Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 33



Los Angeles — USA


Lyn's Hotel and Resort


#Ballroom Hotel


Waktu yang ditunggu Sia akhirnya tiba. Cucu perempuan satu - satunya sedang berdiri berdampingan dengan pasangan pilihannya.


"Kepada Tuan Felix Lucas Marcello dan Nona Jessica Amora Xanders. Dipersilahkan naik ke atas karena acara pertukaran cincin akan segera dilakukan". Ucap seorang MC wanita yang bertugas


Mendengar namanya disebut dengan santai Felix berdiri dari duduknya beranjak mendekati tempat duduk Jessica.


Felix mengulurkan tangannya untuk Jessica genggam. Layaknya pasangan yang benar - benar ingin bertunangan atas dasar cinta.


Jessica menerima uluran tangan itu lalu berdiri dengan anggun.


"Andai saja ini tidak didasari keterpaksaan mungkin aku akan tersenyum bahagia menyambut tangannya". Batin Jessica menatap lurus manik mata Felix


"Jika bukan karena sorotan kamera ini tidak sudi aku berperan seperti pangeran yang memuja sang putri, cih". Gumam Felix berdecak kesal menatap datar Jessica


Lalu mereka berdua berjalan menuju tempat dimana mereka akan saling bertukar cincin.


"Pasangan yang sempurna ya".


"Satunya tampan, satunya cantik. Benar - benar nanti anak mereka adalah bibit unggul dari kedua orang tuanya".


"Kesempurnaan yang hakiki. Aku jadi iri".


"Seandainya aku masih muda aku pasti akan menjerat pria itu, ck".


"Semoga aku mendapatkan pasangan sesempurna itu".


Gumam beberapa orang yang memuji Felix dan Jessica yang sedang berjalan terlihat intim itu.


"Semoga ini jalan menuju kebahagiaan abadi untukmu, Amor". Gumam Sia menatap haru cucunya


"Setelah ini putri manjaku akan berjarak lebih jauh dariku. Semoga bahagia menantimu didepan sana, Nak". Batin Jesslyn ikut terharu


Meskipun pertunangan Jessica dan Felix terhitung mendadak. Tapi mereka sebisa mungkin memberikan sentuhan sempurna.


"Putriku sudah dewasa ternyata". Batin Jonathan menatap sepasang insan yang sedang berdiri saling menyematkan cincin dijari masing - masing


"Hari ini langkah pertamaku melepasmu. Grandpa always stay with you, Amor". Gumam Victor menatap lurus keduanya


Berbeda dengan keluarganya yang ikut terharu. Jacob justru menatap tajam dua insan itu.


Entah apa yang Jacob pikirkan hanya dia dan Tuhanlah yang tahu.


"Kau masih dalam pengawasanku. Felix Marcello !". Gumam Jacob sinis


"Aku harap bisa seperti itu bersama pasangan yang aku cintai suatu saat nanti. Bukannya terus terjerat lebih jauh dengan devil disampingku ini". Batin Angeline berteriak menatap Jacob sekilas


Disaat semua orang menatap memuja pasangan itu. Mereka sendiri justru sibuk dengan berperang batin satu sama lain.


"Welcome to the hell, Amor". Batin Felix menatap smirk Jessica


"Oh Tuhan. Apakah ini awal dari penderitaanku atau kebahagiaanku". Batin Jessica menatap Felix dalam


Tidak ada senyum tulus dari wajah keduanya. Hanya senyum penuh keterpaksaan yang mereka tunjukkan serapih mungkin agar tidak ada yang menyadari raut keduanya.


"Baik, untuk keluarga dari pihak pria apa bisa naik ke atas ?". Ujar MC yang bertugas


Hening


Semua mata tertuju kepada Felix. Ya, sejak tadi mereka tidak melihat adanya keluarga dari pihak pria.


Mereka bertanya - tanya satu sama lain hingga akhirnya Felix bersuara.


