
Los Angeles – USA
Xanders Mansion
"Mommy bilang Jacob sudah kembali dari Milan, Jo". Ucap Jesslyn sembari meletakkan teh hangat untuk menemani aktivitas suaminya
Jonathan menganggukkan kepalanya pelan.
"Anak itu pergi dan kembali sesuka hatinya. Kau jelas tahu itu, Baby". Jawab Jonathan
Jesslyn terkekeh pelan menanggapi perkataan suaminya.
"Aku rindu keramaian di mansion ini, Jo. Sekarang anak - anak kita sudah jarang kemari". Ungkap Jesslyn
"Mereka sudah punya kehidupan masing - masing, Baby". Jawab Jonathan
Pria itu terus melanjutkan kegiatannya mengetik sesuatu di laptopnya.
"Sepertinya kau sangat sibuk sekali, Jo. Apa aku mengganggumu ?". Merasa kali ini suaminya tidak terlalu menanggapi perkataannya seperti biasanya
Jonathan menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
"Aku hanya sedang memindahkan beberapa file untuk diperiksa Jacob nanti". Jawabnya santai
Jesslyn tersenyum tipis hendak beranjak namun ditahan Jonathan.
"Mau kemana ?".
"Kamar. Sepertinya kehadiranku mengganggu pekerjaanmu". Ucapnya pelan
Jonathan menggelengkan kepalanya cepat. Lalu meletakkan laptop itu di meja.
"Tidak ada pekerjaanku yang kau ganggu, baby. Tetap disini. Biarkan aku menyelesaikan ini dalam dua menit lagi". Ucap Jonathan
Terpaksa Jesslyn kembali duduk disebelah suaminya.
"Pinjam ponselmu, Jo. Aku ingin menghubungi mommy saja".
"Pakailah sesukamu, baby. Tidak perlu meminta izin". Jawab Jonathan yang kembali memangku laptopnya
Dengan tersenyum Jesslyn mengambil ponsel suaminya lalu menghubungi ibu mertuanya.
"Hallo, mom...". Sapanya dengan antusias
"....".
"Apa aku mengganggumu, Mom ?".
"...."
"Apa ada sesuatu ?".
"...."
"Benarkah ? Jacob bilang begitu ?".
"...."
"Lalu bagaimana tanggapan Angeline ?".
"...."
"Baiklah, mom. Besok aku akan ke mansion utama untuk membicarakan ini".
"...."
"Ya, Mom. Aku akan membuat kue kesukaanmu". Kekeh Jesslyn
"...."
"Malam...."
Klik...
Jesslyn kembali meletakkan ponsel itu di meja.
"Apa yang mommy katakan ? Sepertinya sesuatu yang mengejutkan untukmu ?". Tanya Jonathan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop
"Putramu itu Jo. Selalu tidak bisa diprediksi tindakannya". Ucap Jesslyn tanpa menjelaskan apapun kepada suaminya
Jonathan terkekeh pelan menanggapi perkataan Jesslyn barusan.
"Besok aku akan ke mansion utama. Apa kau mau ikut, Jo ?". Ujarnya
Jonathan menganggukkan kepalanya.
"Aku ke dapur dulu mau membuat kue kesukaan mommy". Ucap Jesslyn
"Malam - malam begini ? Apa tidak bisa besok pagi saja ?". Tanya Jonathan sembari melirik jam tangannya
Jesslyn menggelengkan kepalanya.
"Aku akan ke mansion utama pagi hari, Jo. Mana ada waktu membuat kuenya besok". Jawab Jesslyn
"Butuh bantuan membuat kuenya ?". Tanya Jonathan
Jesslyn menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
"Tidak perlu, Jo. Kau selesaikan saja pekerjaanmu. Ada banyak pelayan yang akan membantuku membuatnya". Ucap Jesslyn
Jonathan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Sepertinya setelah menyelesaikan pekerjaan ini aku akan langsung istirahat saja". Ujar Jonathan
"Iya, Jo. Aku ke dapur dulu". Pamitnya
Jonathan hanya menggelengkan kepalanya melihat antusias istrinya itu.
"Tidak pernah berubah. Sejak dulu selalu seperti ini jika akan bertemu mommy". Kekehnya pelan
Jonathan kembali menyelesaikan pekerjaannya ingin cepat - cepat beristirahat.
...****************...
