Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 21



Los Angeles — USA


Lyn's International Hospital


Setelah menjelaskan semuanya secara rinci hanya kepada asistennya. Kini Angeline menatap tajam Sarah.


"Aku juga ingin bertanya kepadamu, Sar". Ucap Angeline


"Iya, Dok. Ada apa ?". Jawab Sarah polos


"Bagaimana bisa ya presdir itu mendapatkan nomor pribadiku ?". Pancing Angeline


Deg


"Mati aku !". Batin Sarah


"Sar".


"E—ehh, Itu dok. Maaf". Cicit Sarah menunduk


"Kenapa kau minta maaf ?".


"Aku yang mengirim pesan kepada presdir karena Anda tidak mengangkat panggilan dari kami semua. Ku pikir dengan presdir yang menghubungimu bisa langsung dibawa kemari. Terbuktikan, hehe". Ujar Sarah dengan memamerkan giginya


"Kau ini ya, sudah berani rupanya !". Ucap Angeline berpura - pura galak


"Hehe ya maaf, Dok". Kekeh Sarah


Angeline sendiri tipikal yang tidak bisa marah karena tidak cocok dengan wajah manisnya.


"Lupakan saja, lain kali jangan pernah mengirim pesan apapun kepadanya. Kau bisa mengganggu pekerjaannya, Sar !". Nasehat Angeline diangguki kepala oleh Sarah


"Iya, Dok. Ini pertama dan terakhir kalinya". Ucap Sarah


"Apa dokter Angeline tidak mau bertanya darimana aku bisa dapat nomor presdir ?". Batin Sarah berharap Angeline mempertanyakan itu


Tapi nyatanya Angeline tidak peduli dan memilih mengerjakan pekerjaan lainnya daripada terus membahas Devil Prince itu.


...****************...


Los Angeles — USA


Xanders Mansion


"Mommy bilang kemarin Lio mengunjunginya, Jo". Seru Jesslyn sembari menata bunga - bunganya


Jonathan menghentikan kegiatan membaca korannya saat mendengar itu.


"Really ? Lio mengunjungi mereka tapi tidak mengunjungi kita ?". Ujar Jonathan


"Anak itu ya, semakin mirip Jacob !". Sambungnya


"Hubungi dia, Jo. Tanyakan apakah dia masih di kota ini atau sudah berada di planet lain lagi". Titah Jesslyn menyudahi kegiatannya


"Baiklah".


Baru akan mengambil ponselnya, teriakan seorang pria lebih muda satu tahun dari Jacob menggema di tengah mansion itu.


"Mommy Jess Daddy Jo. Where are you guys ?". Teriaknya seperti anak kecil


Bukkk


Jesslyn sengaja melemparkan bantal sofa kearah pria itu.


"Berhenti berteriak seperti perempuan. Anak nakal !". Ucap Jesslyn menggelengkan kepala


"Lagipula ini mansion bukan hutan tempat kau berteriak sesuka hati. Untung saja tidak ada kakakmu !". Sambungnya


Pria itu terkekeh lalu mendekati Jesslyn dan Jonathan


Cup


"Apa kabar mommy ku yang paling cantik ini ?".


"Kau masih menganggapku ada ya ?". Ujar Jesslyn


"Of course. you're my mommy". Ungkapnya


"Lalu kemana saja kau selama beberapa bulan ini ? Kenapa tidak pernah lagi mengunjungi kami, Hah ?". Ucap Jesslyn menarik telinga pria itu


"Awshhhhh, mom. It's hurt !". Adunya


"Kau ini lama - lama mirip dengan Jacob ! Sangat jarang menemuiku. Apa aku harus sakit dulu baru kalian mau menemuiku, Hah ?". Kesal Jesslyn


"No, Mom !"


"Baby !"


Seru Jonathan dan pria disebelahnya.


"Sudahlah, ada apa kau kemari anak nakal ? Daddy mencium tidak ada kerinduan kali ini, right ?". Tutur Jonathan sangat mengenal perilakunya


Pria itu terkekeh lalu merengkuh Jonathan ala pria sejati.


