Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 29



Los Angeles — USA


Mansion Utama


Jessica mendapat tatapan penuh selidik dari Sia setelah melihat keberanian pria yang dibawanya menegur Victor tanpa takut.


"I—tu. Kami".


"Hmmm". Deheman Victor menghentikan perkataan Jessica


"V". Tegur Sia tahu apa yang akan dilakukan suaminya


"Apa kau temannya Jessica, Nak ?". Tanya Sia lembut


Pria yang bernama Felix itu menolehkan kepalanya menatap Sia.


"Grandma, dia—".


"Saya calon tunangan Jessica, Nyonya Xanders". Ucap Felix santai tanpa peduli reaksi keluarga itu


Deg


Jantung Jessica seolah meloncat meninggalkan tempatnya mendengar pernyataan pria disampingnya ini.


"Oh My Godness. Tenggelamkan aku di dasar lautan saja daripada berhadapan dengan pria ini". Batinnya mengumpat Felix kesal


Mendengar itu sontak mereka semua yang disana membulatkan matanya tidak percaya terkecuali Victor yang sejak tadi menatap Felix tajam.


"Astaga, nona muda benar - benar mengejutkan". Batin pelayan disana yang ikut mendengar itu


"Amor ?". Sia menatap cucunya penuh tanya


Jessica menganggukkan kepalanya membenarkan pernyataan yang dilontarkan Felix.


"Aku harap Grandpa tidak menghajar pria ini, Tuhan". Batin Jessica menatap Victor dalam diam


"Jess". Panggil Sia seperti butuh tempat untuk menopang tubuhnya


"Mom". Jesslyn mendekati Sia dengan cepat


Sia sungguh syok mendengar pernyataan mendadak ini.


"Apa dihadapanku ini benar - benar cucuku, Jess ?".


"Maybe yes, maybe no, Mom". Jawab Jesslyn yang juga sama terkejutnya dengan Sia


"Ayo kita duduk saja, Mom". Ajak Jesslyn menuntun Sia duduk


Sementara Jessica diam berdiri dengan berkeringat dingin seolah seperti tersangka kejahatan.


Victor dan Jonathan masih menatap lekat pria yang datang bersama Jessica.


"Siapa kau ?". Victor mulai menunjukkan aura tidak bersahabatnya


Felix yang mendengar itu kembali menatap Victor tenang.


"Saya Felix Marcello, Tuan". Ucapnya melebihi kata santai


Disaat semua orang diluaran sana gemetar berhadapan dengan seorang Victor Xanders yang memiliki aura mematikan seperti cucunya Jacob Xanders, namun Felix tenang - tenang saja seperti sudah biasa.


"Apa kelebihan yang kau miliki hingga berani bersama cucuku ?". Tanya Victor mengintimidasi


Mungkin mereka yang mendengar itu akan beranggapan bahwa Victor sangat pemilih terlebih mengutamakan harta diatas segalanya.


Terdengar seperti menunjukkan kekuasaannya bukan ? Ya, begitulah seorang Victor Xanders jika sudah mengintimidasi seseorang.


"Grandpa". Tegur Jessica pelan merasa tidak senang dengan kebiasaan Victor yang satu ini


"Apa harus bertanya seperti itu ? Selalu mempertanyakan kepantasan mereka, ck". Gumam Jessica kesal


Victor menatap tajam Jessica. Jika biasanya mata itu selalu menatap Jessica lembut hari ini justru pertama kalinya menatap tajam dirinya.


Glek


Jessica menelan kasar ludahnya melihat tatapan sang kakek.


"Sial, aku lupa dihadapanku ini Victor Xanders !". Batin Jessica berteriak


"Saya pemilik Marc Corporation, Tuan". Ucap Felix lantang seolah memperjelas siapa dirinya


Mendengar itu Jonathan mengerutkan alisnya seperti tidak asing.


"Marc Corporation ?". Jonathan bersuara


Felix menganggukkan kepalanya.


Jessica melirik Felix heran, sungguh dirinya belum mengetahui identitas pria ini karena situasi yang memaksanya berdiri berdampingan dengan Felix.


"Kau putra dari Arthur Marcello ?".


Lagi - lagi Felix menganggukkan kepalanya.


Jonathan tersenyum membuat Jessica terkejut.


