
Los Angeles — USA
Lyn's International Hospital
Kedua orang tua anak laki - laki itu sedang menunggu dengan harap cemas di depan ruang operasi.
"Apa putra kita akan baik - baik saja, Pi ?". Tanya istrinya cemas
"Of course, bukankah kita sudah menyerahkan yang terbaik kepada dokter itu dan Tuhan ?". Ucap suaminya berusaha tegar
"Bagaimanapun aku tetap cemas menanti hasilnya, Pi".
"Calm down. Putra kita anak kuat tidak akan mudah menyerah". Tutur suaminya lembut
Sepasang suami istri itu saling menggenggam menyalurkan kekuatan menghadapi keadaan ini.
Tap... Tap...
Jacob tiba didepan ruang operasi itu diikuti beberapa staff rumah sakit dan asisten pribadinya. Bahkan kini Jacob terlihat segar dengan perban dikepalanya sudah dibuka.
Sepasang suami istri itu menatap Jacob penuh tanya terlebih wajahnya menampilkan aura dingin.
"Aku minta maaf atas nama rumah sakit ini, Tuan". Ucap Jacob datar membuat mereka yang mengenal Jacob sebagai pria irit bicara cukup terkejut saat ini
"Maaf. Apa maksud Anda, Tuan ?".
"Aku Jacob Xanders. Presdir rumah sakit ini". Ujarnya
Deg
"Pengaruh nona Angeline memang begitu besar untuk kehidupan Anda, Master". Batin Mike cukup terkejut dengan permintaan maaf yang Jacob ucapkan
"Aghh itu tidak apa - apa, Tuan. Seluruh rumah sakit pasti akan begitu jika administrasinya belum dilunasi". Ucap pria dihadapannya tersenyum
Begitupun dengan istrinya ikut tersenyum merasa tidak enak hati karena Presdirnya sendiri yang turun tangan meminta maaf.
"Kami dari kalangan biasa, Tuan. Hidup berkecukupan. Beruntung kami dipertemukan dengan dokter baik hati itu. Beliau yang menanggung semua biaya putra kami". Tutur wanita dihadapnnya
Jacob menolehkan kepalanya menatap wanita itu.
"She's my future wife". Ucap Jacob kedua kalinya memperkenalkan Angeline sebagai calon istrinya
"Oh really, Sir ?".
Jacob menganggukkan kepalanya.
"Anda beruntung memiliki pasangan hidup seperti dokter itu, Tuan. Selain parasnya yang cantik, hatinya juga cantik". Pungkas wanita itu
"Semoga kalian selalu bahagia, Tuan". Sambung pria disebelahnya
Jacob diam tidak bergeming membalas atau sekedar menjawab perkataan mereka.
Matanya kini menatap pintu ruang operasi.
Ceklek
Pintu itu terbuka menampilkan Angeline beserta tim bedahnya kali ini keluar sembari mendorong brankar pasien.
"Putraku". Seru pasangan paruh baya yang senantiasa menanti putranya keluar dari dalam sana
Angeline tidak memperdulikan kehadiran Jacob disana.
Pandangan Jacob dan staffnya terfokus pada Angeline yang masih menggunakan pakaian bedah lengkap dengan masker dan sarung tangannya.
"Bisa - bisanya berkeliaran dengan pakaian setipis itu !". Gumam Jacob geram menatap tajam Angeline
"Anda menguji kesabaran master, nona Angeline". Batin Mike tertawa
"Bagaimana operasinya, Nak ?". Tanya wanita itu kepada Angeline
"Semuanya berjalan dengan lancar dan aman, Nyonya". Bukan Angeline yang menjawab tetapi Sarah yang mengetahui titik lemah Angeline setiap selesai operasi
"Syukurlah. Terima kasih banyak kalian sudah menyelamatkan nyawa putra kami, Nak". Tuturnya kepada mereka
Sementara mereka yang menjadi tim bedah Angeline kali ini tersenyum menanggapi perkataan wanita itu.
Ting !
Mereka sampai di lantai dua rumah sakit internasional segera membawa pasien tadi ke ruang perawatan yang difasilitasi oleh Angeline.
Deg
Sepasang paruh baya itu terkejut dengan ruangan yang mereka tempati.
"Darimana biaya yang aku dapatkan untuk membayar kamar ini, Tuhan". Gumam pria yang Angeline ketahui sebagai ayah pasiennya
"Aku yang bertanggung jawab mengenai semua biayanya sampai anak kalian sembuh". Ucap Angeline yang menyadari kebungkaman dua orang itu
"Tapi nak—".
"Tidak apa - apa. Anggap saja ganti rugi atas kelalaian pihak rumah sakit kami". Tutur Angeline cepat
Mereka semua diam setelah mendengar penuturan Angeline.
