
Los Angeles — USA
Xanders Mansion
Cup
"Morning grandma, mommy". Sapanya setelah memberi kecupan selamat pagi kepada dua wanita yang menolak tua itu
"Kau jangan bersikap manis seperti itu didepan grandpamu, Sweety". Cicit Sia terkekeh
Mendengar itu Jesslyn ikut terkekeh mengerti maksud perkataan ibu mertuanya.
"Biar saja grandma. Pria tua itu terlalu pelit berbagi dengan cucunya sendiri". Pungkas Jessica
"Oh really, Sweety ? Bukankah kau kembali dari San Diego menggunakan jet pribadi grandpamu ?". Pancing Sia
"Of course, grandpa memaksaku grandma jelas tahu itu". Ucap Jessica asal
"Lalu dimana letak pelitnya grandpamu, Jess ?". Tanya Jesslyn
"Mommy, grandpa itu baik dan tidak pernah pelit hanya kepada kembarannya beda generasi itu. Sementara aku hanya mendapat sisanya". Ungkap Jessica tidak menyadari siapa yang berdiri dibelakangnya yang sudah menatap tajam dirinya
Sia dan Jesslyn tertawa cukup keras menanggapi perkataan Jessica
"Kau yakin dengan perkataanmu, Jess ?". Suara itu menghentikan tawa mereka
Sedari tadi sudah ada Victor dan Jonathan yang menyaksikan kelakuan mereka bertiga.
Deg
Jantung Jessica seakan tidak aman berada ditempatnya saat ini setelah mendengar suara datar itu.
"Ahh grandpa ku tersayang". Rayu Jessica mendekati Victor dengan manja
"Tentu saja tidak begitu. Grandpa yang terbaik. Aku tadi hanya bercanda dengan grandma. Iya kan grandma ?". Sambungnya dengan menekan kalimat terakhirnya
"Tidak, V. Tadi cucumu tersayang itu bilang kau grandpanya yang terpelit tidak mau berbagi dengan cucunya. Kau tidak pernah menuruti keinginannya sejak kecil". Ucap Sia asal membuat Jessica membulatkan mata mendengar omong kosong neneknya
"Sial. Grandma kenapa berbohong kepada grandpa". Batin Jessica berteriak menatap kesal Sia
"Mana ada begitu grandpa. Jangan percaya dengan grandma". Ucapnya dengan cepat mendapat kekehan dari Sia dan Jesslyn
"Dunia ini tahu grandpamu sangat percaya dengan perkataanku, Sweety". Ujar Sia menatap remeh Jessica
"Grandma". Decak kesal Jessica
Mereka tertawa melihat kekesalan Jessica pagi ini. Seakan menjadi hiburan untuk mereka.
"Sudah - sudah. Grandma hanya mengerjaimu saja, Jess". Mendengar itu Jessica mendekati ibunya lalu memberi kecupan dipipinya
Cup
"Mommy yang terbaik". Ucapnya
Jesslyn membalas dengan mengusap pipi putrinya itu lembut.
"Duduklah bersama grandpa dan daddy mu, Jess". Ucap Jesslyn
Jessica menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, mom. Grandpa masih menyeramkan". Bisiknya pelan kepada Jesslyn
Sia mendengar bisikan itu mempunyai ide untuk mengerjai cucu perempuannya itu.
"V, listen to this. Cucumu ini bilang kau sangat menyeramkan hingga dia takut berada didekatmu". Teriak Sia sedikit keras membuat Jessica menatap horor neneknya
"Grandma, kau—". Kesal Jessica
"Jessica Amora Xanders !". Nada suara Victor sangat dingin
Baik Sia, Jesslyn, Jessica maupun Jonathan tahu arti dari suara itu diikuti panggilan nama lengkap.
Jessica perlahan mendekati daddy dan grandpanya sedikit menundukkan kepala.
"Yes, Grandpa". Ucapnya sudah berdiri didekat Victor
"Jessica". Ulangnya membuat sang pemilik nama melihat lurus mata Victor yang tajam
"Ulangi perkataanmu". Seakan terhiptonis Jessica menganggukkan kepala
"Aku menyayangimu, Grandpa V". Ucapnya menatap Victor lembut mengeluarkan jurus mengelabui sang kakek
Melihat itu Victor tersenyum, dirinya tahu gadis muda di hadapannya ini sedang mengeluarkan jurus memanipulasi keadaan—Ciri khas seorang Xanders.
