Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 6



Los Angeles — USA


Mansion Utama


Semua pembantu sedang disibukkan dengan kegiatan masing - masing karena malam ini akan ada acara berkumpulnya keluarga dan kerabat.


"Mia, apa cucu perempuanku sudah datang ?". Tanya Sia sembari menata bunga ditamannya


"Sebentar lagi pasti terdengar suaranya, Mom". Ujar Jesslyn terkekeh melihat ibu mertuanya yang sedari tadi menunggu kedatangan putrinya dengan tidak sabaran


"Tidak bisakah sehari saja kalian tidak mengurus bunga - bunga itu, Mom ?". Tanya Jonathan baru tiba sehabis menyelesaikan kegiatannya bersama sang ayah


"Apa kegiatanku mengganggumu, Jo ?". Ucap Sia menatap putranya nyalang


"Bukan begitu maksudku, Mom. Look at this. Kalian sudah berumur tapi masih suka berdiri lalu jongkok lalu berdiri lagi. Apa tidak membuat pinggangmu sakit, Mom ?". Ujar Jonathan menatap ibunya yanh kini sudah berdiri dari atas sampai bawah


"Kau ingin bilang bahwa karena aku sudah tua jadi aku tidak boleh melakukan apapun lagi, begitu ?". Ujar Sia menatap tajam putranya


Deg...


"Daddy, grandmaku tidak tua. Hanya saja sedikit renta". Celoteh seseorang yang baru saja tiba dihalaman belakang


Semua mata memandang kearah suara itu berasal.


"Amor". Pekik Sia kegirangan saat tahu cucu perempuannya sudah berdiri dihadapannya sekarang


"Grandma". Pekik gadis itu tak kalah nyaring dari sang grandma


Mereka berdua berpelukan seperti sudah berpisah sangat lama, padahal minggu lalu mereka baru saja bertemu dan menghabiskan uang sang grandpa.


"Kalian kegirangan begini seperti tidak bertemu dua abad". Sindir pria tua yang berjalan mendekati mereka semua


"Ishh, bilang saja kau iri karena tidak bisa merasakan bagaimana rasanya kegirangan seperti kami ?". Balas Sia dengan sinis kepada suaminya


"Tidak ada kata iri dalam kamus kehidupan Victor Fazio Xanders". Ujarnya menatap sang istri dengan tatapan meremehkan


"Kau yakin, V ?". Kini Sia menatap lekat suaminya dengan tatapan mengejek


"Of course". Ucapnya bangga


"Oh, berarti pria dalam rekaman yang terlihat menyedihkan seperti orang frustasi karena iri dengan sep—".


Deg... Victor membulatkan matanya ketika mendengar perkataan istrinya


"Yrish Theresia Geraldiev !". Ujar Victor dengan nada tidak bersahabat sama sekali


Semua yang melihat itu sontak ingin membubarkan diri sebelum terjerumus kedalam kandang singa hutan.


Sia yang menyadari perkataannya membangkitkan singa yang lapar dengan cepat menarik tangan cucu dan menantunya menjauhi suaminya.


"Grandma, apa tidak apa - apa kita meninggalkan grandpa di sela kekesalannya". Ujar Jessica saat mereka sudah sampai dikamar sang nenek


"Of course, disana ada daddy mu yang menangani pria tua itu". Ucapnya terkekeh


"Kau benar - benar licik, Mom". Ujar Jesslyn ikut terkekeh mendengar perkataan ibu mertuanya yang melimpahkan semuanya kepada suaminya


"Siaga satu, Mom". Sambungnya mengingatkan Sia


"Sudah, lupakan pria tua itu. Oh ya apa Jacob sudah memberi tahu kalian jam berapa dia akan sampai mansion ?". Ucap Sia mengalihkan pembicaraan


Mereka hanya menggelengkan kepala karena memang tidak tahu jam berapa pria itu akan tiba.


"Kalian berdua cucu grandma, bagaimana mungkin aku hanya menunggu salah satunya saja". Ucap Sia sembari mengusap kepala cucunya


Lalu mereka bertiga tertawa lepas seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.