Los Angeles – USA
Xan's Group
Jacob sudah kembali beraktivitas dikantor setelah beberapa hari absen dari gedung mewah itu.
"Tuan muda...". Sapa semua orang yang berpapasan dengan Jacob dan Mike
Tidak ada satupun tanggapan yang diberikan Jacob. Mike tersenyum tipis menanggapi sapaan mereka.
"Kumpulkan semua pimpinan masing - masing divisi. Kita rapat pagi ini !". Titah Jacob ketika mereka sudah berada didalam lift eksekutif
"Baik, Tuan". Ucap Mike
Ting !
"Tuan Muda... Tuan Mike...". Sapa semua orang yang berada dilantai teratas gedung itu
Mike hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Jacob seperti biasanya tidak memberikan tanggapan apapun.
Ting !
Denting ponsel Jacob pertanda ada pesan masuk.
Jacob merogoh ponsel di saku jasnya.
"Daddy ?". Gumamnya melihat nama pengirimnya
Segera dibukanya pesan masuk dari daddy nya itu.
Daddy
"Periksa e-mail yang daddy kirimkan. Daddy sudah mengirim hasil rapat grandpamu dua hari yang lalu. Periksa lebih rinci lagi, boy !"
Jacob menautkan alisnya tidak mengerti pesan yang dikirim daddy nya itu.
"Grandpa rapat ? Aku pikir daddy yang menggantikanku kemarin. Ah ternyata pria tua itu". Gumamnya dengan tersenyum smirk
Ceklek...
Jacob masuk kedalam ruangannya langsung membuka laptopnya memeriksa e-mail yang dikirimkan daddy nya.
Seketika keningnya mengerut tidak mengerti pada poin nomor sembilan yang dilingkari grandpanya itu.
"Yrish Hospital ? San Francisco ?". Ucapnya mengulang apa yang tertera dilaptopnya
Jacob berpikir keras kenapa dengan tempat itu ?. Jika sesuatu sudah ditandai oleh seorang Victor Xanders itu artinya ada sesuatu yang harus diselidiki dengan cepat.
"Grandpa tidak mengatakan apapun semalam. Ah pria tua itu sepertinya sengaja menjebakku agar terlihat bodoh seperti ini". Gerutunya
"Ke ruanganku sekarang !". Ucapnya melalui interkom yang terhubung langsung dengan orang kepercayaannya
Setelah mengatakan itu, Jacob membelakangi meja kerjanya untuk memandangi hamparan gedung - gedung kecil di sekeliling tempatnya berpijak.
"Tikus mana lagi yang memancing mautnya kali ini ?". Ucapnya bermonolog dengan tersenyum smirk
Ceklek...
Dua orang masuk ke dalam ruangan Jacob dengan ekspresi yang berbeda.
"Tepat jam sembilan pagi ini rapat sudah harus dimulai !". Titahnya tanpa berbasa basi
Mereka menganggukkan kepala cepat.
"Ruang rapat sedang dipersiapkan, Tuan". Jawab salah satunya
"Kumpulkan hasil rapat grandpaku beberapa hari yang lalu !".
"Baiklah, Tuan". Balasnya tanpa menunggu lama segera pamit undur diri untuk mempersiapkan berkas - berkas rapat kali ini
Tersisalah Mike, selaku tangan kanan sekaligus asisten pribadi Jacob.
"Seperti biasanya. Dia menghindari dunia luar terutama komunikasi dengan keluarganya, Tuan". Jawab Mike
Terdengar helaan nafas kasar dari Jacob.
"Pastikan dia aman dari jangkauan musuh, Mike !". Titahnya
Mike menganggukkan kepalanya sekalipun Jacob tidak melihat itu.
"Siapkan dok—". Perkataan Jacob terhenti ketika ada yang mendobrak paksa pintu ruangannya
Brakk. . . .
Seseorang berpenampilan serba hitam lengkap dengan topi dan masker menerobos masuk ke dalam ruang kerja Jacob dengan nafas terengah - engah seperti habis dikejar sesuatu.
"Maaf, Anda siapa ?". Tanya Mike dengan cepat memposisikan berdiri dihadapan orang itu
"Sorot matanya seperti tidak asing. Tapi siapa ?". Batin Mike menyipitkan matanya penuh intimidasi
"Jacob !". Teriak orang itu dengan berapi - api mengabaikan intimidasi dari Mike
Bahkan terselip nada kemarahan dalam suara itu.
