Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 32



Los Angeles — USA


JA Mansion


Tap... Tap... Tap...


"Master". Sapa ketiga pria itu bangkit berdiri setelah melihat Jacob menghampiri mereka


Jacob diam saja tidak membalas sapaan mereka.


Mike ikut menghampiri mereka bersama pak Yuan.


"Tuan Mike". Sapa mereka kembali


Lalu menganggukkan kepala melihat pria yang datang bersama Mike.


Ini pertama kalinya mereka datang ke mansion pribadi Jacob yang ada di Los Angeles.


Wajar saja mereka asing kepada pria itu dan suasana disana.


"Mansion Master yang disini sepertinya yang utama ya". Batin Mark menilai


"Kehidupan sebagai penerus keluarga Xanders memang impian semua orang". Gumam Alex


"Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di bangunan semewah ini. Kapan aku bisa memiliki hunian seperti ini ya". Batin Vincent memuji kediaman pribadinya Jacob


Mike membalas sapaan mereka dengan menganggukkan kepala.


"Apa ada yang harus kami lakukan, Master ?". Mark memberanikan diri bertanya


Jacob menatap datar ketiganya. Membuat mereka menelan kasar salivanya.


"Perlu bantuan untuk mengingat peraturan Klan X'Dragons ?". Seru Mike dikeheningan itu


"Peraturan ?". Batin mereka bersamaan


Dua detik kemudian mereka secara kompak melihat Jacob panik.


Glek


Mata mereka bertemu dengan sorot mata tajam Jacob.


"Sialan. Aku merinding setiap bersitatap dengan mata itu". Batin Alex


"Aura Master memang melebihi kata menyeramkan". Batin Vincent


"Selesai dengan muka tembok itu sekarang berhadapan dengan yang lebih parah". Batin Mark kesal


"Ekhmm". Mike sengaja berdehem sedikit keras agar mereka segera menyadari kesalahannya bukan malah menatap Jacob


"Tuan". Sapa Mark memberanikan diri mewakili Alex dan Vincent


Jacob mengeluarkan smirknya sesaat sebelum mengatakan hal yang membuat ketiganya mengerutkan alis.


"Istirahatlah sepuasnya sebelum berperang besok !". Begitulah perkataan Jacob sebelum beranjak meninggalkan semua orang


"Berperang ?. Astaga aku tidak membawa snipperku". Gumam Vincent


"Sial. Jika aku tahu akan peperangan dengan Klan lain sudah pasti aku membawa senjataku". Gerutu Alex


"Peperangan tanpa senjata ? Bagaimana bisa si muka tembok itu tidak memberitahu ini sebelumnya. Sialan". Mark memaki Phillip dalam hati


"Kalian tidak dengar perintah, Tuan ?". Mike kembali menyadarkan mereka


"Eh, ba—baiklah Tuan. Sesuai perintah. Kami akan istirahat". Ucap Alex sembari memberi kode Mark dan Vincent


"Ah iya. Alex benar, Tuan. Kami akan istirahat". Ujar Vincent


"Kami akan mencari penginapan di sekitar sini". Tutur Mark


Mike menaikkan alisnya mendengar itu lalu tersenyum sinis.


"Kalian pikir kawasan mansion ini seperti kawasan pada umumnya, heh ?". Sinis Mike


"Apa saat kalian kemari ada melihat hunian lainnya ?.


Mereka menggelengkan kepala.


"Masih tidak mengerti juga ?".


Sedetik kemudian mereka membulatkan matanya mengerti maksud penjelasan Mike.


Mike menampilkan senyum sinisnya lalu beranjak meninggalkan mereka semua.


Ketiga orang itu menatap arah perginya Mike dengan membatin masing - masing.


"Jadi ini kawasan pribadinya Master ? Oh My Godness. Pantas saja tidak ada satupun mansion dikawasan ini selain mansionnya Master". Gumam Alex


"Apa ini berarti sejenis kawasan private ? Astaga aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ada penyusup yang berani memasuki kawasan ini". Batin Vincent


"Pantas saja sejak melewati portal pertama aku merasa aneh. Tidak ada rumah disepanjang perjalanan hanya ada pria berjas rapi yang berjaga disetiap pos hingga masuk ke gerbang tinggi tadi". Mark bermonolog mengingat setiap inci ingatannya saat memasuki mansion Jacob


"Ekhmm".


Deheman itu menghentikan lamunan mereka.


"Mari saya tunjukkan kamar yang akan kalian tempati malam ini". Ujar pria yang sedari tadi berada disamping Mike


Mereka menganggukkan kepala saja meski otak mereka sedang berperang dengan organ lainnya membicarakan kekayaan sang master ini.


Yuan membawa mereka ke kamar di lorong kanan lantai satu itu.


"Silahkan pilih mau tidur dikamar manapun yang tersedia di lorong ini, Nak". Ucap Yuan saat mereka sudah sampai di lorong panjang dengan banyaknya pintu


Mereka membulatkan mata masing - masing saat melihat lorong itu sudah seperti sebuah lorong hotel bintang lima dengan desain mewah.


