Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 24



Los Angeles — USA


Lyn's International Hospital


Angeline berlari terburu - buru saat wakil presdir rumah sakit menghubunginya langsung untuk segera datang ke rumah sakit karena ada pasien darurat.


"Semoga aku tidak terlambat". Batin Angeline terus berlari menuju lift


"Awshh, maaf - maaf. Aku terburu - buru. Sekali lagi maaf". Ucapnya membungkuk pada wanita yang sudah di senggolnya sebelum pintu lift tertutup


Ting !


Lift terbuka dengan cepat Angeline berlari keluar dimana lantai VVIP berada.


"Apa pasienku sekelas presiden ? Sampai harus ditangani di lantai ini ?". Gumamnya menyadari lantai dimana dirinya berada


"Dokter Angel ! Oh syukurlah Anda sudah datang". Pekik Sarah yang juga menunggu kedatangan Angeline


"Berlebihan sekali. Apa hanya aku dokter spesialis bedah di rumah sakit ini ?". Gerutunya


Angeline menebar senyum kepada orang - orang yang berdiri di depan salah satu ruangan


"Dimana pasiennya, Sar ?". Tanya Angeline cepat


"Disana, Dok. Ikut aku". Ucap Sarah menarik cepat tangan Angeline


"Aku harap Anda tidak mengamuk setelah ini, Dok". Batin Sarah


Ceklek


Pintu dibuka menampilkan beberapa dokter dan suster yang sudah berada disana. Angeline tidak bisa melihat siapa pasiennya karena terhalang tubuh dokter Steven.


"Ah, Dokter Angel Anda sudah tiba". Seru salah satu dokter disana


"Siapa sebenarnya pasien kali ini ? Kenapa semua dokter dari berbagai spesialis ada disini". Batin Angeline bertanya - tanya


"Mari, Dok. Tuan muda sedang diperiksa". Ucap suster yang mendekati Angeline


"A—pa katanya tadi ? Tuan muda ? Tuan muda yang mana ? Siapa ?". Batin Angeline terkejut dengan penuturan suster itu


"Dokter Steven. Dokter Angeline sudah tiba". Ucap suster itu kepada wakil presdir rumah sakit ini


Dokter Steven menggeser posisinya sehingga sekarang dapat Angeline lihat seorang pria yang ingin dihindarinya sedang menjalani pemeriksaan.


Deg


"Pria ini ? Ada apa ? Kenapa bisa seperti ini ? Aku mati - matian mencari cara untuk menghindarinya selalu ada saja cara Tuhan mempertemukan kami. Sial". Batin Angeline berteriak


"Jadi mereka merusak jadwalku hari ini hanya karena pria ini ? Benar - benar menyebalkan. Tapi kenapa aku mendadak khawatir melihatnya". Sambung Angeline membatin


"Kenapa bisa seperti ini ?". Tanya Angeline sudah mendekati Jacob yang matanya terpejam sejak tadi akibat rasa pusing yang melandanya


Semua orang diruangan itu menatap Angeline bertanya - tanya.


"Tidak adakah rasa khawatir melihat pasangannya seperti ini ?".


"Bisa - bisanya Dokter Angel bersikap biasa saja ketika tahu kekasihnya kecelakaan".


"Bukannya panik dan khawatir. Dokter ini hanya menunjukkan raut wajah biasa saja".


Batin semua orang diruangan itu.


Berbeda dengan Angeline yang sibuk memperhatikan Jacob diperiksa sembari bermonolog.


"Bohong jika aku tidak khawatir. Jujur saja biar sekalipun aku membenci pria ini tetap saja naluri kedokteranku muncul. Bagaimana mungkin aku tidak panik melihat pria yang biasanya selalu tampil samgar, dingin, gagah, tampan dan rapi ini sekarang hanya memejamkan matanya". Batin Angeline ikut menelisik Jacob


Beberapa dokter bergantian memeriksa Jacob dengan beberapa suster yang mulai mencatat riwayat Jacob.