"Perempuan ?". Gumamnya lagi semakin merasa tidak asing
Mike menatap orang itu penuh selidik. Sementara Jacob tersenyum tipis ketika suara itu terdengar.
Selang beberapa detik datang dua pria dan satu wanita menarik paksa wanita itu keluar. Tidak lupa meminta maaf terlebih dahulu kepada Jacob atas kelalaian mereka membiarkan orang itu naik kelantai ini.
"Maafkan kami Tuan. Kami akan segera membawa pergi orang ini". Ucap salah seorang dari ketiganya
"Lepas !". Titah orang itu memberontak
Jacob belum juga membalikkan tubuhnya melihat mereka semua.
"Aku bilang lepas ! Apa kalian tuli, hah ?". Bentak orang itu
"Hei !". Lagi - lagi dia memberontak ingin dilepaskan
"Keluar !". Akhirnya Jacob bersuara
Mendengar itu mereka semua beranggapan bahwa Jacob memberi perintah untuk membawa pergi orang yang sudah lancang masuk ke kantornya ini.
"Jacob Fucking Xan—".
"Biarkan dia tetap disini. Kalian keluarlah !". Titah Jacob lebih dulu memotong perkataannya
Seketika mereka menatap Jacob tidak mengerti. Sementara Mike langsung tersenyum samar saat mendengar umpatan yang belum selesai itu.
Dirinya jelas tahu hanya satu orang sejauh ini yang berani mengumpat Jacob seperti itu— Angeline Arberto !.
Tanpa berlama - lama Mike keluar dari ruangan itu diikuti mereka bertiga yang penuh tanda tanya kenapa Jacob membiarkan orang asing itu di dalam ruangannya.
"Merindukanku, Eh ?". Tanya Jacob menyeringai
Orang itu dengan cepat melepas topi dan maskernya melempar ke sembarang arah hingga menampilkan wajah cantik dengan rambut dikuncir satu menatap Jacob penuh amarah.
"Cihh. Kau tidak pantas untuk dirindukan siapapun !". Jawabnya dengan sinis
Jacob hanya tersenyum tipis mendengar jawaban itu.
"Apa maksudmu mengatakan kepada keluargamu bahwa kita akan menikah dalam waktu dekat, hah ?. Kau jelas tahu aku tidak akan pernah mau menikah apalagi menjadi anggota keluarga kalian !". Ungkapnya dengan nada tinggi
Jacob diam saja membiarkan wanita itu mengeluarkan amarahnya sampai puas.
"Aku tidak sudi. Kau dengar itu ?". Lanjutnya
"Meski kau hamil sekalipun ?". Jacob menyeringai
Glekk. . . .
Wanita itu terdiam sesaat. Ucapan Jacob mampu meruntuhkan emosinya yang mulai tersulut tadi.
"Ha–mil ? Tidak - tidak. Itu tidak akan mungkin !". Gumamnya menolak keras fakta itu
Jacob mendekati wanita itu lalu mengatakan sesuatu dekat dengan telinganya.
"Perlu aku ingatkan juga, Ms.Arberto... Malam itu aku tidak menggunakan pengaman dan sangat banyak mengeluarkannya didalam. Tidak menutup kemungkinan kau akan hamil anakku nanti". Bisiknya membuat wanita itu terdiam seribu bahasa
"In your dream ! Itu tidak akan pernah terjadi !". Ucapnya menyangkal semua penjelasan Jacob
Bohong jika dia tidak memikirkan perkataan Jacob barusan.
"Apa kau minum pil kontrasepsi pagi harinya, eh ?". Jacob kembali bersuara dengan raut wajah sulit diartikan
"I–ya. Tentu saja aku meminumnya. Aku tidak sudi mengandung benih dari pria iblis sepertimu !". Meski gugup wanita itu terus menyangkal Jacob
"Kau yakin ?". Tanya Jacob menyeringai
"Jangan menyentuhku !". Tunjuk wanita itu tepat diwajah Jacob
Tidak sedikitpun Jacob terpancing emosi melihat kelakuan wanita dihadapannya ini.
Padahal jika itu orang lain yang melakukannya sudah bisa dipastikan ada anggota tubuhnya yang akan hilang saat itu juga.