Yuan tersenyum melihat ekspresi ketiga pria dihadapannya itu yang dengan jelas mengagumi kemewahan mansion Jacob.


"Ini baru sebagian dari mansion yang kalian lihat, Nak. Belum sepenuhnya". Tutur Yuan seramah mungkin agar mereka tidak canggung dengannya mengingat mereka sepertinya seusia dengan Jacob jadi anggaplah seusia juga dengan putranya


"Ekhmm". Mark berdehem menghilangkan ekspresi bodohnya


"Apa Tuan Jacob tinggal bersama keluarganya disini, Tu—". Mark menatap Yuan penuh tanya


"Yuan. Panggil saja Paman Yuan". Ucap Yuan


"Tuan Jacob tinggal sendiri di mansion ini". Sambung Yuan menjelaskan


"What the hell. Apa dia bercanda dengan kami ? Master tinggal sendiri di mansion sebesar dan semewah ini ?". Gumam Alex


"Aku pikir keluarganya juga tinggal disini". Batin Vincent


"Pantas saja sepi. Ternyata tidak ada keluarganya yang tinggal disini". Mark ikut bermonolog


"Oh ya. Lalu Tuan Mike ?". Tanya Vincent karena keingingtahuannya seputar kehidupan sang Master sangat tinggi


"Sesekali dia akan menginap di mansion ini. Tetapi lebih sering tinggal penthousenya sendiri". Ucap Yuan tersenyum


Mereka menganggukkan kepalanya.


"Jika tidak ada yang diperlukan lagi. Saya permisi". Ucap Yuan hendak pergi


"Ah iya. Satu lagi. Jika membutuhkan sesuatu kalian bisa menekan interkom yang tersedia". Tuturnya lagi


"Iya, terimakasih Paman Yuan". Ucap Vincent mewakili keduanya


Yuan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Kita tidur dengan kamar yang berdampingan saja". Seru Mark


Vincent dan Alex menganggukkan kepala saja. Mereka sudah lelah sejak perjalanan dari Las Vegas ke Los Angeles.


Ceklek


Lalu mereka masuk kedalam kamar yang mereka pilih sesuai perkataan Mark barusan—Berdampingan saja.


Tanpa mereka sadari sejak tadi Jacob melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan sebelum masuk ke dalam kamar.


"Seperti aku memberi gaji mereka sedikit saja". Ucap Jacob mengomentari ketiga anak buahnya yang tiba - tiba mengeluarkan sisi lain dari gelar Mafia mereka.


Ting !


Jacob membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimkannya pesan dimalam hari seperti ini.


Grandma Sia


Grandma Sia


"Baiklah ibu ratu yang terhormat. Sesuai perintahmu"


Send


Ting !


Bunyi notifikasi pertanda sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya.


Dengan malas Jacob membukanya.


Mom


"Bawa calon menantuku jam tujuh pagi, Jac ! Time is money. Ingat itu !"


Jacob menggelengkan kepalanya setelah menerima dua pesan dari ibu dan neneknya itu.


Mom


"Of course, My Queen. Anything for you"


Send


"Sepertinya wanitaku sudah menduduki tahta tertinggi di keluarga Xanders". Kekeh Jacob lalu meletakkan kembali ponselnya di nakas setelah membalas pesan dari ibunya


...****************...


Los Angeles — USA


Lyn's Hotel and Resort


Tampak suasana di ballroom hotel bintang lima itu disibukkan dengan banyaknya orang kesana kemari untuk memastikan rangkaian acara hari ini harus benar - benar sempurna sesuai perintah Sia.


Tidak jauh berbeda dengan ballroom itu di sebuah kamar president suit tampak juga di resahkan karena kehadiran sang pemandu aktivitas mereka belum tiba.


"Ck, Awas saja jika dia terlambat lebih lama lagi !". Geram Sia


"Honey. Jacob tidak pernah mengingkari janjinya". Victor membela cucunya


"Lalu ini ?". Sinis Sia


"Look at this". Ucap Victor menunjuk jam dinding di ruangan itu


"Masih sepuluh menit lagi tepat jam 7". Sambungnya


"Ya - ya bela saja terus cucu kesayanganmu itu". Ujar Sia kesal meninggalkan Victor yang menggelengkan kepala


"Bukan begitu, Honey".


"Daddy benar, Mom. Jacob tidak pernah mengingkari janjinya. Tunggu saja dalam hitungan detik dia sudah didepan matamu, Mom". Kekeh Jonathan


Selang beberapa detik kemudian terdengar pintu diketuk dari luar.


Tok... Tok... Tok...


Mia selaku asisten pribadi Sia langsung bergegas membuka pintu itu.


Ceklek


Mia tersenyum ramah melihat pasangan yang sejak tadi dibicarakan keluarga atasannya.