Hingga tiba giliran Angeline dan Sarah yang mendekati Jacob untuk memeriksanya.


"Tidak ada luka serius yang membutuhkan penanganan lebih". Tutur Angeline


Sarah mencatat poin penting apa saja yang Angeline jabarkan.


"Tunggu pasien siuman baru kita bisa memastikan lebih apakah ada masalah pada kepalanya". Sambung Angeline masih duduk disisi ranjang kanan Jacob


Mungkin bagi orang yang melihat itu, Angeline seperti istri yang sedang memeriksa suaminya sendiri. Karena sedari tadi tidak ada yang berani duduk diranjang itu kecuali Dokter Steven.


"Hmmm".


"Kalian semua bagaimana ? Apa ada masalah dengan tuan muda ?". Tanya Dokter Steven


Mereka menggelengkan kepala serentak.


"Yang dikatakan Dokter Angeline sudah mewakili catatan kami, Dok". Jelas salah satu dokter yang mendapat anggukan kepala dokter lainnya


Brakk


Tiba - tiba pintu dibuka paksa terdengar seperti kepanikan sedang melanda.


Melihat pelakunya mereka tidak ada yang berani marah. Hanya menundukkan kepala.


"Tuan besar".


"Nyonya besar".


Sapa Dokter Steven melihat orangtua beserta kakek neneknya Jacob berdiri diambang pintu menatap Jacob terkejut.


Deg


"Kenapa mereka semua harus kemari ?". Batin Angeline berteriak


Semakin dirinya ingin menjauh semakin ditarik dekat oleh keadaan.


"Oh my Jac - Jac. Bagaimana ini bisa terjadi, Nak ?". Histeris Jesslyn pertama kali mendekati putranya


Sementara Jonathan, Victor dan Sia ikut mendekati Jacob dengan khawatir.


"Cucuku yang tampan ini. Siapa yang berani mencelakaimu, Nak ?". Lirih Sia ikut mengelus pipi Jacob


Dua wanita itu masih terus berbicara lirih menatap Jacob tanpa menyadari ada Angeline disana.


"Wajahnya sangar, tampangnya dingin. Tapi panggilannya sangat bertolak belakang". Kekeh Angeline membatin menertawai Jacob


"Apa ada yang serius, Stev ?". Victor bersuara memecah keheningan


Deg


"Sudah tua saja suaranya masih menyeramkan".


"Aduh suaranya sangat mengajak berumah tangga. Sadar Vio, sadar ! Dia sudah tua, sudah punya anak cucu seusiamu. Dia pantas menjadi kakekmu, sialan !".


"Suaranya berat tapi candu sekali".


"Oh My Godness. Suaranya sangat sopan masuk ke telingaku".


Begitulah batin wanita - wanita di ruangan itu yang mendengar suara sang pemilik pertama rumah sakit ini.


"Sejauh ini masih aman, Tuan. Hanya menunggu tuan muda siuman dulu baru memastikan apakah perlu penanganan khusus atau tidak". Jelas Dokter Steven santai


Victor maupun Jonathan menganggukkan kepala.


Tatapan Jonathan beralih ke arah wanita yang berdiri di sisi kanan ranjang Jacob.


"Kau juga disini, Nak ?". Tanya Jonathan kepada Angeline


Sementara yang ditanya hany tersenyum menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Jonathan.


"Apa kau sendiri yang menangani Jacob, Nak ?". Kini Jesslyn maupun Sia menyadari sosok wanita yang menempati posisi sempurna untuk Jacob


"Iya, Nyonya. Dibantu beberapa dokter dan suster juga". Ucap Angeline membalas pertanyaan Jesslyn


"Kau panggil apa ?". Jesslyn mengoreksi perkataan Angeline


Deg


"Hissh apa harus memanggilnya mommy disaat banyak orang seperti ini". Batin Angeline


"Mo—mmy". Cicit Angeline pelan


Jesslyn mengelus pipi Angeline lembut mendapati itu didepan mata mereka semakin menggiring opini kedekatan Jacob dan Angeline yang beredar.