"Sepertinya mengulang kembali adegan malam itu di ruangan ini akan sangat menyenangkan". Ucap Jacob menyeringai bak iblis
Wanita itu menatap Jacob dengan horor.
"Sialan kau ! Jacob Fucking Xanders !". Wanita itu semakin tersulut emosi mendengar perkataan Jacob
Jacob tidak menghiraukan umpatan itu, dirinya semakin melangkah maju sehingga wanita itu terus mundur dan terpojok ke dinding membustnya tidak bisa bergerak.
"Kau ingin kita mengulanginya di atas meja kerjaku, Ruby ?". Bisik Jacob tepat ditelinganya
Deg. . . .
"Suara itu ? Kenapa aku merasa tidak asing ? Lagi - lagi pria ini yang bicara". Gumamnya menatap Jacob
Plakk. . . .
Refleks tangannya menampar pipi kiri Jacob karena merasa posisi mereka saat ini sangat intim sekali.
Mendadak pancaran amarah terlihat di mata Jacob setelah mendapat tamparan.
"Beraninya kau !". Ucapnya dingin nan datar menatap lurus mata wanita itu
Seketika wanita itu menundukkan kepala entah kenapa tidak berani bertatapan dengan mata tajam itu untuk saat ini.
"Kita tetap akan menikah cepat atau lambat !".
"Aku tidak menerima penolakan atau pemberontakan dalam bentuk apapun ! Camkan itu !".
Jacob terus bicara tanpa memberi celah wanita itu menjawabnya.
"Aku bukan budakmu yang bisa kau paksa, Sialan !". Wanita itu terus memaki Jacob
"Ahh apa aku perlu memberitahu grandma tentang malam indah itu, Eh ?". Jacob sedikit mengancam
"Sialan kau !". Ucapnya hendak menampar Jacob lagi
Dengan cepat Jacob menahan tangan itu, lalu menatap horor wanita itu seperti psikopat yang siap membunuh.
"Jangan menantangku, Angeline Arberto !". Peringat Jacob dengan dingin
Angeline ? Ya, wanita yang menerobos masuk tadi adalah Angeline.
"Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menikah denganmu ! Ingat itu !". Angeline menatap mata Jacob penuh amarah bercampur takut terpendam
"Dan sampai kapanpun aku tidak menerima penolakan ! Ingat itu !". Balas Jacob semakin dingin
"Jacob Fucking Xanders !". Teriaknya dengan tinggi
bahkan nafas yang terengah - engah terdengar sangat pendek
"Angeline Arberto !". Jacob tidak meneriaki nama itu dengan nada tinggi melainkan dengan suara yang terdengar menakutkan
Jika mereka berdua di dalam ruangan Jacob sedang adu tatapan tajam, maka berbeda dengan orang - orang yang menunggu didepan ruangan itu.
Mereka terkejut mendengar bentakan dengan nada tinggi dari dalam sana. Sontak mereka menatap pintu ruangan itu penuh tanda tanya.
Kembali ke ruangan Jacob....
Brughh. . .
Tanpa bisa dicegah mendadak Angeline pingsan tepat setelah dirinya meneriaki nama Jacob. Beruntung dengan cepat Jacob menahan tubuh itu agar tidak menyentuh lantai.
Jacob meletakkan tubuh lemah Angeline ke sofa agar lebih nyaman.
"Mike !". Teriak Jacob dengan keras
Ceklek...
Pintu terbuka menampilkan wajah - wajah terkejut melihat siapa yang sedang terbaring pingsan di sofa dalam ruangan itu.
"Astaga. Ternyata dia dokter itu".
"OMG, bukankah dia dokter yang dirumorkan sedang dating dengan tuan muda".
"Hampir saja pekerjaanku melayang jika sampai menyeret paksa wanita itu".
Gumam mereka bersamaan terkejut melihat sosok yang terbaring itu.
"Apa perlu saya hubungi dokter pribadi Anda, Tuan ?". Tawar Mike
Jacob menggelengkan kepalanya.
"Dalam dua jam kedepan jika masih belum siuman baru kita bawa ke rumah sakit". Jawab Jacob
Mendengar itu Mike hanya menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua ini sampai nona Angeline pingsan seperti ini ?". Batin Mike menatap Jacob dan Angeline bergantian
"Maaf, Ruby. Aku memancing emosimu". Gumam Jacob menyesali perdebatab mereka tadi