"Keluargaku tidak bisa hadir". Tutur Felix datar


"Kerab—".


"Ayah dan adikku sudah tiada, ibuku sedang tahap pemulihan. Karena acara ini mendadak, kerabatku juga tidak bisa hadir". Pungkas Felix memotong pertanyaan MCnya


Mereka semua menganggukkan kepalanya. Termasuk keluarga Xanders.


Sedari awal mereka juga mempertanyakan dimana keluarga Felix. Tapi setelah mendengar pernyataan Felix mereka menatapnya sendu.


"Di hari spesialnya tidak ada satupun keluarga yang bisa hadir, kasian sekali dirimu, Nak". Batin Sia


"Bahagia dan sedih bersamaan kau rasakan, Nak. Semoga kau kuat melewati ini semua". Gumam Jesslyn


"Penuh teka teki sekali pria itu. Kenapa sejak tadi tidak mengatakan apapun kepada keluarga ini jika keluarganya tidak bisa hadir". Angeline bermonolog


Sedangkan ketiga pria disamping mereka tidak ada yang mengatakan apapun. Mereka hanya diam saja.


Disaat MC berusaha mengalihkan perhatian semuanyan akan kehadiran keluarga dari pihak pria.


"Aku hadir". Ucap lantang seorang wanita cantik berdiri di pintu masuk ballroom hotel itu


Seorang wanita yang kira - kira usianya tidak jauh berbeda dengan Angeline sedang berjalan anggun memasuki ballroom hotel.


"Maaf, apa aku terlambat ?". Ucapnya setelah naik ke atas berdiri disebelah Felix


"Maaf. Anda siapa, Nona ?". Tanya sang MC


"Ah iya, aku lupa memperkenalkan diri ya". Kekehnya pelan lalu mendekati podium dipojok kiri


"Perkenalkan. Namaku Alana Christine Mateo. Aku sepupu dari pihak pria. Kebetulan keluarga kami berjauhan jadi tidak bisa hadir. Disini aku mewakili seluruh keluarga dan kerabat dari Tuan Felix Lucas Marcello meminta maaf atas ketidakhadiran mereka di acara pertunangan ini". Ucapnya panjang lebar tidak lupa dengan tersenyum manis


"Dan satu lagi. Kami masih dalam masa berduka kehilangan dua anggota keluarga sekaligus. Jadi aku mohon pengertiannya. Bibiku atau lebih tepatnya ibu dari pihak pria tidak bisa hadir dikarenakan sedang dalam fase pemulihan total". Sambungnya dengan tersenyum


Mendengar penjelasan yang begitu sopan dari wanita itu semua orang menganggukkan kepala lalu tersenyum sebagai tanda mereka memakluminya.


"Calon menantu seperti apa aku ini ? Tidak tahu apapun mengenai keluarganya. Bahkan ibunya sakit saja aku tidak tahu". Gumam Jessica menatap sendu Felix yang diam saja


"Hmmm". Felix berdehem


Mendengar itu wanita yang bernama Alana itu segera mendekati Felix lagi. Tidak lupa dengan senyuman yang selalu ditampilkannya.


"Baiklah keluarga dari pihak pria sudah naik. Sekarang dipersilahkan keluarga dari pihak wanita untuk naik ke atas". Tutur MC itu menatap sopan keluarga Xanders yang sedang duduk di satu meja yang sama


"Nak, naiklah. Kau yang mewakili kami". Ujar Sia meminta Angeline untuk naik


"Iya, Grandma benar. Naiklah, nak. Kau juga sebentar lagi menjadi bagian keluarga Xanders, Right ?". Jesslyn ikut bersuara


Angeline yang melihat itu sontak terkejut. Tidak ada dalam wacanannya hari ini untuk menjadi perwakilan keluarga terpandang ini naik ke atas sana.


