Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 46



Los Angeles — USA


Mansion Utama


Beberapa hari berlalu sejak pingsannya Angeline. Baik Jacob maupun keluarganya tidak ada yang membiarkan Angeline bekerja lagi.


Jacob benar - benar melarang Angeline melakukan ini dan itu hingga membuatnya kebosanan terus menerus didalam mansion keluarga itu.


Angeline jelas ingat apa yang menjadi penyebab pingsannya hari itu, tanpa dia sadari semua keluarga Jacob sudah tahu sesuatu yang disembunyikannya rapat - rapat selama ini dari semua orang tapi mereka memilih diam seolah tidak tahu apapun.


"Mereka ini kenapa sebenarnya ? Selalu melarangku melakukan apapun juga". Gumamnya menggerutu


Angeline merasa aneh dengan tingkah laku mereka seperti sedang menjaga sebuah porselin kaca agar tidak pecah saja.


"Kau butuh sesuatu, Nak ?". Sia mendekati Angeline yang baru saja menapakkan kakinya dipijakan terakhir anak tangga mansion itu


"Grandma... Aku tidak apa - apa. Justru kalian semua yang kenapa ?". Akhirnya Angeline menyerah dari keterdiamannya beberapa hari ini menerima begitu saja perkataan semua orang tapi tidak lagi kali ini


Hei, Angeline ingat hari ini sudah jadwalnya masuk kerja. Masa skorsnya sudah berakhir yang menandakan dirinya sudah bisa menjalani tugasnya lagi.


"Kami juga tidak apa - apa". Jawab Sia tersenyum


"Grandma... Ak—".


Drt... Drt... Drt...


Dering ponsel Angeline digenggamannya menghentikan perkataannya.


Angeline menatap Sia meminta izin untuk mengangkat panggilan itu.


Sia menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju taman belakang yang dipenuhi bunga - bunga hasil tangannya.


Sarah is Calling. . . .


Klik


"Iya, Sar. Ada apa ?".


"...."


"Iya, harusnya hari ini aku bisa masuk lagi".


"...."


"Pre—". Hampir saja Angelinge mengatakan alasan dirinya belum masuk hari ini


"Aku merasa tidak enak badan, Sar. Makanya aku ambil cuti satu hari lagi. Oh ya bagaimana denganmu disana ? Mereka menyusahkanmu ?". Angeline dengan cepat mengalihkan pembicaraan


"...."


"Benarkah ?".


"...."


"Ingat, Sar. Habiskan masa hukumanmu dengan sebaik - baiknya. Jangan terlalu fokus dengan pria - pria disana. Mengerti ?".


"...."


Deg


Jantung Angeline seperti akan meloncat keluar meninggalkan rongga tubuhnya mendengar pernyataan Sarah


"Siapa yang memberitahumu ?".


"...."


"What ?".


"...."


Hening


Angeline terdiam tidak membalas perkataan Sarah lagi.


"...."


"E—ehh".


"...."


"Nanti aku akan menghubungimu lagi, Sar. See you...".


Tut


Angeline memutuskan sambungan sepihak.


"Apakah benar yang dikatakan Sarah barusan ?". Gumamnya mencari keberadaan Sia untuk meminta penjelasan


Angeline beranjak menuju dapur berharap menemukan Sia disana namun harapannya sirna kala melihat dapur itu kosong.


"Maaf, apa kalian melihat grandma ?". Tanya Angeline kepada pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya


"Nyonya besar ada di taman belakang, Nona". Jawab salah satu dari mereka


"Oh, terima kasih...". Ucapnya lalu bergegas ketempat yang disebutkan pelayan tadi


Sampai di taman itu dapat Angeline lihat Sia sedang bercocok tanam bersama dengan beberapa pelayan yang membantunya.


"Grandma...". Panggilnya mendekati Sia


"Sudah selesai menerima teleponnya, An ?". Tanya Sia masih sibuk menaruh tanah ke dalam pot bunganya


Angeline menganggukkan kepalanya.


"Grandma. Ada yang ingin aku tanyakan". Ujarnya mulai ikut bercocok tanam


"Iya ?".


"Apa Jac—".


"Maaf menganggu Anda, Nyonya. Di depan sudah ada seseorang yang mencari tuan besar". Imbuh seorang pelayan yang datang menghentikan perkataan Angeline


Sia mengerutkan alisnya mendengar itu.


"Pagi - pagi begini sudah ada yang mencarinya ?". Gumamnya segera membersihkan tangannya


"Mia, kau bisa membantu Angeline bercocok tanam kan ?". Tanya Sia sebelum pergi


Mia menganggukkan kepalanya begitupun Angeline yang terlihat menghela nafasnya kasar.


"Kenapa selalu saja gagal bertanya hal penting seperti ini kepada grandma, Ck". Batin Angeline kesal dengan keadaan yang tidak memihaknya


"An, grandma ke depan dulu ya. Tidak apa - apa kan ?". Cicitnya


Angeline menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Sampai di depan pintu mansionnya Sia menangkap sosok pria bertubuh tegap sedang menerima telepon membelakanginya.


Sia menautkan alisnya merasa familiar dengan punggung tegap itu.


"Aku kira pria tua seperti biasanya yang datang mencari Victor pagi - pagi begini". Gumam Sia terkekeh pelan


"Ternyata bukan ya ? Sepertinya dari punggung itu terlihat seumuran Jacob". Sambungnya


Benar saja pria itu segera mengakhiri panggilannya dan membalikkan badannya menghadap Sia.


Deg


Sia membulatkan bola matanya melihat siapa pria yang berdiri dihadapannya sekarang.