"Bagaimana rupa wanita yang akan kakak bawa kali ini". Ujar Jessica membuat Sia dan Jesslyn diam dengan pemikiran masing - masing


"Entahlah, yang jelas saat mereka tiba kita harus memulai permainan seperti sebelum - sebelumnya, Nak". Tutur Sia diiringi seringaian licik begitupun dengan Jessica


"Mereka ini, beruntunglah aku normal disini". Batin Jesslyn menatap anak dan mertuanya yang sedang tersenyum licik


"Baiklah, Grandma. Aku harus kembali menemui pujaanmu. Karna sedari tadi aku belum menyapanya". Ucap Jessica hendak keluar meninggalkan Jesslyn dan Sia


Sementara Sia dan Jesslyn hanya menganggukkan kepala saja mendengar penuturan Jessica.


...****************...


R&K Boutique


"Ini sangat pas sekali di tubuhmu, Nona. Perfecto !". Ujar pria gemulai yang sedari tadi membantu Angeline mencoba dress terbarunya


"Bisakah ini yang terakhir ? Jujur saja aku lelah mencoba semua dress yang kau bawa". Angeline menghela nafas kasar karena lelah mengganti satu dress dengan dress lainnya


"Eh, iya. I—ni yang terakhir. Tinggal satu dress lagi setelah itu Anda bisa beristirahat". Ucapnya sedikit kikuk lantaran baru kali ini ada wanita yang merasa bosan jika memilih pakaian


"Aku yakin wanita ini sangat istimewa, karena Tuan Muda sendiri yang membawa dan menunggunya selama ini". Gumamnya menatap lekat Angeline


"Ekhemm". Deheman itu sengaja dikeraskan agar Jacob yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya terusik


"Aku harap setelah ini butikku tidak ditutup, Tuhan". Batinnya takut saat melihat tatapan tajam Jacob ketika mendengarkan dehemannya


"Ba—gaimana dengan dress ini, Tuan ?". Dia sangat gugup jika sudah mendapat tatapan mautnya Jacob Xanders


"So Beautiful". Ucapnya tanpa sadar


"Hahh". Angeline terkejut mendengar pujian Jacob. Mendadak ada banyak kupu - kupu berterbangan di hatinya


Glekk... Jacob menelan ludahnya kasar ketika menyadari mulutnya mengeluarkan pujian itu


"Aku ambil yang ini saja, Mike yang akan membayar tagihannya. Mr.Ri or Mrs.Ri ?". Ujar Jacob sedikit menggoda pria bertulang lunak itu


"Senang bisa melayani Anda, Tuan Muda. lain kali sering - seringlah membawa wanitamu ini ke butik ku". Ucapnya mengalihkan rasa salah tingkah akibat godaan Jacob barusan


"Of course". Setelah mengatakan itu, Jacob menarik tangan Angeline keluar dari butik ternama di Los Angeles itu


"Kau yang terbaik sayang". Teriak pria gemulai itu dengan suara khas dibuat - buat menyerupai wanita


Sedangkan Jacob kini memilih mengendarai mobilnya sendiri bersama Angeline menuju mansion utama dimana semua orang sudah menunggunya.


"Kita akan kemana, Sir ?". Akhirnya Angeline membuka suara ditengah - tengah kesunyian dua insan itu


"Mansion utama". Ucap Jacob tanpa melihat Angeline


"Hah". Angeline benar - benar tidak mengerti ada apa dengan pria disampinganya ini


"Dia menarikku sesuka hatinya tanpa peduli kelelahanku pasca melakukan operasi tadi, dan sekarang membawaku ke ? Hisshh apa tadi yang dia ucapkan ? Aihh sudahlah aku kesal jika berhadapan dengan pria dingini ini, Tuhan". Batinnya menatap keluar jendela dengan kesal. Apalagi ada pria kutub disebelahnya semakin menambah kekesalan Angeline


Tanpa berniat menanyakan lebih jelas tujuan mereka, Angeline memilih diam menatap keluar jendela yang menampilkan pemandangan menjelang malam hari di kota Los Angeles ini.