"Of course, Not. Mana ada begitu. Aku kemari memang merindukan kalian. Ya walaupun lebih banyak rindunya kepada grandma Sia". Ungkapnya terus terang


Bukkk


Lagi - lagi Jesslyn melempar bantal sofa ke arah pria itu.


"Sudahlah, pergi dari sini. Tidak usah temui aku lagi !". Usir Jesslyn kemudian berlalu meninggalkan mereka


"Dasar, menyebalkan !". Gerutu Jesslyn


Melihat itu mereka berdua menggelengkan kepala.


"Itu mommy Jess, Dad ?". Tanyanya


Jonathan mengedikkan bahunya.


"Dia hanya kesal, tidak lama lagi juga pasti memanggilmu untuk mencicipi kue buatannya tadi". Ujar Jonathan santai


"Hmmm".


"Seperti yang kau lihat. Aku baik - baik saja bahkan masih mampu mencetak kecebong yang banyak". Kekehnya


"Aku hanya di mansion saja menemani istriku tercinta. Jacob sangat berguna untuk diandalkan di semua bidang". Sambungnya terdengar ambigu


"Hmm, tanyakan saja apa yang ingin kau ketahui, Lio". Tutur Jonathan mengerti tatapan itu


Pria yang disapa Lio itu terkekeh kecil. Jonathan benar - benar memiliki insting yang peka.


"Daddy ingatkan grandpa V punya klan mafia ?".


Jonathan menganggukkan kepalanya.


"Kita semua tahu bukan klan itu sudah grandpa hilangkan jejaknya".


Lagi - lagi Jonathan memberi tanggapan yang sama.


"Waktu itu aku melakukan kesepakatan dengan klan X'Dragons, Dad. Aku pikir akan bertemu langsung dengan pemimpinnya. Tapi tidak yang datang justru wakilnya". Tuturnya


"Jujur saja saat itu aku terkejut karena sepengetahuan mafia manapun klan itu sudah ditidurkan sejak lama oleh pemimpin generasi keduanya yaitu Grandpa V". Sambungnya


"Jacob, dia yang mengambil alih klan itu diam - diam. Bahkan daddy dan grandpa tidak dapat mengendusnya. Hanya Jacob yang ahli strategi dalam memanipulasi keadaan, Right ?". Ungkap Jonathan tentu saja membuat pria itu terkejut


"Jacob ? Really, Dad ?". Tanyanya memastikan


Jonathan menganggukkan kepapanya.


"Apa daddy sudah lama tahu ini ? Bagaimana dengan grandpa ?". Batinnya mencerna ucapan Jonathan barusn


"Menurut instingku memang Jacob yang membangkitkan klan itu dari tidur panjangnya". Ucap Jonathan


"Apa wakil pimpinannya bernama Phillip ?". Jonathan menatap pria itu memastikan dugaannya


Pria yang disapa Lio itu menganggukkan kepala cepat.


"Bagaimana daddy tahu itu ?".


"Aku sangat mengenal putraku dengan baik melebihi dirinya sendiri, Lio". Ungkap Jonathan menatap lurus


"Phillip De Nielson, Right ?. Dia teman Jacob semasa mereka kuliah dan sekarang menjabat sebagai CEO di salah satu hotel milik Jacob sendiri". Sambung Jonathan


"Aku tidak tahu nama lengkapnya, Dad. Yang aku tahu namanya Phillip".


"Jacob tidak mudah mempercayai orang baru begitu saja. Pastinya dia memilih teman seperjuangannya untuk menjadi wakilnya. Jacob sengaja menempatkan Phillip di hotelnya agar sahabatnya itu tidak dicurigai orang banyak". Pungkas Jonathan


Pria itu menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Jonathan.