"Kenapa harus aku ? Kenapa tidak kakaknya saja ? Sialan. Banyak sekali sorot kamera yang siap mendokumentasikan hari ini. Aku yakin jika aku berdiri dalam hitungan detik blitz kamera mereka akan menyakiti mataku". Angeline bergidik membayangkan itu


Sedari tadi Angeline menunduk dan sengaja tidak menoleh kebelakang agar tidak ada kamera yang menyorotinya.


Jujur saja Angeline risih jika wajahnya terus terpampang di media manapun.


"Angeline". Panggil Sia karena Angeline tidak kunjung berdiri


Angeline bimbang apakah harus berdiri atau tidak. Mengingat dirinya tidak ingin setelah acara ini selesai pasti akan terbit artikel baru mengenai dirinya yang terus terlibat dengan keluarga Xanders.


"Ta—pi grandma. A—ku. Apa bisa Jacob saja yang naik ?". Tanya Angeline


Sia dan Jesslyn menggelengkan kepalanya.


"Naiklah". Seru Sia lagi


Angeline menatap Jacob berusaha meminta pertolongan. Jacob mengerti maksud tatapan itu. Namun tidak memperdulikannya.


Jacob justru menatap Angeline tajam seolah berkata "Naiklah ke atas. Cepat atau lambat mau seberusaha keras apapun kau menghindar. Akan tetap menjadi sorotan publik".


Dengan menghela nafasnya kasar Angeline berdiri dan terpaksa berjalan naik ke atas mendekati Jessica yang tersenyum kearahnya.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Suara blitz kamera langsung menggema di ruangan itu saat Angeline berdiri.


Mereka sedari tadi memang penasaran siapa sosok wanita yang duduk dalam satu meja bersama keluarga itu.


Karena posisi Angeline duduk membelakangi media hingga mereka kesulitan mengambil gambar wanita itu.


Berbagai media yang hadir sontak mengambil gambar Angeline dari berbagai sisi yang tepat ketika Angeline naik dan menghadap mereka dengan tersenyum.


"Astaga ini akan menjadi sumber uang kami"


"Yes, akhirnya artikel terbaru akan terbit lagi"


"Sesuai dugaanku. Wanita itu memang benar dokter cantik itu"


"Astaga posturnya lebih cocok menjadi model daripada dokter"


"Apa itu wanita yang sejak beberapa pekan terakhir menjadi trending topik dimanapun ya ?"


"Astaga wanita yang berhasil menjerat Tuan Muda sangat cantik melebihi siapapun"


"Apa rumor itu benar ya ? Buktinya sekarang dia berada disana bahkan tadi satu meja dengan keluarga Xanders"


Ucap orang - orang kegirangan saat melihat Angeline yang berdiri disamping Jessica. Baik dari kalangan reporter yang meliput maupun tamu undangan berbondong - bondong membicarkan dan memuji Angeline.


Pertukaran cincin keduanya pun dimulai dengan Angeline dan Alana yang menyerahkan cincin kepada Jessica dan Felix untuk disematkan di jari keduanya.


Setelah acara pertukaran cincin selesai. Kini pasangan yang resmi bertunangan itu berbincang - bincang dengan tamu yang mendekati mereka.


"Amor. Grandma bahagia untukmu". Ujar Sia memeluk Jessica


"Thank you, Grandma. Sebelum aku menikah kita masih bisa berbelanja sepuasnya, Right ?". Tutur Jessica berusaha tersenyum


"Hari ini kau menjadi princess. Selanjutnya kau akan menjadi ratu di kerajaan Marcello, Jess". Ucap Angeline mengelus lembut tangan Jessica


Jessica tersenyum membalas perkataan mereka.


"Kalian sangat bahagia ya ternyata. Aku senang melihat senyum diwajah kalian semua". Gumam Jessica


Sementara tim yang ditugaskan Jacob untuk menjaga keamanan sekitar Ballroom itu tetap waspada satu sama lain.


