melihat Angeline berjalan menuju ruang makan seraya menyapa pelayan yang bertugas.
"Benar - benar wanita yang tulus, sangat berbeda dengan wanita yang biasa dikenalkan Jacob". Batinnya masih menatap Angeline dengan senyuman tipis
"Morning Tuan". Sapa Angeline saat melihat Victor dan Jonathan sudah duduk dimeja panjang itu
"Hmm". Balas Victor
Sedangkan Jonathan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas sapaan Angeline.
"Kakeknya ini kenapa sangat mirip dengan si brengsek itu. Seperti pinang dibelah dua. Daddy nya saja tidak begitu". Batin Angeline menilai Victor dan Jonathan
"Menu utama sudah siap". Ucap Sia sedikit berteriak senang membuat mereka menolehkan kepala melihat itu
Sia dan Jesslyn menghampiri mereka di meja makan dengan Jesslyn memegang satu mangkuk besar sup ikan kesukaan Jacob.
"Morning Nak". Sapa Jesslyn disebelah Angeline
"Morning cantik". Sia ikut menyapanya
"Morning Mrs, Grandma". Balas Angeline tersenyum
Jesslyn memandang tidak suka dengan panggilan nyonya yang Angeline ucapkan.
"Hah". Angeline merasa aneh dengan itu
"Kemarin Grandma, sekarang mommy. Apa aku sudah seperti menantu di keluarga ini. What the hell". Batin Angeline berteriak
Sia dan Jonathan hanya tersenyum menanggapi itu.
"Oh ya dimana Jessica ?". Victor bersuara
"Tadi dia bilang ingin memanggil Tu— Maksudku kakaknya". Ucap Angeline hampir saja memanggil Jacob dengan sebutan Tuan.
Mereka semua menganggukkan kepala saja.
Kini Jessica tiba diruang makan dengan mulut berceloteh tidak jelas.
"What happend sweetheart ?". Tanya Jonathan melihat tingkah putrinya
"Aneh". Mendengar itu keluar dari mulut Jessica mereka memandangnya meminta penjelasan
"Apanya yang aneh, Sweety ?". Tanya Sia sembari mengajak Angeline duduk disebalahnya
"Cucumu, grandma. Tidak biasanya kakak mengunci pintu kamarnya jika dia bermalam di mansion ini". Jelas Jessica
Mendengar itu seketika Sia dan Victor saling memandang penuh arti.
"Jadi Jacob belum kembali ?". Batin Sia
"Jacob Achilleo Xanders, Kau benar - benar ya !". Batin Victor kembali mengingat apa yang dilihatnya tengah malam tadi
"Itu tidak aneh, Jess. Mengingat saat ini kakakmu sudah memiliki kekasih. Bahkan calon istri, maybe". Tutur Jesslyn terkekeh
"Ya, mommy mu benar. Mungkin kakakmu tidak ingin privasinya diganggu". Kekeh Sia membenarkan perkataan Jesslyn
Angeline menunduk malu mengerti maksud perkataan Sia dan Jesslyn.
Sementara Jessica layaknya anak polos tidak mengerti apapun.
"V !". Ucap Sia datar
Mendengar itu Victor menghela nafasnya kasar.
"Liu !". Teriak Victor menggelegar di ruangan itu
"Ya, Tuan ?". Balasnya yang entah muncul darimana
Victor hanya memainkan alisnya memberi perintah yang hanya bisa dimengerti oleh pria yang dipanggil Paman Liu oleh anak cucunya itu.
Mengerti arti isyarat itu paman Liu bergegas menuju kamar Jacob.
"Pria itu bukankah yang menatapku sangat tajam tadi malam". Batin Angeline mengingat sosok paman Liu
2 menit kemudian...
Hanya Victor yang menyadari kehadiran paman Liu di ruangan itu. Dirinya bertanya menggunakan isyarat yang untungnya paman Liu sangat mengerti itu.
"Tidak ada, tuan. Kamarnya masih terkunci rapat". Ucap paman Liu
Victor menghela nafasnya kasar memikirkan dimana cucunya berada.
"Kemana putramu, Jo ?". Jesslyn bersuara
"Bersenang - senang, maybe". Ucapnya kelewat santai disaat semua orang hampir melewatkan sarapan pagi karena tidak adanya Jacob
Sia dan Jesslyn menatap horor akan jawaban Jonathan.