"Beruntungnya Dokter Angeline sudah diterima dengan baik oleh keluarga mereka".


"Beri aku satu mertua seperti nyonya besar, Tuhan".


"Wisata masa depan terlihat semakin nyata".


"Ingin sekali saja bertukar posisi dengan Dokter Angeline, Tuhan".


"Kebaikan apa yang dilakukan Dokter Angeline hingga bisa mendapat calon mertua dan keluarga seperti ini ?".


Begitulah gumaman orang - orang didalam sana menatap iri Angeline.


"Bagaimana kabarmu, Nak ?". Tanya Sia


"Aku baik - baik saja. Grandma sendiri bagaimana ? Pinggangmu apakah masih sering sakit, Grandma ?". Tutur Angeline seperti sudah sangat akrab dengan keluarga itu


Ya, bukan tanpa alasan dirinya menanyakan itu pasalnya waktu itu Sia pernah mengatakan pinggangnya sering sakit.


"Itu hal yang wajar, Nak. Faktor umurku". Kekeh Sia


"Kau sering sakit pinggang, Honey ? Kenapa tidak memberitahuku ?". Sela Victor cepat


Mendengar itu Sia memutar matanya malas.


"V, i'm okay. Look at this". Ucap Sia berdiri dengan cepat


Victor menggelengkan kepala tidak setuju.


"Tidak - tidak. Kau harus tetap diperiksa, Honey. Stev minta dokter spesialis tulang yang terbaik untuk memeriksa istriku, Cepat !". Titah Victor khawatir menatap Sia


"V. Stopped ! Aku baik - baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan". Cegah Sia mengelus lengan suaminya


"Are you sure ?". Victor memastikan sekali lagi


Sia menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Sementara semua orang disana menatap takjub perubahan Victor yang sangat cepat. Dari datar hingga penuh kekhawatiran.


"The power of bucin". Gumam dokter Steven


"The real of bucin". Gumam Jonathan terkekeh


Keadaan hening sejenak hingga suara Jacob terdengar.


"Kalian berisik sekali !".


"Kau juga grandpa ! Kenapa sangat berisik ?".


Ucap Jacob masih memejamkan matanya.


"Aku ingin tidur sebentar saja tetap tidak bisa ya !". Sambungnya terdengar kesal


"Jac - Jac kau sudah siuman, Nak ?". Ucap Jesslyn mencium punggung tangan Jacob lembut


"I'm Okay, Mom". Ucap Jacob


"Jelas - jelas kau pingsan, Jac. Okay bagaimananya ?". Tutur Sia


"Grandma, aku hanya memejamkan mataku sebentar. Apa itu salah ?". Kekeh Jacob tidak tahu ekspresi kekhawatiran keluarganya


"V, cucumu ini !". Seru Sia kesal berbalas kata dengan Jacob


Victor memainkan alisnya meminta Steven memeriksa Jacob.


Mendapat kode itu Dokter Steven dengan cepat mendekati Jacob untuk menanyakan apa yang dirasakannya.


"Apa bagian ini sakit, Tuan ?". Tanya dokter Steven sedikit menekan bagian - bagian vital Jacob


Jacob diam saja tanpa merespon.


"Jacob !". Seru Victor datar


"Tidak ada yang sakit, Uncle. Aku baik - baik saja". Ucap Jacob malas terpaksa membuka matanya


"Hmm, biar aku yang periksa, Dok". Tutur Angeline menatap gemas Jacob


Dokter Steven memundurkan diri memberi tempat untuk Angeline.


"Apa ini sakit ?". Tanya Angeline sengaja menekan kuat memar dikepala belakang Jacob


Sebenarnya saat Jacob sudah duduk untuk diperiksa dokter Steven dirinya menangkap memar dibelakang kepala Jacob.