Tok... Tok...
"Masuk". Ucap Sarah sedikit berteriak
"Kalian semua ditunggu presdir di ruang rapat setelah jam makan siang berakhir, Dok". Ucap staff yang mengikuti Jacob tadi ternyata menyusul mereka
"Rapat dadakan ?". Gumam Sarah dan tim bedah tadi yang memang tidak mengetahui permasalahan sebelum operasi
"Semuanya, Sus ?". Tanya salah satu dokter
Suster itu menganggukkan kepalanya.
"Kecuali yang sedang bertugas di jam itu, Dok". Ucapnya lagi
"Baiklah, terima kasih". Tutur dokter itu mewakili semuanya
"Baik. Saya permisi dok, sus". Ucapnya pamit
Setelah staff itu pergi Angeline akhirnya bersuara lagi.
"Kalian pergilah makan siang. Setelah itu aku minta Dokter Anne dan Suster Sarah untuk menunggu pasien diruangan ini". Titahnya
"Anda tidak ikut istirahat, Dok ?". Tanya Sarah
Angeline menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mengawasi pasien ini dulu. Kalian bisa istirahat dulu sebelum kembali bertugas". Ucap Angeline
"Saya akan menemani Anda disini, Dok". Ujar Sarah cepat
Angeline menatap tajam asistennya itu dengan berkata.
"Kau punya riwayat asam lambung yang cukup parah, Sar. Jadi ikutlah makan siang bersama mereka. Aku tidak menerima penolakan !". Seru Angeline membuat Sarah terpaksa menurut
"Dia selalu memikirkan orang lain tapi menomor sekiankan dirinya sendiri, Ck". Gumam Sarah menggerutu tapi tidak bisa membantah Angeline juga
Akhirnya mereka termasuk Sarah pergi untuk mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum kembali melakukan tugas dan kewajiban mereka.
#Pukul Satu Siang Waktu Los Angeles
Sesuai perintah Jacob kini semua dokter, suster dan staff rumah sakit internasional berbondong - bondong datang memenuhi ruangan rapat yang biasanya terjadwal enam bulan sekali itu.
"Kenapa mendadak kita rapat seperti ini ?"
"Apa ada dokter atau sukster yang melakukan kesalahan besar ?"
"Dari zaman Tuan Jonathan memimpin rumah sakit ini belum pernah ada rapat dadakan begini"
"Apa ini terkait masalah di lantai dua tadi ?"
"Semoga dokter Angeline tidak di skors"
"Oh My Godness, aku berharap dokter Angeline tidak mendapat surat peringatan"
Begitulah desas desus terdengar kali ini karena rapat dadakan.
Ceklek
Jacob masuk bersama Mike dan wakil presdir yaitu Dokter Steven.
"Apa semua sudah berkumpul di ruangan ini ?". Tanya Dokter Steven
Semua dokter dan suster memandang satu sama lain menyadari ada beberapa dokter dan suster yang belum hadir.
"Dokter James sedang ada kelas seminar bersama Yayasan Theresia, Dok". Ucap asisten Dokter James memberitahu
"Ada lagi ?".
"Dokter Anne bersama Suster Sarah sedang mengawasi pasien pasca operasi, Dok". Ucap suster lain memberitahu
"Suster Sarah asisten Dokter Angeline ?". Tanya Dokter Steven heran
Suster yang mengatakan itu menganggukkan kepalanya.
"Dokter Stella tidak hadir karena ada beberapa pasien yang mengantri untuk memeriksakan kandungan mereka, Dok".
Informasi demi informasi kian diberitahu hingga sampai seorang dokter yang dikenal rival Dokter Angeline mengatakan bahwa sang dokter tidak ada disini bahkan tanpa keterangan.
"Apa ada yang tahu dimana Dokter Angeline ?". Tanya Dokter Steven
Semua saling melirik satu sama lain bertanya melalui mata apakah ada yang melihat dokter itu.
"Aku melihatnya setengah jam yang lalu masuk ke ruang kerjanya, Dok". Ungkap asisten pribadi Dokter Steven
"Kau yakin itu Dokter Angel ?".
Asistennya menganggukkan kepala.
Pandangan Jacob menatap dingin semua mata yang dilihatnya seolah sedang mencari sesuatu.
Ceklek
Pintu ruang rapat terbuka menampilkan sosok yang sedang dibicarakan sebelumnya kini terlihat cukup pucat.
"Maaf aku terlambat, Dok. Presdir". Ucap Angeline membungkuk sopan kepada Jacob dan Dokter Steven
Pandangan Jacob terfokus ke wajah pucat Angeline.
