Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 41



Chicago, IIIinois — USA


Mike dan Samuel terlihat masih sibuk mengamati isi ruangan yang mereka temukan itu.


"Apa pemikiranmu sama denganku, Sam ?". Tanya Mike tanpa mengalihkan pandangannya dari sekelilingnya


Samuel menganggukkan kepalanya masih dengan posisi tangan bersiap siaga membawa senjata.


"Sepertinya gedung ini tempat eksekusi perdagangan organ tubuh ilegal, Tuan". Jawab Samuel menilai apa yang dilihatnya saat ini


"Kau benar. Bahkan saat ini bau anyir masih sangat menyengat, Sam". Ujar Mike


"Apa kita harus memberitahu Master mengenai ini, Tuan ?". Tanya Samuel


"Nanti saja. Kita masih harus mengamati ruangan ini terlebih dulu". Tutur Mike


"Baiklah".


Mereka bergerak kesana kemari untuk mengamati dengan seksama ruangan itu.


"Entah sudah berapa banyak korban yang sudah mereka perjual belikan organ tubuhnya". Cetus Samuel


"Tuan !". Panggil Samuel ketika melihat sebuah name tag yang terlihat sudah hampir pudar


"Ada apa ? Kau menemukan sesuatu ?". Mike mendekati Samuel yang berjongkok mengambil sesuatu


"Ini". Samuel menyerahkan name tag yang ditemukannya


Mike menyipitkan matanya mengamati name tag yang diberikan Samuel kepadanya.


"Ruby Arberto ?". Cicitnya pelan


"Anda mengenal nama ini, Tuan ?". Samuel penasaran karena perubahan ekspresi yang ditunjukan Mike setelah mengamati benda itu


"Apa mereka ini juga mengincar nyawa nona Angeline ?". Ucap Mike membuat Samuel mengerutkan alisnya ketika mendengar nama yang asing ditelinganya


"Angeline ?". Ulang Samuel


"Kita harus meninggalkan tempat ini, Sam !". Ajak Mike tanpa menjelaskan apapun kepada Samuel


"Siapa itu Angeline ?". Gumamnya karena baru mendengar nama itu


Saat mereka sudah diluar, Mereka tercengang melihat sudah banyak anggota X'Dragons yang menunggu disana.


"Kenapa kalian kemari ? Apa di kawasan kalian sudah teratasi ?". Tanya Mike kepada Phillip


Sementara Phillip, Zayn, Alex dan Vincent hanya menatap mereka berdua tanpa mengatakan apapun.


"Kalian cari mati, Hah ?". Sarkas Phillip bersuara


Mike dan Samuel kompak mengerutkan alis mereka tidak mengerti.


"Kenapa kau marah ?". Bukannya menjawab, Mike justru balik bertanya


"Kau bertanya kenapa ?". Phillip menatap tajam Mike


"Sialan !". Umpat Zayn terang - terangan


"Berhentilah mengumpat tidak jelas. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini". Seru Mike mendahului Phillip yang semakin menatapnya tajam


"Oh. Sebelum itu. Sam ! Minta anak buahmu hancurkan tempat ini tanpa sisa !". Perintah Mike itu membuat mereka mengerutkan alisnya


"Kalian akan tahu nanti. Yang penting tempat ini harus bersih tanpa jejak !". Serunya sebelum beranjak masuk ke dalam mobil


"Apa kepalanya terbentur sesuatu sebelum kalian keluar, Sam ?". Tanya Zayn merasa ada yang tidak beres dengan Mike


"Entahlah. Setelah aku menyerahkan sebuah name tag dia mengajakku keluar dari dalam sana". Jelas Samuel


"Name tag ?". Ulang Phillip iku bersuara


Samuel menganggukkan kepalanya.


"Apa hubun—". Zayn baru akan bertanya namun terhenti ketika suara klakson mobil Mike yang begitu nyaring


Tin... Tinn.... Tinnn....