"Apa daddy mempercayainya begitu saja ?". Batin Jessica tidak percaya


"Kau mengenalnya, Jo ?". Tanya Victor datar


"Ya, Dad. Dulu kami cukup sering menjadi partner bisnis". Ujar Jonathan


Victor diam tidak mengatakan apapun lagi. Tatapannya masih sangat tajam kepada Felix.


"Ck, ini baru grandpa. Belum lagi kak Jacob". Cicit Jessica sepelan mungkin


"Sudahlah, Dad. Jangan terus mengintimidasinya seperti itu. Aku mengenal orangtuanya. Jesslyn juga pasti mengingat itu". Tutur Jonathan kini menjadi penengah


Victor beranjak menuju istri dan menantunya. Mengabaikan ketiga orang itu.


"Maafkan kakeknya Jessica ya. Dia memang overprotektif sejak dulu kepada Jessica. Ya mengingat hanya Jessica cucu perempuannya". Ungkap Jonathan ramah


Felix tersenyum tipis menanggapi perkataan Jonathan. Pandangannya beralih menatap Jessica.


"Awal yang cukup baik. Sesuai dugaanku tidak mudah menghadapi Victor Xanders". Batinnya masih menatap datar Jessica


"Huft, syukurnya daddy menjadi penengah. Oh Tuhan aku masih harus menghadapi satu monster lagi setelah ini". Gumam Jessica menghela nafas


"Ayo, Nak. Kemari duduk bersama kami". Ajak Jonathan yang sudah duduk bersama orangtua dan istrinya


"Are you okay, Mom ?". Jonathan khawatir


Sia menganggukkan kepalanya.


"Aku hanya terkejut mendengar ini secara mendadak, Jo". Jawab Sia


"Grandma, aku minta maaf jika ini terlalu mengejutkan. Tapi percayalah kami sudah lama menjalin hubungan". Tutur Jessica saat sudah mendekati keluarganya dengan Felix disampingnya


"Kau menjalin hubungan diluar sana tanpa memberi tahu kami ?". Akhirnya Jesslyn bersuara


"Mom, aku ini sudah besar. Menjalin hubungan sebatas kekasih tidak perlu memberi tahu lebih awal bukan ?".


"Lagipula aku memang akan mengenalkan kekasihku jika kami sudah sama - sama berkomitmen untuk menikah". Sambungnya


"Pembohong yang baik". Batin Felix meremehkan Jessica


"Lalu sekarang dengan mudahnya kau mengatakan ingin menikah ?".


"Kami akan bertunangan, Mom. Itu sebabnya aku bilang akan memberi kejutan untuk kalian". Seru Jessica


"Jess, bertunangan dan menikah itu tidak mudah. Semua harus di urus jauh - jauh hari". Ucap Jesslyn


"Aku tidak mau pernikahan yang mewah, Mom. Cukup dihadiri keluarga dan kerabat saja". Tutur Jessica membuat Jesslyn mengerutkan alisnya


"Are you kidding me, Jess ?".


Jessica menggelengkan kepalanya.


"Kau itu cucu perempuan satu - satunya keluarga Xanders. Bagaimana mungkin hanya menikah biasa saja, Amor". Seru Sia


"Grandma. Masih ada kak Jacob, bukan ? Biarkan pernikahannya nanti yang mewah. Aku cukup sederhana saja". Ucap Jessica


Sia dan Jesslyn sontak mengerutkan alis mereka merasa ada yang aneh dari Jessica.


"Seperti bukan cucuku yang suka kemewahan". Batin Sia menilai


"Apa ini henar - benar putriku yang cinta kemewahan itu ?". Batin Jesslyn ikut menilai Jessica dan Felix yang mendadak ingin bertunangan


"Kapan kalian ingin bertunangan ?". Tanya Jesslyn


"Sa—".


Mendengar itu sontak mereka membulatkan mata terkejut termasuk Jessica sendiri.


"Sialan. Perjanjiannya kan satu minggu lagi tunangan. Ck. Beraninya menipu Jessica Xanders". Batin Jessica memaki Felix


"Lebih cepat lebih baik". Batin Felix


"Tidak bisa !". Protes Sia


"Jika kalian ingin pernikahan yang hanya dihadiri keluarga dan kerabat saja. Setidaknya pertunangan kalian harus dihadiri rekan bisnis dua keluarga ini, Amor !". Sambungnya


Jessica menatap Sia dan Felix bergantian.