"Silahkan cari tempat yang kosong, Dok. Rapat akan segera dimulai". Tutur Dokter Steven
"Apa ada yang aku lewatkan ?". Gumam Jacob dengan mata mengikuti langkah Angeline
Jacob berdiri lalu menatap sekelilingnya dingin. Melhat aura tidak bersahabat dari Jacob mendadak ruangan dipenuhi keheningan.
"Saya tidak perlu menjelaskan akar dari rapat dadakan ini. Kepada yang bersangkutan saya minta untuk menjelaskan semuanya, Hmm". Ucap Jacob kemudian duduk lagi
Deg
Beberapa dokter dan suster yang terlibat insiden tadi pagi mendadak berkeringat dingin.
Mereka jelas tahu siapa yang dimaksud Jacob.
Hening
Tidak ada tanda - tanda akan mendengar penjelasan siapapun.
Brakk
Jacob menggebrak meja didepannya marah karena tidak ada yang berani bersuara dihadapannya saat ini.
"Bicaralah dan jelaskan ! Sebelum aku yang menjelaskannya !". Seru Jacob datar
Dengan cepat Angeline berdiri lalu berusaha bicara dengan menatap kearah Jacob.
"Saya minta maaf, Tuan. Saya tahu pelanggaran yang saya lakukan pagi ini". Ucap Angeline
"Saya siap menerima konsekuensi dalam bentuk apapun". Sambungnya
Semua orang menatap Angeline penuh tanya kecuali mereka yang terlibat insiden itu terus menunduk takut.
"Pelanggaran apa ?". Pancing Jacob
"Mengambil alih tugas dan jadwal operasi Dokter Alfred tanpa persetujuan dari direksi rumah sakit terlebih dahulu, Tuan". Ungkap Angeline tegas
Jacob tersenyum devil melihat keberanian dan kejujuran Angeline mengatakan itu tanpa rasa takut kepadanya.
"You're mine, Ruby ! Wanita harus kuat dan berani sepertimu". Batin Jacob menatap lurus Angeline
"Benar - benar tipe ideal menantu keluarga Xanders". Batin Mike ikut mengomentari keberanian Angeline
Hening
Tidak ada yang bersuara lagi setelah Angeline. Hingga Jacob kembali bersuara.
"Hanya Dokter Angeline ?". Tanyanya
"Dokter Laura, Dokter Alfred, Dokter Camilia beserta asisten kalian, ada yang ingin disampaikan ?". Ucap Jacob datar
Deg
"Apa presdir tahu insiden tadi pagi ?"
"Sial, Semua ini gara - gara Angeline sialan. Awas kau ya !".
Gumam mereka yang merasa disindir Jacob.
"Be—gini, Tuan. Sebenarnya—".
Terpaksa Dokter Camilia menjelaskan semuanya dihadapan Jacob dan seluruh pekerja rumah sakit ini.
Sementara dokter dan suster yang terlibat hanya menundukkan kepalanya malu dan takut.
"Mike !". Panggil Jacob keras
"Apa ada peraturan seperti itu di rumah sakit ini ?". Sambungnya marah setelah mendengar alasan mereka belum melakukan tindakan operasi itu
"Tidak ada, Tuan". Ucap Mike
Deg
Perasaan takut semakin menghantui mereka terkecuali Angeline yang entah sejak keluar dari ruang operasi perutnya sangat sakit.
"Lalu siapa yang membuat peraturan seperti itu, hah ?". Bentak Jacob
Angeline terkejut mendengar bentakan Jacob yang terbilang keras. Tidak marah saja Jacob sudah seram apalagi sedang marah seperti sekarang—Sangat menyeramkan.
"Kepala rumah sakit terdahulu yang memasukkan datanya ke komputer, Tu—". Jelas Dokter Camilia namun terputus kala Jacob bicara
"Dokter Alfred ! Dimana Anda saat itu ?".
"Di—ruang operasi, Tuan". Jawabnya gugup
"Operasi yang dijadwalkan jam itu kenapa Anda alihkan ke pasien lain. Sementara pasien Anda harus kesakitan, hah ?". Hardik Jacob
"Dokter Laura bilang pasien belum bisa di operasi karena terkendala administrasi, Tuan. Jadi say—".
"Tidak seharusnya kalian seperti itu. Apa naluri kemanusiaan kalian sebagai orang yang seharusnya menyelamatkan nyawa seseorang justru membiarkannya merasa sakit begitu saja. Apa itu benar ?". Bukan Jacob yang bicara melainkan Angeline yang tersulut emosi mendengar penjelasan mereka
"Apa sebegitu pentingnya administrasi daripada nyawa seseorang, Hah ?". Lagi, Angeline membentak mereka semua dihadapan Jacob
Jacob mengeluarkan smirknya melihat keberanian Angeline diatas rata - rata. Jika semua orang takut kepada Jacob hanya Angeline yang berani.