Glekk...
"Siags satu, awas kau Jacob Achilleo Xanders !". Batin Jonathan berteriak
"Angeline apa kau melihat Jacob ?". Tanya Sia sedikit resah
Angeline menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak melihat Jacob setelah acara tadi malam berakhir.
"Jadi kalian tidak menghabiskan waktu bersama semalam ?". Pekik Sia heboh sendiri
"Honey !". Tegur Victor
"V, aku hanya bertanya. Apa itu salah ?". Ujar Sia
"Bertanya apa, grandma ?". Bukan Victor yang menjawab melainkan sosok yang sejak tadi mereka tunggu
Jacob yang entah datang darimana tiba - tiba sudah memasuki ruang makan tanpa mereka sadari. Bahkan Victor yang mempunyai pendengaran sangat tajam pun tidak mendengar langkah kakinya.
"Grandma ?". Panggil Jacob
Kehadirannya tiba - tiba mengintimidasi seisi ruangan itu.
"Kau terlambat 10 menit Jacob. Where are you Son?". Ujar Jonathan yang pertama kali bersuara lagi diruangan itu
"Kau sudah rapi begini apa akan kekantor sekarang ?". Jesslyn mendekati putranya
Jacob hanya diam dengan pandangannya tertuju kepada Angeline yang berdiri disebelah Sia.
"Hmmm". Hanya itu tanggapannya
"Biarkan Angeline sarapan lebih dulu sebelum kalian pergi Jac - Jac. Dia pasti sudah lapar". Tutur Sia
"Grandma". Ucap Jacob datar
"Jacob !". Victor menyebut namanya dengan dingin
Semua orang mengerti dengan nada suara Victor maka mereka segera duduk ditempatnya termasuk Jacob yang terpaksa ikut duduk.
"Tidak ada yang boleh pergi sebelum menghabiskan sarapannya !". Titah Victor mutlak
Mereka diam dan mulai menyajikan menu di piring masing - masing.
"Aku merasa ada yang kakak sembunyikan". Batin Jessica menatap kakaknya penuh selidik
"Sebenarnya darimana pria ini, aku seperti mencium sedikit aroma anyir seperti darah". Batin Angeline merasa mual mencium aroma itu
"Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi". Batin Jonathan
"Wajahmu tampak berbeda, Nak. Mommy harap kamu tidak melakukan hal bodoh". Batin Jesslyn ikut mengomentari penampilan Jacob
"Bau ini benar - benar tidak asing di penciumanku". Batin Sia ikut memandangani Jacob yang sibuk dengan sarapannya
"Aku sangat hafal aroma ini, Jac. Berapa orang yang sudah kau habiskan". Batin Victor menatap nanar Jacob
"Sepertinya tuan muda sudah mulai menunjukkan jati dirinya". Paman Liu ikut membatin melihat aura intimidasi Jacob masih sangat kuat sejak kedatangannya
Hoek... Hoekk... Hoekkk...
Tiba - tiba suara itu memecah keheningan yang ada. Semua mata menolehkan kepalanya ke asal suara itu.
"Nak, Are you okay ?". Jesslyn mendekati Angeline
Tanpa diduga Jacob juga mendekati Angeline dengan memijit lembut tengkuknya membuat semua orang terkejut dengan reaksi Jacob.
Hoek... Hoekkk...
Rasa mual itu semakin menyerangnya kala Jacob mendekatinya. Membuat Angeline kelimpungan melirik kiri kanan mencari toilet.
Sia menyadarinya segera menunjuk letak toilet di ruangan itu.
Dengan langkah cepat Angeline berlari sembari membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan muntahannya.
Jacob mengikuti Angeline ke toilet tanpa peduli reaksi orang - orang melihat tindakannya.
"V, apa itu Jacob ?". Pernyataan Sia juga sama mengejutkannya untuk semua orang yang menyaksikan itu.
Semuanya menatap lurus Jacob dan Angeline seolah pemikiran mereka tertuju pada satu kata.
"Pregnant ?". Batin mereka berteriak bersamaan tanpa mereka sadari
Berbagai ekspresi yang ditunjukan semua wajah diruangan itu.
"Semoga ini awal yang baik untuk Anda tuan muda". Batin Paman Liu ikut tersenyum