"Bukan hanya grandma saja yang ingin begitu. Akupun juga sama. Aku ini cucunya Victor Xanders bagaimana mungkin hanya pernikahan biasa. Harus mewah dan termegah di kota ini. Tapi itu tidak mungkin terjadi, grandma. Mengingat pria sialan ini dengan ancamannya itu membuatku tidak bisa meminta lebih". Batin Jessica berteriak


"Felix tidak suka keramaian, Grandma. Lagipula setelah menikah aku akan sering mendampinginya menghadiri pesta kolega bisnisnya, bukan ? Seperti grandma dan mommy dulu, Right ?". Ungkap Jessica berusaha meyakinkan keduanya


Sia memicingkan matanya menatap cucu perempuan satu - satunya itu.


"Jadi kau tetap pada keputusanmu untuk tidak ada kemewahan, Amor ? Mengingat ini pertama dan terakhir kalinya dalam hidup". Sia bertanya untuk memastikan pendengarnnya


"Mungkin yang pertama, grandma. Tidak tahu akan menjadi yang terakhir atau tidak". Batin Jessica bermonolog


Sementara tiga pria beda generasi disana tetap diam terlebih Victor masih menatap tajam pria yang akan menjadi tunangan cucunya itu.


"Ini baru daddy, belum lagi Jacob, ck". Gumam Jonathan menggelengkan kepalanya pelan melihat aura permusuhan dari Victor


"Iya, grandma. Benarkan sayang ?". Ujar Jessica sengaja menekan kata sayang diakhir kalimatnya agar Felix ikut membantunya meyakinkan keluarganya


Felix berdehem mengiyakan perkataan Jessica.


"Jadi tidak ada ya pernikahan mewah yang sudah aku impikan sejak dulu". Tutur Sia menatap Jesslyn


"Mom. Ini sudah pilihan mereka. Masih ada Jacob jika mommy lupa". Ucap Jesslyn terkekeh


"Apa tidak bisa sedikit saja di campur kemewahan, Amor ?". Sia berusaha menggoyahkan Jessica


Jessica tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


Sia menghela nafasnya kasar setelah melihat harapannya pupus.


"Baiklah, jika itu sudah keputusan kalian. Kami hanya mengikuti saja". Pungkas Jesslyn


Jessica tersenyum getir melihat reaksi dan tanggapan keluarganya.


"I'm sorry Mom, Grandma". Batin Jessica ingin rasanya menangis karena pernikahan impiannya tidak akan terlaksana


Ya, pada akhirnya mereka menyetujui keputusan Jessica mengenai konsep pertunangan dan pernikahannya nanti.


Karena terlalu fokus membahas pertunangan mendadak itu mereka tidak menyadari kehadiran Jacob dan Angeline terkecuali bibi Grace dan paman Liu yang tentu saja menyadari kehadiran mereka sejak tadi namun tetap diam sesuai perintah Jacob.


"Hmm".


Mereka semua menolehkan kepalanya menatap arah deheman yang terdengar sengaja di keraskan.


Jessica sangat hafal suara itu menatap kebelakangnya perlahan.


Deg


Jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya ketika melihat tatapan mematikan dari Jacob.


"Mati aku. Sejak kapan monster itu ada disana". Batin Jessica tidak berani menatap kakaknya


"Kalian sudah lama tiba, Jac ?". Tanya Sia berusaha mencairkan suasana


"Satu Victor saja sudah menyeramkan ditambah satu lagi kembarannya ini". Batin Sia


"Sejak kalian membahas pertunangan tanpa menungguku, maybe". Ucap Jacob dingin


Semuanya diam menunggu apa yang akan Jacob lakukan.


"Tinggalkan kami berdua !". Titah Jacob terdengar menyeramkan


"Ini yang aku takutkan, Tuhan". Batin Jessica cemas


Mereka yang mendengar itu sontak beranjak meninggalkan halaman itu karena tahu maksud dari ucapan Jacob.


Angeline sejak tadi diam saja kini heran tidak mengerti.


