
Chicago, IIIinois — USA
Satu persatu mobil dan motor masuk ke dalam kawasan mansion mewah yang terletak di ujung kota Chicago.
"Tuan Mike, Tuan Phillip". Sapa pria tua yang mengenakan seragam hitam lengkap dengan tongkat ditangannya dengan ramah
Sementara Mike dan Phillip menganggukkan kepala mereka dengan tersenyum tipis membalas sapaan pria itu.
"Mari, Tuan muda sudah menunggu kalian dari tadi". Tuturnya sembari mempersilahkan mereka semua masuk
"Tidak perlu mengantar kami, Paman. Jacob masih dikamarnya, bukan ?". Instruksi Phillip mendapat anggukan kepala pria itu
Baru beberapa langkah kaki mereka sudah terhenti kala deru sebuah mobil sport yang baru masuk terakhir kali.
Pria itu mengernyitkan alisnya merasa asing dengan mobil sport keluaran terbaru tersebut.
Brum... Brumm... Brummm
"Mobil siapa itu ?". Gumamnya tanpa menyadari satu dari tiga pria yang menjadi tangan kanannya Jacob tidak ada
Phillip dan Mike menatap jengah mobil yang baru saja datang itu.
Tanpa menunggu sang pemilik mobil keluar mereka beranjak masuk ke dalam mansion mewah tersebut.
"Hei... Benar - benar tidak setia kawan sekali kalian ini ya !". Teriak seorang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil itu dengan raut penuh kekesalan
Pria tua yang sedari tadi mencari sosok itu diantara orang - orang yang berdatangan akhirnya tersenyum setelah mendengar suara itu yang kerap kali menjadi pemecah keheningan diantara semuanya.
"Tuan muda...". Sapanya dengan tersenyum ramah
Pria yang tadinya kesal langsung membalas sapaan itu dengan senyuman juga.
"Paman. Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu". Tuturnya lembut
"Anda yang jarang datang kemari, Tuan". Balasnya
"Salahkan pria pemilik mansion ini paman. Jangankan datang kemari. Setiap aku ingin tidur selalu saja dijemput paksa anak buahnya karna misi mereka, Hufft". Jelasnya menampilkan raut sendu
"Sudahlah lupakan itu paman. Tidak apa - apa. Mari masuk. Mereka pasti menunggu kita di ruang tamu". Ajak pria itu kepada pria yang usianya jauh lebih tua dihadapannya ini
Pria tua itu menganggukkan kepalanya lalu beranjak masuk kedalam mansion mewah milik Jacob.
Setibanya mereka disana masih belum terlihat sosok sang pemilik mansion itu diantara teman - temannya.
"Paman, aku ke atas dulu". Ucapnya beranjak pergi membuat mereka yang melihat itu bertanya - tanya
"Zayn !". Seru Phillip
Pria itu tetap melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan semua orang.
"Dia naik ke lantai atas ?". Gumam Vincent merasa aneh dengan keberanian Zayn
"Tuan Zayn berani sekali naik ke lantai atas mansion ini". Batin Alex
Sementara Phillip, Mike dan Samuel yang memang tahu siapa jati diri Zayn tentu saja merasa itu hal biasa. Mengingat pria itu adalah keluarga Jacob sendiri. Meski mereka juga dibebaskan untuk naik atau menempati ruangan dimanapun disemua mansionnya Jacob.
"Dia sepertinya sangat mengantuk". Kekeh pria tua yang disapa paman itu
"Dia kan memang begitu, Paman. Selalu mengatakan tidurnya tertunda karena misi dari Jacob". Ujar Phillip tersenyum tipis
"Seharusnya anak itu tidak bersama kita, Niel". Mike ikut terkekeh
Sementara Samuel, Vincent dan Alex hanya diam saja karena tidak tahu apa yang akan mereka katakan.
Tap... Tapp...
Langkah kaki terdengar menuruni tangga dengan irama yang sempurna.
"Mas—".
"Tuan...". Mike mendahului Vincent yang akan menyapa Jacob dengan panggilan master.
"Hampir saja". Gumam Phillip sembari melayangkan tatapan menghunusnya kepada Vincent
"Bocah ini memang cari mati, ck". Batin Mike ikut menatap tajam Vincent
"Kenapa mereka seperti ingin membunuhku ?". Batin Vincent bergidik mendapati dua tatapan tajam dari Mike dan Phillip
"Hmmm". Hanya itu tanggapan Jacob yang kini sudah duduk ditempatnya
Mata Jacob berputar ke kanan ke kiri seperti mencari satu objek yang tepat.
Hening
"Dimana Zayn ?". Tanya Jacob
"Tuan muda naik ke lantai atas, Tuan. Sepertinya ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda". Jawab pria tua yang setia menunggu mereka semua
"Kalian tidak ingin melanjutkan tidur yang tertunda juga ?". Sindir Jacob
Mereka diam tidak ada yang menjawabnya. Sampai akhirnya Mike yang bicara.