"Kalian ini dokter dan suster rumah sakit ternama. Tapi hati kalian tidak menyimpan sedikitpun simpati kepada pasien". Sambung Angeline menahan sakit diperutnya
Jacob diam saja menyaksikan seberapa jauh keberanian Angeline.
"Dokter Angeline ! Jaga bicara Anda !". Bentak Laura tidak terima dirinya ikut dipojokkan dan dipermalukan dihadapan presdir mereka
"Kenapa ? Kau tersinggung, Hah ? Bukankah kau sendiri yang mencegahku membawa pasien itu ke ruang operasi, Dokter Laura yang terhormat !". Sarkas Angeline kesekian kalinya
"Dokter Angeline, Kau—".
"Cukup !". Jacob berdiri membuat mereka yang sejak tadi diam menyaksikan argument antara dua dokter itu sekarang menunduk takut
"Kalian semua salah disini !".
"Ada konsekuensi yang harus kalian dapatkan !". Seru Jacob
"Dokter Alfred !"
Merasa namanya disebut dokter itu menatap berdiri.
"Anda akan ditempatkan di Yayasan Theresia selama dua bulan !". Ucap Jacob
Mendengar itu dokter yang bersangkutan hanya bisa pasrah menerima akibat kelalaiannya.
"Baik, Tuan". Jawabnya lemah
"Dokter Camilia !"
Dengan cepat dokter itu berdiri.
"Anda dipindah tugaskan ke kota New York selama satu bulan !"
Tidak ada jawaban dari dokter itu. Hanya ada keheningan.
"Dokter Laura !"
Mendengar namanya disebut sontak dokter itu yang posisinya berhadapan dengan Angeline berdiri menatapnya sinis.
"Anda akan mengabdi selama tiga bulan di negara perbatasan !". Ucap Jacob mutlak
Mendengar itu dokter Laura semakin menatap benci Angeline.
"Kalian berlima ! Sebagai asisten dokter tersebut dipindah tugaskan ke pulau terpencil selama satu bulan. Mengerti ?".
Mereka menganggukkan kepalanya saja.
Kini semua orang menatap Angeline menanti apa yang akan didapatkan dokter itu sebagai hukumannya.
"Kau. Suster Emilly !"
"Anda di skors tiga hari !"
"Syukurlah hanya tiga hari. Semoga Dokter Angeline sepertiku". Gumamnya menatap Angeline dan Jacob bergantian
"And you !"
"Dokter Angeline. Anda memang melakukan tindakan yang tepat. Tapi Anda juga salah karena mengambil alih tugas dan jadwal dokter lain begitu saja". Mendengar itu Angeline menunduk meremas perutnya yang semakin sakit
Sebelum melanjutkan perkataannya. Jacob menatap intens Angeline.
"Kenapa dia berkeringat seperti itu ?". Gumamnya menelisik Angeline
Sementara Angeline berusaha menahan dirinya untuk tetap sadar. Keringatnya mulai bercucuran. Rasa sakit diperutnya semakin menjadi.
"Atas pelanggaran Anda kali ini. Anda di skors satu minggu !".
"Sial, dia hanya satu minggu. Awas kau Angeline. Aku akan membalasmu !". Batin Laura memaki Angeline
"Bisa - bisanya dia hanya satu minggu sedangkan kami berbulan - bulan !". Batin yang lainnya tidak terima
"Mentang - mentang dia calon istrinya presdir jadi diberi keringanan, cih !". Batin kelima suster terkait
Jacob tidak memperdulikan tanggapan orang lain. Dirinya terus menatap lekat Angeline
"Sshh kenapa ini semakin sakit". Batin Angeline berteriak
"Sepertinya nona Angeline kesakitan". Batin Mike melihat keanehan di diri Angeline
"Anda dengar Dokter Angeline ?". Ulang Jacob
Angeline berusaha mengangguk namun pelan.
"Baiklah. Saya rasa rapat kali ini sampai disini ! Insiden hari ini jadikan pembelajaran untuk kalian kedepannya, mengerti !". Titah Jacob
"Baik, Tuan". Ucap mereka serentak
Setelah itu mereka semua diperbolehkan meninggalkan ruangan.
Brughh
Seketika Angeline pingsan tepat setelah semua orang meninggalkan ruangan itu menyisakan Jacob, Mike, dan Dokter Steven
"Ruby !"
"Nona !"
"Dokter !"
Pekik mereka bertiga terkejut melihat Angeline pingsan.
Dengan cepat Jacob menggendong Angeline ala bridal keluar ruangan itu menuju ruang UGD terdekat diikuti Mike dan Dokter Steven.
Beberapa dokter dan suster yang masih disekitar sana terkejut melihat Angeline pingsan.