"Ck, tidak bisa sedikit saja membiarkan aku menyelesaikan pertanyaanku ? Dasar !". Gerutu Zayn


Sementara Mike hanya menampilkan senyum devilnya tanpa mendengar gerutu atau makian dari Zayn dan lainnya.


"Aku hanya diam saja menyimak pembicaraan mereka. Tarik nafas buang nafas. Tenang Vincent. Kau anak baik yang diciptakan Tuhan". Gumam Vincent yang sedari tadi hanya diam tidak memberi respon apapun


Mereka berjalan menuju kendaraan masing - masing termasuk Zayn yang kini berada dibarisan paling akhir dengan Vincent sebagai supirnya menuju mansion sang master.


"Bukankah jam empat pagi ini kalian ada transaksi dengan ketua Black Tiger, Vin ?". Celetuk Zayn membelah keheningan diantara mereka berdua


"Iya, Tuan. Seperti biasa. Tuan Phillip yang akan menanganinya". Jawab Vincent


"Berapa dari kalian yang akan ikut bersamanya ?".


"Maaf, Tuan. Untuk itu aku tidak tahu".


Zayn berdecak pelan. Lalu bersedekap dada.


"Biasa saja denganku, Vin. Disini tidak ada Master ataupun dua antek - anteknya itu". Kekeh Zayn memahami kenapa pria yang biasanya bertingkah konyol ini diam


"Mereka bertiga memang tidak bisa diajak bercanda. Tapi aku bisa, Right ?". Tanya Zayn


Vincent menganggukkan kepalanya.


"Ah iya, benar juga. Hanya dia dari mereka berempat yang memilik selera humor cukup baik dibanding Master, Tuan Phillip ataupun Tuan Mike". Gumamnya


Lagi - lagi Vincent menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas pernyataan Zayn barusan.


...****************...


Los Angeles — USA


"Grandma...". Angeline masih terus merayu Sia untuk membiarkannya besok kembali ke apartmentnya


"Kau ingin makan sesuatu, Lin ?". Sia mengalihkan topik pembicaraan


Angeline mendengus sebal melihat Sia yang rerus menerus mengalihkan pembicaraannya.


"Gran—". Baru akan mengatakan sesuatu sudah didahului oleh Victor yang membuatnya diam seketika


"Honey....". Tegur Victor dengan datar


Sia yang merasa teguran suaminya sontak menatap tajam sang empu.


"Apa ?". Balasnya


"Biarkan Angeline kembali ke apartmentnya besok".


Mendengar itu dengan cepat Sia menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa, V ! Jacob sendiri yang mengatakan Angeline harus di mansion ini sampai dia kembali menjemputnya nanti". Pungkas Sia tidak setuju dengan suaminya


"Really ?". Tanya Victor dengan menyeringai tipis


Sia menganggukkan kepalanya santai tanpa takut Victor memberi tahu kebenarannya kepada Angeline.


"Mana berani pria tua ini mengatakan yang sebenarnya kepada Angeline". Begitulah sekiranya batin Sia menilai


"Of course, Jacob sendiri yang mengatakannya. Apa kau lupa, H-O-N-E-Y ?". Tutur Sia sengaja menekan kata terakhirnya


Victor tidak menjawabnya melainkan terus memberi tatapan meremehkan kepada istrinya yang pandai sekali berakting itu.


Angeline yang tidak mengerti apa - apa hanya menjadi penonton drama yang dilakukan Sia barusan.


Dengan polosnya Angeline menatap Sia terus memohon.


"Astaga, kenapa anak ini sangat menggemaskan dengan puppy eyesnya". Gumam Sia ingin sekali mencubit pipi wanita muda dihadapannya


Ting !


Baru saja Angeline membenarkan posisi duduknya ada pesan masuk ke ponselnya entah dari siapa.


Angeline membuka ponselnya melihat nama yanh tertera di layar ponselnya dengan berbinar.