"Aw". Teriak Jacob tertahan


"Tidak !". Jawab Jacob cepat


"Sial, wanita ini kenapa bisa tahu tempat memarku, ck. Awas kau, Ruby !". Batin Jacob memaki Angeline untuk pertama kalinya


"Kau yakin ? Bagaimana dengan yang ini ?". Angeline kembali menekan kuat luka dikepala Jacob


"Tidak juga". Ucap Jacob santai


Angeline menganggukkan kepalanya lalu berdiri mempersilahkan Dokter Steven untuk memeriksa Jacob lagi.


"Apa ada yang Anda lupakan, Tuan ?".


"Nothing, Uncle. Aku ingat semuanya. Bahkan yang terdalam diakarnya pun aku ingat". Kekeh Jacob


"Dia mommy ku dan itu grandmaku". Pandang Jacob kearah Sia dan Jesslyn


"Dua pria tua disana". Tunjuknya kearah Victor dan Jonathan yang menatapnya tajam


"Daddy dan grandpaku, right ?". Sambungnya tidak memperdulikan tatajam tajam Victor


"Kau melupakan seseorang, Jac". Seru Sia menatap Angeline


Jacob mengikuti arah pandang grandmanya lalu tersenyum devil.


"Of course, not. Granmda".


"She's my future wife ! Mrs.Angeline Xanders !". Ujar Jacob


Mendengar itu sontak Angeline membulatkan matanya sangat tidak menyangka dengan jawaban Jacob.


"Sial, pria ini memulai permainan baru lagi". Batinnya memaki Jacob


"Good job, Boy !". Ucap Sia bangga


"Welcome to our life, Ruby". Batin Jacob tersenyum devil


Sementara semua orang jelas terkejut dengan penuturan Jacob.


Future wife katanya ?. Hei yang benar saja. Mereka punya hubungan spesial saja tidak. Kecuali rumor yang beredar itu.


"Awas kau ya Jacob Fucking Xanders ! The Devil Prince !". Maki Angeline dalam hati


Jonathan dan Jesslyn hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan putranya.


"Dia semakin mirip dengan kakeknya". Batin Sia


"Like grandpa like grandson". Batin dokter Steven


"Ini baru cucuku !". Batin Victor


Setelah itu mereka keluar ruangan meninggalkan Jacob dan keluarganya—Tentu saja dengan Angeline juga yang dipaksa menemani Jacob.


...****************...


San Francisco — USA


Baverlly Apartment


Jessica sedang memikirkan bagaimana cara memberitahu keluarganya terutama Jacob. Dia pasti tidak akan mudah mempercayai apa yang Jessica katakan.


"Mungkin mengelabui grandma dan grandpa itu mudah. Tapi kakak ? It's impossible !". Ucap Jessica


"Pria itu tidak akan mudah dibohongi !". Sambungnya


"Sialnya lagi kenapa pria itu tidak bisa diajak kompromi sih !". Batin Jessica mengingat pria yang berurusan dengannya sejak beberapa hari yang lalu


"Hishh memikirkan ini membuat kepalaku ingin meledak". Teriaknya meluapkan kekesalan


Drt... Drt... Drt...


Terdengar dering dari ponselnya dinakas.


Jessica enggan mengangkatnya karena sangat yakin siapa yag menghubunginya.


The Jerk is Calling...


Drt... Drt... Drt...


Jessica tetap mengabaikannya hingga panggilan itu berakhir sendiri.


"Sebaikanya otak kecilku ini harus memikirkan bagaimana cara mengatakannya kepada kak Jacob". Ucapnya


"Ayo Jessica. Ayo pikir. Kau pasti bisa. Kau ini cucunya Theresia Xanders. Jangan mempermalukan nama grandmamu, Girl". Ucap Jessica menyemangati dirinya sendiri


Setelah itu tidak terdengar lagi dering panggilan masuk keponselnya. Dengan cepat Jesica meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada neneknya.


Grandma Sia❤


"Besok aku akan pulang ke mansion utama. See you tomorrow My Grandma"


Send


Setelah mengirim pesan kepada neneknya, Jessica memilih untuk keluar apartmentnya mencari udara segar agar otaknya bisa jernih.