"Dunia bawah memang harus punya strategi yang bagus, Lio. Kau juga begitu, bukan ?". Pria itu lagi - lagi menganggukkan kepalanya saja


"Hmm, rahasiakan ini dari mommy mu. Karena dia bisa serangan jantung mengetahui jati diri asli putra yang sangat disayanginya". Titah Jonathan


"Sepertinya Daddy tahu banyak tentang dunia gelap. Aku yakin dulu daddy juga pernah masuk dalam klan besar itu". Batinnya menatap Jonathan lekat


"Aku tahu banyak dunia itu, Lio. Hanya saja aku tidak bergabung di dalamnya karena resikonya dulu hampir membahayakan istriku". Batin Jonathan


Setelah mengakhiri percakapan, mereka berdua memilih untuk membahas kinerja perusahaan yang dipimpin Jacob.


"Jonathan Arthur Xanders !"


Hening


Jonathan sengaja tidak menjawab teriakan itu. Pasti Jesslyn sedang mencari keberadaan mereka.


"Ellio !"


Terdengar lagi teriakan Jesslyn menggema membuat dua pria beda generasi itu terkekeh lalu beranjak memenuhi panggilan ratu besar mereka.


...****************...


San Francisco — USA


"Apa aku harus meminta bantuan kak Jacob ?". Batin Jessica frustasi


"Tapi aku takut semuanya akan terbongkar. Bisa - bisa mommy memprovokasi grandma untuk tidak memanjakan aku lagi". Sambungnya masih dengan membatin


Jessica menggelengkan kepalanya menolak memikirkan akibat buruk itu.


"Meminta bantuan grandpa sama saja dengan menyerahkan diri kekandang buaya". Ucapnya seperti orang gila yang berbicara sendiri menjawab juga diri sendiri


"Daddy ? Itu lebih mustahil". Tuturnya


"Lalu siapa lagi ? Tabunganku jelas tidak cukup". Ringisnya menyadari isi tabungannya hanya satu digit


"Menikah dengan pria itu juga bukan hal yang benar. Iya dia memang tampan tapi aku tidak mencintainya, Tuhan". Teriak Jessica frustasi seorang diri dikamar apartmentnya


"Belum lagi aku harus menghadapi introgasi dari kak Jacob nanti jika memberitahu ingin menikah secara mendadak".


"Sialnya kakak ku itu bukan orang yang mudah dibohongi". Cicitnya


"Hishh lama - lama aku gantung diri saja daripada memikirkan ini semua". Teriaknya kesal


"Bodoh Jessica. Bunuh diri sama saja kau mempermalukan keluarga besarmu. Dimana otakmu ini, hah". Batin Jessica memaki dirinya sendiri


"Lalu aku harus bagaimana lagi, Tuhan ? Pria itu memaksa bertemu besok untuk mendengarkan keputusanku".


"Apa aku menjadi mucikari dalam sehari saja ya". Ucapnya sedetik kemudian tertawa keras


"Enak saja. Aku ini Jessica Xanders cucunya Victor Xanders mana mungkin menjual diri hanya untuk uang yang jumlahnya begitu. Sangat memalukan". Tawanya membanggakan diri sendiri


"Oh My Godness. Aku tahu". Tiba - tiba ide cemerlang muncul diotak dangkalnya sembari mencari dompetnya


"Yes, ketemu !". Serunya bahagia


"Semoga grandpa tidak mengetahui ini. Maaf grandpaku sayang". Ucapnya menatap sebuah kartu tanpa batas yang diberikan sang kakek sebelum kepulangannya ke San Francisco waktu itu.


Sedetik kemudian dirinya harap cemas apakah uang dikartu itu masih banyak atau tidak. Mengingat dirinya sudah menghabiskan banyak uang hari ini bersama teman - temannya.


"Semoga saja uangnya masih banyak". Batinnya memohon


Setelah itu Jessica memilih untuk berendam di bath up menyegarkan tubuh dan pikirannya dari permasalahan hari ini bersama pria itu.


"Semoga saja pria itu bisa diajak berdamai". Batin Jessica penuh harap