Melihat itu Sia mengerutkan alisnya menatap Angeline yang tiba - tiba tersenyum menyiratkan ada yang membuatnya bahagia diponsel itu.


"Siapa ?". Tanya Sia penasaran


Dengan tersenyum Angeline mengatakan satu kalimat yang membuat senyum Sia pudar sesaat.


"Jacob, grandma. Katanya besok aku boleh kembali ke apartmentku diantar langsung oleh orang suruhannya sendiri". Ujar Angeline memamerkan sederetan gigi putihnya


"Benarkah ?". Sia ingin sekali rasanya memukul kepala cucunya itu karena tidak mendukung aktingnya kali ini


Angeline menganggukkan kepalanya membuat sorot mata Sia memendam kekesalan.


"Sepertinya insting Jacob mengatakan wanitanya sedang tidak aman saat ini". Gumam Victor terkekeh pelan dengan menggelengkan kepalanya melihat kekesalan diraut wajah istrinya


"Ini, grandma bisa membacanya sendiri". Ucap Angeline menyerahkan ponselnya kepada Sia


Sementara Sia yang mendapati hal itu sontak menerima saja dengan cepat membaca pesannya.


Devil Prince


"Kau boleh kembali ke apartmentmu dengan orang suruhanku yang akan mengantarmu !"


Sia tidak memperdulikan isi pesannya. Hanya saja nama Jacob di kontak Angeline lah yang membuatnya cukup terkekeh pelan.


"Astaga Jac - Jac. Jika semua wanita di dunia ini begitu memujamu. Namun justru wanitamu sendiri yang begitu tidak memujamu. Bahkan namamu saja tidak ada baik - baiknya di kontak Angeline". Gumam Sia menertawakan cucunya sendiri


Ting !


Baru akan memberikan ponselnya kembali kepada pemiliknya. Satu pesan lagi masuk ke ponsel itu yang berasal dari orang yang sama juga.


Dengan cepat Sia membukanya karena penasaran.


Devil Prince


"Hanya sebentar saja ! Setelah itu kembali lagi ke mansion. Tunggu disana sampai aku kembali"


Membaca itu sontak Sia tertawa hingga menarik perhatian Victor dan Angeline yang sejak tadi diam saja.


"Oh, cucuku tersayang. Kau memang tahu apa yang grandmamu inginkan". Batinnya senang


"Grandma. Ada apa ?". Tanya Angeline merubah posisinya mendekati Sia yang tiba - tiba tertawa sesaat setelah denting pesan masuk ke ponselnya


Sia menghentikan tawanya lalu memberikan kembali ponsel Angeline.


"Jacob hanya memberimu waktu sebentar untuk kembali ke apartment. Setelah itu harus kembali lagi ke mansion ini, Nak". Tutur Sia senang


Angeline mengerutkan alisnya mendengar penuturan Sia barusan.


Dengan cepat Angeline membaca pesan yang dikirimkan Jacob untuk lebih memastikannya.


Angeline memasang wajah kesal seperti ingin sekali mengumpat kasar Jacob jika berada dihadapannya sekarang.


"Sialan kau ya, Jacob Fucking Xanders !". Gumamnya memaki Jacob diseberang sana


Raut bahagia yang tadi terbit diwajahnya kini berganti dengan raut kekesalan.


Angeline mendengus kesal ingin mengeluarkan umpatannya terus menerus kepada pria yang saat ini entah sedang melakukan apa.


"Like grandfather like grandson". Gumam Sia menanggapi tingkah Jacob yang sangat mirip dengan kakeknya


Sementara Victor cukup terhibur menyaksikan kekesalan dan kesenangan yang silih berganti di raut wajah kedua wanita beda generasi di hadapannya ini.


"Setelah Jessica dan Jesslyn, setidaknya ada Angeline yang bisa membuatmu tertawa seperti ini, Honey". Batin Victor menatap penuh cinta kepada sang istri yang terus tersenyum melihat kekesalan Angeline