"Ayo, nak. Kita masuk ke dalam saja". Ajak Jesslyn yang mengerti keterdiaman Angeline


"E—ehh, iya, Mom". Ucapnya kikuk lalu beranjak dari tempatnya mengikut keluarga itu masuk ke dalam mansion utama


"Amor !". Seru Sia ketika melihat Jessica masih disana berdiri disamping Felix


Jessica menatap grandmanya memelas.


Sia menggelengkan kepalanya. Dia tahu kehadiran Jessica disana akan mempersulit Felix nanti.


"Umpan sudah masuk perangkapku. Langkah menuju target utama semakin luas". Batin Felix menatap Angeline sesaat lalu memberi kode Jessica untuk meninggalkannya disini


Jessica melangkahkan kakinya berat. Seolah mencemaskan Felix yang berhadapan dengan kakaknya.


Setelah semua orang masuk ke dalam mansion. Terlihat Jacob mulai tatap menatap dengan Felix.


Bagaimana Jessica tidak mengkhawatirkan Felix. Kakanya diam saja sudah menyeramkan dengan melihat sorot matanya mewakili semuanya. Apalagi jika sudah mengeluarkan suaranya.


Kini mereka semua dapat melihat Jacob dan Felix diluar sana melalui kaca transparan menampilkan halaman luas itu.


"Semoga Tuhan melindungi calon suami nona muda".


"Tuan muda benar - benar menyeramkan ya, Sialnya dia sangat tampan".


Bisik - bisik pelayan yang tadi mendengar langsung perintah Jacob.


"Entah ini hanya perasaanku atau kecemasanku saja. Aku seperti melihat dua pemimpin mafia sedang bernegosiasi". Batin Victor menilai Jacob dan Felix


"Mereka seperti Victor dan mendiang daddy ku dulu saat muda". Batin Sia ikut merasakan aura dari keduanya


"Aku seperti tidak asing dengan pria itu". Batin Angeline melihat Felix lebih lama


Lima belas menit berlalu, Jacob masuk ke dalam mansion diikuti Felix dibelakangnya.


Melihat itu semua orang menatap mereka dengan banyak pertanyaan dibenak mereka masing - masing.


"Aku mengizinkan pertunangan mereka !". Ucap Jacob dikeheningan itu


Para wanita yang sejak tadi menatap cemas kini tersenyum lebar setelah mendengar keputusan Jacob.


"Selamat ya, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Jess". Ungkap Angeline kini memeluk Jessica


Entah kenapa dirinya sangat senang setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Jacob.


Jessica tersenyum getir menatap mereka semua yang bahagia mendengar itu.


"Aku berjanji tidak akan pernah menghapus kebahagiaan diwajah kalian semua". Batin Jessica terharu


"Dua monster sudah berhasil kalian lewati, Amor". Bisik Sia pelan sembari memeluk Jessica


Mendengar itu Jessica terkekeh.


"Selamat, Nak. Akhirnya putriku yang manja ini sebentar lagi akan menjadi seorang istri". Tutur Jesslyn kini sudah memeluk erat Jessica


Mereka semua diliput rasa bahagia dengan kabar ini. Sampai tidak memperhatikan tatapan Victor dan Jacob yang tetap menatap tajam Felix.


"Liu, ikut denganku !". Titah Victor tiba - tiba


Victor lalu beranjak meninggalkan mereka semua tanpa mengatakan apapun termasuk menatap Jessica saja tidak.


Melihat itu Jessica ingin mengejar kakeknya tapi terhenti saat mendengar perkataan Jacob.


"Aku yang akan bicara dengan grandpa".


Setelah mengatakan itu Jacob ikut beranjak menyusul Victor.


"Aku tahu grandpa masih tidak menyetujui keputusanku. I'm sorry grandpa". Batin Jessica sedih


Sementara tatapan Felix tertuju pada Angeline dengan intens.


"Grandpamu hanya belum menerima saja, Amor. Setelah kakakmu yang menenangkannya dia pasti akan bicara lagi denganmu". Ungkap Sia memahami kecemasan cucunya


"Grandmamu benar, Jess". Ucap Jonathan


Sia meminta mereka semua untuk duduk sembari berbincang - bincang mengenai konsep warna pertunangan Jessica nanti.


Dengan semangat Angeline ikut memberi sarannya mengenai konsep warna dan tema nanti.


"Entah kebahagiaan atau kesedihan yang menjemputku didepan sana". Batin Jessica menerawang