"Aku dan Samuel menemukan ini, Tuan". Ujar Mike menyerahkan sesuatu yang ditemukannya saat di gedung itu
Jacob mengambilnya lalu membolak balikkan benda yang terlihat setengah namanya hampir hilang.
"Ruby Arberto ?". Ucapnya
"Ada yang lain ?".
Mike menganggukkan kepalanya lalu mulai menjelaskan apa saja yang dirinya dan Samuel temui di dalam gedung itu.
Beberapa menit berlalu setelah Mike menjelaskan semuanya satu persatu diantara mereka mulai berasumsi.
"Apa itu nama wanitanya Master ?". Gumam Samuel yang menangkap satu poin pentingnya
"Astaga, kehidupan Nona Angeline selalu dalam bahaya". Batin Vincent dan Alex yang tahu jelas siapa itu Ruby Arberto
"Sepertinya yang dibilang Liu itu benar. Nona Angeline sudah menguasai hati dan kehidupan Tuan Muda". Gumam pria tua dengan tersenyum tipis
"Jadi poin pentingnya yaitu...". Phillip bersuara memecah keheningan mereka
"Jauh sebelum masuk kedalam hidupmu, Angeline memang sudah menjadi incaran banyak mafia, Right ?". Phillip menatap Jacob intens
Mereka menganggukkan kepala setuju dengan kesimpulan Phillip.
"Apa kau yakin wanitamu itu hanya berasal dari keluarga yang terbilang biasa saja, Jac ?". Tanya Phillip
Jacob tetap diam dengan tangan sudah meremas name tag yang dipegangnya.
"Aku harap kau bukan keturunannya, Ruby". Batin Jacob penuh harap
Hening
Jacob tidak memberi tanggapan apapun hanya saja dari sorot matanya seperti menampilkan aura yang berbeda. Sehingga membuat mereka semua terdiam dengan meneguk kasar ludah masing - masing.
"Kenapa Master jadi diam setelah mendengar penjelasan Tuan Mike ?". Vincent bermonolog
"Master ini benar - benar sangat misterius". Gumam Alex
"Ketua Mafia termisterius yang ada di muka bumi ini". Batin Samuel ikut bermonolog menilai Jacob dengan sisi misteriusnya
Hanya Jacob dan Tuhan yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Jacob bangkit dari duduknya lalu mengatakan satu perintah yang membuat mereka semua tercengang.
"Istirahatlah. Pilih kamar dimanapun yang kalian mau. Paman Liam yang akan mengantar kalian !". Ujarnya sebelum beranjak meninggalkan mereka semua tanpa menjelaskan apapun lagi
"Oh, jadi namanya paman Liam". Gumam Samuel, Alex dan Vincent bersamaan yang memang penasaran siapa nama pria tua yang menyambut mereka tadi
"Tugasmu satu jam lagi, Niel ! Bawa Vincent dan Samuel bersamamu !". Titahnya dari kejauhan yang masih dapat didengar oleh mereka semua
"Zayn benar. Seharusnya aku berpura - pura mengantuk saja. Sialan. satu jam mana cukup untuk mengistirahatkan mataku ini, ck !". Gumam Phillip memaki Jacob
Sementara Vincent langsung menunjukkan ekspresi bodohnya.
"Aisshh baru saja aku ingin tidur. Satu jam lagi ada misi baru. Benar - benar mereka ini ingin membuatku mati muda". Geram Vincent dalam hati
Sedangkan yang lainnya menyeringai menanggapi perkataan Jacob.
"Sepertinya kata tidur tidak ada dalam kamusnya Master". Gumam Alex
"Selamat bersenang - senang dengan Black Tiger, Niel !". Batin Mike menyeringai penuh arti
Ting !
Denting pesan yang masuk ke ponsel Phillip sukses memecah keheningan mereka.
Dengan cepat Phillip membuka dan membacanya dalam hati.
Master
"Aku akan muncul tepat di jam empat pagi ini. Surprise kecil dariku untuk pemimpin mereka"
"Ku pastikan kau akan mendapatkan jackpot terbesarmu tahun ini, Tuan Marvin yang terhormat". Ucap Phillip menyeringai penuh arti
Setelah dirasa tidak ada lagi pembicaraan itu sontak mereka semua berjalan mencari kamar masing - masing untuk mereka tempati di mansion besar itu.
"Berapa banyak mansion yang Master miliki sebenarnya? Bukankah di Los Angeles juga dia punya banyak properti". Gumam Vincent lagi - lagi mengagumi interior mansion yang begitu mewah di hadapannya ini
Sementara Jacob yang sudah didalam kamarnya segera menghubungi seseorang yang tentu saja akan menjawab panggilan darinya tanpa kenal waktu itu.
"Semoga saja itu bukan kau, Ruby". Tutur Jacob menatap name tag digenggamannya