"Do you miss me, Mrs.Theresia Yrish Xanders ?". Tanyanya tanpa basa basi dengan menyeringai tipis


"Kau !". Pekik Sia menunjuk pria itu


"Masih ingat rupanya jalan ke mansion ini, Eh ?". Sindirnya


Pria itu kemudian terkekeh melihat reaksi Sia masih seperti biasanya.


"Tidak ingin memelukku grandma ?". Godanya


"Cih, tubuhku alergi terkena sentuhan serangga sepertimu". Jawabnya terkesan meremehkan


"Really ?". Tanyanya dengan menaik turunkan alisnya meragukan Sia


"Of course". Balas Sia


"Oh ya ? Bagaimana dengan ini".


Cup


Pria itu mengecup singkat pipi kiri Sia.


"Awsshhh...."


Belum sempat menjauh dari Sia, dirinya sudah mendapat jeweran keras di telinganya dari tangan Sia sendiri.


"Grandma... Stop it. Come on, it's hurt...". Mohonnya dengan meringis pelan memegang telinga yang dia yakini sudah merah


"Apa daddy dan grandpamu mengusirmu dari negaranya sampai kau bisa kemari, Eh ?". Introgasi Sia tanpa melepaskan jewerannya


"Mana ada begitu, aku kem—Awsshhh". Sia sengaja menguatkan jewerannya ditelinga pria itu


"Aku tahu sifatmu bagaimana, Sio ! Jangan coba - coba membohongiku !". Ucap Sia


"No. Aku mengatakan yang sejujurnya, Grandma. Aku sedang ada pembangunan hotel di kota ini". Jawabnya


"Kau pikir aku percaya ? Kau itu sama seperti adikmu yang suka mengelabuiku !".


"Aku akui itu. Tapi itu dulu saat kami masih remaja. Sekarang kami sudah dewasa, Grandma". Cicitnya terkekeh pelan sembari meringis juga


"Look at, aku membawa sesuatu untukmu yang sangat kau sukai, Grandma". Sambungnya berusaha membujuk Sia


"Menyuapku, Eh ?". Sinis Sia tidak melepaskan jewerannya sedikit pun


"Of course, Not. Itu semua titipan adik ipar dan keponakanmu, Grandma...". Jelas pria itu


"Ekhemmm..."


Deheman yang sangat mereka kenali suaranya itu membuat Sia melepaskan jewerannya pada telinga pria itu.


"Tidak bisakah menjewernya di dalam mansion, Honey ?". Tawar Victor yang sejak tadi menyaksikan kelakuan dua orang dihadapannya itu


"Grandpa...". Mohonnya kepada Victor untuk menghentikan Sia


Telinganya saja masih terasa sakit, apa iya harus ditambah lagi.


"Masuklah !". Titah Victor


Mendengar itu dengan cepat dirinya masuk ke dalam tidak memperdulikan tatapan Sia kepadanya.


"V !". Cegah Sia


Victor mengabaikan Sia. Matanya memberi kode kepada Liu untuk membawa masuk barang yang dibawa pria tadi ke dalam mansion.


"Lanjutkan didalam saja, Honey". Ujar Victor sembari merangkul mesra Sia membawanya masuk ke dalam


Sementara Angeline penasaran kenapa Sia begitu lama kembalinya.


Dengan inisiatifnya Angeline bergegas masuk bermaksud ingin melihat siapa yang menjadi tamunya pagi ini.


"Siapa pria itu ?". Gumamnya tanpa sengaja melihat pria yang baru saja duduk di ruang tamu sembari mengusap telinganya


Baru akan melangkahkan kakinya, terdengar suara Victor dari arah pintu masuk.


"...."


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Victor


"Sio !". Seru Sia


Pria itu terkekeh saja menanggapi kekesalan Sia.


"...."


"Sio ?". Gumam Angeline merasa tidak asing


"...."


"..."


"Kau yakin hanya untuk bisnis, Sio ?". Tanya Sia penuh selidik


Pria itu menganggukkan kepalanya.


"...."


"Cucumu yang memintaku menjadi partner bisnisnya dalam pembangunan itu, Grandpa". Samar - sama Angeline mendengar mereka mulai membahas bisnis dan juga menyebut nama Jacob


"Sial, aku tidak bisa melihat wajahnya. Kenapa juga harus duduk membelakangiku, Ck". Gumam Angeline penasaran


"Grandma...". Seru Angeline terpaksa harus mendekati Sia karena rasa penasarannya dengan pria yang masih duduk membelakanginya itu


"Kenapa aku semakin merasa familiar dengan punggung dan gaya rambutnya". Batin Angeline mendadak gusar


"Oh, An. Kemarilah...". Pinta Sia agar Angeline mendekatinya


Dengan ragu Angeline mendekatkan diri dengan Sia agar dirinya bisa melihat pria itu.


Deg


Jantung Angeline seperti ingin meloncat begitu melihat siapa pria yang sejak tadi berbicara dengan Victor dan Sia.


"Javier Geraldiev !". Pekik Angeline terkejut dengan apa yang dilihatnya


"Oh My Godness. Kebetulan seperti apa ini ?". Batinnya tidak terima dengan apa yang berada dihadapannya saati ini


Sama halnya seperti Angeline. Pria yang bernama lengkap Javier Allesio Geraldiev itu juga tak kalah terkejutnya melihat sosok yang berdiri dihadapannya sekarang.


"Angeline...". Cicitnya pelan


"Sedang apa dia di mansion ini ? Bukankah peraturan grandpa tidak diperbolehkan membawa orang asing kemari. Lalu Angeline ? Kenapa dia bisa disini ?". Gumamnya tidak menyangka Angeline bisa masuk ke dalam kawasan pribadinya Victor Xanders yang terkenal sangat privasi itu


Keheningan mengisi ruangan mewah itu.


"Apa mereka saling mengenal ?". Batin Sia dan Victor bersamaan