"Aku pikir kegiatan yang dimaksud Master seperti malam kita di Colorado. Ternyata hanya ini, ck". Ucap Vincent tanpa sadar


"Kau mau mati ya ! Ini melebihi apapun kau tahu. Perempuan yang berdiri disana adalah adiknya Master, Bodoh". Seru Alex


"Meladeni bocah itu akan membuat darahmu mendidih, Lex". Tutur Mark


"Aku tahu itu. Tapi kan bisa meminta kita datang pagi hari saja jangan malam hari seperti semalam itu. Aku bahkan meninggalkan mak—". Ucapan Vincent terpotong saat mendengar suara dari alat pendengar mereka


"Berisik ! Tidak bisakah kalian diam ?". Seru Mike terdengar tidak bersahabat


Ketiganya bungkam. Bagaimana bisa mereka lupa jika mereka terhubung satu sama lain dengan Mike.


Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara termasuk Vincent yang kini menggerutu dalam hati saja.


...****************...


Sisilia — Italia


Sore yang cerah di kotanya mafia terbesar di dunia. Nyatanya memang tidak mampu membuat seorang pria dapat tertidur nyenyak.


Drt... Drt... Drt...


Drt... Drt... Drt... (2×)


Drt... Drt... Drt... (3×)


Drt... Drt... Drt... (4×)


Drt... Drt... Drt... (5×)


Sudah lima panggilan berturut - turut tidak diangkat oleh pria yang sedang memasuki alam kapuknya itu.


Drt... Drt... Drt... (6×)


"Astaga. Tidak bisakah mataku ini terpejam dengan nyaman ? 27 jam aku tidak tidur lalu sekarang haruskah mendapat gangguan lagi ? Sialan". Makinya dengan kesal


Drt... Drt...


Klik


Di dering ketiga terpaksa dirinya mengangkat panggilan itu dengan mata terpejam.


"Ada ap—".


"...."


Deg


"Sialan dimana - mana aku selalu mendengar suara Master". Gumamnya


"...."


"Iya Master. Semalam aku sudah mengintai klan itu beserta markasnya".


"...."


"Hanya seekor semut yang berani menggigit singa yang kelaparan, Master".


"...."


"Iya, malam ini aku mulai memberi umpan".


"...."


"Baiklah, Master".


Klik


Setelah panggilan diakhiri dari pihak seberang membuatnya menghela nafasnya kasar.


+170291xxxxx


"Kumpulkan semua tim yang bertugas kali ini !"


Send


Dua menit kemudian...


Ting !


+170291xxxxx


"Finish, Tuan"


Tak butuh waktu lama dirinya segera membalas pesan itu.


+170291xxxxx


"Kalian langsung ke lokasi target. Tunggu aku disana ! Hubungkan alat pendengar mereka satu sama lain !"


Send


Satu menit kemudian...


Ting !


+170291xxxxx


"Baik, Tuan"


"Sudah lama aku tidak bermain solo seperti ini". Ucapnya tersenyum devil


Saat hendak kembali memejamkan matanya lagi - lagi panggilan masuk menghentikannya.


Drt... Drt... Drt...


"Sialan ! Tidak ada hari tanpa istirahat penuh". Gerutunya dengan cepat melihat siapa yang menghubunginya


Michael is Calling. . . .


"Mike sialan ! Awas kau ya akan ku jadikan kepalamu santapan Jaclerss !". Umpatnya setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya


Klik


"Apa ?". Tanyanya dengan malas


"...."


"Malam ini".


"...."


"Tim inti yang bersamaku".


"...."


"Calm down dude. Mereka harus bermain denganku terlebih dahulu".


"...."


"Of course". Ucapnya bersemangat


"...."


"Sembarangan ! Kepalamu yang akan ku jadikan santapannya".


"...."


"Hmmm".


"...."


Klik


Panggilan berakhir dengan cepat dirinya menghela nafas.


"Izinkan aku memejamkan mataku satu jam lagi". Ucapnya sendiri seperti memperingati semua orang agar tidak menganggu tidurnya


Pria itu melanjutkan tidurnya selama mungkin sebelum nanti akan mulai bermain solo.