"Berusaha mengecohkan ku, little girl". Batin Victor terkekeh
"Jika begini putriku sebelas dua belas dengan kakaknya sekali". Batin Jonathan melihat perubahan sikap Jessica
"Benar - benar didikan mommy". Batin Jesslyn tersenyum menatap Jessica dan Sia bergantian
Victor menyudahi kejahilan mereka kepada cucunya dengan mengelus lembut rambut Jessica. Lalu memanggil Liu memintanya membawakan sesuatu.
"Ambil ini, gunakan sesukamu saat di sana. Grandpa tahu kau akan kembali siang ini". Ucap Victor memberikan sebuah kartu yang membuat mata Jessica berbinar
"This is black card". Batinnya bersorak gembira
"Gra—ndpa, kau serius ?". Tanyanya berusaha meyakinkan penglihatannya
"Of course, this is for you. Agar aku tidak mendengar ada cucuku yang mengatakan aku pelit lagi". Ujar Victor tersenyum tipis
Cup
Jessica memberi kecupan dipipi pria tua yang masih gagah itu dengan lembut. Lalu memeluknya
"Ah grandpa. i really love you so much". Ucapnya setelah melepaskan pelukannya pada Victor
"Pergilah. Jangan biarkan temanmu disana menunggu sampai malam, maybe". Mendengar itu sontak Sia bersuara dengan cepat
"V, Mana boleh begitu. Amor boleh kembali ke San Francisco jika sudah menghabiskan sarapannya !". Ujar Sia
"It's okay, grandma. Aku bisa sarapan di dalam pesawat nanti". Ucap Jessica hendak kekamarnya
"Tidak bisa begitu, Amor !". Keras Sia
"Sudahlah, Honey. Biarkan dia melakukan apapun keinginannya". Ucap Victor lembut
"Tapi, V. Dia baru kembali dua hari yang lalu masa dibiarkan pergi lagi pagi ini". Ucap Sia sedikit sedih
"Mom, baik Jessica maupun Jacob sudah dewasa. Mereka tahu mana baik dan buruk. Lagipula mommy kan yang selalu bertanya kapan Jessica membawa kekasihnya. Mungkin saat ini dia sedang berkelana mencari orang yang tepat". Tutur Jonathan membuat Sia berbinar
"Apa benar itu, V ?". Victor hanya menganggukkan kepala
"Baiklah, tidak apa - apa". Akhirnya Sia tidak melarang lagi
Mereka kembali dengan kesibukan masing - masing setelah perbincangan tadi. Termasuk Jessica yang kini sudah berad di mobil untuk melakukan perjalanan kembali ke San Francisco. Drama tangis grandma dan mommy nya yang seolah melepas pergi dirinya untuk pertama kali.
"Mereka itu, padahal ini bukan pertama kalinya aku pergi". Gumam Jessica mengingat saat dua wanita tersayangnya menangis saat dirinya berpamitan
...****************...
Los Angeles — USA
Xan's Group
"Kau bilang apa, Mike ?".
"Nona Jessica sudah kembali ke San Francisco pagi ini, Tuan". Ulangnya
Mendengar itu Jacob menghela nafasnya kasar.
"Anak itu benar - benar tidak bisa diam". Ucapnya mengomentari kelakuan sang adik
"Minta tim B mengawasi Jessica dari kejauhan, Mike !". Titah Jacob
"Siap, tuan". Ucap Mike
"Bagaimana dengan Angeline ?". Jacob merubah topik pembahasan mereka
"Agak sedikit aneh, tuan.Sejauh ini pasca siuman nona Angeline terlihat biasa saja sangat berbeda dengan sebelum pingsannya, tuan. Seperti dua kepribadian". Tutur Mike
Jacob berdehem menanggapi penjelasan Mike.
"Ada lagi yang ingin anda tanyakan, tuan ?". Tanya Mike
Jacob diam saja memikirkan kejadian kemarin. Setelah dirinya mengikuti dokter yang menangani Angeline. Dirinya terlihat menjauh dari pandangan wanita itu. Bahkan dirinya pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepada keluarganya yang masih menunggu di depan UGD. Hanya Mike yang datang menjelaskan alasan kenapa Jacob mendadak pergi.
"Aku sungguh tidak menyangka akan separah itu trauma yang dialaminya". Batin Jacob menatap lurus
Hening
"Aku pastikan bajingan itu merasakan apa yang kau rasakan, Ruby". Batin Jacob kembali bersuara
"Tuan". Panggil Mike sedikit keras
"Pergilah". Ucap Jacob dingin
"Baik, tuan". Balas Mike sebelum berlalu dari ruangan Jacob
Setelah kepergian Mike, Jacob mulai melanjutkan pekerjaannya