"Tuan, Nona". Sapa Mia lembut


Angeline membalas sapaan Mia dengan menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Jacob acuh saja seperti tidak melihat siapapun.


Hal itu membuat Angeline memukul pelan lengan Jacob.


"Apa ?". Jacob bertanya seolah tidak tahu padahal dia tahu betul alasan Angeline memukul lengannya


"Tidak bisakah sehari saja jangan menunjukkan sikap arogant mu itu ? Ck". Gerutu Angeline berjalan mendahului Jacob menuju keluarganya


Jacob tersenyum tipis melihat kelakukan Angeline. Dirinya mendekati daddy dan grandpanya yang tidak henti - hentinya menatap penuh cinta wanita mereka.


"Akhirnya kalian datang juga". Ucap Sia mengelus pipi Angeline


"Grandma, maaf. Kami sedikit terlambat". Tutur Angeline


"Tidak, Nak. Kalian datang bahkan sebelum waktu yang ditentukan grandma". Ujar Jesslyn membuat Sia tersenyum kikuk seolah menyadarkan Sia dari kekesalannya beberapa menit yang lalu


"Aku bilang apa kan, Mom ? Jacob akan tiba dalam hitungan detik". Kekeh Jonathan


"Are you okay, Grandma ?". Jacob menatap Sia


"Tidak, sebelum akhirnya aku melihatmu datang membawa Angeline". Jawab Sia tersenyum kecut


Mereka yang melihat itu sontak terkekeh. Bagaimana bisa nyonya besar mereka sejujur itu dalam semua hal.


"Grandma". Ulang Jacob tanpa ekspresi


"Biasalah, Boy. Grandma mu tidak sabaran". Sindir Victor


Sia yang mendengar itu menatap tajam suaminya.


"Mom. Bagaimana jika kita mulai merias Amor saja". Ajak Jesslyn berusaha mengalihkan kekesalan ibu mertuanya itu


Sia menanggukkan kepalanya menyetujui ajakan Jesslyn. Seketika itu pula raut wajah Sia berubah bahagia melihat cucu perempuannya yang sejak tadi diam saja.


"Istriku memang yang paling bisa meredakan amarah mommy". Batin Jonathan terkekeh dalam hati


"Amarah dan kekesalan istriku hanya bisa reda dalam hitungan detik jika sudah bersama menantuku". Gumam Victor


Jika kedua pria itu sibuk bermonolog dalam hati. Lain halnya dengan Jacob. Dirinya menatap sang adik yang diam saja sejak tadi.


Jessica yang biasanya akan seheboh grandmanya kenapa sekarang dihari spesialnya justru diam seperti patung.


"Sepertinya ada yang tidak beres". Gumam Jacob terus menelisik sang adik


"Mom, biar aku yang menata rambutnya". Ucap Angeline mengambil alih pekerjaan Jesslyn


Dengan senang hati Jesslyn memberikan peralatan itu kepada Angeline.


"Baiklah. urusan rambut itu bagianmu. Maka urusan perhiasan yang akan dikenakan itu urusanku". Celetuk Jesslyn sedikit tertawa


"Lalu aku akan mengurus apa ?". Tanya Sia cemberut


"Mom. Kau kan ibu ratu disini. Jadi cukup duduk saja melihat hasil tangan dari dayang - dayangmu ini". Ujat Jesslyn tertawa


Mendengar itu Sia dan Angeline juga tertawa.


Mereka terus menata apa saja yang akan dikenakan Jessica hari ini. Sementara sang empu tetap bungkam meski sesekali ikut tertawa akan lelucon dari Angeline.


Sedangkan Victor, Jonathan dan Jacob memilih meninggalkan ketiga wanita yang sedang bersama Jessica itu.


Termasuk Mia yang juga kali ini ikut andil dalam mempersiapkan Jessica atas permintaan Sia sendiri.


#Ballroom Hotel


Ting !


Jacob segera melihat pesan masuk ke ponselnya.


Mike


"Finish, Master. Tim B dan Tim J sudah pada posisi mereka masing - masing"


Mike


"Tetap awasi semuanya, Mike !"


Send


"Meski aku tidak mempercayai pria itu. Tapi aku lakukan ini semua demi kebahagiaan adikku". Gumam Jacob menatap seisi ballroom hotel yang sudah dihiasi dengan berbagai dekorasi termewah sesuai perkataan Sia waktu itu


Ya, hari ini adalah hari pertunangan Jessica dan Felix.


Sesuai permintaan Sia bahwa pertunangan harus semewah mungkin mengingat acara pernikahan mereka nanti hanya akan dihadiri keluarga dan kerabat saja.


Sebenarnya hal itu agak tidak bisa diterima oleh Sia. Bagaimanapun Jessica adalah cucu perempuan satu - satunya. Tapi ya sudahlah. Felix dan Jessica lebih berhak menentukan konsep pernikahan mereka nanti.